Belajar dari Kenaifan Kita Menghadapi Bencana

Tulisanku di Kolom Wacana Radar Cirebon, Selasa 6 Januari 2015 “Belajar Dari Kenaifan Kita Menghadapi Bencana”
Tulisanku di Kolom Wacana Radar Cirebon, Selasa 6 Januari 2015 “Belajar Dari Kenaifan Kita Menghadapi Bencana”

PADA Ahad 4 Januari 2015 lalu, saya didaulat menjadi fasilitator sebuah acara kepenulisan di Kuningan-Jawa Barat. Pasca acara saya menyempatkan diri untuk berbincang dengan seorang siswa MAN—sebut saja namanya Faris—perihal bencana yang menimpa Indonesia akhir-akhir ini. Tak saya sangka, siswa yang masih duduk di kelas XII sebuah MAN di Kuningan-Jawa Barat tersebut mengungkapkan kalimat bijak berikut ini, “Doa orang zolim merupakan salah satu doa yang paling cepat mendapatkan pengabulan dari Sang Kuasa. Sederhananya, berani melakukan kezoliman berarti berani sekaligus siap menerima bencana sebagai akibatnya. Semoga kita dan para pemimpin kita, terutama pada level negara, mau dan mampu memperbaiki diri!”

Ya, negeri kita, Indonesia sepertinya sudah identik dengan berbagai macam bencana. Tidak saja bencana berdimensi fisik (materil) seperti tsunami, banjir, tanah longsor, gunung meletus, jatuhnya pesawat, tenggelamnya kapal dan serupanya; tapi juga yang berdimensi moral (imateril) seperti penzoliman, mabuk-mabukan, pornoaksi, pornografi, seks bebas, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan dan sebagainya.

Kitapun terdesak untuk bertanya: mengapa semua ini terjadi, apa penyebabnya dan siapa yang bertanggungjawab atas semuanya? Lalu, apa yang bisa dan mesti kita lakukan?

Bencana dan Kenaifan Kita

Inilah berbagai kenaifan yang kerap kita lakukan. Dalam kondisi tertimpa bencana semacam itu (termasuk jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 pada Ahad 28 Desember 2014 lalu), sebagian kita tetap saja mengawali tahun baru dengan berbagai macam hura-hura yang tentu saja jauh dari nilai-nilai moralitas. Sepertinya peristiwa alam di sekitar kita tak membuat radar kepekaan kita tergerak untuk mengevaluasi dan menyadarkan diri. Berbagai peristiwa yang terjadi seakan-akan membuat mata hati kita terselimuti awan pekat: keangkuhan dan kesombongan kita di hadapan Sang Kuasa (Allah Swt.) dan sesama makhluk-Nya.

Dalam peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 yang menghilangkan nyawa seratusan lebih penumpang dan 7 penggawa (awak) pesawat, kita lebih suka menyalahkan sistem penerbangan yang dinilai carut marut (tanpa solusi nyata dan pandangan “memasa” depan); tapi jarang sekali menyadarkan diri kita dari berbagai perilaku amoral yang kelak bisa jadi merupakan “biang” paling ampuh yang menimbulkan bencana di sekitar kita.

Di saat bencana banjir, kita kerap lebih cepat menunjukkan jari tangan kepada pemerintah sebagai “biang’, tapi kita begitu terlambat bahkan jarang sekali menyalahkan atau menunjukkan jari tangan kepada diri kita sendiri (sebagai rakyat) yang masih suka membuang sampah di sembarang tempat.

Tidak itu saja, dalam soal pelayanan publik, sebagai penguasa kita kerap menzolimi rakyat dengan berbagai kebijakan yang jauh dari harapan rakyat; sebab sebagai penguasa kita lebih fokus membangun dan mengejar citra.

Lebih teknis, sebagai penggawa pesawat, misalnya, bisa jadi kita terbiasa “menyakiti” para penumpang dengan adanya keterlambatan pemberangkatan pesawat (yang kerap) tanpa menyertakan alasan yang layak diterima—bahkan seringkali berdiam seribu bahasa ketika penumpang menghendaki adanya klarifikasi.

Dari sudut pelayanan publik, rakyat dan penumpang semacam itu adalah “korban” alias “yang terzolimi”, sementara penentu kebijakan publik dan penggawa (awak) pesawat adalah “pelaku” alias “yang menzolimi”.

Selanjutnya, kita lebih sering melihat masalah hanya dari sudut “alamiyah” semata, tapi kita masih enggan untuk melihatnya dari sudut “sebab-akibat”. Sebagai Kitab Suci yang fenomenal, sejak lama al-Qur’an (seperti surat Ar-Ruum ayat 41, surat Al-A’raf ayat 56) telah mengisyaratkan secara tegas bahwa peristiwa atau bencana alam merupakan akibat dari ulah manusia sendiri. Ulah manusia seperti yang disinggung al-Qur’an tentu berbagai macam corak atau bentuknya. Dari dosa, maksiat, perusakan alam, pengotoran lingkungan, bermusuhan, ketidakjujuran, kezoliman dan sebagainya.

