Menjadi Pemuda Berjiwa Negarawan

Pemuda Indonesia
Pemuda Berjiwa Negarawan

PERINGATAN hari Sumpah Pemuda yang ke-86, tepatnya 28 Oktober 2014 tahun ini semestinya dijadikan momentum oleh seluruh elemen, terutama para pemuda untuk bangkit dan menjadi negarawan muda baru yang mampu menghadirkan perubahan dan perbaikan bagi bangsa dan negara tercinta, Indonesia.

Bagaimanapun, “pemuda adalah aset sekaligus cadangan pemimpin masa depan bangsa. Kemampuan menata diri menjadi pemuda yang berkualitas di era ini bermakna kesiapan diri secara kualitas bagi masa depan bangsa. Itu berarti, masa depan negeri ini sejatinya ada pada pundak para pemuda” (Anis Baswedan, 2014).

Pemuda untuk Perubahan Bangsa

Sudah menjadi maklum bahwa negeri ini sedang mengalami masalah yang begitu pelik. Tantangan ke depan pun tentu saja tak kalah peliknya. Dalam konteks itu, pemuda memiliki peran penting atau andil strategis. Pemuda yang didefenisikan dalam UU No 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan sebagai orang-orang yang berusia dari 16 sampai 30 tahun termasuk mahasiswa di dalamnya harus menjadi pionir dalam menyelesaikan berbagai masalah bangsa, termasuk dalam menghadirkan pembangunan.

Mereka, para pemuda semestinya tidak hanya mencukupkan dirinya sebagai agen perubahan, tapi sudah semestinya menaikkan jenjang sebagai direktur perubahan. Transformasi semacam itu tentu saja beralasan, misalnya, pemuda memiliki beragam potensi seperti kekuatan (fisik) yang mapan, kecerdasan (fikir) yang tajam, kecepatan belajar dan adaptasi serta sebagai bahan dasar akselerasi perubahan.

Untuk menjadi pemuda yang berjiwa negarawan, pemuda wajib menambah energi dan meningkatkan kapasitas diri; baik yang bersifat individu ataupun yang bersifat kolektif. Pemuda

punya hak dan kewajiban sejarah untuk merespon berbagai kondisi bangsa dan negara dengan langkah nyata (attitude). Itu bermakna, pemuda tidak elegan menyerahkan sepenuhnya masa depan bangsa dan negara ini hanya pada pengelola negara atau pemerintah semata.

Dalam konteks itu, sebagaimana yang pernah disinggung oleh Rhenald Kasali, pemuda mesti memiliki beberapa hal penting, pertama, visi tentang arah masa depan. Kedua, keterampilan (skill) untuk mampu melakukan tuntutan-tuntutan baru. Ketiga, sumberdaya atau kompetensi sehingga bisa memudahkan ruang gerak dan pertumbuhan. Keempat, rencana atau action plan (Rhenald Kasali, 2010).

Sebagai aktor perubahan, pemuda memiliki peranan penting dalam tataran kekuatan politik arus bawah terutama dalam melakukan kontrol publik terhadap kebijakan pemerintah. Kritik kepada pemuda, terutama aktivis mahasiswa saat ini adalah seolah-olah mereka vakum dan terdiam atas berbagai masalah yang dihadapi bangsa dan negara. Wajar banyak kalangan dan pengamat mengatakan saat ini gerakan mahasiswa atau pemuda pasca reformasi hanya menjadi penonton, bukan penentu.

Kritik semacam itu mesti dijawab oleh para pemuda dengan menghadirkan dirinya dalam proses pembangunan bangsa dan negara. Pemuda mesti hadir sebagai sosok warga negara yang berjiwa negarawan, yang siap dan bersedia berkontribusi nyata, bukan penonton semata.

Pemuda Berjiwa Negarawan

Menjadi pemuda berjiwa negarawan adalah suatu kemestian pemuda era ini. Pemuda semacam itu selalu rela berkorban dan bergerak (tanpa pamrih) demi bangsa juga negaranya. Mereka ikhlas dalam berjuang untuk melakukan perbaikan dan perubahan dalam kehidupan nyata bangsa dan negaranya.

Lalu, seperti apakah pemuda berjiwa negarawan tersebut? Cirinya yaitu pertama, memiliki semangat untuk terus bergerak dan berjuang. Semangat untuk terus bergerak dan berjuang bukan berarti sekadar semangat yang menggebu-gebu tanpa diiringi dengan perencanaan yang jelas. Dalam hal ini, pemuda harus mempunyai orientasi perubahan dan perbaikan bagi bangsa dan negaranya dalam perencanaan yang matang.

Kedua, menjadi pemuda yang mampu menyelesaikan permasalahan (problem solver) bukan menjadi bagian dari masalah (trouble solver). Pemuda mesti memiliki gagasan dan mampu mendialektikakan gagasannya dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara ini. Dulu, karena gagasan pemuda seperti Soekarno, M. Hatta, M. Natsir dan beberapa tokoh lainnya-lah akhirnya negeri ini merdeka dan hingga kini pun kita dapat menikmati kemerdekaan sebagai sebuah bangsa dan negara besar yang merdeka dari penjajah.

Ketiga, pemuda yang berjiwa negarawan tidak bermental ‘tempe’. Artinya, para pemuda dituntut untuk tidak mudah berputus asa dalam melakukan agenda-agenda perubahan dan perbaikan. Mereka bergerak tanpa pamrih, tanpa niat untuk disebut sebagai pahlawan atau negarawan juga tak berharap pada penghargaan. Label kepahlawanan atau negarawan juga penghargaan bagi pemuda berjiwa negarawan bukanlah suatu yang penting; yang terpenting adalah bagaimana mereka bisa terus bergerak tanpa mengenal letih sampai tetes perjuangan terakhir demi pembangunan bangsa juga negaranya.

Malik bin Nabi mengatakan “sejarah adalah catatan statistik tentang denyut hari, gerak tangan, langkah kaki, dan ketajaman akal.” Ini bermakna, sejarah masa depan negeri ini semestinya merupakan catatan tentang denyut jiwa, gagasan jenial dan kontribusi nyata para pemuda, ya para pemuda berjiwa negerawan.

Di atas segalanya, dinamika politik elite politik dan para pemimpin bangsa seharusnya menggerakkan para pemuda untuk berpikir dan bersikap sebagaimana seharusnya negarawan. Pemuda tidak perlu terjebak dalam fragmentasi kepentingan yang bersifat pragmatis dan sesaat, sebab pemuda sadar betul akan agenda besar dan peran pentingnya dalam sejarah pembangunan bangsa juga negara. Dalam konteks itu, pekerjaan pemuda saat ini adalah melanjutkan perjuangan para pahlawan atau negarawan dari berbagai kalangan (pemuda dan tua) di masa lalu dengan berkontribusi nyata dalam pembangunan, semabri menyiapkan diri menjadi pemimpin yang layak memimpin di masa depan. Dengan demikian, peringatan Sumpah Pemuda era ini bukan sekadar hiruk pikuk, tapi dimaknai dan diisi dengan refleksi diri atau membangun kesadaran diri untuk berkontribusi positif bagi masa depan bangsa dan negara tercinta, Indonesia. Selamat berkontribusi pemuda-pemudi bangsa, jangan pernah lelah mencintai negeri tercinta, Indonesia! [Oleh: Syamsudin Kadir—Penulis adalah Direktur Mitra Pemuda dan KOMUNITAS]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s