Menjadi Negarawan Di Tengah Badai Politik

Muslim Negarawan
Muslim Negarawan

DI SAAT negeri tercinta, Indonesia ini masih diselimuti hiruk pikuk politik para elite bagai badai yang menggemaskan bahkan sampai ke tahap menyebalkan, kita perlu satu pembenahan. Ya, dari konflik parpol, konflik kubu politik, pemimpin yang dinilai tak pro rakyat, rakyat yang suka menghujat, sikap tidak siap beda, dan seterusnya; barangkali kita perlu merenung sejenak, mendalami satu episode kehidupan yang sejatinya dapat menggairahkan kembali semangat kolektivisme kita sebagai sebuah bangsa. Bahwa dalam keragaman pandangan: sosial dan politik, sejatinya kita masih bisa melakukan hal-hal besar bagi sejarah masa depan bangsa dan negeri kita ini.

Sebagai penunjang, mari kita mulai merenung, mendalami sebagian episode sejarah masa silam para pelaku sejarah yang cukup berpengaruh dalam perjalanan umat manusia kelak. Dimana mereka, para pelaku sejarah tersebut bukan tak pernah mengalami kesulitan. Justru kesulitanlah yang membuat mereka menjadi pelaku sejarah yang tangguh hingga mendapat takdir sejarah sebagai pemenang.

Seorang penyair Arab, Al-Mutanabbi pernah mengatakan, “Kalau bukan karena kesulitan, maka semua orang akan menjadi pahlawan”. Ya, jangan pernah menyangka bahwa seseorang pahlawan—atau dalam konteks negara kita sebut negarawan—selalu meraih prestasi-prestasinya dengan mulus, atau bahkan tidak pernah mengenal kegagalan. Kesulitan-kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam perjalanan menuju kengerawanan. Karena itu, peluang kegagalan sama besarnya dengan peluang keberhasilan.

Siapa yang tidak mengenal Muhammad Al-Fatih—yang kelak lebih dikenal dengan Al-Fatih? Semua orang mengenal Al-Fatih, baik umat Islam maupun non Islam. Pengalaman dan penggalan sejarah perjuangannya sangat unik dan kaya pesan. Membebaskan konstantinopel bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pemuda berusia 23 tahun setangguh Al-Fatih. Pembebasan pusat kekuasaan Imperium Romawi itu, kata orientalis Hamilton Gibb, adalah mimpi delapan abad dari kaum muslimin. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Al-Fatih juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara, ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan kepadanya. Bahkan kegagalan yang dialaminya justru bukan semata-mata disebabkan karena kehebatan para musuh, tapi justru yang utama karena sebagian pengikutnya yang tak taat aturan dan beralih tujuan dan orientasi.

Akan tetapi, bila Al-Fatih kemudian berhasil merebut kota itu. Selain Al-Fatih tentu masih banyak pelaku sejarah yang memiliki fragmentasi kehidupan yang layak kita renungi dan ambil hikmahnya di era ini dan di masa depan. Kita memang perlu mencatat pelajaran ini: bagaimana dan apa saja rahasia seorang pahlawan (negarawan) dapat melampaui kegagalan-kegagalannya dan merebut takdirnya sebagai pahlawan (negarawan). Sederhananya, kita perlu bertanya: apa saja rahasia yang membuat mereka, para pelaku sejarah pernah mengalami kegagalan (seketika) namun meraih kemenangan untuk selamanya?

Rahasia Kepahlawanan dan Kenegarawanan

Jika kita memahami secara mendalam, maka kita akan menemukan fakta sejarah bahwa para pahlawan (negarawan) selalu memiliki rahasia-rahasia dalam melakoni episode perjuangannya. Berikut adalah di antara rahasia itu. Pertama, mimpi yang tidak selesai. Kegagalan adalah perkara teknis bagi sang pahlawan. Kegagalan tidak boleh menyentuh sedikit pun wilayah mimpinya. Mimpi tidak boleh selesai karena kegagalan. “Dan tekad seperti ini akan merubah rintangan dan kesulitan menjadi sarana mencapai tujuan,” kata Said bin Al-Musayyib.

Begitulah, tekad mereka melampaui kegagalan, sampai rintangan yang menghadang jalannya tak sanggup menatap tekadnya, maka ia tunduk, lalu memberinya jalan menuju penghentian terakhir dari mimpinya. Sebuah pepatah Arab mengatakan: Kalau tekad seseorang benar adanya, maka jalan menuju tujuannya pastilah jelas.

