Dimensi dan Makna Transformatif Qurban

qurbanHARI ini umat Islam di seluruh dunia akan bersua dengan ‘Idhul Adha, atau yang kerap juga disebut ‘idhul qurban. Drama qurban adalah sebuah penegasan, bahwa Tuhan Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus darah manusia. Dia adalah Tuhan (Allah) yang ingin menyelamatkan, membebaskan, dan melindungi umat manusia dari berbagai bentuk perilaku jumud manusia.

Qurban sendiri berarti refleksi historik atas perjalanan kebajikan yang pernah ditorehkan manusia masa lampau (Ibrahim), untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang diukir Ibrahim. Yang bermakna keteladanan Ibrahim (an-nubuwah) yang mampu mentransformasi pesan keagamaan ke dalam aktualisasi perjuangan hidup kemanusiaan (al-insaniyah). Ritual qurban bukan cuma bermakna bagaimana manusia mendekatkan diri pada Tuhannya, tetapi juga mendekatkan diri dengan sesamanya. Dengan demikian, ibadah qurban mencerminkan dengan tegas pesan solidaritas dan soliditas sosial Islam, mendekatkan diri pada saudara-saudara kita yang kekurangan, yang miskin, papa dan terpinggirkan.

Selintas Sejarah Qurban

Sejarah pelaksanaan qurban oleh manusia sebenarnya setua peradaban manusia itu sendiri. Ibadah ini sesungguhnya sudah dilaksanakan oleh seluruh Nabi dan Rasul Allah (QS. Al-Hajj: 34). Selain bentuk pendekatan diri kepada Allah dan syukur atas karunia yang diberikan-Nya, qurban adalah bentuk ketakwaan seorang Muslim dan melaksanakan segala perintah Allah (QS. Al-Hajj: 37). Di samping wujud ketaatan atas perintah Allah dalam surah Al-Kautsar [108] ayat 1-2, “Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Secara spesifik, ibadah qurban sudah dilakukan pada masa Nabi Adam, yaitu qurban yang dilakukan oleh kedua orang putranya, Habil dan Qabil. Kisah pengurbanan Habil dan Qabil diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat: 27, yang artinya: “Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka (qurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “sungguh, aku pasti membunuhnya!” Dia (Habil) berkata, “sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertaqwa.”

Pada zaman nabi Ibrahim juga begitu. Peristiwa itu dimulai dari mimpi Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah agar menyembelih anaknya. Oleh karena menurut keyakinannya mimpi itu adalah mimpi yang benar, maka ia menawarkan kepada Ismail, “…Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu..?” (QS. Ash Shaaffaat: 102).

Mendengar perintah ayahnya, Ismail pun dengan yakin dan ikhlas menjawab penuh hormat, “…Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaaffaat: 102). Kemudian Nabi Ibrahim membawa Ismail ke suatu tempat yang sunyi di Mina. Sebelum acara penyembelihan dimulai, Ismail mengajukan tiga permohonan, yaitu (1) sebelum ia disembelih hendaknya terlebih dahulu Ibrahim menajamkan pisaunya agar ia cepat mati dan tidak lagi timbul kasihan maupun penyesalan dari ayahnya, (2) ketika menyembelih, muka Ismail harus ditutup agar tidak timbul rasa ragu dalam hati ayahnya, (3) bila penyembelihan telah selesai, agar pakaian Ismail yang berlumuran darah dibawa ke hadapan ibunya, sebagai saksi bahwa kurban telah dilaksanakan. Dengan berserah diri kepada Allah Swt., Ismail pun dibaringkan dan dengan segera Ibrahim menyentakkan pisaunya dan mengarahkan ke leher anaknya. Akan tetapi Allah mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar (QS. Ash Shaaffaat:102).

Peristiwa “ketaatan” dan “menyerah” ini kemudian diabadikan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an dan dijadikan dasar disyariatkannya qurban, yang hingga kini dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu. Para ulama pun menyepakati bahwa syariat qurban dalam Islam dimulai ketika peristiwa qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap putranya, Ismail.

Dimensi Qurban dan Upaya Tranformasi

Dalam perspektif nalar teologis, qurban tak cukup dimaknai sebatas proses ritual agama semata (wujud kepasrahan Ibrahim kepada Sang Pencipta) tetapi juga harus dipandang sebagai peneguhan nilai-nilai kemanusiaan—sebuah pesan rohaniyah Islam sebagai dien yang memberi rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamin).

Dari spirit sejarah sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya dan dua perspektif tersebut dapat dipahami bahwa ibadah qurban memiliki dimensi-dimensi tertentu, pertama, dimensi tauhid. Ibadah qurban mempunyai nilai ketauhidan yang sangat kental. Ia merupakan momen untuk mengenang kembali perjuangan monoteistik yang dilakukan oleh nabi Ibrahim, seorang nabi yang dikenal sebagai bapak tauhid.

Dalam konteks ketauhidan, ibadah qurban yang dilakukan oleh nabi Ibrahim dengan mengurbankan anak yang dicintainya mengajarkan kepada kita mengenai sikap orang bertauhid yang sesungguhnya. Nabi Ibrahim mampu membebaskan dirinya dari penghambaan kepada materi (dalam hal ini anak yang dicintainya) menuju penghambaan kepada Allah semata. Melalui ibadah qurban ini nabi Ibrahim memperlihatkan keimanan, ketundukan dan ketaatannya hanya kepada Allah. Nabi Ibrahim juga telah berhasil melepaskan diri dari kelengketannya kepada dunia, baik jasadnya, jiwanya, hatinya, maupun ruhnya, karena kelengketan kepada dunia akan menjadi penghalang seseorang untuk melakukan pengorbanan, ketaatan maupun kepatuhan dalam menjalankan perintah Allah.

