Elite PPP, Kembalilah ke Ka’bah

Elite PPP, Kembalil-lah ke Ka'bah
Elite PPP, Kembalil-lah ke Ka’bah

SEJAK awal Orde Baru (Orba), saat dimana Partai Persatuan Pembangunan (PPP) lahir sebagai sebuah partai politik dalam dinamika politik Indonesia, sudah mengkalim bahwa PPP merupakan “rumah besar” umat Islam. Hal itu bukan sekadar disampaikan dalam berbagai forum politik dan keagamaan, tapi juga ditegaskan melalui upaya simbolisasi PPP itu sendiri.

Sejak awal, misalnya, PPP sudah menggunakan Ka’bah sebagai lambang partainya. Ka’bah dengan latar berwarna hijau di dalam bingkai bujur sangkar berwarna emas dimankai dan dipahami sebagai simbol pemersatu umat Islam. Bagi PPP, Ka’bah merupakan simbol kesatuan arah perjuangan umat Islam Indonesia dalam rangka beribadah kepada Allah SWT, serta merupakan sumber inspirasi dan motivasi untuk menegakkan ajaran Islam dalam segala bidang kehidupan bangsa dan Negara dalam bingkai NKRI.

Konflik Politik PPP

Sejak momentum menjelang pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden-wakil presiden (pilpres) hingga kini, PPP (yang lahir pada 5 Januari 1973 ini) masih diterpa “konflik politik”. Konflik ini sudah terlihat sejak adanya perbedaan pendapat sebagian elite PPP terhadap kebijakan dan langkah politik Suryadarma Ali (SDA) menjelang Pileg dan Pilpres. Publik tentu masih ingat bagaimana protes dan penolakan sebagian elite PPP (baik di pusat maupun daerah) terhadap keputusan SDA untuk menghadiri acara Konsolidasi Nasional sekaligus pendeklarasian Prabowo Subianto sebagai calon presiden dari Partai Gerindra di Gelora Bung Karno (GBK) beberapa waktu lalu.

Efeknya berlanjut, pada penentuan koalisi untuk pilpres, PPP terfragmentasi dalam beberapa faksi, dimana faksi yang muncul mendominasi pemberitaan yang disaksikan publik adalah kubu Ketua Umum Suryadarma Ali (SDA) dan kubu Wakil Ketua Umum PPP Emron (dan Sekretaris Jenderal Romahurmuziy, Romi).

Pada 15-18 Oktober 2014, PPP kubu Romi dkk. penyelenggaraan Muktamar VIII PPP di Surabaya, Jawa Timur. Sebagaimana yang dilansir berbagai media, menurut kubu Romi dkk., Muktamar tersebut diklaim sah dan keputusannya bersifat juga mengikat.

Singkatnya, Muktamar Surabaya memutuskan secara aklamasi Romahurmuziy (Romi) sebagai Ketua Umum periode 2014-2019. Bahkan dalam waktu yang sangat singkat, DPP PPP kubu Romi telah disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM RI Nomor M.HH-07.AH.11.01 Tahun 2014 tanggal 28 Oktober 2014. Keluarnya SK Kemenkumham tersebut diklaim akan mengakhiri dualisme kepemimpinan DPP PPP.

Tak kalah “sensansi”, sebagai Ketua Umum yang terpilih melalui forum yang sah dan legal sesuai AD/ART PPP, kubu SDA pun mengadakan Muktamar VIII sejak 30 Oktober hingga 2 November 2014 di Jakarta. Muktamar ini diklaim sah dan legal karena diselenggarakan oleh Ketua Umum yang legal. Bahkan akhirnya pada 1 November 2014 kemarin, Muktamar VIII memutuskan Djan Faridz sebagai Ketua Umum periode 2014-2019. Keputusan ini dinilai sebagai keputusan yang sah, legal dan mengikat.

Pengamat Politik dari Lembaga Konsultan Politik dan Sumber Daya Manusia (SDM) Bangun Indonesia Agus Mahfudz Fauzi mengatakan Muktamar PPP yang dilakukan secara emosional oleh dua kubu bukan mendapatkan solusi dan islah, justru membuat PPP masuk ke lembah kehancuran. Bahkan bisa jadi tak lama lagi PPP menjadi parpol kenangan (16/10/2014).

Menanggapi realitas PPP semacam ini, publik pun bertanya, masih adakah “jalan damai” bagi elite PPP sehingga tak berlarut dalam konflik politik yang sekam dan membahayakan?

Jalan Damai

Ya, hampir setengah tahun terakhir PPP ditimpa “konflik politik” yang menyedihkan dan membahayakan. Sebab, sebagaimana yang sering dikalim oleh elite PPP dalam berbagai forum bahwa PPP merupakan “rumah besar” umat Islam. Konsekwensi klaim semacam itu tentu saja besar dan punya efek psikologis bagi umat Islam Indonesia. Jika elite PPP gagal menjadikan Islam dalam konteks aksi dan perilaku politiknya, maka itu akan memunculkan sikap antipasti umat Islam terhadap PPP. Jadi, jika konflik tidak mampu diselesaikan, maka bisa jadi bukan sekadar “gagal” menjadi “rumah besar” umat Islam, tapi juga gagal menjadi partai politik Indonesia.

