Memburu dan Diburu Ijazah

Awas Ijazah Palsu
Awas Ijazah Palsu

KASUS ijazah (asli tapi palsu, aspal) sejatinya sudah terjadi dalam rentan waktu yang cukup lama. Oknum yang terlibat pun berasal dari beragam latar seperti mahasiswa, orangtua siswa atau mahasiswa, PNS, dan tenaga pengajar di satuan pendidikan tertentu, bahkan dosen dan guru besar pun pernah terlibat dan terhukum dalam kasus ijazah aspal.

Namun, beberapa hari terakhir publik kembali dicengangkan oleh berita berbagai media massa—baik cetak maupun elektronik—juga media sosial tentang beberapa temuan baru termasuk jaringan atau mafia ijazah aspal ini.

Mengapa Memburu Ijazah?

Disadari bahwa dalam satuan pendidikan level apapun, ijazah merupakan sesuatu yang memiliki arti penting dalam berbagai sisi. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, ijazah adalah bukti otentik pendidikan. Seorang yang menempuh satuan pendidikan selama sekian waktu tertentu, akan dapat diketahui dari—dan dibuktikan dengan—adanya ijazah. Bahkan dalam konteks sosial-budaya, kerap kali seseorang tidak dianggap berpendidikan jika ia tak memiliki ijazah. Ukuran seseorang berpendidikan adalah gelar akademik yang dibuktikan dengan ijazah.

Selain itu, ijazah adalah syarat mutlak melanjutkan pendidikan, yang kelak menjadi syarat mencari pekerjaan dan kenaikan karir. Sampai saat ini, dalam satuan pendidikan (formal) manapun dan pada level apapun, memiliki ijazah merupakan syarat mutlak diterimanya seseorang pada satuan pendidikan bersangkutan. Maka percayalah bahwa siapapun yang tidak memiliki ijazah—sehebat apapun dia—tidak akan pernah bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi kecuali dia memiliki ijazah pada level satuan pendidikan di bawahnya.

Lalu, mengapa masih ada saja yang mau menempuh hidup dengan cara-cara curang seperti terlibat dalam pengadaan ijazah aspal? Jawabannya tentu kompleks dan rumit, terutama ketika mereka yang terlibat memiliki sistem dan jaringan kuat. Jika ditelisik, maka dapat dipahami bahwa diantara penyebabnya adalah, pertama, buruknya niat menutut ilmu atau menempuh pendidikan. Mesti diakui bahwa tak sedikit orang yang menempuh pendidikan tertentu dengan niat yang buruk seperti orientasi duniawi semata. Jika mereka malas melalui proses pendidikan (yang memang membutuhkan proses, keikhlasan, kesabaran, kejujuran, kesungguhan, disiplin, dan pertanggungjawaban), maka mereka pun akan melakukan berbagai cara (curang) demi mencapai apa yang menjadi tujuannya, termasuk mendapatkan ijazah dengan cara curang seperti ijazah aspal.

Kedua, tantangan pekerjaan dan karir yang menyaratkan adanya bukti akademik berupa ijazah. Efeknya, tak sedikit pengelola lapangan pekerjaan dan lembaga tertentu yang membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan berkualitas. Hal ini tentu satu hal lumrah bahkan patut diapresasi. Namun pada konteks tertentu, tak sedikit yang salah memahami, misalnya, mereka kerap mengukur kualitas SDM dari ijazah bahkan gelar yang banyak. Maka pada level tertentu pula, akhirnya siapapun “dipaksa” untuk memiliki ijazah sebagai bukti akademik dalam mencari dan mendapatkan pekerjaan serta karir tertentu, tak terkecuali dalam menempuh pendidikan tertentu.

Ketiga, gaya hidup dan kebutuhan ekonomi yang melampaui batas alias serakah. Mesti diakui, gelar akademik tertentu yang ditandai dengan ijazah merupakan satu prestisius tersendiri. Terlebih di saat untuk mendapatkan pekerjaan semakin kompetitif, maka tak sedikit orang tersulut untuk melakukan hal-hal instan alias haram, tak terkecuali terlibat dalam pengadaan alias mafia ijazah aspal. Oknum semacam ini bisa dari kampus, kementrian pencari ijazah aspal dan “agen” yang menghubungkan berbagai pihak terkait.

