Arsip | September, 2014

Langkah Maju Menuju World Class University

19 Sep
ISTAC

Kampus ISTAC Malaysia

OKTOBER 2013 lalu Times Higer Education kembali mengumumkan rangking universitas se-dunia yang masuk dalam kelompok World Class University (WCU). Walaupun sudah setahun berlalu, namun pengumuman itu layak direnungi. Bagaimana tidak, pada pengumuman tersebut tak satupun universitas dari Indonesia yang terlihat dalam daftar Universitas kelas dunia tersebut.

Salah satu yang paling menarik dari daftar tersebut adalah beberapa universitas yang masuk dalam jajaran WCU ini usinya baru 20 tahun, seperti Nanyang Technological University (NTU, Singapura), Yuan Ze University (Taiwan ), dan Koc University (Turki). Padahal tidak sedikit Universits di Indonesia yang berusia di atas setengah abad. Pertanyaannya, mengapa tiga universitas muda itu mampu, sementara universitas kita tidak mampu? Baca lebih lanjut

Kabinet Prorakyat, Masih Adakah?

17 Sep
Kabinet prorakyat..._n

Tulisanku di Kolom Wacana Radar Cirebon, Rabu 17 September 2014 “Kabinet Prorakyat, Masih Adakah?”

TAHUN 2014 dikenal sebagai tahun politik. Salah satu peristiwa besar yang terjadi pada kurun waktu ini yang mendapat perhatian dan sorotan publik (termasuk dunia internasional) adalah pemilihan umum presiden (pilpres) pada 9 Juli lalu, yang kemudian (pasca keputusan sekaligus ketetapan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sengketa pilpres pada 21 Agustus) mengantarkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) sebagai pasangan presiden-wakil presiden terpilih.

Walau pelantikan presiden-wakil presiden terpilih masih lama (20 Oktober 2014), yang diikuti oleh pelantikan para penggawa kementerian di kabinet dalam waktu yang berdekatan, pada dasarnya, secara umum rakyat tidak memiliki harapan yang muluk-muluk. Rakyat menyadari bahwa kini amanah sudah dititipkan kepada pasangan terpilih. Sehingga kehendak atau harapan dalam berbagai aspek kehidupan yang bersifat “membangun”, diserahkan kepada kebijakan pemerintahan yang ada. Baca lebih lanjut

Mencapai Kebenaran (hanya) dengan Ilmu

16 Sep
azka lg ke toko buku_n

Anakku, Azka Syakira (38 bulan) sedang melalui proses “mengetahui” dan “Mencapai” Kebenaran dengan jalan berilmu; Cirebon, Selasa 16 September 2014

KEMARIN, Senin 15 September 2014 saya menghadiri acara pra akademik di salah satu kampus di Cirebon. Di sela-sela acara saya sempat berkenalan dengan beberapa orang mahasiswa di sebuah warung dekat kampus bersangkutan. Singkat cerita, salah seorang mahasiswa pun mengeluarkan pernyataan “manusia dapat mengetahui yang benar asal belajar yang benar”. Pernyataan ini sederhana namun sangat penting. Sebab akhir-akhir ini tak sedikit yang masih meragukan jika manusia dapat mencapai kebenaran. Sehingga ilmu yang dipelajari bukan menambah keyakinan dan amal soleh, tapi justru “membingungkan” dan menjauhkan dirinya dari—apa yang disebut Prof. Naquib Al-Attas (1988)—“orientasi dan nilai luhur ilmu itu sendiri, yaitu menghendaki adanya keyakinan dan amal”. Baca lebih lanjut

Menakar Kepekaan Etis Para Pemimpin

13 Sep
Karikatur-Gedung-DPRD

Menakar Kepakaan Etis Para Pemimpin; Mana Kepekaanmu?

AKHIR-AKHIR ini, sepertinya negeri ini hanya mendapat surplus keburukan yang membabi-buta. Ini bukan bentuk pesimisme, tapi satu bentuk “penyadaran”, bahwa ada banyak hal yang perlu diwaspadai oleh penghuni negeri ini ke depan. Dari kecenderungan gaya dan pola hidup permisif, acuh tak acuh, minus empati, krisis moralitas sehingga pola hidup hedonistis.

