Menggali Ide Menulis

Ketika Rumah Menjadi Inspirasi Menulis
Ketika Rumah Menjadi Inspirasi Menulis

SABTU 9 Mei 2015 kemarin aku menghadiri undangan acara diskusi KOMUNITAS (Komunitas Cirebon Membaca, Cirebon Menulis), salah satu komunitas kepenulisan di Cirebon-Jawa Barat.

Bagiku, acara yang dikemas secara kreatif tersebut mengandung banyak manfaat dan sangat berkesan, terutama karena pesertanya berasal dari berbagai latar. Ada yang masih menjadi pelajar di SMP, SMA dan sekolah sederajat, ada juga yang menjadi dosen, aktivis mahasiswa, kelompok diskusi budaya, komunitas penulis, kelompok sastra bahkan penulis lepas yang tulisannya kerap menghiasi berbagai media cetak di wilayah 3 Cirebon.

Dengan latar beragam semacam itu, membuat acara yang terselenggara sekitar 5 jam tersebut menjadi sepesial. Sehingga pada ujungnya semangat untuk menulis berkecamuk begitu rupa dan kehendak untuk menulis semakin tak terbendung. Ini baru mantap!

Pada kesempatan itu, seperti juga dalam banyak kesempatan aku sebetulnya bukan pembicara. Hanya saja panitia sepertinya sudah terbiasa mendaulat aku secara mendadak dan sedikit memaksa agar aku menyampaikan kiat kepenulisan, khususnya seputar bagaimana menggali ide ketika hendak menulis.

Bagiku, permintaan semacam ini cukup menantang. Sebabnya sederhana, aku sendiri bukan penulis—dan karena itu tidak memiliki stok kiat seputar kepenulisan. Tapi tak apalah aku memang mesti memaksakan diri untuk menerima permintaan panitia. Aku jadikan sebagai sarana belajar. Maaf saja jika yang aku sampaikan kurang berkenan dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Berikut merupakan elaborasi dari beberapa hal yang aku sampaikan pada acara yang dihadiri oleh sekitar 150 orang pencinta literasi yang aku maksud.

**

Bagiku, diantara kiat menggali ide di saat hendak menulis adalah sebagai berikut:

Pertama, mencintai ilmu. Ya sangat sederhana : mencintai ilmu. Sederhana memang, namun kuncinya justru di sini : pada rasa cinta. Disadari bahwa menulis adalah bagian dari aktivitas keilmuan yang sangat penting. Jika menulis diposisikan sedemikian penting, maka ada kemestian bagi penekun aktivitas ini untuk mencintainya secara tulus.

Dengan mencintai ilmu, maka itu bermakna mencintai aktivitas menulis. Dengan mencintai maka akan dengan mudah bagi seseorang untuk menemukan ide unik, termasuk di saat ia dihadapkan pada kondisi sulit menemukan ide. Bukan kah rasa cinta kerap mengundang pikiran kreatif dan melahirkan aktivitas unik di luar kebiasaan?

“Pada akhirnya menulis menjadi terlalu sulit untuk dilakukan kecuali dengan cinta.”

Kedua, suka membaca alias menjadi kutu buku. Hampir semua orang percaya bahwa membaca merupakan saudara kembar menulis. Betul apa betul? Nah, kalau kamu terjun ke dunia kepenulisan, maka itu sama saja kamu memasukkan diri dalam dunia membaca.

Coba renungi pertanyaan ini :

Bagaimana mungkin kamu menulis dan menginginkan agar tulisanmu dibaca oleh banyak orang, sementara kamu sendiri tidak suka membaca karya kamu sendiri, bahkan tidak pernah membaca karya tulis orang lain?

Jadi sekarang, sukai aktivitas membaca dan jadilah kutu buku. Contoh praktis, biasakan diri kamu untuk membawa buku ke mana-mana. Pastikan hal pertama yang kamu sediakan di saat berpergian adalah buku. Bagi yang tak biasa, memulai hal ini merupakan sesuatu yang sangat sulit. Tapi di situlah letak keunikannya : pada kemampuan diri untuk memulai sesuatu yang tak biasa.

Sederhana saja, dengan banyak membaca maka tabungan kata dan gagasan dalam pikiran kamu menjadi bertambah banyak. Munculkan rasa suka membaca, maka dengan sendirinya kamu akan terdorong untuk terus membaca bahkan gila baca.

Pada gilirannya, selain menjadi gila baca alias kutu buku, kamu pun akan terus terdorong untuk menulis dan terus menulis. Bagi yang sudah terbiasa, apa yang aku sampaikan ini pasti sudah merasakan efek dan sensasinya. Untuk yang belum, aku sarankan agar segera memulai alias mencoba, lalu nikmati efek dan sensasinya.

Ketiga, menulis apa saja. Sebagai pemantik ide, maka seseorang juga bisa membiasakan dirinya untuk menulis secara bebas : menulis apa saja dan tentang apa saja.

Aku sendiri di saat mengalami kebuntuan dalam menulis kerap menggunakan kiat ini. Aku kerap menulis tentang apapun yang terlintas dalam pikiranku. Diksi atau pilihan kata juga kalimatnya bebas dan sesukanya aku saja. Tanpa menanti waktu yang lama, maka berbagai ide pun muncul begitu rupa.

Untuk menyukseskan kiat ini, jika hendak berpergian aku berusaha untuk membawa kertas kosong dan bulpen. Atau jika tak berkesempatan, aku biasanya menjadikan HP-ku sebagai perekam terbaik. Di HP-lah aku menulis segala sesuatu yang seketika muncul di pikiranku di saat berpergian, misalnya. Hasilnya, ya tak sedikit tulisanku dalam berbagai tema yang justru dielaborasi dari kumpulan tulisan bebas semacam itu.

