Menjadi Kuli Pena, Miliki HERO

Peserta Kajian Pekanan (KAPE) PENA Selasa 10 Maret 2015 dengan materi "All About Skripsi"
Peserta Kajian Pekanan (KAPE) PENA Selasa 10 Maret 2015 dengan materi “All About Skripsi”

BEBERAPA waktu belakangan, terutama hari Selasa setelah shalat Zuhur sampai menjelang Ashar (12.30-13.30 WIB), saya kerap berdiskusi dengan teman-teman di PENA STAI Bunga Bangsa Bangsa (BBC), perihal kepenulisan. Di antara yang kami diskusikan adalah seputar langkah-langkah jitu menjadi penulis yang berani : berani bercita-cita untuk menulis, berani berencana menulis, berani memulai menulis, berani mempublikasikan karya tulis, dan sebagainya.

Sekadar contoh, salah satu Crew PENA yang sering “mengeluh” bahwa dirinya malu dan tidak percaya diri dengan karya tulisnya adalah Ade Fitriyani (AF) yang di komunitas PENA kami kerap menyapanya dengan Mba Ade atau AF.

Untuk menindaklanjuti apa yang dialami oleh AF, atau siapapun yang pernah mengalami hal serupa, saya merasa perlu untuk berbagi. Termasuk mencoba berbagi terkait apa yang dialami oleh AF kini, setelah mencoba melampaui rasa malu dan kurang percaya diri yang kerap menghantuinya dalam beberapa kesempatan. Dan beberapa orang lainnya, yang tentu saja patut dijadikan sumber inspirasi.

Anda pernah menonton film In Pursuit of Happiness? Chris Gardner yang kisah hidupnya diceritakan dalam film itu adalah contoh salesman yang tangguh alias sukses. Ia mampu menjalani kehidupan yang keras dengan cobaan yang bertubi-tubi demi kehidupan yang lebih baik bagi putra tercintanya. Karena ketegaran dan kesabarannya inilah dia akhirnya mampu menjadi salesman yang sukses di sebuah perusahaan sekuritas terkemuka.

Dan ternyata kesuksesan akibat positive thinking (berpikir positif) ini tidak hanya ada di film-film Hollywood tetapi malah telah dapat dibuktikan secara akademis oleh ilmuwan psychology.

Prof. Fred Luthans, dalam buku “Psychological Capital”, membuktikan bahwa pengaruh psychologis dari positive thinking dapat berpengaruh besar pada kinerja dan pencapaian pebisnis.

Ia membuktikan bahwa keadaan psychologis yang positif dari seseorang memiliki andil sekitar 10 persen pada kesuksesan orang tersebut. Sisanya 90 persen ditentukan oleh hal-hal lain seperti skill (keterampilan), pengalaman dan keberuntungan yang tentunya juga memiliki pengaruh tidak sedikit pada kinerja seseorang.
Terdapat empat elemen utama dalam Psychological Capital yang disebutkan oleh Luthans dalam bukunya yakni: Hope, Efficacy, Resiliency dan Optimism (atau disingkat HERO). Luthans merupakan Professor Management di University of Nebraska, dan memiliki banyak pengalaman dalam dunia usaha, termasuk menjadi penulis atau saya sebut sebagai kuli pena. Lebih jelasnya, dapat Anda baca pada pemaparan saya selanjutnya.

Menjadi Kuli Pena yang Ber-HERO

Saya termasuk yang memahami dan meyakini bahwa apa yang digariskan oleh Luthans sebetulnya dapat dielaborasi dan diadaptasikan dalam dunia kepenulisan; ya oleh siapapun yang menyeburkan dirinya sebagai kuli pena. Jadi, selain berpikir positif, maka Anda juga mesti memiliki HERO.

Pertama, Hope, atau yang sering diterjemahkan sebagai harapan adalah keyakinan, kehendak dan pemikiran seseorang bahwa dirinya akan mencapai suatu kesuksesan dari apa yang digelutinya.

Memiliki harapan dapat menimbulkan motivasi untuk mencapai tujuan. Maknanya, jika seseorang benar-benar memiliki harapan atau kehendak yang jelas dalam dunia literasi (pena), maka dia pun akan terus terdorong untuk melakukan sesuatu yang menjadi “biang” dari tercapainya apa saja yang diharapkan atau yang dikehendakinya itu.

Teknisnya, jika seseorang sudah memiliki harapan atau keinginan yang jelas untuk menulis sesuatu tentang sesuatu, maka dia pun akan terdorong untuk segera menulis. Dia tidak menghabiskan waktunya hanya untuk menyusun banyak alasan “tidak bisa”, “tidak tahu”, “banyak kendala”, “sulit” dan sebagainya.

Jika seseorang sudah bermimpi memiliki karya tulis hasil jari tangannya sendiri berupa novel, atau artikel, atau juga cerpen serta serupanya, maka dia pun akan berusaha sekuat tenaga agar semua itu menjadi nyata dalam kehidupannya. Sebesar apa harapannya, maka sebesar itu pula kesungguhan dan hasil yang didapatkannya.