Kedua, semangat pembelajaran yang konstan. Seorang pahlawan (negarawan) tidak pernah memandang dirinya sebagai Superman atau Malaikat. Ia tetaplah manusia biasa. Dan kegagalan merupakan bagian dari tabiat kehidupan manusia, maka ia “memaafkan” dirinya untuk kegagalan itu.

Namun, ia tidak berhenti sampai di situ. Baginya, kegagalan adalah objek pengalaman yang harus dipelajari, untuk kemudian dirubah menjadi pintu kemenangan. Demikianlah seharusnya kita mendefenisikan pengalaman: bahwa ia adalah investasi pembelajaran yang membantu proses penyempurnaan seluruh faktor keberhasilan dalam hidup.

Ketiga, kepercayaan pada waktu. Setiap peristiwa ada waktunya, maka setiap kemenangan ada jadwalnya. Ada banyak rahasia yang tersimpan dalam rahim sang waktu, dan biasanya tidak tercatat dalam kesadaran kita. Akan tetapi, para pahlawan (negarawan) biasanya mempunyai cara lain untuk mengenalinya, atau setidaknya meraba-rabanya, yaitu firasat. Mereka “memfirasati zaman” walaupun ia mungkin benar mungkin salah, tetapi ia berguna untuk membentuk kecendrungannya. Firasat bagi mereka adalah faktor rasional. Perhitungan-perhitungan rasional harus tetap ada, tetapi keputusan untuk melangkah pada akhirnya bersifat intuitif. Begitulah akhirnya takdir menjadi pahlawan (negarawan) terjembatani dengan firasat untuk sampai ke kenyataan.

Sebagaimana Al-Fatih dalam penaklukkan Konstantinopel, para pendiri bangsa ini juga telah melalui episode sejarah dan energi semacam itu. Selain memiliki mimpi yang tidak selesai, mereka juga memiliki semangat pembelajaran yang konstan dan kepercayaan pada waktu serta firasat tentang apa yang kelak mereka raih dan wariskan bagi penerus mereka. Maka sejarah telah membuktikan bahwa mereka sukses mewariskan apa yang pantas untuk kita peroleh dan nikmati sebagai generasi penerus.

Saya termasuk yang khawatir bahwa akhir-akhir ini sebagai sebuah bangsa kita sudah mulai kehilangan episode dan energi semacam itu. Misalnya, kita lebih suka membenturkan keragaman yang alamiyah lalu sibuk dengan benturan politik yang tidak produktif. Selain itu, kita lebih mudah terbelah karena kepentingan kecil lalu melupakan apa yang mesti kita lakukan sebagai sebuah bangsa besar sebagaimana yang sudah kita sepakati dalam konstitusi bangsa dan negara kita. Padahal kita memiliki bergudang-gudang potensi dan energi yang dapat kita manfaatkan untuk kemaslahatan: bangsa dan negara kita, bahkan peradaban umat manusia.

Dalam konteks kemanusiaan di era politik ini, siapapun sejatinya dapat menjemput takdir sejarahnya sebagai pahlawan (negarawan), melampaui badai politik yang tidak produktif yang nyaris tak selesai. Tapi ini patut diingat, kepahlawanan (kenegarawanan) bukan kerja “politis” dalam maknanya yang sempit dan nihil empati, tapi ia adalah kerja-kerja di atas kerja: tidak terjebak citra. Pilihannya tunggal: bekerja tanpa pamrih alias memberi banyak manfaat bagi umat manusia. Dengan cara pandang semacam itu, kita berharap agar hiruk pikuk politik yang selama ini sudah mengarah kepada “kehancuran” sebuah bangsa akan dapat diatasi secara dini.

Mudah-mudahan rahim para wanita negeri ini masih produktif melahirkan manusia-manusia jenial semacam itu. Atau dalam bahasa lain, biarlah saya, Anda dan kita semua menemui takdir sejarah: Allah takdirkan sebagai pelakon kerja-kerja kepahlawanan (kenegarawanan) walau tanpa mesti menjadi pahlawan (negarawan dalam makna formalistik) atau menjadi anak-cucu para pahlawan (negarawan). Dengan begitu, sekali lagi, adanya hiruk pikuk politik para elite akhir-akhir ini tidak membuat kita kehilangan arah dan peran, tapi justru semakin menyadarkan semangat kolektivisme kita: menyadari apa yang mesti kita lakukan dengan segera. Mari lampaui badai politik, mencintai Indonesia tanpa tapi! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur KOMUNITAS, Penulis buku POLITICS].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s