Melawan Tindakan Amoral dengan Ihsan

Lawan 21
Tulisanku di Kolom Wacana Radar Cirebon, Jum’at 29 Agustus 2014 “Melawan Tindakan Amoral dengan Ihsan”

BEBERAPA tahun terakhir, negeri ini (Indonesia) dihebohkan dengan berbagai kasus amoral seperti tawuran, narkotika, narkoba, pemerkosaan, sodomi hingga pembunuhan di kalangan generasi muda, di samping kasus korupsi, selingkuh (jina) di kalangan dewasa dan tua.

Munculnya berbagai kasus tersebut—terutama korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negara—menimbulkan pertanyaan atau gugatan serius, mengapa masih terjadi bahkan semakin menjadi-jadi, bukan kah negeri ini dihuni oleh umat Islam sebagai mayoritas?

Dari Muslim ke Muhsin

Masalah pelaku tindakan amoral seperti yang saya ungkap di atas harus dianalisa dengan pisau makna-makna dalam Islam. Menurut Hamid Fahmy Zarkasyi (2012), pisau analisa dapat dirujuk kepada tiga terma yang diajarkan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad saw yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Lebih sederhananya adalah trilogi ilmu, iman dan amal, yang menunjukkan suatu tahapan.

Mengafirmasi Hamid, betul bahwa implikasi adanya tahapan dari trilogi itu dapat dirujuk pada peristiwa di zaman Nabi Muhammad saw. Suatu hari datang kepada Nabi orang-orang Badui dan berkata “kami telah beriman”. Nabi lalu menjawab “belum, katakan saja kami telah berislam sedangkan iman itu belum masuk ke dalam hati kalian”. Jadi ternyata seorang Muslim belum tentu Mu’min.

Menjadi seorang Muslim pun bertingkat-tingkat. Pada tingkat pertama dengan bersyahadat saja orang sudah dianggap Muslim. Jika orang mau bersyahadat ia baru disuruh shalat 5 waktu, jika ia mau maka ia disuruh berzakat, demikian seterusnya. (HR. Bukhari-Muslim).

Namun, orang yang sudah bersyahadat dan menjalankan semua rukun Islam lainnya belum tentu sempurna Islama-nya. Agar keislaman seseorang menjadi berkualitas Nabi pun berpesan : “beribadahlah!”, artinya bertekun dan sungguh-sungguhlah dalam menjalankan rukun-rukun Islam; bukan sekadar formalitas dan simbolik, tapi kesadaran dan sikap.

Hal ini bisa dipahami dari pesan Nabi selanjutnya ketika melanjutkan sabdanya : “hingga datang keyakinan dalam hatimu”. Ini berarti untuk menjadi mu’min seorang Muslim harus istiqamah dalam menjalankan ibadah (rukun Islam). Sebab, menurut para ulama, istiqamah adalah separoh dari hikmah.

Jika seseorang berislam dengan iman maka shalat, puasa, zakat dan hajinya berdampak pada kehidupan sosial. Nilai luhur Islam pun bertransformasi menjadi nilai-nilai sosial baru bagi kehidupan kolektif bangsa (Kuntowijoyo, 1991). Orang shalat tanpa iman hingga lupa apa yang diucapkan dalam shalatnya adalah celaka (QS. al-Ma’un 4-5).

Bahkan menurut Pakar Pendidikan Islam Prof. Naquib Al-Attas (1988), “orang yang berpuasa tanpa iman ia hanya lapar dan haus saja. Dan jika orang berhaji tapi perilakunyan tidak menjadi lebih baik, maka tidak ada gunanya ia berpayah-payah naik haji”. Demikian seterusnya.

Sebaliknya, dapatlah kita katakan, jika orang berislam pada tingkat iman maka ia akan selamat dunia dan akhirat. Orang berpuasa dengan iman atau karena iman, akan diampuni dosa-dosanya di masa lalu. Ia bahkan bisa sebersih jabang bayi. (HR al-Nasa’i, Ahmad, Ibn Khuzaimah, Ibn Majah dan al-Bayhaqi). Sama juga bagi yang berhaji. Jika ia haji karena iman sehingga mabrur, maka hidupnya akan berkah dan—ini yang istimewa dan sangat kita harapkan—masuk surga.

