Membangun Moral Di Abad Global, Mungkinkah?

moralitas kehidupanDIAKUI bahwa kemajuan terknologi di segala bidang memang telah mempermudah kerja manusia. Namun jika tak adanya kontrol, kemajuan teknologi malah menyeret manusia ke dalam berbagai jebakan krisis seperti krisis kejiwaan, krisis ekologi, krisis kejujuran dan seterusnya. Dampaknya kini mulai muncul seperti kasus bunuh diri, membunuh bayi-bayi maupun gejala-gejala depresi berat yang menyelimuti manusia di abad global adalah tanda dari kehampaan jiwa manusia modern.

Di lain pihak, bahaya kerusakan alam semakin mengkhawatirkan. Tanah longsor, banjir bandang, angin ribut, gempa bumi yang akhir-akhir ini marak terjadi di tanah air menambah “kengeluan” bangsa ini. Global warming merupakan ancaman serius bagi segenap makhluk di muka bumi. Dalam kurun waktu seratus tahun terakhir suhu bumi akan meningkat 0.7 derajat celcius. Para ahli memprediksikan, jika tak ada upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, pada tahun 2100 suhu bumi akan meningkat hingga 0,8 derajat celcius. Padahal jika kenaikan suhu melebihi dua derajat celcius maka akan terjadi kepunahan banyak spesies dan ekosistem. Salah satu penyebab terjadi perubahan iklim global di Indonesia adalah kebakaran hutan dan lahan serta semakin rusaknya hutan akibat pembalakan liar (Tempo, 30 April 2006).

Semua fenomena di atas semakin meyakinkan kita akan kebenaran firman Allah bahwa, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41). Kalau kita cermati dengan seksama dari pengalaman hidup maupun yang kita kaji dari Al-Qur’an, bahwa kerusakan alam merupakan akibat kerakusan manusia yang tak arif dalam mengeksploitasi kekayan alam.

Kerakusan adalah urusan moral yang tersimpan dalam sanubari masing-masing orang. Moral yang menjabat “chek and balance” telah mengalami kemerosotan yang menyebabkan penodaan terhadap harkat kemanusiaan (human dignity) sehingga pemiliknya terperosok sebagai budak penyembah nafsu. Walau kita tahu bahwa abad ini adalah abadnya orang-orang pintar tetapi kehidupanya jauh dari tanda-tanda orang berilmu. Mengapa demikian? Allah menjawabnya, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Sebab utama merosotnya moral adalah hilangnya keyakinan (iman) kepada Allah, hari akhir dan balasan surga-neraka. Agama yang telah diberikan Allah sebagai pembimbing ditinggalkan begitu saja, sehingga norma-norma yang mengatur perilaku manusia dilupakan. Dosa telah dianggap ringan dan maksiat dianggap hal yang biasa, bahkan Allah dipersonifikasi sebagai zat sebentuk makhluk. Ujung-ujungnya, moralitas pun tak punya sandaran.

Membangun Moralitas, Mungkinkah?

Lalu, mungkinkah kita bisa menyelamatkan moral kita yang selama ini tercecer di lembah hiruk pikuknya nafsu? Kata kuncinya adalah memiliki adab kepada Allah dan rasul-Nya. Sungguh bijak ungkapan Hamid Fahmy Zarkasyi, “Posisikan Allah kepada kedudukan-Nya dan teladani rasulullah Saw sesuai tujuannya diutus”. Dengan mengacu pada ucapan Hamid berarti kita harus menghadirkan Allah dalam segala hal dan menempatkan rasululllah Saw sebagai teladan dalam menapaki proses kehidupan kita. Sebab inilah sejatinya yang menjadi titik pijak atau patokan moral hidup umat manusia.

Islam merupakan agama yang memiliki nilai-nilai moralitas. Nilai moral dalam Islam sangat dijunjung tinggi dan ditempatkan pada tempat yang agung, sebab ia merupakan elemen penting dalam membentuk peradaban umat manusia. Nabi Muhammad Saw diutus ke dunia tak sebatas menyampaikan risalah ketauhidan semata melainkan menyampaikan pesan-pesan moral yang baik. “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu….” (QS. Al-Ahzab: 21), “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. (Al-Hadits)”

Menurut Muhammad Tholib (2008), moral Islam menekankan aspek penyucian hati karena pada hakekatnya hati merupakan pusat inspirasi dan motivasi akal untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan terhadap sesuatu hal yang akhirnya melahirkan suatu pandangan (persepsi). Manusia yang pandangan hidupnya tidak jelas atau mengambang maka cenderung perilakunya pun nampak amburadul dan bingung. Keyakinan yang tidak mantap akan melahirkan sosok-sosok manusia kelas rendah, munafik, pragmatis, hedonis dan sekuler.

Hal ini pernah terjadi pada bangsa Arab saat Islam belum datang. Arab jahiliyah kebanyakan kaum pengembara Badui yang hidupnya nomaden, memiliki jiwa yang kasar, kering dari “air ketauhidan”, suka merampok, tak tahu halal haram, hanya berorientasi pada kesenangan yang sekejap sehingga Al-Qur’an mengatakan orang-orang ini munafik dan tak bertuhan. Tetapi setelah Islam datang keadaan berubah, mereka menjadi santun, terbimbing kejalan yang benar dan ditinggikan kedudukannya yang semula bersifat hewaniyah kepada kedudukan yang mulia.

“Islam didatangkan untuk memperbaiki moralitas dan peradaban umat manusia. Ia adalah agama peradaban dan tak menentang peradaban suatu bangsa manapun selama peradaban itu memberi manfaat kepada manusia dan mengangkat harkat, martabat manusia. Namun jika peradaban itu ternyata tak sesuai dengan fitrah manusia dan men-dehumanisasi, maka Islam akan melawan karens Islam adalah agama perlawanan atau pembebeasan (liberasi) manusia dari ketidakadilan.”

John Oman—seperti yang dikutip oleh Faisal Ismail—pernah mengatakan, “if religion without morality lacks a solid earth to walk on, morality without religion lacks a wide heaven to breath in”; Jika agama tanpa moralitas, kekurangan tanah untuk berjalan di atasnya, jika moralitas tanpa agama, kekurangan surga langit untuk bernafas.

Pesan ungkapan tersebut adalah bahwa kemajuan suatu bangsa tak hanya diukur melalui patokan kemajuan teknologi-nya semata tetapi juga harus dilihat kelakuan masyarakatnya, sebab—seperti yang diisyaratkan dalam sebuah ungkapan bijak—“Sesungguhnya suatu bangsa terletak pada akhlaknya, jika akhlak mereka bejat hancurlah bangsa itu”. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Narasumber acara Selamat Pagi Cirebon di Radar Cirebon Televisi-SPC RCTV, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di STAI Bunga Bangsa Cirebon-BBC]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s