Mohammad Natsir dan Pendidikan Indonesia

Pak Mohammad Natsir
Pak Mohammad Natsir

2 MEI biasa diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Selama ini peringatan Hardiknas selalu dikaitkan dengan Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan. Seakan negeri ini hanya memiliki Ki Hajar, padahal masih banyak tokoh pendidikan yang juga memiliki andil besar dalam dunia pendidikan.

Ada banyak cara yang ditunaikan sebagai wujud penghargaan sekaligus penghormatan kepada mereka yang telah berkontribusi dalam dunia pendidikan. Dari apel peringatan, seminar, lomba dan bedah buku. Semua itu adalah sebuah pilihan positif bagi masa depan pendidikan kita.

Namun, ada hal lain yang sering kita lakukan: melupakan tokoh lain yang punya andil dalam dunia pendidikan negeri ini. Tokoh yang saya maksud adalah Mohammad Natsir (selanjutnya ditulis Natsir). Satu di antara tokoh bangsa yang kiprahnya dalam sejarah pendirian dan perjalanan bangsa ini cukup signifikan, termasuk dalam dunia Islam juga pendidikan.

Natsir adalah Bapak Pendidikan Indonesia

Natsir adalah salah satu tokoh sekaligus pahlawan Indonesia yang cukup fenomenal. Ia lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908.

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Ia adalah seorang pemikir, dai, politisi, dan sekaligus pendidik Islam terkemuka. Ia dikenal sebagai tokoh, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam. Natsir adalah sosok pribadi yang sangat unik. Bidang apa pun yang digeluti Natsir, visinya sebagai dai dan pendidik senantiasa menonjol (Yusuf Kalla, 2007).

Jika kita membuka lembaran hidup Natsir, kita memang menemukan sebuah perjalanan hidup yang menarik. Sebagai politisi, Natsir pernah menduduki posisi Perdana Menteri RI pertama tahun 1950-1951, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain itu, jasa Natsir dalam soal terbentuknya NKRI ini sangat besar. Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai ”Mosi Integral Natsir”), yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Natsir juga berulang kali duduk sebagai menteri dalam sejumlah kabinet era Soekarno.

Tahun 1957, Natsir menerima bintang ’Nichan Istikhar’ (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi. Karena itulah, hingga akhir hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.

Adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Natsir. Misal, pada tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (HollandsInlandscheSchool) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.

Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Syuhada Bahri (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, DDII) menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam (Adian Husaini, 2013).

Renungan Akhir

Ketika sakit beberapa tahun menjelang wafatnya, Natsir pernah menyampaikan pesan yang sangat “menggugah” dan penuh makna, “Jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut!”.

Saya memahami pesan ini bahwa dalam konteks membangun Indonesia, siapapun kita, tak boleh lelah dan berhenti. Kita masih memiliki kewajiban sekaligus tugas sejarah untuk berkontribusi bagi kejayaan negeri tercinta, Indonesia. Dalam dunia pendidikan, misalnya, maka sudah selayaknya kita meneguhkan peran dan tugas sejarah, melakukan yang terbaik bagi kemajuan pendidikan negeri ini. Baik sebagai guru, pengawas, orang tua maupun sebagai peserta didik.

Dalam bahasa lain, jika Natsir dkk sudah mampu melakukan dan memberikan yang terbaik, maka selayaknya kita di era ini melanjutkan kiprah mereka. Hanya dengan begitulah, peringatan Hardiknas tidak berhenti hanya sebagai ritual dan seremoni, tapi menjadi titik pijak untuk melakukan pembenahan sekaligus melakukan yang terbaik bagi kemajuan dan kejayaan pendidikan Indonesia. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Direktur KOMUNITAS-Komunitas Cirebon Membaca Cirebon Menulis, Penulis buku dalam berbagai judul, Penulis artikel untuk berbagai media cetak, Narasumber acara Selamat Pagi Cirebon di Radar Cirebon Televisi-SPC RCTV, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di STAI Bunga Bangsa Cirebon, BBC. Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya, “Mohammad Natsir dan Pendidikan Indonesia; Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2015”]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s