Mencapai Kebenaran (hanya) dengan Ilmu

azka lg ke toko buku_n
Anakku, Azka Syakira (38 bulan) sedang melalui proses “mengetahui” dan “Mencapai” Kebenaran dengan jalan berilmu; Cirebon, Selasa 16 September 2014

KEMARIN, Senin 15 September 2014 saya menghadiri acara pra akademik di salah satu kampus di Cirebon. Di sela-sela acara saya sempat berkenalan dengan beberapa orang mahasiswa di sebuah warung dekat kampus bersangkutan. Singkat cerita, salah seorang mahasiswa pun mengeluarkan pernyataan “manusia dapat mengetahui yang benar asal belajar yang benar”. Pernyataan ini sederhana namun sangat penting. Sebab akhir-akhir ini tak sedikit yang masih meragukan jika manusia dapat mencapai kebenaran. Sehingga ilmu yang dipelajari bukan menambah keyakinan dan amal soleh, tapi justru “membingungkan” dan menjauhkan dirinya dari—apa yang disebut Prof. Naquib Al-Attas (1988)—“orientasi dan nilai luhur ilmu itu sendiri, yaitu menghendaki adanya keyakinan dan amal”.

Manusia dapat Mengetahui dan Mencapai Kebenaran?

Menurut Hamid Fahmi Zarkasyi (2013), dalam Islam ‘Mengetahui bukan sesuatu yang tidak mustahil’. Dengan kata lain mengetahui menjadi mungkin. Setiap manusia normal, dengan segala potensi yang ada padanya, sesungguhnya dan pada hakikatnya dapat mengetahui (’ilm) dan mengenal (ma’rifah). Tidak seperti yang diklaim oleh kaum sophis (as sufasta’iyah), relativis (al ’indiyah), skeptis (al ’inadiyah), dan agnostis (al laadriyah), bahwa manusia tidak mampu mencapai suatu kebenaran yang hakiki.

Pernyataan Hamid ternyata terafirmasi secara apik lebih dahulu oleh Imam An-Nasafi. Dalam hal ini beliau menjelaskan bahwa ’Haqaiqul asyyak tsabitah wal ’ilmu biha mutahaqqiqah khilafan lissufastha’iyah’ Maksudnya, hakikat (quiditas/esensi) segala sesuatu itu tetap (dan oleh karena itu bisa ditangkap), tidak berubah (segalanya bisa diketahui dengan jelas.

Manusia dapat mengetahui ilmu dan mencapai kebenaran melalui beberapa hal, pertama, informasi yang berasal dari atau yang disandarkan kepada otoritas, Khobar Shodiq (Wahyu Allah; Al-Qur’an dan As-Sunnah). Kedua, persepsi indra, atau yang kerap disebut idrak al-hawass (pendengar, pelihat, perasa, pencium, penyentuh) di samping al-hiss al-musytarak atau sensus communis, yang menyertakan daya ingat atau memori (dzakirah), daya penggambaran (khayal) atau imajinasi, dan daya perkiraan atau estimasi (wahm). Ketiga, proses kognitif akal yang sehat, atau yang dikenal dengan sebuatan ta’aqqul (akal, rasio), dan intuisi, al-Hads (Syamsuddin Arif, 2007).

Ilmu dan Tradisi Ilmu Sebagai Jalan Tempuh

Hampir semua umat Islam tahu betul bahwa nabi Muhammad bin Abdillah dilahirkan di kawasan padang pasir, tandus dan gersang, jauh dari peradaban kala itu: Persia dan Romawi. Pada usia 40 tahun beliau diangkat menjadi Nabi sekaligus Rasul. Tugas baru yang diembankan kepadanya dari Tuhannya itu bukanlah tugas yang ringan, namun sebuah tugas yang amat sangat berat. Tugas itu adalah menyampaikan risalah tauhid kepada seluruh ummat manusia di penjuru dunia.

Dalam waktu sekitar 23 tahun, setelah mengalami berbagai macam rintangan dan cobaan sepanjang dakwah risalah, Nabi Muhammad telah mampu membangun suatu tatanan kehidupan di mana siapa saja yang berteduh di bawahnya akan merasakan kesejukannya. Hal itu ditandai dengan lahirnya sebuah kota yaitu Madinah Al Munawwarah, kota yang tercerahkan. Kemudian Kota tersebut bermetamorfosis, menjelma menjadi suatu komunitas besar sebentuk negara (state) atau peradaban (civilization).

Menurut Ibnu Khaldun—sebagaimana dikutip Hamid Fahmy Zarkasyi (2008)—wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting antara lain 1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi, 2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer, dan 3) kesanggupan berjuang untuk hidup. Ketiga elemen tersebut telah mewujud di Madinah kala itu. Berdasarkan teori Ibnul Khaldun tersebut Madinah sudah bisa dikatan sebagai sebuah peradaban. Dari Madinah-lah kebangkitan Peradaban Islam berawal dan berkembang

Peradaban Islam di mulai dengan tradisi ilmu atau tafaqquh fid din secara terus menerus. Mulai dari turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. proses interaksi dan ideasi antar individu dan masyarakat senantiasa didasarkan pada wahyu. Ini bukti bahwa ilmu tidak hanya dalam pikiran semata akan tetapi mewujud dalam sebuah aktifitas, baik berupa amal infiradi (aktivitas personal) maupun amal jama’i (aktivitas kolektivitas). Dari sinilah lahir komunitas ilmiah yang mana oleh sebagian ahli sejarah disebut Ahlus Suffah.

