Buta Aksara, Butanya Buta?

Baca
MELAWAN BUTA AKSARA: Salah seorang anak kampung Cereng-Golo Molas, di Mabar-NTT sedang membaca buku di atas kerbau milik Ayahnya

HARI ini 8 September merupakan salah satu momentum penting bagi seluruh manusia penghuni bumi era ini. Penting, sebab pada kesempatan ini seluruh negara di dunia memperingatinya sebagai Hari Aksara Internasional yang kerap disingkat KAI. Ya, berdasarkan Konferensi Tingkat Menteri Negara-negara Anggota PBB pada tanggal 17 November 1965 di Teheran, Iran, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional (International Literacy Day), HAI.

Lebih konsepsional, mengingat masih tingginya jumlah penduduk tuna aksara di dunia, UNESCO mencanangkan Satu Dekade Keaksaraan Persatuan Bangsa-Bangsa atau UNLD (United Nations Literacy Decade) pada periode 2003-2012. Sebagaimana yang dilansir website Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (www.kemdikbud.go.id) dan diungkap pula oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh pada Seminar Kebudayaan di salah satu kampus di Jakarta beberapa waktu lalu, dekade peningkatan penduduk global ini dibagi atas lima tema, yaitu: 1. Keaksaraan dan Gender (2003-2004); 2. Keaksaraan dan Pembangunan Berkelanjutan (2005-2006); 3. Keaksaraan dan Kesehatan (2007-2008); 4. Keaksaraan dan Pemberdayaan (2009-2010); dan 5. Keaksaraan dan Perdamaian (2011-2012).

Sebagaimana yang dilansir oleh Radar Cirebon (7/9/2014), pada awal UNLD, tahun 2003, ada 15,41 juta orang buta aksara di Indonesia. Pada tahun 2010, jumlah itu menyusut menjadi 7,54 juta orang. Artinya, Indonesia lebih cepat melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) yang menyepakati penurunan 50 persen buta aksara pada tahun 2015.
Dalam konteks Indonesia, adanya penurunan angka buta aksara bahkan mendapat penghargaan sebagai Duta Buta Aksara Internasional tentu karena adanya kerjasama dan peran baik dari seluruh elemen, baik pemerintah, pers, ormas, lembaga sosial, penerbitan, perguruan tinggi, termasuk masyarakat Indonesia sebagai individu.

Namun demikian, ini bukan berarti budaya literasi benar-benar sudah menjadi budaya hidup masyarakat dalam berbagai skala. Hingga kini budaya literasi (baca-tulis) masih menjadi budaya dalam skala individu, dan belum menjadi budaya bangsa secara masif. Dengan demikian, semua elemen bangsa (terutama pemerintah) masih memiliki tugas besar dan mendesak untuk menghidupkan dan menggerakkan bangsa ini agar melek aksara; lebih dari sekadar peningkatan angka melek aksara semata, yang lebih utama lagi adalah membangun budaya: menjadikan baca-tulis sebagai budaya yang terintegrasi dalam berbagai skala kehidupan: dari individu, masyarakat, hingga bangsa dan negara.

Malas Baca-Tulis adalah Butanya Buta

Pengentasan buta aksara sejatinya merupakan agenda penting bagi negeri manapun di dunia, termasuk Indonesia. Mengapa? Secara khusus di Indonesia, selain sebagai salah satu ejahwantah atas amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Pendidikan Dasar 9 Tahun dan Percepatan Pemberantasan Buta Aksara yang berisi kewajiban seluruh komponen masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam menekan jumlah buta aksara di Indonesia, ia juga merupakan cara terbaik untuk membangkitkan kejayaan dan kontribusi Indonesia dalam level global.

Dimaklumi bahwa bangsa yang besar dan berperadaban maju adalah bangsa yang mau dan memiliki budaya keilmuan (termasuk baca-tulis) yang memasyarakat dalam sebuah bangsa. Jepang, misalnya, selama 30 tahun terakhir telah berhasil menggalang dan menggerakan seluruh elemen negaranya untuk membangun budaya baca-tulis secara masif. Bukan saja dalam kondisi normal, bahkan budaya baca-tulis termasuk kategori “gila”: membaca dan menulis sambil menunggu angkutan umum, di sela-sela waktu selang bekerja, di saat antrian di loket tiket bandara dan kreta, dan seterusnya. Selain itu, Jepang juga termasuk negara yang begitu giat dalam menerbitkan buku dan menyediakan perpustakaan di tingkat daerah selevel keluarahan/desa, sehingga buta aksara nyaris tidak ditemukan di negeri beribukota Tokyo itu.

Saya sendiri merasa terharu dengan masyarakat di kampung Cereng-Golo Molas, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT, ketika berkunjung pada momentum Sail Komodo 2013 lalu. Di daerah tempat dimana komodo berasal itu, masyarakatnya memiliki budaya baca yang cukup bagus. Keharuan saya semakin tak terbendung karena daerah tersebut umumnya (termasuk Cereng) belum tersentuh sinyal, listrik, air pam, jalan aspal, angkutan umum, surat kabar dan buletin. Namun dalam kondisi demikian, masyarakat setempat (terutama di Cereng), begitu giat dalam membangun budaya baca sebagai upaya “perlawanan” terhadap buta aksara. Buku yang mereka kumpulkan di sebuah rumah dan masjid setempat diperoleh dari kiriman anak atau keluarga mereka di rantaun seperti Makasar, Mataram, Denpasar, Surabaya, Cirebon, Sukabumi, Bandung, Bekasi dan lain sebagainya.

Satu hal yang membuat saya tersentuh adalah ketika ditanya mengapa mereka begitu giat membangun budaya baca—bahkan kini ditambah dengan budaya tulis. Salah seorang diantara mereka menjawab: “malas baca-tulis adalah butanya buta.” Satu jawaban yang bagi saya sangat berisi, bahkan berperadaban sekali. Uniknya lagi, buku yang dibaca dipergilirkan, seakan-akan terjadwal dengan baik bagi seluruh warga kampung. Sehingga pengetahuan yang didapatkan dari berbagai buku yang tersedia hampir merata ke seluruh warga, padahal sebagian besar warga kampung tersebut hanya lulusan SD.

Hal yang sama juga saya temukan di salah satu kampung di Jembrana-Bali ketika menjadi fasilitator sebuah kegiatan di kampus Udayana akhir 2013 lalu. Di sebuah kampung yang cukup jauh dari kota kecamatan terdapat perpustakaan yang menjadi pusat baca masyarakat setempat. Uniknya, bagi pengunjung dari luar kota yang datang ke situ (termasuk saya waktu itu) bukan disuguhi kopi, teh manis, air putih atau serupanya; namun disuguhi buku bacaan.

Nah, jika masyarakat di kampung Cereng-NTT dan Jembrana-Bali bisa menjadikan budaya baca (ditambah budaya tulis) sebagai bagian yang menyatu dengan kehidupan mereka sehingga pengetahuan dan pola hidup masyarakatnya tergolong maju, maka semestinya kita yang berada di kota dengan segala kelebihan dan kelengkapan fasilitasnya mesti lebih semangat dan giat untuk itu. Jika untuk dua hari mereka mampu menghabiskan 1 buku, maka kita mestinya mampu membaca 1 buku dan menulis 1 artikel perhari, ya one day one book, one day one article.

Mau Baca-Tulis, Lakukan dengan Cinta

Dalam pandangan seorang yang mencintai aksara, menulis sejatinya bukan sekadar profesi atau pekerjaan sampingan. Bagi orang seperti ini, menulis adalah pekerjaan utama dan kebutuhan primer, sebab sehari saja tak menulis, maka terasa ada yang hilang. Maka bagaikan terkena serangan penyakit, tipe orang seperti ini harus diberikan obat mujarab yakni menulis (Inggar Saputra, 2014).

Tentu akan berbeda dengan orang yang kurang mencintai aksara atau dunia baca-tulis. Baginya, baca-tulis adalah pekerjaan yang berlabel negatif seperti menyulitkan, memberatkan, menyusahkan dan beragam konotasi negatif lainnya. Bahkan baca-tulis selalu dinilai sebagai pekerjaan menyeramkan, sehingga selalu takut untuk memulai langkah dan kata pertama. Padahal, kondisi itu lahir akibat kesalahan paradigma dalam menilai makna kata “membaca” dan “menulis”. Pekerjaan bernama “baca” dan “tulis” dinilainya lahir karena bakat, hanya dimiliki orang “pintar” dan dikerjakan secara serius. Seolah dirinya lupa, pengalaman sehari-hari yang menyenangkan maupun menyebalkan pun dapat ditulis di buku diary atau notebook, dan tentu saja dapat dibaca kembali. Begitu juga budaya baca, sejatinya ia dapat dilakukan kapan dan di manapun seperti di angkutan umum, menjelang istirahat malam, di sela-sela aktivitas kantor dan sebagainya.

Jadi kata kuncinya adalah cinta dan mencintai budaya baca-tulis. Lebih jauh, menurut penulis buku “Mengikat Makna Update” sekaligus editor senior di salah satu penerbit ternama di Bandung, Hernowo (2009), paling tidak ada beberapa hal yang menjadi pemahaman agar aktivitas baca-tulis menjadi sesuatu yang dicintai, pertama, menjadikan baca-tulis sebagai kebutuhan mendesak. Kedua, menjadikan baca-tulis sebagai budaya dan seni kehidupan. Ketiga, menjadikan baca-tulis sebagai kultur masyarakat. Keempat, menjadikan baca-tulis sebagai pilar utama bangsa-negara berkemajuan.

Keempat pemahaman di atas akan bertambah sempurna manakala kita mampu menggalakan budaya baca-tulis dengan ikhlas, cerdas dan keras juga tuntas. Namun baca-tulis benar-benar menjadi bagian dari kehidupan kita manakala kita benar-benar mencintai dan ingin membangun Indonesia. Sebab cara terbaik mencintai negeri ini tentu “bukan dengan mengutuk kegelapan, tapi menyalakan lilin yang mampu menerangi”. Membangun budaya baca-tulis hanyalah satu bentuk upaya “menyalakan lilin” yang mampu menerangi masa depan negeri ini. Setelah itu, biarlah sejarah yang bercerita secara jujur bahwa kita sudah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan dalam membangun negeri yang layak bangkit ini. Sehingga negeri ini pun tidak terhantui oleh pernyataan sekaligus gugatan seperti ini: “Buta Aksara, Butanya Buta?”. Akhirnya, sambil menyampaikan selamat Hari Aksara Internasional sekaligus Hari Aksara Indonesia saya perlu bertanya: sudah membaca dan menulis apa dan tentang apa hari ini? [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Direktur Eksekutif KOMUNITAS (Cirebon Membaca, Cirebon Menulis), Penulis buku “Ayo Menulis, Kalau Sekadar Mengeong Kucingpun Bisa!”.

Sumber tulisan ini:

http://mitrapemuda.wordpress.com/2014/09/09/buta-aksara-butanya-buta/#more-62

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s