Jika keislaman sudah disertai keimanan, maka perilakunya akan mencapai tingkatan ihsan. Ihsan adalah berislam dan hidup bersosial seakan-akan ia terus-terus menerus melihat dan diawasi Tuhan. Inilah yang kemudian disebut “muhsinin”. Muslim yang berada pada tingkat ini tidak akan mengerjakan sesuatu yang tidak disukai Allah apalagi yang dilarang seperti tawuran, narkotika, narkoba, pemerkosaan, sodomi, pembunuhan, korupsi, selingkuh (jina) dan sebagainya.

Setara dengan tingkatan ihsan adalah tingkatan taqwa. Taqwa lebih ketat lagi dari ihsan. Sebab taqwa sudah pada tahap super hati-hati dalam berbuat apapun, hingga pada tingkat “takut” berbuat dosa, takut khilaf, takut salah dan takut akan kemurkaan Allah. Muslim pada kedua tingkat ini bukan saja tidak melakukan tawuran, narkotika, narkoba, pemerkosaan, sodomi, pembunuhan, korupsi, selingkuh (jina) dan sebagainya, tapi juga tidak berpikiran untuk melakukannya.

Janji Allah pun jelas dan tegas, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsinin” (QS. Al-nahl: 128). Artinya, karena orang ini menjaga dirinya maka Allah akan menjaganya. Kalau seseorang sudah benar-benar takut, dekat, cinta alias menghamba kepada Allah, maka dia tidak akan mau terjerumus dengan berbagai kasus amoral yang ditentang Allah.

Jadi, di sini kita akan menemukan jawaban aktual dari pertanyaan atau gugatan di awal tadi. Dari pemahaman di atas dapatlah dikatakan bahwa keislaman sebagian umat Islam di negeri ini belum sampai pada tahap mu’min yang utuh, belum juga pada tingkatan muhsin yang sebenarnya, apalagai pada tingkat taqwa yang menuntut kesadaran juga amal nyata. Ber-Islam memang proses yang tak pernah selesai, namun membela diri secara gegabah sehingga begitu mudah melakukan tindakan amoral adalah ciri ber-Islam yang merugikan dan mencelakakan diri.

Selain itu, menurut Adian Husaini (2013) kesalahan yang kerap menimpa terletak pada ilmu dan keilmuan umat Islam tentang Islam, iman, ihsan dan taqwa dari berbagai sumber otentik Islam masih lemah dan tercemari berbagai pemikiran yang mungkar. Solusinya—kata Adian—mesti komprehensif dan radikal. Ceramah, pengajian dan pelatihan, pendidikan dan pendalaman Islam perlu diarahkan untuk memahami (berilmu) secara utuh (al-fahmu daqiq) dan menjalankan (beramal) tentang itu semua secara utuh dan terus menerus (al-amaliyah istimroriyah).

Akhirnya, kita perlu meningkatkan dan mentransformasi keyakinan dan pemahaman juga pengamalan umat Islam terhadap Islam itu sendiri, dari sekadar menjadi “umat Islam” apa adanya menjadi umat ihsan yang giat berbenah diri tanpa henti. Bukan saja mencukupkan diri pada keyakinan, tapi mesti dilanjutkan menjadi amal dan perilaku sosial. Itulah yang membuat Islam dan umatnya bukan saja menjadi pengisi catatan sejarah tapi juga menjadi pengendali sejarah kemanusiaan. Jika kaum Muslimin meningkat menjadi kaum Muhsinin, Allah berjanji akan memberi jalan-jalan kemudahan dalam perjuangan—juga kehidupannya (QS. Al-Ankabut 69). Semoga saja begitu, mari terus berbenah! [Oleh: Uum Heroyati—Penulis adalah Pengajar di SDIT Sabilul Huda Cirebon, Pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”, Penulis buku “Menuju Indonesia yang Beradab”; Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Melawan Tindakan Amoral dengan Ihsan (Sebuah Refleksi untuk Aksi)”, yang dimuat di Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 4, Jum’at, 29 Agustus 2014].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s