Hal ini menjadi lebih menarik ketika para pencari ijazah aspal ini memberi imbalan setimpal bahkan cukup besar kepada mereka yang “berjasa” dalam pengadaan ijazah aspal ini. Bahkan seperti yang dilansir HU Radar Cirebon (27/5/2-15) sampai ada ijazah S2 yang berharga Rp 45 juta. Dalam konteks kebutuhan hidup yang semakin banyak dan gaya hidup serba hedon alias serakah, nominal semacam ini tentu bukan saja besar tapi juga menunjang selera dan gaya hidup.

Jalan Keluar

Dalam konteks perbaikan dan masa depan pendidikan, kita tentu membutuhkan langkah cepat atau terobosan sebagai jalan keluar penyelesaian masalah ijazah aspal ini. Pertama, meluruskan kembali niat dalam menempuh pendidikan dan mencari pekerjaan. Sebagaimana menuntut ilmu atau menempuh pendidikan, bekerja merupakan kerja mulia. Dalam perspektif Islam, mereka yang menempuh pendidikan (baca: menuntut ilmu) mendapat tempat dan derajat yang tinggi. Mereka yang menuntut ilmu pun akan mendapatkan pendampingan terus menerus dari para malaikat, mendapat kemudahan dalam segala urusan dan selalu mendapat keberkahan yang tak berbilang dari Allah.

Begitu juga mereka yang bekerja untuk mendapatkan hasil yang halal akan mendapat jaminan keberkahan rezeki dan kenyamanan hati dari Allah. Bahkan, mereka yang meninggal di saat menempuh pendidikan dan bekerja (yang halal dan dengan cara halal) untuk kebutuhan hidupnya senilai dengan jihad dan akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang meninggal (syahid) di saat berjihad. Semua itu hanya didapat jika mereka menempuhnya dengan niat yang ikhlas karena Allah, tanpa niat buruk dan cara-cara curang.

Kedua, kementrian yang bertanggungjawab dalam persoalan pendidikan nasional mesti membentuk lembaga khusus yang menjalankan fungsi pusat dokumentasi nasional data base profil dan file ijazah seluruh lulusan yang mengikuti proses pendidikan di seluruh satuan dan level pendidikan. Dalam hal ini, institusi pendidikan di setiap satuan dan level mesti memberikan informasi terbuka dan transparan kepada lembaga khusus tersebut, sehingga kelak kementrian dan publik pun bisa mendapatkan informasi secara terbuka dan transparan pula.

Ketiga, penegak hukum dan penyelenggara pendidikan mesti tegas dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Ini bermakna, siapapun yang secara hukum terbukti terlibat dalam pembuatan atau pengadaan ijazah aspal mesti diproses sehingga diberi hukuman tegas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga memberi efek jera. Selain itu, seluruh institusi atau lembaga penyelenggara pendidikan didesak untuk tetap menjaga tujuan dan orientasi luhur pendidikan, di samping menjaga dunia pendidikan dari tujuan-tujuan sesaat, termasuk menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam level sosial dan kebijakan, kita berharap agar seluruh elemen bangsa ikut berperan; di samping apresiasi kita kepada institusi penegak hukum seperti Kepolisian RI dan beberapa kementrian terkait seperti Kementrian Riset, dan Pendidikan Tinggi dan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Brokrasi (PAN-RB) yang telah bergerak cepat dan menyusun langkah-langkah penting, sehingga harapannya ke depan kasus seperti ini dapat dicegah secara dini bahkan diamputasi, sehingga tidak mencoreng bahkan menghambat proses pelaksanaan pendidikan nasional yang sedang kita galang dan tunaikan selama ini dan di masa yang akan datang.

Di atas segalanya, mudah-mudahan proses dan tujuan pendidikan yang begitu mulia tidak lagi dicederai atau dikotori oleh tindak-tanduk buruk dan curang berbagai oknum seperti mereka yang memburu ijazah aspal; walau akhirnya mereka pasti (akan terus) dihantui oleh rasa tidak tenang, dikejar oleh rasa salah juga khawatir serta diburu oleh penegak hukum. Seperti sebuah anonim kalangan remaja, “kejar aku, kau kutangkap”, melakukan cara-cara curang sama saja dengan mengundang malapetaka. Lalu, jika mereka begitu gagah memburu ijazah aspal tapi justru membuat mereka diburu ijazah aspal, memang mau apa sih? [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis buku POLITICS, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di STAI Bunga Bangsa Cirebon].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s