Guru Menjawab Tantangan Pendidikan

DALAM pasal 10 ayat 1 UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen disyaratkan bahwa guru mesti memiliki kompetensi, yaitu, pedagogik, kepribadian, sosial dan professional. Namun umumnya, sehingga saat ini berbagai kritikan masih menghantui para guru, terutama terkait dengan kompetensi tersebut.   Hal ini seperti yang disinggung oleh Pakar Pendidikan asal Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Mohamad Surya. Menurut Surya (2014) saat ini dunia pendidikan nasional Indonesia berada dalam situasi kritis. Kualitas pendidikan nasional masih rendah dan jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain. Berbagai kritikan tajam yang berasal dari berbagai sudut pandang terus ditujukan kepada dunia pendidikan nasional dengan berbagai alasan dan kepentingan, terutama tertuju kepada guru.  Tantangan dan Kritik   Ya, setiap aspek dunia pendidikan termasuk masalah kualitas guru saat ini menghadapi tantangan baik global, nasional, maupun lokal. Pertama, level global. Dalam konteks global, Robert B Tucker (2001) mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu: (1) kecepatan (speed), (2) kenyamanan (convinience), (3) gelombang generasi (age wave), (4) pilihan (choice), (5) ragam gaya hidup (life style), (6) kompetisi harga (discounting), (7) pertambahan nilai (value added), (8) pelayananan pelanggan (costumer service), (9) teknologi sebagai andalan (techno age), (10) jaminan mutu (quality control).  Menurut Robert kesepuluh tantangan itu menuntut inovasi dikembangkannya paradigma baru dalam pendidikan seperti: accelerated learning, learning revolution, megabrain, quantum learning, value clarification, learning than teaching, transformation of knowledge, quantum quotation (IQ, EQ, SQ, dll.), process approach, Forfolio evaluation, school/community based management, school based quality improvement, life skills, competency based corriculum. Kedua, level nasional. Pada tatanan nasional, dunia pendidikan ditantang dengan berbagai upaya pembaharuan dan pembangunan nasional yang lebih berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.  Lahirnya Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan berbagai produk ketentuan hukum lainnya merupakan satu tantangan yang harus dihadapi oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) yang mempunyai tanggung jawab dalam menghasilkan guru yang berkualitas.  Ketiga, level lokal. Pada tatanan lokal dengan penerapan otonomi daerah, setiap daerah mempunyai peluang untuk menata pengembangan tenaga guru yang lebih berkualitas dan sesuai dengan tuntutan atau kebutuhan daerah. Dalam konteks lokal wilayah 3 Cirebon—beberapa kampus yang membuka program studi atau jurusan pendidikan guru—ditantang untuk melahirkan alumni yang berkualitas sehingga mampu memenuhi kebutuhan dunia pendidikan masa depan dan mampu menjawab tantangan zaman secara kompetitif.    Secara umum, salah satu lembaga yang kerap mendapat kritik terkait guru adalah LPTK.  Menurut Linda Darling Hammond dan Joan Baratz Snouwden (2007) dalam tulisannya yang berjuudul: “Good Teacher in Every Classroom: Preparing the High Qualified Teachers Our Children Deserve”, ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi, yaitu pertama; pemerintah dan masyarakat belum menunjukkan keseriusannya dalam menangani hak-hak anak terutama dari kelompok miskin; kedua, penyempitan makna konvensional yang menyatakan bahwa pengajaran semata-mata sebagai proses penyampaian materi sebagaimana digariskan dalam kurikulum; ketiga, banyak pihak yang tidak memahami hakekat mengajar yang sebenarnya; keempat, hampir semua meyakini bahwa yang penting adalah pengajaran dan bukan pembelajaran dari peserta didik; kelima, masih longgarnya tuntutan persyaratan untuk menjadi guru yang berkualitas; keenam, para peneliti dan pendidik guru barui sampai pada kesepakatan mengenai pengetahuan dasar yang diperlukan oleh guru untuk memasuki kelas.  Jalan Keluar Sehubungan dengan idealisme konstitusi dan kritikan serta tantangan yang diuraikan di atas, maka beberapa langkah berikut patut dipertimbangkan, pertama, LPTK harus mau dan mampu melakukan reformasi pola-pola pendidikan guru. Pola-pola lama harus dikembangkan dan ditransformasi sehingga mampu menghasilkan guru yang berkualitas sebagaimana yang diharapkan, bahkan menjangkau bahasa zaman.  Secara umum, kementrian yang bertanggungjawab dalam bidang pendidikan (Kementrian Pendidikan Dasar&Menengah dan Kebudayaan, dan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi) perlu melakukan berbagai penataan sistem secara utuh dengan menempatkan proses pengajaran dan pembelajaran sebagai inti dari sistem pendidikan guru, sehingga perguruan tinggi dan LPTK yang menyelanggarakan pendidikan guru dan pelatihan tenaga keguruan lebih cepat dan terpadu dalam melaksanakan tugasnya.      Wayne K. Hoy dan Cecil G. Miskel—sebagaimana dikutip oleh Mohamad Surya (2014)—menyebutkan pentingnya proses interaksi antara pengajaran dan pembelajaran sebagai “technical core” dalam pendidikan guru. Ini bermakna bahwa pendidikan guru baik pra-jabatan maupun dalam jabatan dibangun dalam satu sistem yang utuh dengan memperhatikan aspek input, proses, dan output dan terjadi keterpaduan berbagai unsur sub-sistem secara utuh.  Kedua, perguruan tinggi perlu meningkatkan perannya. Ini bermakna, perguruan tinggi sebagai “sekolah”-nya para guru perlu meningkatkan kualitas pelayanan dan penyelenggaran pendidikannya terutama pada program studi keguruan yang berorientasi pada hasil yang memadai, sehingga alumninya mampu menunjang kebutuhan zaman serta tantangan pendidikan masa depan.  Dalam skala nasional, selama ini masih mengandalkan LPTK yang dikelola oleh beberapa kampus besar seperti UPI Bandung dan Universitas Negeri Yogjakarta (UNY). Ke depan, terutama dalam konteks pembangunan berbasis otonomi daerah, kita berharap agar perguruan tinggi yang berada di daerah—dalam konteks wilayah 3 seperti Unswagati, IAIN SNJ, UMC, STAI BBC, UNTAG ‘45, UNMA, Unwir, UNIKU dan sebagainya—juga mengambil peran penting, terutama dalam soal peningkatan kualitas alumni program studi atau jurusan yang berkaitan dengan pendidikan (guru) yang diselenggarakannya.       Akhirnya, semua tantangan pendidikan—termasuk kualitas guru yang masih “dipertanyakan”—sejatinya dapat kita selesaikan dan jawab bersama. Semoga Sang Kuasa (Allah) selalu membimbing kita agar mampu mengambil peran dalam menjalankan tugas besar-sejarah semacam ini. Sebab, seperti yang diakui oleh Filosuf sekaligus Pakar Pendidikan Syed Muhammad  Naquib Al-Attas (2001), kunci kebangkitan dan perubahan adalah pendidikan! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Narasumber acara Selamat Pagi Cirebon di RCTV, Penulis buku dalam berbagai judul dan essay di media cetak, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di STAI Bunga Bangsa Cirebon. Tulisan ini dimuat pada halaman 4 Kolom Wacana Harian Umum Radar Cirebon, Jum’at 22 Mei 2015 dengan judul “Guru Menjawab Tantangan Pendidikan”]
Guru Menjawab Tantangan Pendidikan