Salah satu peserta Workshop Kepenulisan PENA beberapa waktu lalu juga patut dijadikan sumber inspirasi. Namanya Mba Tria Hartini (Tri). Semangatnya untuk menulis semakin menggebu-gebu pasca acara yang juga disebut dengan acara “Semalam Bersama Pena” sekian jam dengan beberapa pemateri yang oke punya itu.

Sebagaimana yang diakuinya, sejak di bangku SD ia sudah suka menulis. Di jenjang pendidikan selanjutnya, terutama di saat kuliah kini—walau sempat mengalami banyak kendala dan tantangan—rasa sukanya semakin tak terbendung. Karena harapannya besar dan kuat, ia pun kerap menulis cerpen dan puisi. Beberapa waktu lalu ia mengirimkan salah satu puisinya ke Harian Umum Kabar Cirebon. Tanpa disangka akhirnya puisi yang berjudul “Senduku” itu dimuat juga.

Inilah komentar Tria atas apa yang dialaminya ketika itu, “Hm… Ga nyangka dan rasanya seperti seorang anak kecil yang mendapat lotre, bahagia dan bangga tentunya… ketika melihat karya sendiri dimuat di koran dan dibaca oleh semua orang. Can’t be expresed by words.”

Jadi, jika Anda sudah menyeburkan diri dalam dunia atau komunitas kepenulisan, maka mesti segera menulis dan mengirimkan tulisan Anda ke penerbit atau surat kabar. Sisihkan alasan “asal” alias tak penting yang kerap Anda sampaikan, yang tentu saja mengubur potensi dan peluang yang Anda miliki selama ini. Fokuslah pada potensi Anda, temukan ide yang tersembunyi dengan cara yang lebih kreatif.

Coba renungi pernyataan ini: Semakin rajin dan pintar Anda menyusun alasan untuk tidak segera menulis, bahkan semakin bosan bersua dengan komunitas atau tidak mau terjun dalam dunia kepenulisan, maka selamanya Anda tidak akan menulis dan tidak akan menghasilkan karya tulis.

Kedua, Efficacy, adalah rasa percaya diri seseorang bahwa dia memiliki kemampuan untuk menjalankan apa yang diperlukan dalam mencapai harapannya.

Jika dalam dunia usaha-bisnis, rasa percaya diri dan tidak minder merupakan modal utama dalam berhadapan, berpresentasi dan bernegosiasi dengan pelanggan, maka dalam dunia kepenulisan juga begitu.

Sederhananya, jika seseorang memiliki rasa percaya diri bahwa dia bisa menulis dan menghasilkan karya tulis, maka ini pertanda dia sudah memiliki modal utama dalam menulis dan menghasilkan karya tulis yang berkualitas.

Pada awalnya mungkin masih terhantui rasa malu, itu manusiawi saja. Misalnya, seseorang merasa bahwa kualitas tulisannya masih rendah, bahwa tulisannya tak layak dipublikasi atau tak layak dibaca oleh pembaca di luar sana. Bagi saya, sekali lagi, ini sangat manusiawi. Banyak orang yang mengalami hal semacam ini. Saya sendiri pernah mengalami kondisi semacam ini. Namun lambat laun—sebagaimana mereka yang mengalami hal yang sama—saya pun menjadi yakin akan kemampuan saya. Hasilnya? Ya, mungkin Anda pernah membaca karya saya dalam bentuk buku, artikel (di berbagai surat kabar) atau tulisan lepas di blog saya. Semua itu adalah hasil dari kemampuan saya untuk melampaui rasa malu yang kerap menghantui saya.

Saya tentu bukan contoh yang “wah” untuk hal ini, karena itu Anda perlu mengambil hikmah dari AF sebagaimana yang saya singgung di awal tadi. Pada beberapa kesempatan dia kerap berdiskusi dengan Crew PENA yang lain perihal dirinya yang kerap dihantui oleh rasa malu atas karyanya yang dirasa masih tak layak dipublikasi.

Sebagai bagian dari komunitas PENA, Crew PENA yang lainnya tentu hadir sebagai “motivator” yang siap sedia untuk meyakinkan bahwa rasa malu itu manusiawi. Singkat cerita, akhirnya AF pun mengirimkan salah satu Cerpen-nya ke Harian Umum Radar Cirebon. Tak disangka, Cerpen-nya yang berjudul “Cintaku Termakan Usia” pun dimuat juga.

Tak cukup di situ. Beberapa hari kemudian AF pun kembali mengirimkan salah satu Cerpen-nya, “Cacatku Derita Ibu” ke media cetak yang sama. Lagi-lagi, Cerpen tersebut dimuat juga.
Saya percaya, dimuatnya dua Cerpen tersebut adalah “biang” yang membuat AF kelak semakin terpecut untuk menulis dan menulis sehingga menghasilkan karya tulis yang lebih berkualitas sebagaimana yang ia harapkan selama ini. Ini juga bermakna bahwa berani memulai menulis dan berani mengirimkan hasilnya adalah cara terbaik melampaui rasa malu yang berlebihan alias tidak percaya diri dengan karya tulis.