Dalam konteks itu, sebagai umat Islam sekaligus warga Negara, saya hendak memberikan catatan untuk PPP, dengan harapan semoga konflik yang terjadi bukan menjadi akhir sejarah PPP tapi justru menjadi tempat “belajar” untuk melangkah lebih tepat di masa depan. Pertama, elite PPP mesti bersedia “duduk’ bersama dalam satu ritme pandangan atau pada satu titik tujuan bersama seperti yang digariskan para pendiri PPP bahwa PPP merupakan “rumah besar” umat Islam dimana Islam dapat menjadi payung moral dan landasan nilai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kalau saja elite PPP gagal “duduk” pada satu titik semacam itu maka konflik PPP hanya akan menjadi “biang” sejarah kelam PPP. Sebaliknya, jika elite PPP mampu memendam ego kubunya masing-masing lalu memilih “jalan damai” dalam persepektif tujuan bersama maka konflik PPP pasti berlalu dan PPP kembali bangkit sebagai sebuah partai tua (baca: rumah besar) yang layak dihuni oleh umat Islam.

Kedua, perlu adanya sikap bijak dan tegas para sesepuh PPP dalam memandang dan memahami konflik politik PPP. Bijak, dalam pengertian bahwa adanya konflik ini pada dasarnya merupakan momentum untuk menguji kapasitas dan kualitas elite PPP dalam memimpin dan menyelesaikan dinamika dan perbedaan pendapat. Sehingga para sesepuh tidak perlu terlibat menjadi “pemain” atau mengambil langkah yang menghadirkan konflik yang lebih besar tapi lebih memilih menjadi “pelatih” dan “penasehat” yang handal.

Menurut Pengamat Politik Fahri Ali (2005), dalam konflik politik, bijak saja tidak cukup. Para tokoh utama dan elite politik perlu punya sikap tegas dan pilihan jelas. Mengafirmasi Fahri, saya ingin mengatakan bahwa dalam konteks PPP, selain bijak, sesepuh PPP juga mesti tegas. Ini bermakna para sesepuh PPP (seperti KH. Maimoen Zubaer, H. Hamzah Haz, dan sebagainya) mesti satu suara dalam menyikapi konflik PPP. Selama para sesepuh PPP tidak tegas atau cenderung diam (bahkan memilih “bersama” dengan hanya salah satu kubu) maka konflik PPP tidak akan pernah selesai, bahkan hanya akan mempercepat kehancuran PPP.

Ketiga, elite PPP kembali ke Ka’bah. Pernyataan ini mungkin terasa pedas, namun demi “perdamaian” dan masa depan PPP yang lebih baik, maka pernyataan ini menjadi layak disampaikan. Secara sepintas, kembali Ka’bah terkesan sangat simbolik. Namun secara subtantif, ini bermakna bahwa jika selama ini PPP memaknai simbol PPP (baca: Ka’bah) sebagai simbol kesatuan arah perjuangan umat Islam Indonesia dalam rangka beribadah kepada Allah SWT, serta merupakan sumber inspirasi dan motivasi untuk menegakkan ajaran Islam dalam segala bidang kehidupan, maka elite PPP perlu menginternalisasi secara massif makna tersebut dalam semangat dan aksi politik PPP. Bukan eranya bagi PPP untuk menebar ornamen politik sebatas simbolik, karena PPP mesti menghadirkan makna subtantif simbolik tersebut dalam kancah dan aksi politik yang nyata.

Di atas segalanya, mengutip Eep Saefulloh Fatah (2004) “pada dasarnya suatu konflik politik jika mampu dikelola secara jitu, maka ia menjadi momentum pembelajaran politik yang paling matang; namun jika tak, maka ia pun hanya akan menjadi momok politik yang mematikan. Bukan saja mematikan peran politik pelaku politik, tapi juga mengakhiri sejarah politik partai politik”.

Publik tentu berharap agar konflik PPP tidak menjadi momok yang mematikan, tapi menjadi sarana pembelajaran dan pematangan politik bagi (elite) PPP. Sehingga harapan dan ajakakan publik bangsa (terutama umat Islam, khususnya warga PPP) dengan “wahai elite PPP, kembalilah ke Ka’bah” benar-benar menjadi arus penyadaran diri elite PPP dalam memandang masa depan PPP yang lebih baik. Sekali lagi, wahai elite PPP, kembalilah ke Ka’bah! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur KOMUNITAS-‘Komunitas Cirebon Membaca, Cirebon Menulis’, Penulis buku POLITIC]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s