Melawan Ketidakjujuran dengan Kejujuran

30 Apr
Melawan Ketidakjujuran dengan Kejujuran

Melawan Ketidakjujuran dengan Kejujuran

TIGA pekan lalu beberapa teman yang aktif di sebuah kelompok diskusi di Cirebon mengadakan survei kecil-kecilan seputar kejujuran dalam proses pendidikan. Hal ini dilakukan di saat menjelang momentum Ujian Nasional SMS/Sederajat dan Ujian Akhir Semester (UAS) di berbagai Perguruan Tinggi. Survei dengan cara “tatap muka” ini mengikutkan peserta sebanyak 500 orang yang berasal dari berbagai latar usia, namun masih dalam lingkup dunia pendidikan di Cirebon. Dari Siswa SMA/sederajat, Guru SMP/sederajat, Guru SMA/sederajat, Mahasiswa dan Dosen.

Dari puluhan pertanyaan, diantara jawaban yang mendapatkan presentase tertinggi adalah pertanyaan, “Apakah nilai ijazah akhir yang Anda dapatkan di saat SMA/kuliah didapat dengan cara curang seperti menyontek jawaban?” sebanyak 40% menyatakan ya; “Apakah Anda puas dengan hasil yang Anda peroleh dengan cara curang?” sebanyak 46% menyatakan tidak.

Ada yang menarik, di saat menjawab pertanyaan “Apakah Anda setuju jika seseorang menyontek jawaban di saat ujian semester atau semacamnya?” justru 75% menyatakan tidak setuju. Bahkan pada pertanyaan “Andai Anda menjadi orangtua, atau berprofesi menjadi guru/dosen, apakah Anda setuju jika anak atau peserta didik Anda menyontek di saat ujian?”, justru 68% menyatakan tidak setuju.

Dari sini dapat disimpulkan, pertama, kebiasaan menyontek tidak berbanding lurus dengan kepuasan yang didapat. Bagaimana pun, seperti yang diakui oleh seorang teman yang dulu di saat masih SMP dan SMA suka menyontek bahwa dengan cara menyontek justru hasilnya mendapatkan nilai yang kecil alias jauh dari yang diharapkan. Bahkan karyawan di salah satu perusahaan tekstil tersebut mengakui bahwa dengan menyontek di saat SMP dan SMA justru membuat dirinya dihantui oleh rasa was-was hingga kini.

Selanjutnya, kondisi semacam ini bisa jadi akan mempengaruhi karakter atau mental pelakunya yang akan terbawa seumur hidup dan dalam segala situasi. Dalam skala individu maupun sosial orang semacam ini selalu ingin melakukan kecurangan dalam berbagai bentuknya, walaupun nuraninya menolak atau jiwanya tidak tenang.

Kedua, orang yang suka melakukan kecurangan (seperti menyontek) hanya menyatakan kesetujuannya jika hal tersebut sesuai dengan selera syahwat dirinya. Pada saat yang sama ia bangga melakukan kecurangan; tidak peduli apakah orang lain dirugikan atau tidak, dizolimi atau tidak. Sederhananya, orang yang suka curang selalu berupaya agar orang lain menjadi baik tapi tidak untuk dirinya sendiri. Ibarat lilin, ia selalu menyala karena hendak memberi terang bagi orang lain, namun ia menggelapkan bahkan membakar dirinya sendiri.

Ironi Ketidakjujuran

Perlu diakui bahwa masih menonjolnya berbagai karakter negatif di tengah masyarakat dalam berbagai bentuknya (pembegalan, pencurian, pemerkosaan hingga pembunuhan); bahkan di kalangan para elite bangsa (korupsi/pencurian, intrik politik sesaat, ingkar janji, acuh, pemborosan anggaran, mark up anggaran hingga kebohongan publik), merupakan “saksi” paling akurat betapa pendidikan karakter masih mencari bentuk aplikasinya dalam kehidupan kita.

Kejujuran, misalnya, masih belum menjadi karakter yang membanggakan, justru pelakunya kerap dimusuhi bahkan dianggap kuno. Uniknya, kecurangan justru kerap dibangga-bangkkan dan mendapat tempat dalam budaya individu dan kolektif kita. Fakta semacam itu sebetulnya mengingatkan kembali memori kita seputar karakter manusia Indonesia yang menonjol, yang pernah diungkap oleh budayawan Mochtar Lubis (alm.), dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6 April 1977 silam yang mengatakan bahwa “orang Indonesia memiliki beberapa karakter menonjol yaitu munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter, cenderung boros, dan suka jalan pintas.” Apa yang disinggung oleh penulis buku “Manusia Indonesia”(2001) tersebut sebetulnya mengisyaratkan bahwa negeri ini memang masih membutuhkan manusia-manusia berkarakter, termasuk berkarakter jujur.