Di lembaga pendidikan pertama inilah kandungan wahyu dan hadist-hadist Nabi dikaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif. Meski materinya masih sederhana tapi karena obyek kajiannya tetap berpusat pada wahyu, yang betul-betul luas dan kompleks. Materi kajiannya tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia, yang menurut orang Barat merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual Yunani dan bahkan kebudayaan Barat (the cradle of western civilization).

Hasil dari kegiatan ini memunculkan alumni-alumni yang menjadi pakar dalam hadist Nabi, seperti Abu Hurairah, Abu Dhar Al Ghifari, Salman Al Farisy, Abdullah ibn Mas’ud dan lain-lain. Ribuan hadist telah berhasil direkam oleh anggota sekolah ini. Kegiatan pengkajian wahyu dan hadist kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya dalam bentuk lain.

Tidak lebih dari dua abad lamanya, telah muncul ilmuan-ilmuan terkenal dalam berbagai bidang studi keagamaan, seperti Qadi Surayh (w.80 H/699 M), Muhammad ibn al Hanafiyah (w.81 H/700 M), Umar ibn Abdul Aziz (w.102 H/720 M), Wahb ibn Munabih (w. 110,114 H/719,723 M), Hasan al Basri (w.110 H/728 M), Ja’far al Shadiq (w. 148/765), Abu Hanifah (w.150/767), Malik ibn Anas (179/796), Abu Yusuf (w.182/799), al Syafi’i (w.204/819), dan lain-lain.

Islam adalah sebuah peradaban yang memadukan aspek dunia dan aspek akhirat, aspek jiwa dan aspek raga. Ia bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu pada masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmuan yang dzalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Sebab ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh sahabat-sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar, ’Utsman, Ali (radhiyallahu ’anhum) dan lain-lain.

Tradisi keilmuan tersebut kemudian berlanjut dari generasi ke generasi, dari abad ke abad dan mengalami puncak perkembangan dan keemasannya antara abad ke-7 M sampai pada abad ke-12 M. Pada saat itu telah lahir intelektual-intelektual muslim di bidang sains dan teknologi, seperti Al Khawarizmi, ’Bapak Matematika’ Muslim (w. 780 M) yang namanya dikenal di dunia Barat dengan Algorizm, Ibnu Sina ’Bapak Kedokteran Muslim’ yang dikenal dengan sebutan Aviecena. Ibnu Sina sebelum meninggal telah menulis kitab sejumlah kurang lebih 276 karya. Karyanya yang sangat monumental al Qonun fi al Tibb telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin di Toledo, Spanyol pada abad ke-12. Buku ini juga telah dijadikan rujukan utama di universitas-universitas Eropa sampai abad ke-17.

Hampir seluruh karya para ulama terdahulu sudah teruji sejarah. Bukan saja usianya, tapi juga isi dan pesan-pesan karya mereka. Kita bahkan dapat mengetahui berbagai mata ilmu dan meyakini kebenaran ajaran Islam karena karya-karya mereka. Sederhana saja, kita beriman dan beriabadah kepada Allah karena kita mengetahui dan meyakini secara sungguh-sungguh bahwa itu adalah perintah Allah dan tentu saja benar. Dan beberapa contoh lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Semuanya dengan ilmu dan tradisi ilmu yang terwariskan melalui para ulama dan karya-karya mereka.

Secara historis, mengetahui dan mencapai kebenaran hingga melahirkan peradaban Islam yang gemilang dibangun (hanya) dengan ilmu (yang berbasiskan wahyu) dan nalar sehat, bukan kebodohan (jahil). Ilmu di dalam Islam berdimensi Iman. Ilmu dalam pikiran menguatkan keyakinan yang menghujam di dalam hati. Tidak cukup berhenti pada pikiran dan hati saja, tapi haruslah diwujudkan dalam bentuk perbuatan (amal).

Akhirnya, terima kasih kepada mahasiswa (kenalan) baru yang telah mengungkapkan pernyataan yang sangat penting dan mendesak di era materialis, hedonis dan primisif ini. Mari jadikan kampus sebagai laboratorium tradisi keilmuan dan peradaban Islam. Semoga waktu dan sejarah masih bersama siapapun yang mencintai ilmu dan tradisi ilmu. [Oleh: Syamsudin Kadir—Pegiat Ilmu Pengetahuan di STAI BBC, Direktur Eksekutif KOMUNITAS (Komunitas Cirebon Membaca, Cirebon Menulis), tinggal di Komplek Perumahan GSP].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s