Nikah Beda Agama, Penistaan terhadap Agama

Nikah beda agaa, nista1
Nikah Beda Agama adalah Penistaan terhadap Agama dan kemanusiaan.

SABTU malam (6/9/2014) salah satu stasiun TV Swasta di Jakarta menyuguhkan dialog seputar kontroversi Nikah Beda Agama (NBA) yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan akhir-akhir ini menjadi berita seksi. Acara serupa sebetulnya dalam beberapa tahun terakhir (sejak 2000 hingga saat ini) kerap diselenggarakan di beberapa tempat. Baik yang diselenggarakan oleh aktivis mahasiswa dan petinggi kampus di berbagai perguruan tinggi (terutama PTAI) maupun yang diselenggarakan oleh beberapa elemen di luar kampus di berbagai hotel atau gedung pertemuan.

Pada intinya, mereka yang pro (para pelaku dan pendukung NBA) berdalih bahwa menikah dengan berbagai cara (seperti beda agama, termasuk sesama jenis: homoseks dan lesbian) bersifat privat karena itu merupakan hak individu bukan domain agama dan kepentingan publik (negara).

Sebaliknya, para kontra (penentang NBA, termasuk penentang homoseks dan lesbian) meyakini bahwa agama memiliki doktrin yang mesti ditaati dan memiliki otoritas untuk meluruskan kesalahan dan kekeliruan (terutama umat beragama bersangkutan) dalam memahami dan mempraktikkan agama. Sebab sifat dan doktrin agama bukan saja sempurna tapi juga mendatangkan maslahat yang jauh daripada “selera” manusia yang kerap menyimpang dari fitrahnya. Sehingga agamawan (seperti Ulama) wajib meluruskan, membimbing dan mengingatkan umatnya jika salah atau keliru dalam memahami dan menjalankan agamanya. Sebab itulah salah satu poin inti agama (terutama Islam): amar ma’ruf sekaligus nahyi mungkar. Begitu juga negara, ia punya wewenang untuk menindak secara hukum warga negara yang menista agama sebagaimana yang sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Nikah dalam Agama dan Kepercayaan

Dalam Islam, nikah (menikah) adalah ibadah yang sakral memiliki konsep tertentu yang final. Ia pun dapat dilakukan manakala sudah memenuhi syarat dan rukun yang terkonsepsi sekaligus bersifat final dan sakral pula. Kesamaan keyakinan (dalam pengertian seagama, yaitu Islam) dan beda jenis (laki dengan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan) merupakan syarat mutlak yang dimaklumi oleh semua mazhab fiqih dalam khazanah pemikiran fiqih Islam.

Dalam Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan Shinto juga sama. Sepengetahuan saya, dalam mendalami berbagai studi keagamaan selama sekian tahun di pesantren dan kampus sama sekali tidak menemukan konsep dan doktrin Islam dan kepercayaan lainnya yang membolehkan nikah beda agama dan sesama jenis. Jadi, secara konsep dan doktrin pada prinsipnya semua agama dan kepercayaan tidak menghendaki NBA (termasuk homoseks dan lesbian). Sebab dipahami bahwa nikah adalah sesuatu yang sakral, suci dan memiliki pesan-pesan luhur juga transendensional bagi umatnya, bahkan bagi keharmonisan sosial dalam konteks kehidupan yang plural (beragam) antar umat agama.

NBA Menista Agama?

Menjawab pertanyaan ini memang perlu dipandang dari berbagai sudut. Pertama, dari sudut doktrin agama. “Sejak awal atau sejak kelahiran agama-agama, sudah menjadi pemahaman umum bahwa semua agama menghendaki praktik keagamaan yang sesuai sumbernya (Anis Malik Thoha, 2005), dan—menurut Hamid Fahmy Zarkasyi (2012)—“Islam sama sekali menentang nikah beda agama, termasuk homoseks dan lesbian.” Bahkan dalam Islam, homoseks dan lesbian adalah bentuk perilaku yang sangat buruk dan terancam mendapat bencana juga penyakit asing selama di dunia, juga siksa yang pedih di akhirat kelak.

Nikah sendiri (terutama dalam Islam) akan melahirkan konsekwensi sebagai ikutannya. Misalnya, kejelasan perwalian anak, hak waris, syarat kesaksian dan sebagainya. Dalam konteks lain, jika NBA terjadi, maka bukan saja pelaku dan keluarga besar pelaku yang menjadi “korban”, anak (keturunan) pun menjadi “korban”. Menurut semua Imam Mazhab, si anak (jika kelak memilih menjadi muslim) tidak sah diwalikan oleh orangtua (Ayah atau sepadanannya) yang non muslim; dan begitu seterusnya.