Dalam pengantar buku “Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter” yang dikekeluarkan oleh Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional (sekarang: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) pada tahun 2011, Kabalitbang Kemmendiknas menulis: “Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Hal ini sekaligus menjadi upaya untuk mendukung perwujudan cita-cita sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.”

Sedangkan tujuan pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yang meliputi : (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berprilaku baik; (2) membangun bangsa yang berkarakter; (3) mengembangkan potensi warganegara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia.

Pada tulisan yang berjudul “Pembegalan dan Pentingnya Pendidikan Karakter” yang pernah dimuat di Kolom Wacana HU Radar Cirebon (Selasa/10/2/2015) saya sempat singgung bahwa dalam rangka memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan, telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, (18) tanggung jawab (Sumber: Pusat Kurikulum. Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009: 9-10).

Dari beberapa ketentuan tersebut sangat jelas bahwa tujuan pendidikan adalah melahirkan manusia-manusia yang beradab; memiliki karakter baik dan mulia, yang kelak memberi efek positif bagi pembangunan peradaban bangsa. Pertanyaannya, apa mungkin karakter semacam itu terbentuk atau terwujud manakala dalam memperoleh ilmu atau dalam proses pendidikan—seperti yang dikatakan oleh Pakar Pendidikan Islam asal Malaysia Prof. Naquib Al-Attas (2008)—sebagai “kunci dan cahaya adab” justru dihantui oleh berbagai kecurangan alias ketidakjujuran yang dilakukan oleh para pendidik dan peserta didik? Pertanyaan berikutnya: Apakah mungkin Indonesia beradab dapat terwujud jika stakeholder utama (dalam dunia pendidikan) justru melakukan tindakan tidak beradab terhadap ilmu dan melakukan kecurangan dalam proses berilmu?

Langkah Menjadi Orang Jujur

Diantara langkah yang dapat ditempuh agar menjadi orang yang berjiwa atau berkarakter jujur yaitu, pertama, percaya kepada Allah bahwa Ia Maha Melihat segala yang kita lakukan. Dalam hal ini sesuai dengan konsep Ihsan: menghamba kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, tapi jika tak melihat-Nya (karena memang mustahil) maka mesti tetap percaya bahwa sesungguhnya Allah Maha Melihat kita dan apa yang kita lakukan.

Di saat ujian, misalnya, tidak adanya pengawas atau tidak adanya manusia yang tahu, justru seharusnya tidak serta merta disalahgunakan untuk melakukan ketidakjujuran (menyontek jawaban). Sebab sangat percaya bahwa Allah Maha Melihat; merasa bahwa Allah selalu mengawasi perilaku (tingkah laku) baik atau buruk kita. Menyadari bahwa ketidakjujuran bukan saja merusak mental pelakunya, tapi juga menzolimi orang lain yang tidak melakukan kecurangan. Lebih jauh, menyadari bahwa berperilaku jujur adalah ciri manusia unggul yang mendapatkan jatah surga dari-Nya. Bukan kah Sayyidina Abu Bakar Sidiq ra mendapat kehormatan sejarah di hadapan Allah dan Rasul-Nya bahkan orang-orang beriman karena kejujurannya?

Kedua, percaya diri dan berani melawan karakter buruk. Hargai dan percayailah kemampuan diri kita, lalu tinggalkanlah kebiasaan buruk. Sungguh, hal ini merupakan bagian dari kejujuran; dan kejujuran merupakan kebaikan, sedangkan kebaikan merupakan prasyarat mendapatkan jatah surga. Rasulullah Saw. bersabda, “Hendaklah kamu bersikap jujur, karena kejujuran itu membawa kamu kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa kamu kepada surga.” (HR. Bukhari).

Di atas segalanya, sungguh menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa ini dapat kita mulai dengan membiasakan hidup jujur tanpa kecurangan. Terlebih jika kita hidup dalam lingkungan pendidikan, baik sebagai pelajar atau mahasiswa, maupun sebagai pendidik (guru atau dosen), maka berlaku jujur atau tidak curang patut kita biasakan bahkan mesti menjadi prinsip hidup kita. Sebab dari kebiasaan dan lingkungan sederhana seperti itulah hal-hal besar dapat kita atasi dan selesaikan. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Selamat mencoba, dan beranilah berlaku dan berperilaku jujur dalam segala hal dan sistuasinya! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Penerbit Mitra Pemuda, Penulis buku “POLITICS”, “Merawat Mimpi, Meraih Sukses, “Menulis itu Praktik Bukan Teori”, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di STAI Bunga Bangsa Cirebon, BBC. Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya “Melawan Ketidakjujuran dengan Kejujuran; Sebuah Refleksi dan Catatan Sosial-Pendidikan”]

Iklan

Satu Tanggapan to “Melawan Ketidakjujuran dengan Kejujuran”

  1. Cara Mengobati Kesemutan 4 Mei 2015 pada 09:04 #

    kejujuran harus di tanamankan dalam diri kita apa lagi jujur dalam bekerja

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: