Menjadi Orangtuanya Manusia

Saya (Syamsudin Kadir), istri (Uum Heroyati) dan kedua anak kami (Azka Syakira dan Bukhari Muhtadin)
Saya (Syamsudin Kadir), istri (Uum Heroyati) dan kedua anak kami (Azka Syakira dan Bukhari Muhtadin)

BEBERAPA hari yang lalu dalam sebuah seminar nasional saya bersua dengan seorang yang baru saja saya kenal. Sebut saja namanya X (bukan nama asli). Di sela-sela mendengarkan pemaparan dari narasumber, X berbagi cerita kepada saya seputar anaknya yang memiliki sikap agak aneh. X bercerita bahwa ia kerap mendapat SMS dari anaknya yang masih duduk di kelas 11 SMA yang intinya si anak sudah tak mau tinggal dengan orangtuanya lagi, baik ibu maupun bapaknya. Walaupun masih kerap bersua di rumah, namun si anak selalu mengabarkan (dari sekolahnya) bahwa ia pada dasarnya tak suka bersua dengan kedua orangtuanya lagi.

Selidik demi selidik, X akhirnya menemukan alasan mengapa si anak enggan bersua dengan kedua orangtuanya. Sederhana tapi cukup mendasar dalam pendidikan keluarga: orangtuanya kerap memaksakan kehendak kepada anaknya, nasehatnya hambar dan nihil makna, dan berperilaku jauh dari yang diharapkan anaknya. Intinya, si anak merasa “kesepian” dari keberadaan orangtuanya.

Pelajaran Berharga

Dari sepenggal kisah keluarga X saya menemukan beberapa catatan penting, pertama, orangtua kerap menjadi “pemaksa” kehendak kepada anaknya. Ya faktanya, tak sedikit orangtua yang merasa telah bersungguh-sungguh menjadi orangtua (dengan berbagai macam didikan yang diterapkan), namun hasilnya sangat jauh dari yang diharapkan. Mengapa? Karena orangtua sudah merasa melakukan yang terbaik padahal baru “memaksakan” kehendak kepada anaknya.

Menurut Mohammad Fauzil Adhim (2009), orangtua kerap memaksa anak-anaknya untuk mengikuti kehendaknya, padahal si anak diciptakan bukan untuk zaman kedua orangtuanya. Si anak sejatinya diciptakan untuk zaman yang berbeda.

Apa yang disampaikan oleh penulis buku “Saat Berharga untuk Anak Kita” itu sangat tepat. Orangtua terbiasa menyuruh anak untuk mengikuti jejajk karir akademiknya, misalnya, padahal si anak belum tentu memiliki potensi dan bakat untuk karir yang sama. Jika ini berlanjut, maka anak akan melakukan “perlawanan” dengan berbagai cara sesuai pilihan sikap yang ia miliki dari yang didengar dan disaksikan dari luar dirinya. Termasuk memilih untuk tidak bersua dengan orangtuanya.

Kedua, orangtua kerap tidak hadir dalam kehidupan anak. Betul bahwa secara fisik anak membutuhkan keberadaan orangtuanya, namun anak sejatinya membutuhkan kehadiran jiwa orangtuanya. Jiwa bukan bicara seberapa kali orangtua memeluk dan menyalami anak; tapi seberapa tulus orangtua menjalankan peran dan fungsi orangtua seperti yang Allah mandatkan dalam kehidupan keluarga. Kata kuncinya adalah kehadiran fisik yang disertai kehadiran jiwa (nurani) orangtuanya.

Di sini, misalnya, anak membutuhkan perilaku yang jujur dari orangtuanya, bersikap apa adanya: tidak dibuat-buat. Namun faktanya, tak sedikit orangtua yang terlihat akrab dengan anaknya, padahal batin si anak tak merasakan apa-apa. Ini memang tidak bisa dihitung secara matematis, namun efek negatifnya bisa dirasakan dalam kehidupan nyata si anak. Anak merasa orangtua bagai patung, fisiknya ada namun substansinya (kadang) tak ada.

Ketiga, orangtua kadang tidak menjadi teladan dalam bersikap dan melakukan kebaikan dalam keluarga. Dengan berbagai alasan, orangtua kadang tak layak menjadi teladan bagi anaknya. Sederhana saja, soal disiplin waktu. Di saat anak membutuhkan teladan dalam memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, orangtua justru kerap mengisi waktu (luang) yang ada dengan aktivitas yang tidak penting bahkan merugikan.

Jadi, di saat anak membutuhkan orangtua “model” dalam keteladanan, justru dihadapkan dengan kenyataan yang jauh dari yang diharapkannya. Padahal—sebagaimana menurut Kak Seto Mulyadi (2010)—“secara psikologi anak selalu membutuhkan teladan kebaikan sejak bawaan, terutama dari keluarga terdekat atau orangtuanya.” Ini bermakna, anak akan tergantung pada lingkungannya. Lebih jauh, anak selalu mengikuti apa yang ia lihat dan saksikan di sekitarnya; karena memang secara fitrah, anak membutuhkan itu. Tapi jika lingkungan sekitarnya berbeda dengan kehendak nuraninya, maka ia akan berontak atau melakukan “perlawanan”.