DALAM pasal 10 ayat 1 UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen disyaratkan bahwa guru mesti memiliki kompetensi, yaitu, pedagogik, kepribadian, sosial dan professional. Namun umumnya, sehingga saat ini berbagai kritikan masih menghantui para guru, terutama terkait dengan kompetensi tersebut.

Hal ini seperti yang disinggung oleh Pakar Pendidikan asal Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Mohamad Surya. Menurut Surya (2014) saat ini dunia pendidikan nasional Indonesia berada dalam situasi kritis. Kualitas pendidikan nasional masih rendah dan jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain. Berbagai kritikan tajam yang berasal dari berbagai sudut pandang terus ditujukan kepada dunia pendidikan nasional dengan berbagai alasan dan kepentingan, terutama tertuju kepada guru.

Tantangan dan Kritik

Ya, setiap aspek dunia pendidikan termasuk masalah kualitas guru saat ini menghadapi tantangan baik global, nasional, maupun lokal. Pertama, level global. Dalam konteks global, Robert B Tucker (2001) mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu: (1) kecepatan (speed), (2) kenyamanan (convinience), (3) gelombang generasi (age wave), (4) pilihan (choice), (5) ragam gaya hidup (life style), (6) kompetisi harga (discounting), (7) pertambahan nilai (value added), (8) pelayananan pelanggan (costumer service), (9) teknologi sebagai andalan (techno age), (10) jaminan mutu (quality control).

Menurut Robert kesepuluh tantangan itu menuntut inovasi dikembangkannya paradigma baru dalam pendidikan seperti: accelerated learning, learning revolution, megabrain, quantum learning, value clarification, learning than teaching, transformation of knowledge, quantum quotation (IQ, EQ, SQ, dll.), process approach, Forfolio evaluation, school/community based management, school based quality improvement, life skills, competency based corriculum.

Kedua, level nasional. Pada tatanan nasional, dunia pendidikan ditantang dengan berbagai upaya pembaharuan dan pembangunan nasional yang lebih berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.

Lahirnya Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan berbagai produk ketentuan hukum lainnya merupakan satu tantangan yang harus dihadapi oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) yang mempunyai tanggung jawab dalam menghasilkan guru yang berkualitas.

