Menjadi Manusia Mulia ala Ar-Razi

ar raziPADA prinsipnya kenikmatan ruhani, kebahagiaan jiwa, kecintaan untuk meraih ilmu pengetahuan, melakukan ibadah, menjauhi kemaksiatan, melakukan kebajikan dan mencintai Allah dengan segenap jiwa dan raga, merupakan esensi manusia dan hakikat kehidupannya.

Dalam panorama kehidupan yang meresahkan akhir-akhir ini dimana merebaknya pemujaan terhadap budaya kuliner yang berlebihan, hedonis, materialis, permisif, pornoaksi, pornografi, pemerkosaan, korupsi, kriminalitas, pembegalan dan berbagai bentuk tindak-tanduk buruk serta berragam masalah, maka merenungi dan memahami kembali esensi dan hakikat semacam itu menjadi penting dan mendesak untuk kita lakukan.

Dalam konteks ini, kita bisa mendalami pemkiran Fakhruddin ar-Razi (ar-Razi), khususnya gagasan beliau tentang esensi dan hakikat manusia dan esensi kehidupannya yang beliau sebut sebagai manusia mulia.

Menjadi Manusia Mulia

Salah satu hal yang menarik dari ar-Razi adalah pemikirannya yang menempatkan manusia pada posisinya yang subtantif. “Manusia mulia adalah manusia yang mengutamakan Wahyu Allah dan akalnya dibanding mengikuti hawa nafsunya,” demikian ungkap ar-Razi dalam karya beliau Kitab an-Nafs wa ar-Ruh wa as-Syarh Quwahuma (Buku Mengenai Jiwa dan Ruh dan Komentar Terhadap Kedua Potensinya).

Dalam khazanah Islam, ar-Razi adalah seorang ulama-intelek yang berwibawa dan punya tempat yang khusus dalam hati umat Islam (m. 606 H/ 1210 M). Beliau merupakan salah satu ulama besar yang memiliki karya tulis yang fenomenal dalam berbagai bidang keilmuan. Beliau menulis ratusan kitab dalam bidang Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, Kalam, Logika, Fisika, Filsafat, Kedokteran, Matematika, Astronomi, dan sebagainya, yang dikaji di hampir seluruh perguruan tinggi di seluruh dunia.

Dalam memahami manusia, ar-Razi menggariskan bahwa manusia memiliki hawa nafsu dan tabiat yang selalu berusaha menggiringnya untuk memiliki sifat-sifat buruk. Tapi, jika manusia lebih mengutamakan bimbingan wahyu Allah dan akal dibanding hawa nafsunya, maka ia akan jadi mulia. Bahkan, kata ar-Razi, manusia bisa lebih mulia dari malaikat. Mengapa? Malaikat selalu bertasbih karena tidak memiliki hawa nafsu, sementara manusia harus berjuang melawan hawa nafsunya.

Menurut ar-Razi, kebahagiaan jiwa atau kenikmatan ruhani lebih tinggi martabatnya dibanding kebahagiaan fisik atau kenikmatan jasmani. Lebh jauh, kalau kita mendalami pemikiran ar-Razi, maka apa yang menjadi pemikirannya tentu berpijak pada argumentasi yang kuat. Sekadar beberapa contoh, misalnya (sebagaimana yang juga diungkap oleh Adnin Armas (2014), pertama, jika kebahagiaan manusia terkait dengan hawa nafsu dan mengikuti amarah, maka hewan-hewan tertentu—yang amarah dan nafsunya lebih hebat—akan lebih tinggi martabatnya dibanding manusia. Singa lebih kuat nafsu amarahnya dibanding manusia; burung lebih kuat daya seksualnya ketimbang manusia. Tapi, faktanya, singa dan burung tidak lebih mulia dari manusia.

Kedua, jika makanan atau seksualitas menjadi sebab diraihnya kebahagiaan dan kesempurnaan, maka seseorang yang makan terus menerus akan menjadi manusia paling sempurna atau paling bahagia. Tapi, seorang yang makan terus menerus dalam jumlah berlebihan, justru akan membahayakan dirinya. Jadi, sebenarnya makan adalah sekadar untuk memenuhi kebutuhan jasmani, bukan menjadi penyebab pada kebahagiaan atau pun kesempurnaan manusia.

Ketiga, manusia sebagaimana hewan merasakan kenikmatan saat makan dan minum. Jika makan menjadi sebab pada kebahagiaan, maka manusia tidak akan menjadi lebih tinggi derajatnya dibanding hewan. Bahkan manusia bisa lebih rendah dari hewan jika kebahagiaan manusia diidentikkan dengan kenikmatan jasmani. Sebab, manusia—dengan akalnya–menyadari, kenikmatan jasmani tidaklah sempurna. Sedangkan hewan, tidak bisa menyadarinya karena hewan tidak bisa berfikir tatkala sedang dalam kenikmatan jasmani.