Lalu, apakah kita masih terjebak dalam berbagai perilaku buruk, padahal setiap perilaku buruk dan ulah pasti mendapat balasan setimpal dari Sang Kuasa, sebanding bahkan lebih dahsyat dari perilaku dan ulah kita sendiri? Semoga kita mau mengambil hikmah dan pelajaran agar tak mendapat bencana seperti yang telah dialami para pendahulu seperti yang disinggung QS. Ar-Ruum ayat 42, “Katakanlah (Muhamad), “Berpergianlah di muka bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”.”

Mari Belajar dan Terus Belajar

Sebuah anonim mengingatkan, “Jangan pernah melawan sunatullah pada alam, sebab ia pasti mengalahkanmu. Tapi, gunakanlah sebagiannya untuk menundukkan sebagian yang lain, niscaya kamu akan sampai ke tujuan”. Ya, semua bencana yang terjadi seharusnya memang mampu mempengaruhi seluruh kepribadian dan jalan hidup kita. Goncangan jiwa yang kita alami dan rasakan di saat menghadapi berbagai bencana (baik yang bersifat alamiyah maupun akibat perilaku sekaligus ulah buruk kita) seharusnya menghadirkan optimisme dan harapan dalam diri. Baik sebagai individu maupun sebagai sebuah bangsa.

Dalam bencana itu sendiri terdapat energi optimisme yang mempertahankan ketenangan dalam hidup kita. Sebab, inilah akar keseimbangan jiwa yang membantu kita melihat kejadian dan panorama hidup secara proposional. Betul bahwa kita punya kesalahan terhadap alam, namun kita juga punya peluang menjadi pelaku kebaikan terhadap alam. Keseimbangan memahami kehidupan semacam inilah yang membuat jiwa kita tegar dan tetap memiliki harapan ketika berhadapan dengan berbagai goncangan hidup pada masa yang akan datang.

Pembawa sekaligus pelaku gerakan profetik ternama, Rasulullah Muhammad Saw. mengisyaratkan bahwa, “harapan adalah rahmat Allah bagi umatnya”. “Jika bukan karena harapan, takkan ada orang yang mau menanam pohon dan takkan ada ibu yang mau menyusui anaknya”, begitu isyarat sang nabi yang kini diimani oleh miliaran umat manusia itu.

Harapan adalah buah dari kepercayaan kepada rahmat Allah Swt. dan juga kepercayaan kepada kemampuan Allah Swt. untuk melakukan semua yang Ia kehendaki, termasuk menimpakan berbagai bencana kepada para hamba-Nya; baik sebagai hikmah maupun sebagai hukuman (pelajaran).

Selanjutnya, bencana semestinya mampu mempertahankan semangat kerja sama (baca: kolektivisme) kita di tengah keterbatasan-keterbatasan kita. Lagi-lagi, baik sebagai individu maupun sebagai sebuah bangsa. Dalam banyak kasus, keterbatasan-keterbatasan justru membantu memberikan fokus pada arah dan target serta konsentrasi yang kuat kepada kita untuk bekerja sama. Bukankah penjajah yang begitu progresif dalam sejarah awal bangsa ini membuat para pendahulu kita terdorong untuk bersatu padu melakukan perlawanan terhadap penjajah, dan kelak para pendahulu itu pun menyepakati untuk berdiri tegak lalu memproklamasikan diri (bangsa) sebagai negara yang merdeka dan berdaulat?

Di atas segalanya, peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 dan berbagai bencana seperti yang saya singgung di awal mestinya dipahami lebih dari sekadar kejadian “alamiyah” semata, tapi juga akibat ulah manusia, ya kita sendiri—bahkan sebagai hukuman dari Allah.

Untuk itu, dalam kondisi hiruk pikuk semacam ini (termasuk dalam mengawali tahun baru, 2015), sebagai hamba Allah kita perlu menajamkan radar kepekaan kita; bukan saja terhadap lingkungan sekitar, tapi juga terhadap (ulah dan tingkah laku) diri kita sendiri yang masih saja terjebak dalam dosa, maksiat, perusakan, penzoliman dan sebagainya. Dengan begitu, bencana yang terjadi tidak menjadi “biang” bencana (baru) sekaligus kenaifan kita, tapi mesti menjadi momentum bagi kita untuk mengevaluasi dan menyadarkan diri.

Sungguh, waktu masih bersama kita, semoga Allah juga terus membimbing kita ke jalan yang benar. Kita pada dasarnya akan selalu memiliki tugas besar: menyadarkan dan memperbaiki diri dari berbagai kenaifan perilaku dan ulah kita yang tak pantas. Akhirnya, saya pantas menyampaikan terima kasih banyak kepada Faris yang telah mengingatkan saya dan kita semua bahwa manusia memang perlu banyak bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas berbagai kezoliman (dalam berbagai perilaku dan ulah yang tak pantas) sebelum mereka yang terzolimi berdoa kepada Allah agar para penzolim ditimpa bencana. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif KOMUNITAS dan Mitra Pemuda, Penulis buku (1) POLITICS, dan (2) Ternyata Menulis itu Mudah, Pengelola Unit Kepenulisan di STAI BBC; Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Belajar dari Kenaifan Kita Menghadapi Bencana (Sebuah Refleksi Sosial-Politik)”, yang dimuat di Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 4, Selasa 6 Januari 2015]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s