Jalan Keluar

Apa yang dialami oleh X sebetulnya kerap kita saksikan di sekitar kita—sebagaimana yang kita saksikan juga melalui berita dan informasi media massa (TV, Surat Kabar, Majalah dan sebagainya)—atau bisa jadi dalam keluarga kita sendiri. Untuk itu, dalam konteks kasus di atas—dan kasus lain yang serupa atau mirip—paling tidak ada beberapa jalan keluar yang bisa ditempuh orangtua, pertama, jadilah “orangtua bagi manusia”. Istilah ini sebetulnya saya adaptasikan dari judul buku karya Pak Munif Chatif yang berujudul “Sekolahnya Manusia”. Pernyataan ini memang terlihat janggal, namun substansinya adalah bahwa menjalankan peran dan fungsi orangtua mestinya memperhatikan kebutuhan dasar manusia (anak) sesuai dengan umur, jenjang pendidikan, karakter dan potensinya. Bahwa orangtua sejati adalah mereka yang mampu menjalankan peran dan fungsinya secara maksimal, namun mesti disertai dengan memperhatikan aspek-aspek dasar manusia (anak) yang tidak layak dianulir begitu saja.

Anak adalah karunia Allah dengan segala potensi alamiyah yang dimilikinya. Kejelian orangtua dalam memahami anak dari sisi ini akan membuat orangtua tidak seenaknya “memaksakan” kehendak pada anaknya. Sebab dia tahu bahwa si anak tidak mesti menjadi seperti dirinya, karena si anak adalah generasi untuk zaman yang berbeda dengan zamannya. Maka benar kata sahabat Ali bin Abi Tholib ra., “Jangan paksakan anakmu untuk menjadi seperti kamu, karena mereka diciptakan bukan untuk zaman kamu—tapi untuk zaman yang lain”.

Kedua, jadilah orangtua yang memiliki jiwa, lebih dari sekadar fisik. Betul bahwa cinta, kasih sayang, rasa rindu dan semacamnya tak bisa dipisahkan dengan kebutuhan dan ekspresi fisik: orangtua hadir secara fisik dalam kehidupan anak-anak. Namun dalam konteks pendidikan ideal (terutama dengan perkembangan anak dan percepatan informasi akhir-akhir ini), kehadiran fisik saja adalah nihil makna. Oleh karena itu, di sini orangtua mesti “menghadirkan” jiwanya dalam kehidupan anak. Mencintai anak, misalnya, perlu diucapkan dengan lisan, namun lebih penting lagi dibangun dari dalam jiwa, dari dalam hati juga perasaan.

Dalam konteks ini, alangkah baiknya jika orangtua mendalami pemikiran Fakhruddin ar-Razi (ar-Razi) tentang esensi dan hakikat manusia dan esensi kehidupannya yang beliau sebut sebagai manusia mulia. Menurut ar-Razi, hakikat manusia adalah jiwanya. Keringnya jiwa adalah pertanda kesia-siaan manusia. Demikian pemikiran ar-Razi dalam karyanya Kitab an-Nafs wa ar-Ruh wa as-Syarh Quwahuma (Buku Mengenai Jiwa dan Ruh dan Komentar Terhadap Kedua Potensinya).

Ketiga, orangtua mesti menjadi teladan pertama. Bagaimanapun, umumnya orangtua adalah manusia pertama yang paling dekat dan pertama dikenal oleh si anak. Ini bermakna, orangtuanya-lah yang menjadi “manusia” pertama yang selayaknya menjadi teladan dalam kehidupan si anak. Ketika orangtua “gagal” menjalankan peran dan fungsi ini, maka si anak (terutama pada usia awal bahkan selanjutnya) akan mencari “manusia lain” sebagai model teladan. Kalaulah, misalnya, manusia yang diteladani (selain orangtua) adalah orang yang patut diteladani, maka itu tak mengapa; namun jika sebaliknya (tak layak diteladani), maka orangtua perlu mengevaluasi diri dan segera menjadi teladan terbaik bagi anaknya.

Dalam sejarah dapat kita pahami bahwa manusia-manusia berjiwa besar kerap terlahir dari manusia-manusia berjiwa besar pula, ya dari orangtua-orangtua berjiwa besar. Jadi, seperti apa anak-anak kita, generasi penerus kita di masa depan sangat ditentukan oleh kemampuan kita saat ini untuk menjadi orangtua yang layak bagi mereka. Bahwa mereka butuh orangtua yang mampu memahami anak, memiliki ketenangan jiwa dan berjiwa besar serta patut menjadi teladan terbaik bagi anak; maka kita mesti segera menjadi orangtua yang (pantas) mereka butuhkan. Semoga dengan begitu, kita dan anak-anak kita kelak mendapatkan sebutan yang khusus dalam sejarah umat manusia sekaligus mendapatkan kehormatan di sisi Allah Swt. Sungguh, waktu dan peluang itu masih ada, mari menyegerakan diri menjadi orangtua semacam itu, ya mari menjadi orangtuanya manusia! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di STAI Bunga Bangsa Cirebon, BBC].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s