Membangun Kembali Tradisi Keilmuan Islam

Tradisi Keilmuan Islam
Tradisi Keilmuan Islam

MEMAHAMI berbagai fenomena pendidikan kita (Indonesia) akhir-akhir ini yang dihadapkan dengan berbagai tantangan begitu kompleks, di samping berbagai kritik atas kurikulum dan hasil pelaksanaan pendidikan yang dianggap kurang memuaskan, membuat kita terus bertanya: apa yang mesti kita lakukan, dari mana sumber inspirasi yang dapat kita petik?

Dalam sejarah peradaban umat manusia terdapat satu episode yang perlu kita jadikan sebagai sumber inspirasi, yaitu tradisi keilmuan dalam Islam. Dengan segala keunikan dan kekhasannya ia mampu menghadirkan peradaban unggul; bukan saja unggul dari tradisinya, tapi juga unggul dari segi manfaatnya, baik bagi umat Islam khususnya maupun bagi umat manusia umumnya.

Tradisi Keilmuan Peradaban Islam

Dalam sejarah peradaban Islam dikisahkan bahwa Muhammad bin Abdillah dilahirkan di kawasan padang pasir, tandus dan gersang, jauh dari peradaban kala itu: Persia dan Romawi. Pada usia 40 tahun Muhammad diangkat menjadi Nabi sekaligus Rasul. Tugas baru yang diembankan kepadanya dari Tuhannya itu bukanlah tugas yang ringan, namun sebuah tugas yang amat sangat berat. Tugas itu adalah menyampaikan risalah tauhid kepada seluruh ummat manusia di penjuru dunia.

Dalam waktu ± 23 tahun, setelah mengalami berbagai macam rintangan dan cobaan sepanjang dakwah risalah, Nabi Muhammad telah mampu membangun suatu tatanan kehidupan di mana siapa saja yang berteduh di bawahnya akan merasakan kesejukannya. Hal itu ditandai dengan lahirnya sebuah kota yaitu Madinah Al-Munawwarah, kota yang tercerahkan. Kemudian Kota tersebut bermetamorfosis, menjelma menjadi suatu negara (state) atau peradaban (civilization).

Menurut Ibnu Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting antara lain 1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi, 2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer, dan 3) kesanggupan berjuang untuk hidup. Ketiga elemen tersebut telah mewujud di Madinah kala itu. Berdasarkan teori Ibnul Khaldun tersebut Madinah sudah bisa dikatan sebagai sebuah peradaban. Dari Madinah-lah kebangkitan Peradaban Islam berawal dan berkembang (Hamid Fahmy Zarkasyi, 2010).

Peradaban Islam di mulai dengan tradisi ilmu atau tafaqquh fid din secara terus menerus. Mulai dari turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. proses interaksi dan ideasi antar individu dan masyarakat senantiasa didasarkan pada wahyu. Ini bukti bahwa ilmu tidak hanya dalam pikiran semata akan tetapi mewujud dalam sebuah aktifitas, baik berupa amal infiradi maupun amal jama’i. Dari sinilah lahir komunitas ilmiah yang mana oleh sebagian ahli sejarah disebut Ahlus Suffah.

Di lembaga pendidikan pertama inilah kandungan wahyu dan hadist-hadist Nabi dikaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif. Meski materinya masih sederhana tapi karena obyek kajiannya tetap berpusat pada wahyu, yang betul-betul luas dan kompleks. Materi kajiannya tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia, yang menurut orang Barat merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual Yunani dan bahkan kebudayaan Barat (the cradle of western civilization).

Hasil dari kegiatan ini memunculkan alumni-alumni yang menjadi pakar dalam hadist Nabi, seperti Abu Hurairah, Abu Dhar Al Ghifari, Salman Al Farisy, Abdullah ibn Mas’ud dan lain-lain. Ribuan hadist telah berhasil direkam oleh anggota sekolah ini. Kegiatan pengkajian wahyu dan hadist kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya dalam bentuk lain.

Tidak lebih dari dua abad lamanya, telah muncul ilmuan-ilmuan terkenal dalam berbagai bidang studi keagamaan, seperti Qadi Surayh (w.80 H/699 M), Muhammad ibn al Hanafiyah (w.81 H/700 M), Umar ibn Abdul Aziz (w.102 H/720 M), Wahb ibn Munabih (w. 110,114 H/719,723 M), Hasan al Basri (w.110 H/728 M), Ja’far al Shadiq (w. 148/765), Abu Hanifah (w.150/767), Malik ibn Anas (179/796), Abu Yusuf (w.182/799), al Syafi’i (w.204/819), dan lain-lain.