Celakanya, berbagai perilaku dan pola hidup semacam itu tidak sekadar mengidap rakyat biasa yang bisa jadi dari segi ekonomi masih “standar”, tapi juga mengidap para penyelenggara negara; baik di lingkungan eksekutif, legislatif bahkan di yudikatif. Semuanya terjadi di berbagai level, dari daerah ingga pusat. Baca lebih lanjut

Nikah Beda Agama, Penistaan terhadap Agama

11 Sep
Nikah beda agaa, nista1

Nikah Beda Agama adalah Penistaan terhadap Agama dan kemanusiaan.

SABTU malam (6/9/2014) salah satu stasiun TV Swasta di Jakarta menyuguhkan dialog seputar kontroversi Nikah Beda Agama (NBA) yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan akhir-akhir ini menjadi berita seksi. Acara serupa sebetulnya dalam beberapa tahun terakhir (sejak 2000 hingga saat ini) kerap diselenggarakan di beberapa tempat. Baik yang diselenggarakan oleh aktivis mahasiswa dan petinggi kampus di berbagai perguruan tinggi (terutama PTAI) maupun yang diselenggarakan oleh beberapa elemen di luar kampus di berbagai hotel atau gedung pertemuan.

Pada intinya, mereka yang pro (para pelaku dan pendukung NBA) berdalih bahwa menikah dengan berbagai cara (seperti beda agama, termasuk sesama jenis: homoseks dan lesbian) bersifat privat karena itu merupakan hak individu bukan domain agama dan kepentingan publik (negara). Baca lebih lanjut

Buta Aksara, Butanya Buta?

9 Sep
Baca

MELAWAN BUTA AKSARA: Salah seorang anak kampung Cereng-Golo Molas, di Mabar-NTT sedang membaca buku di atas kerbau milik Ayahnya

HARI ini 8 September merupakan salah satu momentum penting bagi seluruh manusia penghuni bumi era ini. Penting, sebab pada kesempatan ini seluruh negara di dunia memperingatinya sebagai Hari Aksara Internasional yang kerap disingkat KAI. Ya, berdasarkan Konferensi Tingkat Menteri Negara-negara Anggota PBB pada tanggal 17 November 1965 di Teheran, Iran, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional (International Literacy Day), HAI.

Lebih konsepsional, mengingat masih tingginya jumlah penduduk tuna aksara di dunia, UNESCO mencanangkan Satu Dekade Keaksaraan Persatuan Bangsa-Bangsa atau UNLD (United Nations Literacy Decade) pada periode 2003-2012. Sebagaimana yang dilansir website Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (www.kemdikbud.go.id) dan diungkap pula oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh pada Seminar Kebudayaan di salah satu kampus di Jakarta beberapa waktu lalu, dekade peningkatan penduduk global ini dibagi atas lima tema, yaitu: 1. Keaksaraan dan Gender (2003-2004); 2. Keaksaraan dan Pembangunan Berkelanjutan (2005-2006); 3. Keaksaraan dan Kesehatan (2007-2008); 4. Keaksaraan dan Pemberdayaan (2009-2010); dan 5. Keaksaraan dan Perdamaian (2011-2012). Baca lebih lanjut

Hari Aksara Internasional Ke-49: Bangkitkan Indonesia dengan Baca-Tulis

8 Sep
Direktur KOMUNITAS

Direktur Eksekutif KOMUNITAS

PERNYATAAN SIKAP
KOMUNITAS “CIREBON MEMBACA, CIREBON MENULIS”
“Bangkitkan Indonesia dengan Baca-Tulis”

Berdasarkan Konferensi Tingkat Menteri Negara-negara Anggota PBB pada tanggal 17 November 1965 di Teheran, Iran, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional (International Literacy Day), HAI. Mengingat masih tingginya jumlah penduduk tuna aksara di dunia, UNESCO mencanangkan Satu Dekade Keaksaraan Persatuan Bangsa-Bangsa atau UNLD (United Nations Literacy Decade) 2003-2012. Dekade peningkatan penduduk global ini dibagi atas lima tema, yaitu: 1. Keaksaraan dan Gender (2003-2004); 2. Keaksaraan dan Pembangunan Berkelanjutan (2005-2006); 3. Keaksaraan dan Kesehatan (2007-2008); 4. Keaksaraan dan Pemberdayaan (2009-2010); dan 5. Keaksaraan dan Perdamaian (2011-2012). Baca lebih lanjut