Di Barat, menolak bahkan perlawanan terhadap doktrin agama sudah terjadi sejak lama. Selain karena adanya pemahaman sekularistis(me) yang memisahkan agama dan urusan sosial, di Barat juga terjadi distorsi konsep dan sumber agama. “Melalui rumusan Hermeneutika—yang berbasis pada konteks sejarah dan penulis teks, tanpa memperhatikan konsep tafsir ilmu tafsir atas Wahyu Tuhan—mereka menolak kesakralan kitab suci dalam agama, termasuk konsep, ajaran atau pesan-pesannya. Akhirnya agama semakin dimusuhi, dicampakkan, dipinggirkan, bahkan hanya menjadi onggokan kosong tanpa kejelasan” (Adnin Armas, 2005).

Nah, praktik keagamaan dan konstruksi sosial keagamaan semacam itu tentu tidak bisa diadaptasikan ke dalam struktur peradaban yang memiliki keajekan konsep dan kemantapan pandangan terhadap agama dan etika yang luhur. Dalam khazanah Islam, agama diposisikan secara terhormat, sebab ia memiliki konsep pandangan hidup, konsep ibadah, konsep muamalah, konsep akhlak dan sebagainya, yang tentu saja maslahat dan sangat relevan dengan kepentingan juga kehidupan umat manusia lintas zaman dan peradaban: untuk beragama (hifz al-din), berkepribadian atau berjiwa (hifz al-nafs), berfikir (hifz al-‘aql), berkeluarga (hifz al-nasl) dan berharta (hifz al-mal).

Kedua, dari sudut sosial. Menurut Syamsuddin Arif (2008), “dalam konteks perkembangan umat beragama, termasuk dalam memahami doktrin dan praktik ajaran agama memang cukup problematis dan kompleksis. Hal ini terutama di Barat, di satu sisi agama memiliki doktrin yang final, namun di sisi lain ada semacam kesepahaman bahwa agama dan “keberagamaan” terpisah (sekular-liberal). Agama menghadirkan konsep umum, sementara praktiknya diserahkan kepada masing-masing individu sesuai penafsiran, pemahaman dan seleranya masing-masing tanpa memperdulikan penjelasan yang otentik dari para agamawan yang otoritatif.” Bahkan di Amerika, dalam beberapa tahun berjalan mereka yang NBA (termasuk pelaku homoseks dan lesbian) “dilindungi” negara, karena dinilai sebagai hak azasi manusia yang paling mendasar: kebebasan beragama.

Sepintas, pandangan semacam itu seakan-akan relevan dan tidak bertentangan dengan doktrin agama dan kewajaran umum. Namun kenyataannya, pandangan semacam ini mengandung problem yang mendasar. Pertama, ia menolak sifat agama yang bersifat konsepsional, sempurna dan sakral. Dalam agama (terutama Islam), nikah (menikah) memiliki syarat dan rukun yang sudah diatur secara sistematis, dan diakui bahkan dipraktikkan oleh penganutnya sejak era awal Islam hingga kini. Misalnya, wanita muslimah tidak sah menikah dengan laki-laki non muslim, walaupun mereka mengaku saling “mencintai”; dan seterusnya.
Dengan demikian, ketika ada pandangan yang berseberangan dengan konsep tersebut, maka perlu mendapatkan pelurusan atau pencerahan. Di sini agama (melalui pencerahan para Ulama) mesti hadir secara tegas. Itulah bedanya agama dan lawakan (lelucon), pada ketegasan dan sakralitasnya. Agama itu tegas dan sakral, sementara lawakan (lelucon) tidak.

Kedua, ia bertentangan dengan fitrah manusia yang menghendaki keharmonisan yang berbasis pada konsep “berpasang-pasangan”, bukan kebebasan tanpa batas. Hidup berpasang-pasangan dalam kehidupan sosial yang normal tentu punya batas-batasan tertentu yang diadaptasikan dari doktrin agama dan kewajaran umum. Misalnya, manusia hanya sah menikah dengan manusia (sesuai syarat dan rukun agamanya). Dengan begitu, manusia tidak sah menikah dengan monyet, walaupun manusia tidak dilarang untuk menghargai dan menjaga habitat monyet; laki-laki tidak sah menikah dengan kambing, walaupun kambingnya betina dan si laki-laki mengaku mencintai si kambing; laki-laki tidak sah menikah dengan laki-laki (homoseks), walaupun mereka mengaku dapat saling melengkapi; wanita tidak sah menikah dengan wanita (lesbian), walaupun mereka bersepakat dan saling “mencintai”; dan begitu seterusnya.

