Menanti Gebrakan Rektor Sumanta

Tulisanku di Kolom Wacana Radar Cirebon, Kamis 8 Januari 2015 “Menanti Gebrakan Rektor Sumanta (Catatan dan Pesan Alumni IAIN SNJ)”
Tulisanku di Kolom Wacana Radar Cirebon, Kamis 8 Januari 2015 “Menanti Gebrakan Rektor Sumanta (Catatan dan Pesan Alumni IAIN SNJ)”

KERESAHAN publik dan civitas akademika karena berbagai kasus dan kevakuman kepemimpinan di IAIN Syekh Nurjati (IAIN SNJ) akhirnya berakhir juga. Setelah adanya titik terang kasus dugaan korupsi pengadaan tanah dengan kerugian negara sebesar Rp 8,6 miliar yang menyeret Prof. Dr. Maksum Mukhtar, MA (Rektor) dan Ali Hadiayanto (Kabiro AUK), kemarin (Rabu/6/1/2015) Kementerian Agama Republik Indonesia melantik Dr. Sumantar, M.Ag sebagai rektor.

Proses pelantikan yang langsung dipimpinan oleh Menteri Agama Lukmanul Hakim Saifudin tersebut diselenggarakan di kantor Kemenag Jakarta bersamaan dengan pelantikan beberapa Rektor berbagai perguruan tinggi serupa dari seluruh Indonesia.

Sumanta sendiri dalam pemilihan kandidat rektor oleh Senat IAIN SNJ berhasil menyisihkan 2 kandidat lainnya yakni Prof. Dr. Adang Jumhur M.Ag dan Prof. Dr. Jamali, M.Ag. Terpilih dan dilantiknya Doktor Sumanta di tengah dinamika internal dan perhatian serta kritik publik terhadap IAIN SNJ, tentu saja menghadirkan respon yang beragam dari berbagai pihak.

Profil Singkat Sumanta

Sebagaimana dilansir koran ini (Rabu/7/1/2015) bahwa, Sumanta lahir pada 16 Mei 1966 di Desa Prajawinangun Kulon Kab. Cirebon, Jawa Barat. Menempuh pendidikan SDN Prajawinangun, SMPN dan MAN di Babakan Ciwaringin Kab. Cirebon. Sumanta melanjutkan pendidikan ke Fakultas Adab Jurusan Bahasa dan Sastra Arab IAIN (kini UIN) Sunan Kali Jaga Yogjakarta (lulus tahun 1992).

Dunia pesantren bagi Sumanta tidaklah asing. Sejak menempuh pendidikan dasar Sumantar sudah menimbah ilmu di pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin di bawah asuhan KH. Syaerozie. Kemudian saat belajar di Yogjakarta pernah menjadi santri sekaligus mengajar di pondok pesantren Sundan Pandan Aran Kaliurang di bawah asuhan KH. Mufid Mas’ud. Ia melanjutkan pendidikan Master di Program Pascasarjana IAIN Sumatera Utara (Medan) tahun 1996 dengan mendapat penghargaan sebagai Wisudawan Peradana Terbaik. Menempuh pendidikan Doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pada Pra penyelesaian jenjang doktor, ia juga mengikuti Program Penelitian dan Pendalaman S3 di Universitas Al-Azhar Mesir selama dua semester (tahun 1999-2000) di bawah bimbingan Prof. Dr. Dhiya’uddin Al-Kurdi (Universitas Al-Azhar) dan Prof. Dr. Yusuf Zaidan (Universitas Iskandariyah).

Pesan untuk Rektor Sumanta

Terpilih dan dilantiknya Doktor Sumanta sebagai rektor baru menghadirkan harapan publik kepada perbaikan IAIN SNJ ke depan. Dalam konteks itu, sebagai bagian dari publik sekaligus alumni, saya menitip pesan kepada Rektor Sumanta. Pertama, mantapkan persiapan tranformasi IAIN ke UIN dengan tetap berpijak pada tujuan pendirian IAIN itu sendiri.

Hal ini penting, sebab dalam beberapa kasus (di beberapa perguruan tinggi PTAI lainnya), transformasi tanpa kesiapan yang matang justru hanya menimbulkan efek negatif yang membahayakan. Sebagai catatan, adanya tranformasi nama yang tidak diikuti oleh kesiapan sistem, manajemen dan infrastruktur kampus, hanya akan menimbulkan problem baru yang lebih dahsyat, termasuk munculnya berbagai problem kultural yang sangat jauh dari niat awal pembentukan IAIN itu sendiri.