Tiga Pendidikan Utama Anak

5 Sep
3 pendidikan utama anak_n

Tulisanku (Uum Heroyati) di Kolom Wacana Radar Cirebon, SJum’at 5 September 2014 “Tiga Pendidikan Utama Anak”

HAMPIR seluruh kaum muslimin, terutama kalangan pesantren hafal betul sebuah hadits nabi Muhammad Saw. tentang tiga amalan manusia yang tidak terputus ketika seseorang meninggal kelak. Hadits yang dimaksud adalah “Apabila manusia meninggal dunia maka amalnya terputus darinya kecuali tiga perkara, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendo’akan orangtuanya” (HR.Muslim).

Ya, menjadi orangtua adalah idaman semua orang. Itu berarti, paling tidak hampir semua orang hendak dan rindu memiliki keuturunan, berupa anak-anak yang saleh dan bermanfaat bagi banyak orang. Untuk tujuan dan orientasi mulia semacam itu, ternyata dalam Islam sudah termaktub dengan jelas apa kewajiban atau yang mesti dilakukan orangtua si anak, yaitu mendidik anak, mewujudkan pendidikan pada anak. Baca lebih lanjut

Korupsi Membunuh, Membunuh Korupsi

2 Sep
aku ya8_n

Tulisanku di Kolom Wacana Radar Cirebon, Selasa 2 September 2014 “Korupsi Membunuh, Membunuh Korupsi”

BEBERAPA hari yang lalu saya mendapat SMS dari seorang warga—sebut saja Mas Putra, di komplek perumahan tempat saya tinggal. SMS-nya begini, “Mas, saya baca tulisan Mas di Kolom Wacana Radar Cirebon tentang HUT Kemerdekaan Tanpa Kemerdekaan. Pejabat negara memang benar-benar meresahkan. Saya khawatir kini korupsi seperti juga penghamburan anggaran negara sudah menjadi kultur dan budaya baru negeri ini. Sehingga apapun bentuk korupsi juga penghamburan anggaran negara, selama dirasakan dan dinikmati oleh semua orang, maka itu sudah dianggap kebiasaan yang patut diterima. Karena ukuran korupsi sekarang ini adalah dapat atau tidak dapat jatah anggaran. Kalau tidak dapat anggaran, maka mereka yang tak dapat sibuk menuduh mereka yang mendapat anggaran sebagai koruptor. Kelak negeri ini benar-benar menjadi negeri koruptor. Lalu, kapan bangsa ini hidup jujur? Atau…. mari korupsi!”. Baca lebih lanjut

Melawan Tindakan Amoral dengan Ihsan

1 Sep
Lawan 21

Tulisanku di Kolom Wacana Radar Cirebon, Jum’at 29 Agustus 2014 “Melawan Tindakan Amoral dengan Ihsan”

BEBERAPA tahun terakhir, negeri ini (Indonesia) dihebohkan dengan berbagai kasus amoral seperti tawuran, narkotika, narkoba, pemerkosaan, sodomi hingga pembunuhan di kalangan generasi muda, di samping kasus korupsi, selingkuh (jina) di kalangan dewasa dan tua.

Munculnya berbagai kasus tersebut—terutama korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negara—menimbulkan pertanyaan atau gugatan serius, mengapa masih terjadi bahkan semakin menjadi-jadi, bukan kah negeri ini dihuni oleh umat Islam sebagai mayoritas?

Dari Muslim ke Muhsin

Masalah pelaku tindakan amoral seperti yang saya ungkap di atas harus dianalisa dengan pisau makna-makna dalam Islam. Menurut Hamid Fahmy Zarkasyi (2012), pisau analisa dapat dirujuk kepada tiga terma yang diajarkan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad saw yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Lebih sederhananya adalah trilogi ilmu, iman dan amal, yang menunjukkan suatu tahapan. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: