Langkah Maju Menuju World Class University

ISTAC
Kampus ISTAC Malaysia

OKTOBER 2013 lalu Times Higer Education kembali mengumumkan rangking universitas se-dunia yang masuk dalam kelompok World Class University (WCU). Walaupun sudah setahun berlalu, namun pengumuman itu layak direnungi. Bagaimana tidak, pada pengumuman tersebut tak satupun universitas dari Indonesia yang terlihat dalam daftar Universitas kelas dunia tersebut.

Salah satu yang paling menarik dari daftar tersebut adalah beberapa universitas yang masuk dalam jajaran WCU ini usinya baru 20 tahun, seperti Nanyang Technological University (NTU, Singapura), Yuan Ze University (Taiwan ), dan Koc University (Turki). Padahal tidak sedikit Universits di Indonesia yang berusia di atas setengah abad. Pertanyaannya, mengapa tiga universitas muda itu mampu, sementara universitas kita tidak mampu?

Belajar Melangkah Maju

Apa sebenarnya yang dilakukan NTU, Yuan Ze University dan Koc University dalam membangun universitasnya sehingga mampu masuk di dalam jajaran kelas dunia dalam waktu relatif singkat?

WCU_n
Tulisanku di Kolom Wacana Radar Cirebon, Selasa 23 September 2014 “Langkah Maju Menuju World Class University”

Pertama, keterbukaan. Ya, kata kuncinya adalah keterbukaan, mau bekerjasama dan belajar kepada berbagai universitas terkemuka. Misalnya, Times Higher Education bermitra dengan NTU menyelenggarakan World Acadeimc summit. Perhelatan di hadiri 210 peserta dari 39 negara terdiri atas pimpinan universitas terekemuka dan perwakilan industri, seperti BMW dan Volvo.

Prof. Arnoud De Me yer, President Singapore Management University (SMU) mengakui bahwa membangun WCU perlu kerja ekstra keras dan cerdas. Sudah menjadi hal biasa bagi universitas terkemuka di Singapura merekrut para profesor Barat diangkat sebagai pimpinan universitas ataupun profesor. Rektor NTU Bertil Andersson, misalnya, adalah guru besar berasal dari Barat. Rektor Koc University adalah porofesor yang suda cukup lama berkecimpung di sebuah kampus yang sangat terkemuka di Amerika walaupun ia berkebangsaan Turki.

Bayangkan saja, SNU tak ragu merekrut 200 dosen internasional untuk memperkuat jajaran parah dosennya. Perekrutan dosen internasional ini sangat vital karena membantu mempercepat pengalihan budaya dari Barat ke Timur.

Jadi, era ini adalah era dimana universitas di Asia, terutama Indonesia mustahil menutup diri dari kerja sama dengan berbagai negara maju di berbagai penjuru dunia. Universitas-universitas di China, Singapura, Abudhabi, Dubai dan Arab Saudi berlomba-lomba membuka branch kampus dari universitas-universitas terkemuka di Amerika dan Eropa. Bahkan King Abdullah University of sience and technology, Arab Saudi, saat ini dipimpin Dr Jean–Lou Chameo berkebangsaan Prancis.

Dunia perguruan tinggi Asia sesunggunya telah mengalami perubahan drastis. Mereka berlomba menambah jumlah mata kuliah yang diajarkan dalam Bahasa Inggris sebagai tanggapan atas pergeseran ekonomi dari Barat ke Timur. Dalam tiga tahun terakhir, China, India, Vietnam, Arab Saudi dan Turki telah menjadi pasar mahasiswa internasional yang terus berkembang.

Selain SMU, ternyata NTU, Koc University dan Yuan ze University juga telah lama melakukan perubahan strategis sehingga mereka siap bersaing dengan Universitas-universitas terkemuka di Amerika dan Eropa dalam merebut pasar mahasiswa yang sebagian besar berasal dari kawasan Asia Timur ataupun Barat. Ketiga Universitas dunia ini juga menjadikan kerja sama internasional dengan perguruan tinggi di belahan dunia sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi mengembangkan diri tanpa batas.

Untuk perguruan tinggi negeri seperti NTU, persoalan terletak pada kemauan pemerintah Singapura yang sangat antusias membangun universitas kelas dunia. NTU mendapat dana sangat besar dari pemerintah singapura sehingga dalam waktu 20 tahun berubah dari Universitas baru menjadi Universitas kelas dunia.

Kedua, visi besar. Kemampuan dari beberapa universitas yang saya sebutkan di atas dalam berkompetisi di kancah global adalah wujud nyata dari adanya visi besar.

Dengan memperhatikan usia ketiga Universitas di atas jelas bahwa Universitas-universitas di Indonesia sesungguhnya memiliki kemampuan bersaing menuju Universitas kelas dunia. Yang dibutukan adalah visi yang sangat kuat dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertanggung jawab atas masa depan pendidikan tinggi (PT) di Indonesia. Sehingga universitas di Indonesia pun mampu bersaing di kancah global menuju WCU.

Dua langkah di atas senada dengan apa yang diungkapkan oleh Pakar Manajemen Rhenald Kasali (2007), elemen apapun baik perorangan maupun institusi hanya akan mampu bersaing bahkan menjadi ikon global manakala memiliki visi besar dan memiliki sikap keterbukaan dengan elemen apapun di luar dirinya.

Menuju World Class University

Kita maklum bahwa sejak Kamis (11/9/2014) para menteri-menteri pendidikan kawasan ASEAN melakukan pertemuan di Kota Vientiane, Laos. Dalam forum 8th ASEAN Education Ministers Meeting (8thASED) ini dipaparkan mengenai sejumlah capaian prestasi dari rencana kerja ASEAN (2011-2015) di bidang pendidikan, termasuk delegasi Indonesia.

Sebagai negara berpenduduk terbesar, Indonesia tentu layak mengapresiasi pertemuan tersebut. Selain memperkuat hubungan dan kerjasama bidang pendidikan dengan berbagai negara se-kawasan, forum ini juga dapat dijadikan sebagai instrumen penguat Indonesia (termasuk negara lain se-kawasan) dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC).

Kita tentu masih ingat, pada ASED ke-7 di Yogyakarta tahun 2012. Pada saat itu Indonesia telah meluncurkan ASEAN Curriculum Sourcebook. Sebuah sumber pengajaran untuk guru tingkat pendidikan dasar dan menengah dalam rangka mendorong terciptanya masyarakat berwawasan terbuka, stabil, damai, dan sejahtera.

Selain ASED, Indonesia juga mengambil peran penting dalam peluncuran ASEAN State of Education Report (ASOER) yang merupakan hasil dari pertemuan informal ASEAN Education Ministers Meeting di Bali tahun 2011. ASOER merupakan penilaian yang baru pertama kali ada untuk menilai kemajuan pembangunan pendidikan di ASEAN. Ia merupakan alat harmonisasi dan pengakuan dalam bidang kerja sama pendidikan tinggi di ASEAN.

Selain itu, Indonesia juga telah menyelesaikan siklus ke-13 Program Pertukaran Pelajar ASEAN (ASEAN Student Exchange Programme). Selanjutnya, kita berharap agar ke depan pemerintah mampu memaksimalkan kerja sama dengan lebih banyak mitra regional untuk memberikan kesempatan saling belajar, berbagi pengalaman, dan praktik-praktik terbaik bagi kemajuan pendidikan Indonesia, terutama kerja sama jaringan universitas di ASEAN (ASEAN University Network/AUN).

Kata kunci yang melingkupi visi besar adalah inovasi yang terdorong oleh keyakinan bahwa sesuatu bisa diraih atai dicapai. Mari perhatikan fenomena facebook (FB) yang lahir tahun 2004 dan youtube yang lahir tahun 2005 silam. Usia kedua perusahaan maya ini amat belia, tetapi mereka benar-benar mengglobal saat ini. Mereka juga tak dibentuk oleh profesor atau pemerintah tertentu, sebaliknya mereka dibuat orang-orang muda kreatif dan produktif dalam menciptakan produk pelayanan yang smart. Kata kuncinya adalah inovasi. Singkatnya, inovasi adalah bahasa menuju puncak kejayaan sebuah bangsa bahkan peradaban. Kerja keras penuh inovasi adalah jawaban untuk keraguan membangun WCU bagi universitas yang ada di Indonesia. Dalam konteks itu, pemerintah dan masyarakat umum perlu mengambil sikap dan tindakan nyata dan tentu saja segera.

Akhirnya, berbagai langkah yang dilakukan pemerintah seperti yang saya sebutkan di atas adalah sebentuk langkah maju sekaligus prestasi pemerintah yang layak kita dukung. Sungguh, tak ada yang tak mampu kita raih selama kita masih memiliki kemauan yang kuat, kesungguhan, kerja keras dan kemampuan untuk bekerjasama. Semua elemen mesti turun tangan, mengambil peran. Namun ada satu hal yang sangat penting, yaitu adanya penggawa kementrian atau menteri kabinet yang menangani pendidikan yang mesti memiliki standar dan kualifikasi global. Dengan begitu, kita pun akan dengan gempita mendeklarasikan: bangkitlah perguruan tinggi atau universitas se-Indoesia menuju World Class University! [Oleh: Uum Heroyati—Pengajar di SDIT Sabilul Huda Cirebon, Pegiat di KOMUNITAS (Komunitas Cirebon Membaca, Cirebon Menulis), Penulis buku “Menuju Indonesia yang Beradab”].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s