Sekadar mengingatkan, pada tahun 2010 lalu, sebuah Lembaga Studi Islam yang bekerjasama dengan Pusat Studi Sosial dan Keluarga di Amerika mempublikasikan hasil penelitian yang mencengangkan. Pada periode Januari-Maret, ada 420 pasangan homoseks dan lesbian yang hidupnya tidak menentu, depresi dan ditimpa sakit yang tak terdeteksi teknologi. Anehnya, tak satupun rumah sakit atau pelayanan kesehatan juga obat yang mampu menyembuhkan para pasangan tersebut. Pada periode yang sama, ada 650 pasangan NBA yang rumah tangganya berantakan, hingga 240 pasangan diantaranya mati terbunuh dan bunuh diri karena depresi); bahkan keturunan (anak) mereka tidak mau hidup dengan mereka sebagai orangtuanya karena merasa malu dan memilih tinggal di yayasan atau rumah sosial, bahkan bunuh diri (menggantung diri, menembak diri dan menjatuhkan diri dari lantai apartemen). Kemudian pada periode April-Juni 2010, khusus untuk pasangan NBA 99,5 %-nya tidak harmonis bahkan saling bermusuhan dengan keluarga, sahabat dan tetangga pasangannya. Bahkan 10% diantaranya justru melakukan hubungan seks dengan saudara kandungnya sendiri; termasuk laki-laki diantaranya melakukan hubungan seks dengan ibu kandunganya sendiri, perempuan diantaranya melakukan hubungan seks dengan bapak kandungannya sendiri.

Dari realitas sekilas itu saja kita dapat menyatakan bahwa pandangan atau praktik NBA (termasuk homoseks dan lesbian) bukan saja bertentangan dengan agama (terutama Islam), tapi juga bertentangan dengan fitrah sekaligus psikologis manusia yang luhur, termasuk norma kemanusiaan yang menjunjung etika yang luhur. Bahkan praktik semacam itu sangat jauh dan tidak relevan dengan ciri-ciri manusia yang berpikir maju dan beradab.

Bagi mereka yang “terlanjur” dalam “jebakan” NBA (termasuk homoseks dan lesbian), maka paling tidak ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Pertama, mereka mesti kembali ke jalan yang benar sesuai konsep dan doktrin agama (misalnya, memutuskan hubungan dengan pasangannya lalu bertaubat kepada Tuhan, Allah Swt.), di samping keharusan untuk mendalami dan menjalankan ajaran agamanya secara sungguh-sungguh dan benar. Ini memang proses yang membutuhkan waktu yang lama, namun kemungkaran (kesalahan, keleliruan) yang dibiarkan tanpa adanya itikad untuk memperbaiki diri dan saling menasehati dalam kebenaran justru tak kalah besar mungkarnya.

Kedua, dalam batasan tertentu, pelaku NBA (termasuk pelaku homoseks dan lesbian) tidak perlu dikucilkan dari kehidupan sosial, sebab agama memiliki sifat lemah-lembut dan “menyelamatkan” yang tentu saja layak dihadirkan atau dipraktikkan oleh umat beragama dalam berbagai konteks. Bisa jadi NBA (termasuk praktik homoseks dan lesbian) terjadi bukan saja karena ditimpa “kelainan” mental alias “penyakit” jiwa, tapi juga karena pemahaman agama yang masih minim, belum mengenal norma dan etika yang luhur; termasuk “kelemahan” manusia beragama secara umum dalam menjelaskan atau memahamkan doktrin agama kepada umatnya yang seagama. Dengan begitu, mereka layak mendapatkan bimbingan keagamaan dari para agamawan (seperti Ulama) yang paham betul agama yang dianut.

Di atas segalanya, bisa jadi semua yang terjadi merupakan diantara tanda-tanda sekaligus peringatan Allah Swt. kepada umat manusia bahwa dunia ini segera berakhir. Tidak ada jalan lain selain banyak bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Swt; di samping meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah juga amal soleh keagamaan dalam kehidupan yang tersisa ini. Sungguh, hidup di dunia ini sementara. Jangan sampai dalam kesempatan yang sementara ini kita terkena sindiran Allah, “Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?”, “(Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (Qs. Al-Kahfi ayat 103-104) sehingga kelak terjebak dalam kenestapaan abadi. Astaghfirullah. [Oleh: Syamsudin Kadir—Penulis adalah lulusan UIN SGD Bandung, Peserta Workshop Pemikiran Islam “Mencari Akar Epistemologi Islam” INSISTS & ISTAC-IIUM 2005, Penulis buku “Islam Bukan Liberal”].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s