Keempat, kenikmatan jasmani sejatinya bukanlah kenikmatan yang sebenarnya. Seseorang yang sangat lapar, akan segera merasakan nikmat yang tinggi jika ia segera makan. Sebaliknya, seseorang yang sedikit laparnya, sedikit pula rasa nikmatnya ketika ia makan. Seseorang merasakan kenikmatan berpakaian saat ia merasa terlindung dari rasa dingin dan panas. Ini menunjukkan, nikmat jasmani bukanlah kenikmatan yang sesungguhnya. Jiwanyalah yang merasakan kebahagiaan; dan kebahagiaan jiwa bukanlah kenikmatan jasmani.

Kelima, manusia laiknya hewan, makan, minum, tidur, melakukan aktivitas seksual, dan terkadang ‘menyakiti’ yang lain. Namun, manusia lebih mulia dari hewan. Jika demikian, maka kesempurnaan dan kebahagiaan manusia mustahil sama dengan kenikmatan jasmani hewan.

Keenam, para malaikat lebih mulia dari hewan. Malaikat tidak makan dan tidak minum. Kesempurnaan Allah, Sang Pencipta, juga tidak terletak sama sekali pada hal-hal yang terkait dengan kebutuhan jasmani. Kemuliaan Allah terletak bukan pada kebutuhan jasmani. Dalam suatu hadis Nabi disebutkan, supaya manusia berakhlak dengan akhlak Allah. Tentunya memperbanyak kebajikan dan kebijaksanaan akan menjadikan akhlak terpuji. Kemuliaan manusia bukan dengan memperbanyak makan dan minum.

Ketujuh, orang yang memandang kebahagiaan dan kemuliaan bukan pada aspek jasmani, akan memandang orang yang berpuasa, menahan diri dari makan, minum dan hawa nafsu, sebagai seorang yang memiliki aura spiritual yang tinggi. Sebaliknya, jika seseorang menyibukkan dirinya hanya dengan makanan, seks, dan mengabaikan ibadah dan ilmu pengetahuan, maka orang tersebut dipandang rendah. Ini menunjukkan kenikmatan jasmani bukanlah kenikmatan hakiki yang mulia.

Kedelapan, jika segala sesuatu pada dirinya adalah kesempurnaan dan kebahagiaan, maka seseorang tidak akan malu untuk menunjukkannya. Orang itu justru bangga jika dapat mengerjakannya. Kita paham, orang berilmu tidak akan bangga dengan makanannya dan nafsu-nafsu syahwat lainnya. Ini—sekali lagi—menunjukkan nikmat jasmani bukanlah sesuatu yang mengantarkan kepada kebahagiaan dan kesempurnaan.

Kesembilan, hewan yang kerjanya hanya makan dan minum serta malas untuk berlatih, maka ia akan dijual murah. Sebaliknya, hewan yang makan dan minum serta mau berlatih keras, maka akan dijual dengan harga yang tinggi. Kuda yang ramping, berlari kencang, lebih mahal harganya dibanding kuda yang gemuk dan malas untuk berjalan. Jika kuda yang berlatih dihargai lebih mahal, apalagi kepada makhluk hidup yang berakal. Jika manusia berlatih, berkerja dan melakukan kebajikan, pasti lebih tinggi nilainya.

Kesepuluh, penduduk yang tinggal jauh dari keramaian, dari kemajuan zaman, dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka penduduk tersebut dianggap lebih rendah dari penduduk yang terbiasa dengan beribadah, berbuat baik dan maju dalam sains dan teknologi. Ini menunjukkan jika kesempurnaan diraih bukan dengan makan, minum dan seksual. Tapi, diraih dengan ilmu pengetahuan dan sifat-sifat baik yang mulia.

Makna lain pemikiran Ar-Razi di atas sebetulnya hendak mengingatkan bahwa jika manusia (kita) hanya sibuk dengan kenikmatan jasmani, maka daya spiritualitasnya akan rendah dan intelektualitasnya tertutup. Ia akan tetap diliputi dengan nafsu kebinatangan, bukan dengan kemanusiaan. Padahal esensi kemanusiaan yang sebenarnya adalah menyibukkan diri kepada Allah, Yang Maha Agung, supaya ia menyembah-Nya, mencintai-Nya dengan sepenuh jiwa raganya. Kesibukan dengan kenikmatan duniawi akan menghalanginya dari beribadah dan mengingat-Nya. Cinta kepada kenikmatan jasmani akan menghalanginya untuk meraih Cinta kepada Sang Khalik.

Dalam menghadapi berbagai fenomena kehidupan akhir-akhir ini, semoga pemikiran ar-Razi ini bisa menyadarkan kita untuk kembali pada esensi diri dan hakikat kehidupan kita yang sesungguhnya. Sebab pada konteks inilah sejatinya makna hidup kita diperhitungkan dan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah, sedangkan sisanya adalah kesia-siaan dan patut kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya. Mari berbenah untuk kebahagiaan hidup, bukan saja untuk kehidupan dunia tapi juga untuk kehidupan akhirat kelak! [Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda dan Pegiat PENA di STAI Bunga Bangsa Cirebon, BBC].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s