Ketiga, level lokal. Pada tatanan lokal dengan penerapan otonomi daerah, setiap daerah mempunyai peluang untuk menata pengembangan tenaga guru yang lebih berkualitas dan sesuai dengan tuntutan atau kebutuhan daerah. Dalam konteks lokal wilayah 3 Cirebon—beberapa kampus yang membuka program studi atau jurusan pendidikan guru—ditantang untuk melahirkan alumni yang berkualitas sehingga mampu memenuhi kebutuhan dunia pendidikan masa depan dan mampu menjawab tantangan zaman secara kompetitif.

Secara umum, salah satu lembaga yang kerap mendapat kritik terkait guru adalah LPTK. Menurut Linda Darling Hammond dan Joan Baratz Snouwden (2007) dalam tulisannya yang berjuudul: “Good Teacher in Every Classroom: Preparing the High Qualified Teachers Our Children Deserve”, ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi, yaitu pertama; pemerintah dan masyarakat belum menunjukkan keseriusannya dalam menangani hak-hak anak terutama dari kelompok miskin; kedua, penyempitan makna konvensional yang menyatakan bahwa pengajaran semata-mata sebagai proses penyampaian materi sebagaimana digariskan dalam kurikulum; ketiga, banyak pihak yang tidak memahami hakekat mengajar yang sebenarnya; keempat, hampir semua meyakini bahwa yang penting adalah pengajaran dan bukan pembelajaran dari peserta didik; kelima, masih longgarnya tuntutan persyaratan untuk menjadi guru yang berkualitas; keenam, para peneliti dan pendidik guru barui sampai pada kesepakatan mengenai pengetahuan dasar yang diperlukan oleh guru untuk memasuki kelas.

Jalan Keluar

Sehubungan dengan idealisme konstitusi dan kritikan serta tantangan yang diuraikan di atas, maka beberapa langkah berikut patut dipertimbangkan, pertama, LPTK harus mau dan mampu melakukan reformasi pola-pola pendidikan guru. Pola-pola lama harus dikembangkan dan ditransformasi sehingga mampu menghasilkan guru yang berkualitas sebagaimana yang diharapkan, bahkan menjangkau bahasa zaman.

Secara umum, kementrian yang bertanggungjawab dalam bidang pendidikan (Kementrian Pendidikan Dasar&Menengah dan Kebudayaan, dan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi) perlu melakukan berbagai penataan sistem secara utuh dengan menempatkan proses pengajaran dan pembelajaran sebagai inti dari sistem pendidikan guru, sehingga perguruan tinggi dan LPTK yang menyelanggarakan pendidikan guru dan pelatihan tenaga keguruan lebih cepat dan terpadu dalam melaksanakan tugasnya.

Wayne K. Hoy dan Cecil G. Miskel—sebagaimana dikutip oleh Mohamad Surya (2014)—menyebutkan pentingnya proses interaksi antara pengajaran dan pembelajaran sebagai “technical core” dalam pendidikan guru. Ini bermakna bahwa pendidikan guru baik pra-jabatan maupun dalam jabatan dibangun dalam satu sistem yang utuh dengan memperhatikan aspek input, proses, dan output dan terjadi keterpaduan berbagai unsur sub-sistem secara utuh.

Kedua, perguruan tinggi perlu meningkatkan perannya. Ini bermakna, perguruan tinggi sebagai “sekolah”-nya para guru perlu meningkatkan kualitas pelayanan dan penyelenggaran pendidikannya terutama pada program studi keguruan yang berorientasi pada hasil yang memadai, sehingga alumninya mampu menunjang kebutuhan zaman serta tantangan pendidikan masa depan.

Dalam skala nasional, selama ini masih mengandalkan LPTK yang dikelola oleh beberapa kampus besar seperti UPI Bandung dan Universitas Negeri Yogjakarta (UNY). Ke depan, terutama dalam konteks pembangunan berbasis otonomi daerah, kita berharap agar perguruan tinggi yang berada di daerah—dalam konteks wilayah 3 seperti Unswagati, IAIN SNJ, UMC, STAI BBC, UNTAG ‘45, UNMA, Unwir, UNIKU dan sebagainya—juga mengambil peran penting, terutama dalam soal peningkatan kualitas alumni program studi atau jurusan yang berkaitan dengan pendidikan (guru) yang diselenggarakannya.

Akhirnya, semua tantangan pendidikan—termasuk kualitas guru yang masih “dipertanyakan”—sejatinya dapat kita selesaikan dan jawab bersama. Semoga Sang Kuasa (Allah) selalu membimbing kita agar mampu mengambil peran dalam menjalankan tugas besar-sejarah semacam ini. Sebab, seperti yang diakui oleh Filosuf sekaligus Pakar Pendidikan Syed Muhammad Naquib Al-Attas (2001), kunci kebangkitan dan perubahan adalah pendidikan! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Narasumber acara Selamat Pagi Cirebon di RCTV, Penulis buku dalam berbagai judul dan essay di media cetak, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di STAI Bunga Bangsa Cirebon. Tulisan ini dimuat pada halaman 4 Kolom Wacana Harian Umum Radar Cirebon, Jum’at 22 Mei 2015 dengan judul “Guru Menjawab Tantangan Pendidikan”]

4 thoughts on “Guru Menjawab Tantangan Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s