Kedua, dimensi spiritual. Ibadah qurban merupakan sarana pembuktian keimanan kita kepada Allah. Keimanan meliputi keikhlasan, ketaatan dan pengorbanan, yang berarti ibadah qurban yang kita lakukan harus murni dilakukan hanya semata-mata karena Allah dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya yang direfleksikan dalam bentuk materi yang kita persembahkan, yaitu hewan.

Ketiga, dimensi sosial. Qurban adalah medium ritual di samping zakat, infak, dan sedekah yang disiapkan Islam untuk mengejewantahkan sikap kepekaan dan solidaritas kemanusiaan. Islam adalah agama yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial, sehingga banyak kita temukan baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits yang terkandung di dalamnya nilai-nilai sosial-kemanusiaan, seperti berbuat baik kepada tetangga, menolong orang lain, berbakti kepada kedua orang tua, menyantuni anak yatim, menjenguk orang sakit, memberi makan fakir miskin, dan sebagainya.

Keempat, dimensi moral. Ibadah qurban juga mengandung pesan-pesan moral yang ditunjukan dengan simbol-simbol yang ada dalam ritual ibadah qurban, misalnya: (1) Memahami dan memaknai sejarah qurban nabi Ibrahim, dalam konteks kebangsaan, para pemimpin, pemilik modal, pengusaha dan elite politik idealnya memiliki semangat rela berkorban dengan meninggalkan hawa nafsu dan egonya untuk melakukan sesuatu (melalui kebijakan-kebijakannya) bagi kemaslahatan publik, bukan bagi kemaslahatan pribadi dan golongan.

(2) Binatang adalah sesuatu yang dikorbankan dan disembelih dalam proses ritual ibadah qurban. Binatang merupakan simbol keburukan yang ada pada diri manusia. Menyembelih hewan tidak cukup dimaknai sebagai “penyembelihan” hewan, tapi juga “penyembelihan” sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak taat aturan, menentang norma atau etika (amoral), membunuh, memperkaya diri sendiri, memonopoli seluruh sektor perekonomian, korupsi, penindasan terhadap masyarakat lemah, arogan, dan apatis terhadap realitas sosial masyarakat dan keumatan. Perilaku manusia yang materialistis dan eksploitatif seperti itu tak hanya melahirkan sikap tamak dan serakah, namun juga perilaku picik dan acuh pada alam (manusia dan kehidupan publik). Sifat-sifat keburukan yang ada pada diri manusia selalu diidentifikasi oleh Allah dalam Al-Qur’an dengan sifat-sifat kebinatangan.

(3) Ketika nabi Ibrahim akan menyembelih Ismail, lalu Allah menggantikan Ismail dengan seekor binatang, memberikan pelajaran bahwa kita harus menghargai nyawa manusia. Tak ada yang lebih mulia di antara manusia selain dari keimanan dan kualitas ketakwaannya kepada Sang Kuasa. Karena itu, tak ada alasan bagi siapapun untuk membunuh manusia yang lain secara batil; baik secara langsung (membunuh) maupun tidak langsung (menghambat kesejahteraan). Allah telah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa barangsiapa yang menghilangkan nyawa seorang manusia, itu seolah-olah telah menghilangkan nyawa manusia seluruhnya, karena nyawa manusia penting artinya bagi hidup dan kehidupan.

(4) Ibadah qurban yang dipelopori bapak tauhid nabi Ibrahim mempunyai makna pembebasan manusia dari kesewenang-wenangan manusia atas manusia lainnya. Ketika Allah mengganti Ismail dengan seekor binatang, tersirat pesan yang menyatakan agar manusia tidak lagi menginjak-injak harkat dan derajat manusia dan kemanusiaan.

(5) Kisah qurban nabi Ibrahim juga menegaskan bahwa Tuhannya nabi Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus darah manusia, Dia adalah Tuhan yang ingin menyelamatkan dan membebaskan manusia (humanistik) dari tradisi yang tidak menghargai manusia dan kemanusiaan.

(6) Sebagai keberlanjutan syari’at ini, pada Hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah) disunahkan untuk menggemakan takbir sampai waktu Ashar di akhir. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan agung dan absolut. Oleh karenanya, tidaklah patut para pejabat Negara, elite-kekuasaan, elite-politik, elite-ekonomi, dan manusia-manusia kaya, bahkan rakyat biasa bertindak semena-mena terhadap manusia lain serta berjalan congkak di muka bumi ini.

Di atas segalanya, upaya pemaknaan tranformatif seperti ini diharapkan akan mampu menemukan relevansi dan korelasi antara ibadah qurban dengan kondisi umat Islam dan bangsa kita saat ini dan ke depan. Sebagai bangsa berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, saatnya kita tegakkan nilai-nilai ketuhanan (ilahiyyah), kemanusiaan (insaniyyah), keadilan (al-adl), dan solidaritas sosial (at-ta’wun al-mujtama’) sebagaimana diajarkan Ibrahim; dan membumikan ajaran Ismail sebagai simbol aktualisasi nilai-nilai ketuhanan (ilahiyyah) di tengah kehidupan umat manusia yang kian picik dan terus menghamba pada materi. Dengan begitu, ibadah qurban dapat memberi makna, warna dan tren baru bagi model kehidupan individu dan sosial, masyarakat dan Negara secara terbuka. Semoga kita semua mampu melakukan itu! [Oleh: Syamsudin Kadir, Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Warga KOMUNITAS (Komunitas Cirebon Membaca, Cirebon Menulis), dan Pegiat Ilmu Pengetahuan di STAI BBC; Jumat-Sabtu, 4-5 Oktober 2014].

One thought on “Dimensi dan Makna Transformatif Qurban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s