IAIN diharapkan mampu melahirkan para ilmuwan yang ikhlas dan tangguh dalam mengajarkan serta mengamalkan ilmunya, bukan melahirkan para pelanggar hukum: korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). IAIN sama sekali tidak didirikan untuk melahirkan para cendekiawan yang “netral” agama (apalagi yang anti Islam), tapi justru melahirkan para pejuang agama; membela dan mendakwahkannya.

Kedua, mengklarfikasi secara akademik dan kultural berbagai kritikan terhadap IAIN SNJ selama ini. Misalnya, soal kualitas mahasiswa. Sekadar contoh, sederhana saja, adakah lulusan IAIN SNJ yang sudah menjadi pakar tafsir, atau menjadi ahli dalam bidangnya, minimal ditandai dengan karya ilmiyah yang fenomenal dan menjadi referensi kajian keilmuan dan keislaman negeri ini?

Selain itu, publik juga kerap mengritik fenomena lulusan dan gelar akademik di IAIN SNJ. Sebagaimana kampus PTAI lain, IAIN SNJ “diakui” masih tergolong kampus yang sibuk mengejar (bahkan “memanen” dan “mencangkok”) gelar (sarjana, master, doktor bahkan profesor) tapi nihil kualitas dan miskin karya ilmiyah yang “memasyarakat”: bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Tidak itu saja, publik juga kerap “menuding” bahwa IAIN SNJ masih mengalami kegamangan keilmuan. Framework dan metodologi studi Islam di IAIN, misalnya, masih belum terumuskan dengan matang, sehingga framework “dikotomis” masih menggelinding dalam wacana keilmuan di kampus. Kondisi semacam ini disebabkan karena para petinggi kampus masih begitu mudah menggunakan metodologi lain (baca: hermeneutika) yang kerap “mencampuri” bahkan “merongrongi” studi keilmuan Islam dalam mengkontruksi wacana keilmuan; tapi pada saat yang sama masih belum begitu masif dalam mendalami berbagai metodologi tafsir klasik yang lebih otentik dan otoritas dalam memahami makna dan pesan sumber keagamaan dan keilmuan Islam.

Lebih jauh, perpustakaan sebagai laboratorium-penunjang pematangan keilmuan sekaligus masifnya tradisi akademik (baca: keilmuan) pun, misalnya, masih jauh dari yang diharapkan.

Berbagai persoalan tersebut akan terjawab dan terselesaikan dengan baik, manakala civitas akademika IAIN SNJ mampu bekerjasama dan menyolidkan berbagai potensi internalnya dalam satu irama “kolektivisme”: kebersamaan, kekeluargaan dan persahabatan. Karena itu, pesan berikutnya, ketiga, menjadi penting, yaitu mampu bekerjasama dan menyolidkan berbagai elemen yang berkepentingan di kampus. Sederhana saja, Sang Rektor mesti mampu “menyolidkan” dan “memberdayakan” “elemen sehaluan” sekaligus “elemen tidak sehaluan” dengan Sang Rektor. Jika tidak, kelak dinamika kampus akan terus menerus dihantui oleh kepentingan, dari kepentingan beraroma ke-Ormas-an dan aliran keagamaan hingga yang beraroma politik dan ekonomi.

Sungguh, kini tongkat komando ada di Doktor Sumanta. Selain menanti gebrakan dan menitipkan berbagai harapan kepadanya, publik juga diharapkan untuk konsisten memberikan masukan dan kritik konstruktif bagi keberlangsungan proses perbaikan dan pembangunan IAIN SNJ ke depan. Akhirnya, selamat bekerja Doktor Sumanta, semoga amanah dan bertanggungjawab! [Oleh: Uum Heroyati, S.Pd.I—Alumni IAIN SNJ Angkatan 2004, Aktivis KAMMI (2004-2010), Penulis buku Menuju Indonesia yang Beradab, Pengajar di SDIT Sabilul Huda Cirebon dan Redaksi Penerbit Mitra Pemuda. Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya “Menanti Gebrakan Rektor Sumanta (Catatan dan Pesan dari Alumni IAIN SNJ” dimuat pada halaman 4 Radar Cirebon, Kamis 8 Januari 2015]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s