Memahami Kehangatan Sang Ibu

Ibu tercinta...
Ibu tercinta…

PEPATAH Arab mengingatkan bahwa di balik setiap pejuang dan pahlawan besar selalu ada seorang perempuan agung. Kata perempuan dalam pepatah tersebut sangat relevan jika disematkan kepada sesosok ibu bagi anak-anaknya. Walaupun kelak anak-anaknya bukan manusia yang bergelar pejuang atau pahlawan—sebelum istri bagi suami—ibu adalah perempuan agung itu. Lalu, siapa dan seperti apakah sesosok ibu itu?

Beginilah Ibu

Ibu memang bukan manusia sempurna. Ia pun bukan manusia super. Dalam pengertian bahwa ia juga memiliki keterbatasan dan kelemahan. Secara fisik, misalnya, ibu yang berjenis kelamin perempuan, lebih “lemah” daripada laki-laki. Ya, ia hanyalah manusia biasa, seperti yang kita saksikan pada sosok ibu kita masing-masing. Mungkin ada banyak ibu yang punya posisi penting dalam sebuah instansi atau lembaga, dalam karir dan peran sosial, atau dalam organisasi dan serupanya. Tapi sebagai anak, kita tetap saja mengenal ibu kita sebagai ibu rumah tangga yang memberi kehangatan dan perhatian pada kita, anak-anak dan keluarganya, dengan caranya sendiri.

Ya, sebagai apapun itu, ibu, dalam kehidupan seseorang, adalah sumber inspirasi yang tiada batas. Lagi-lagi, walau mungkin dalam keterbatasan dan kelemahannya. Ia mengenalkan banyak hal kepada anaknya. Ia memberi sesuatu kepada anaknya lebih dari sekadar yang dibutuhkan anaknya. Bahkan ia menyayanginya lebih dari sayangnya ia pada dirinya sendiri. Sungguh benar pernyataan ini, “ibu adalah gudang kasih sayang hingga keabadian”.

Keistimewaan Ibu

Ibu adalah sebutan untuk manusia istimewa dengan seluruh kehangatan yang ia miliki, kehangatan yang tak ada tandingannya. Diantara kehangatan ibu yaitu, pertama, cinta yang tak memiliki batas. Kata Anis, “cinta seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat” (Serial Cinta, 2009).

Sungguh cinta ibu adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm—dalam The Art of Loving—tidak tertarik, atau juga tidak sanggup mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya.

Ya, kehangatan pertama yang diperoleh oleh seseorang dari ibunya adalah cinta dan kasih sayangnya. Cinta dan kasih sayang yang tak pernah pudar dan berkurang, dari seseorang masih di dalam rahimnya, hingga ia bahkan telah beranak pinak dan tak lagi tinggal bersamanya lagi.

Jika pun ada yang terasa berjarak, bukan karena cintanya ibu yang berkurang. Melainkan karena anaknya yang menjauh darinya, karena sang anak merasa tak perlu lagi disayangi seperti waktu kecil dulu, atau kadang karena ia lemah dalam memahami bahasa cinta ibunya sendiri.

Ya, masalahnya, ada saja orang yang gagal belajar dari ibunya. Ia sering gagal belajar dari keistimewaan ibunya yang nyaris tak berbanding. Sehingga ia tak mampu membagi kehangatan daya tahan, kepada anak-anaknya, bahkan terhadap ibunya sendiri, juga kepada banyak orang di luar sana.

Padahal, “hangatnya cinta ibu tak memiliki batas. Ia menjalar di sepanjang kehidupan seseorang, menemani setiap fase pertumbuhan yang ia lalui” (Lili NA, 2010). Ibu adalah manusia yang telah melakukan segalanya untuk anaknya, memberi sentuhan kehangatan daya tahan, dalam diam dan derasan rasa sakit, tanpa pamrih, tanpa mengharap balas, walau dalam penderitaan sekalipun.

Dari sanalah seharusnya seseorang belajar, bagaimana ia memiliki dan memberi cinta dalam kehidupannya, dan menularkan kehangatan cinta ibunya dengan hangat pula. Tidak saja kepada anak dan keluarganya, tetapi juga untuk siapapun di luar sana yang mestinya mendaptkan ruh dan energi cinta.

Kedua, daya tahan yang tak mengenal kata pamrih. Dari ibu, seseorang juga belajar daya tahan. Bahwa perjuangan ibu merawat dan membesarkannya dari bayi hingga dewasa, bukan pekerjaan yang ringan. Tetapi sebuah tanggung jawab berat yang penuh dengan penderitaan dan kesulitan, yang nyaris tak pernah putus.

Walau ia berhasil melewati rumitnya kerewelan, kemanjaan, kenakalan, ketidakberdayaan sang anak untuk sekadar memenuhi keperluan-keperluannya sendiri, hingga mencari nafkah untuk kebutuhan pendidikan dan pernikahan anaknya, untuk masa depan keturunannya, ibu tetap punya daya tahan sebagai tempat berstandar. Betul kata Buya Hamka bahwa, ibu adalah per-empu-an atau tempat bersandar.

Pada sebuah acara bertema keluarga yang ditayangkan oleh sebuah TV swasta pada momentum Ramadhan 2010 lalu, Yoyoh Yusroh (almarhumah), ibu dari 13 anak penghafal al-Qur’an—yang aktif di berbagai organisasi wanita tingkat Asia bahkan dunia—pernah mengatakan bahwa, daya tahan ibu adalah sebuah kehangatan yang menemani setiap detik pertumbuhan seseorang sampai menemukan titik dewasa bahkan hingga tua kelak.