Menurut Prof Wan Dawd (2009), Islam adalah sebuah peradaban yang memadukan aspek dunia dan aspek akhirat, aspek jiwa dan aspek raga. Ia bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu pada masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmuan yang dzalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Sebab ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh sahabat-sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar, ’Utsman, Ali (radhiyallahu ’anhum) dan lain-lain.

Tradisi keilmuan tersebut kemudian berlanjut dari generasi ke generasi, dari abad ke abad dan mengalami puncak perkembangan dan keemasannya antara abad ke-7 M sampai pada abad ke-12 M. Pada saat itu telah lahir intelektual-intelektual muslim di bidang sains dan teknologi, seperti Al Khawarizmi, ‘Bapak Matematika’ Muslim (w. 780 M) yang namanya dikenal di dunia Barat dengan Algorizm, Ibnu Sina ‘Bapak Kedokteran Muslim’ yang dikenal dengan sebutan Aviecena. Ibnu Sina sebelum meninggal telah menulis kitab sejumlah kurang lebih 276 karya. Karyanya yang sangat monumental al Qonun fi al Tibb telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin di Toledo, Spanyol pada abad ke-12. Buku ini juga telah dijadikan rujukan utama di universitas-universitas Eropa sampai abad ke-17 (Adnin Armas, 2010).

Hikmah Penting

Diantara hikmah penting yang patut kita ambil, pertama, peradaban Islam dibangun di atas ilmu yang berbasiskan wahyu. Ilmu di dalam Islam berdimensi Iman. Ilmu dalam pikiran menguatkan keyakinan yang menghujam di dalam hati, yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan (amal). Dimensi tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh.

Kedua, ilmu perlu pewarisan melalui sarana-sarana khas. Dalam konteks kekinian, misalnya, pesantren, sekolah, perguruan tinggi dan sebagainya. Ia mesti disampaikan secara masif untuk manusia lintas generasi. Ilmu hanya mungkin terwariskan manakala ada segolong orang yang memang dibentuk dan memiliki kapasitas (baca: otoritas) untuk melakukan pekerjaan besar semacam itu. Sederhananya, dalam Islam, ilmu sekaligus tradisi yang menopangnya mesti memiliki “model manusia” yang patut diteladani oleh manusia lintas latar belakang. Dalam konteks pendidikan kita, maka guru dan dosen mesti menjadi “model manusia” yang dapat dijadikan teladan keilmuan dan amal oleh peserta didik: siswa dan mahasiswa; di samping—yang tak kalah pentingnya adalah—orangtua.

Ketiga, tradisi keilmuan atau pendidikan mesti memiliki orientasi yang jelas, termasuk memberi kontribusi yang baik dan maslahat bagi kemanusiaan. Inilah titik kunci ilmu sekaligus tradisi keilmuan yang sesungguhnya: apa manfaat dan maslahatnya untuk kemanusiaan. Ketika pendidikan hadir sebagai solusi dan menghadirkan maslahat bagi kehidupan maka ia akan menemukan ruangnya dalam sejarah kemanusiaan.

Pertanyaannya: mungkinkah di era ini tradisi keilmuan dan beberapa hikmah tersebut itu bisa dibangun kembali? Semuanya mungkin, asal kita, terutama kalangan perguruan tinggi (Islam), pegiat pendidikan di berbagai level (TK hingga SMU/sederajat) dan elemen pendukung pendidikan lainnya mau serta mampu memulainya dari sekarang: dari lingkungan kita masing-masing. Semoga dengan begitu, negeri ini ke depan semakin maju dan berperadaban serta berkontribusi banyak bagi kemajuan peradaban umat manusia di seluruh dunia. Itulah makna lain dari Islam sebagai agama rahmatan lil’aalamiin, agama yang mampu menghadirkan kasih sayang bagi seluruh penghuni alam. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat PENA dan Pendidikan Islam di STAI BBC. Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Membangun Kembali Tradisi Keilmuan Islam; Studi Tradisi Peradaban Islam”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s