Ketiga, Resiliency adalah kemampuan untuk bangkit dari kegagalan dan konflik. Ini bermakna, seseorang dapat meraih kesuksesan jiks ia siap menerima hasil dari usahanya; gagal maupun suksesnya.

Sukses menjadi seorang kuli pena juga begitu. Sebagai penulis pemula, misalnya, mengalami kegagalan itu sudah pasti. Bahkan teman saya yang sudah menulis belasan buku dan ratusan artikel pernah menyampaikan bahwa, prasayat menjadi penulis yang sukses itu adalah sering mengalami kegagalan dalam menulis.

Ini bermakna bahwa semakin sering seseorang menulis lalu tulisannya “memalukan” alias gagal memberi manfaat bagi pembaca, maka itu adalah “biang” dari berbagai keberhasilan yang segera dipetiknya kelak. Sederhananya, raihlah kesuksesan dari berkarya, bukan dari berdiam diri.

Lalu, apa yang Anda tulis dan akan Anda tulis hari ini? Jika Anda menjawab pertanyaan itu dengan karya tulis, maka itu pertanda bahwa Anda benar-benar membaca dan memahami maksud saya menghadirkan tulisan ini di hadapan Anda.

Keempat, Optimism, atau kerap diterjemahkan dengan optimisme. Optimisme adalah sifat manusiawi yang membuat orang mampu melihat sisi positif dari suatu situasi.

Seseorang yang optimistik cenderung memiliki kemauan yang lebih besar untuk maju karena dia melihat situasi yang lebih positif dari orang yang pesimistik.

Nah, menjadi kuli pena tentu saja sangat membutuhkan modal optimisme. Atau dalam bahasa lain, menjadi bagian dari komunitas kepenulisan berarti dapat dipahami sebagai kesediaan untuk memiliki optimisme.

Mengapa? Sebab itulah yang akan menjadi pecutan di saat rasa pesimis hadir begitu rupa. Ia akan membuat seseorang selalu menatap tiap harapan secara optimis, bahwa ia mamu dan dapat: melakukannya, memulainya, menuntaskannya dan mencapainya.

Menulis itu sendiri adalah aktivitas yang pasti dihadapkan dengan berbagai bentuk tantangan dan hambatan. Mereka yang sukses melampaui tantangan dan hambatan itu sajalah yang meraih apa yang menjadi harapannya. Ini bermakna, di saat seseorang terjun dalam dunia kepenulisan alias sebagai kuli pena, maka stok optimisme dalam dirinya mesti selalu tersedia.

Jadi, selain dalam dunia usaha-bisnis, empat elemen di atas dapat dielaborasi dan diadaptasikan juga dalam dunia lain seperti dunia kepenulisan, ya sebagai kuli pena.

Dalam salah satu studi yang dilakukan di perusahaan Boeing, Luthans menjalankan sebuah workshop peningkatan HERO bagi para insinyur. Hasilnya produktivitas kerja insinyur yang ditingkatkan HERO-nya naik secara signifikan sehingga return on investment atas workshop peningkatan HERO tersebut mencapai 200 kali lipat dari biasanya. Dahsyat kan?

Dalam kompetisi di pasar terkadang teknologi dan produk yang ditawarkan sudah sama bagusnya. Faktor pembeda utama hanyalah sumber daya manusia: kemampuan memaksimalkan fungsi potensi diri. Minimal tiap individu mau dan mampu menghadirkan beberapa elemen tersebut dalam skala individunya, dengan harapan kelak menjadi penunjang utama komunitas dalam skala kolektif.

Saya tentu tidak sedang menggurui Anda, tapi sedang berbagi dengan Anda dengan cara dan melalui tulisan sederhana. Bahwa, jika Anda sudah terjun dalam dunia kepenulisan atau apa yang saya sebut sebagai kuli pena, maka Anda perlu menjawab pertanyaan sederhana dari saya: apakah Anda memiliki dan mendayagunakan HERO Anda?

Jika ya, selamat meningkat kualitas HERO dan dayagunakan HERO Anda. Jika belum, maka saya menganjurkan Anda agar segeralah memiliki dan mendayagunakan HERO Anda sekarang; lalu buanglah seluruh alasan yang dibuat-buat, yang justru membuat Anda tidak segera menulis padahal Anda berada dalam komunitas kepenulisan yang menghendaki Anda mesti berkarya: menulis. Sebab orang-orang yang Anda cintai bahkan ratusan juta pembaca di luar sana sudah menanti karya tulis terbaik Anda. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis buku “Menulis itu Praktik” (2015)]

One thought on “Menjadi Kuli Pena, Miliki HERO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s