Ketiga, maaf yang tak pernah tertunda. Ternyata tidak sekadar cinta dan daya tahan, ibu juga selalu memaafkan. Bahkan maafnya mendahului kekhilafannya. Sungguh, ibu mungkin manusia paling pemaaf yang pernah ditemui oleh siapapun di dunia ini. Bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahannya, ia kadang berkata, “Maafkan ibu, Nak. Ibu belum bisa memberi kamu ini dan itu. Sekali lagi, maafkan ibu”.

Pada maafnya itu, ibu adalah manusia yang tak pernah menyimpan dendam, betapapun seseorang (baca: anaknya) sering menyakiti dan berbuat salah kepadanya. Langkah dan hidupnya selalu disertai pemaafan yang hangat kepada anaknya yang terkadang bersikap sok, angkuh dan tak tahu diri terhadapnya. “Doa ibu tetap mengalir deras untuk kebaikan anaknya, walaupun anaknya sering menyakitinya dengan sikap, ucapan dan mimik wajah yang tak ramah kepadanya” (Neno Warisman, 2011).

Sungguh, ibu yang Allah karuniakan kepada sang anak, adalah guru yang paling sempurna, yang mengajarkan kepadanya bagaimana agar ia tak patut berlama-lama menyimpan dendam dan rasa kesal, terhadap siapapun selain dirinya. Sang anak semestinya selalu mengambil inspirasi untuk senantiasa bisa memberi kehangatan maaf, layaknya ibu atas anaknya.

Keempat, dekapan yang tak kenal lelah. Siapapun merasakan dan menyaksikan, bahwa tak ada dekapan sehangat dan seindah dekapan ibunya. Di dalamnya ia menemukan segala kenyamanan. Lihatlah, bayi yang menangis bisa segera reda dalam dekapan ibunya. Rasakanlah, bahwa rasa takut akan segera lenyap jika didekap ibu. Pun rasa sakit, bisa terasa lebih ringan dan lebih cepat membaik bila sudah berada dalam dekapan ibu. Siapapun tentu pernah merasakan itu saat ia masih kecil dulu.

Kehangatan dekapan ibu sangatlah luar biasa. Tidak saja untuk anaknya yang masih kecil, bahkan ia tetap selalu merindukan anaknya, meskipun anaknya telah dewasa. Dan itulah karunia Allah dari ibu yang tak boleh dilupakan. Itu pula yang seharusnya mengingatkan sang anak untuk tidak mengabaikan ibunya, bagaimanapun keadaan ibunya kini hingga kelak.

Walau begitu, mesti diakui bahwa sebagai anak terkadang seseorang hanya bisa menerima ibunya saat ia masih sehat dan kuat. Tapi tidak pada saat ibunya sudah tak berdaya. Terkadang ia merasa memerlukan sesosok ibu saat tenaganya masih dibutuhkan, tapi tidak ketika ibunya telah lemah ingatan. Sang ibu yang sudah memberikan dekapan kepada sang anak sejak kecil pun kadang hanya dibalas dengan cacian juga rasa beban.

Lalu, apakah hangatnya dekapan ibu menghilang karena sikap dan tingkah anaknya yang begitu “memalukan”? Sama sekali tidak. “Ibu tetaplah ibu. Dekapannya tak pernah mengenal batas. Bahkan ketika ia tak lagi mampu merengkuh anaknya, ia akan memperlakukan anak-anak dari anaknya atau cucu-cucunya seperti anaknya sendiri” (Asma Nadia, 2012). Sehingga, sebuah kehilangan besar jika seseorang kehilangan dekapannya. Dan sebuah kesalahan besar, jika seseorang tak mampu memberikan kehangatan padanya, saat ia sudah tak berdaya lagi.

Jadi, selagi ibu masih hidup, maka sang anak punya kewajiban memberi ibu akan hangatnya cinta dan kasih sayang, daya tahan yang sungguh, segudang maaf dan dekapan hangat yang tak terbatas. Sungguh itulah yang membuat ibu bertambah tenang dan bahagia dalam menjalani kehidupan.

Jika pun ibu telah meninggal maka sang anak tetap punya kewajiban luhur untuk mendoakannya, menjalin silaturahim dengan sahabat, kerabat dan keluarga besarnya. Di samping untuk selalu berbagi cinta dan kasih sayang, daya tahan, maaf dan dekapan hangat yang tak terbatas. Tiada lain selain agar di sana, ibu semakin tenang dan bahagia.

Menulis tentang keseluruhan kebaikan dan kehangatan ibu memang tak bisa diukur dengan sehalaman bahkan ribuan halaman karya tulis. Namun sebagai upaya refleksi cinta dan kerinduan kepada ibu, menulis menjadi penting. Minimal agar penulis dan anak-cucunya kelak punya gambaran ringkas bagaimana seharusnya memperlakukan ibu—nama untuk kehangatan tanpa batas—dengan baik dan beradab.

Di atas segalanya, mari sampaikan dengan tulus salam dan doa ini kepada ibu kita masing-masing, “Ibu, aku mencintaimu seperti aku mencintai surga. Semoga Allah mencium ibu dengan ridha-Nya di tanam surga-Nya yang terindah kelak!” Akhirnya, terima kasih ibu, terima kasih cinta. [Oleh: Syamsudin Kadir—Kontributor kolom opini dan wacana untuk berbagai media cetak (lokal dan nasional), editor untuk belasan buku tokoh, penulis belasan buku (seperti Spirit to Your Success, Udah Nikah(in) Aja!, POLITICS dan sebagainya) serta narasumber acara Selamat Pagi Cirebon (SPC) di Radar Cirebon Televisi (RCTV) angkatan 2014. Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba Karya Tulis Ilmiyah (KTI) yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon (DEMA STAI BBC) dalam rangka memperingati Hari Ibu 22 Desember 2014]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s