Dari kebiasaan semacam ini pun aku menjadi percaya bahwa sebetulnya dalam otak manusia itu tersimpan banyak kata dan ide. Di saat hendak ditulis, maka pemiliknya hanya mebutuhkan stimulus.

Keempat, suka bertanya. Kamu mungkin tak percaya bahwa aku sebetulnya manusia paling rewel. Meminjam ungkapan seorang teman tentang aku, “Aku ini laki-laki, tapi kalau soal bertanya lebih perempuan daripada perempuan”.

Ya, aku akui bahwa dalam berbagai momentum aku selalu berusaha untuk bertanya. Dalam acara formal, misalnya, aku selalu berusaha untuk bertanya. Untuk acara non formal atau informal, aku juga berusaha untuk bertanya kepada siapapun yang aku temui.

Tak cukup di situ, aku juga kerap memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menggali ide. Untuk yang ini biasanya aku menyempatkan bertanya kepada beberapa teman melalui media sosial seperti e-Mail, Facebook (FB) dan serupanya; dan tak ketinggalan melalui SMS bahkan komunikasi secara langsung melalui HP. Tujuanku sederhana dan terkesan agak gila : menculik ide dan inspirasi orang lain.

Kelima, curi pengalaman orang lain. Lagi-lagi, aku pada dasarnya termasuk orang gila dan pencuri yang cukup kurang ajar. Mengapa? Aku kerap menulis beberapa tulisan setelah mendengar cerita dan perbincangan banyak orang. Bagi pemilik cerita dan pengalaman bisa jadi itu tak penting, bagiku itu penting.

Kurang ajarnya aku adalah pada usilnya aku dalam mencuri ide dari banyak orang tanpa minta izin ke empunya. Ya namanya juga orang kurang ajar, pastinya tak suka sopan santun semacam itu. Bodoh amat minta izin, yang punyanya saja tidak menghargai miliknya kok. Buktinya, mereka tidak mau menulis tentang apa yang mereka miliki, ya cerita, pengalaman dan ide yang mereka miliki. Daripada mubazir (jadi sahabat setan), mendingan jadi sahabat aku aja.

Keenam, silaturahim. Jika seseorang sudah terjun dalam dunia kepenulisan, maka silaturahim merupakan aktivitas rutin yang mesti mengikat dalam dirinya. Selain mendapat pahala dari Allah, dengan silaturahim seseorang bisa memperoleh banyak hal positif, termasuk ide-ide kreatif yang jarang melintas di pikirannya.
Sudah banyak yang mengakui bahwa silaturahim menjadi pembuka bagi jalan buntu, termasuk dalam dunia kepenulisan. Aku sendiri kerap menggunakan kiat ini. Misalnya, di saat aku hendak menulis artikel seputar sosial-politik, pendidikan dan sebagainya, maka aku berusaha menyempatkan diri untuk silaturahim dengan tokoh yang menurutku kompeten dengan tema yang aku tulis. Latarnya bisa beragam seperti akademisi, guru, pengamat, wartawan, penulis dan sebagainya.

Ketujuh, nikmati saja. Ya ini tak kalah pentingnya : menikmati karya tulis kamu sendiri apa adanya. Di saat kamu menulis lalu dihadapkan dengan kebuntuan, maka hal pertama yang mesti kamu lakukan adalah menikmati karya kamu; hargai dan nikmatilah tulisan kamu.

Menjadi sang hebat mesti berproses dan membutuhkan waktu tak sedikit. Kemampuan menghargai hasil karya sendiri apa adanya adalah cara lain dalam mencapai posisi sebagai penulis yang menghasilkan karya-karya hebat. Jika kamu sudah terbiasa menikmati karya kamu, maka alam bawa sadar kamu bahkan batin kamu akan tenang; berikutnya akan terdorong untuk menulis kembali. Pada kondisi semacam itu, kamu akan menemukan celah untuk menulis kembali; ya menuliskan kembali ide-ide yang berserakan dalam pikiran kamu, atau yang berada di sekitar kamu.

Lagi-lagi, kiat inilah yang kerap aku jadikan sebagai senjata di saat menemukan kebuntuan dalam menulis. Sebagai manusia biasa, aku kerap mengalami hal semacam ini. Namun aku tak mau kalah dengan kenyataan, aku mesti mampu melampauinya secara cerdas : menikmati karya atau tulisanku apa adanya.

Demikian, mudah-mudahan beberapa kiat sederhana di atas bisa membantu kamu dalam menggali ide di saat kamu hendak menulis. Jika kamu memiliki kiat lain, aku mengusulkan agar kamu berkenan berbagi dalam bentuk tulisan. Semoga dengan begitu, pengalaman kamu bisa menjadi inspirasi bagi aku dan para pembaca di luar sana. Selamat mencoba, mari menulis! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur KOMUNITAS, Direktur Penerbit Mitra Pemuda, Penulis buku “Menulis itu Praktik”, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di STAI Bunga Bangsa Cirebon, BBC. Pernah disampaikan sebagai pemantik diskusi ketika menghadiri acara diskusi KOMUNITAS (Komunitas Cirebon Membaca, Cirebon Menulis)—salah satu komunitas kepenulisan di Cirebon-Jawa Barat pada Sabtu 9 Mei 2015].

2 thoughts on “Menggali Ide Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s