HUT Kemerdekaan Tanpa Kemerdekaan?

Aku di Radar-80_n
Tulisanku di Kolom Wacana Radar Cirebon, 18 Agustus 2014 “HUT Kemerdekaan Tanpa Kemerdekaan?”

AHAD 17 Agustus 2014 kemarin diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-69. Ya, kemarin merupakan salah satu hari bersejarah dan penting bagi Indonesia. Bersejarah, sebab sejak saat itulah bangsa ini—melalui para pejuang atau pemimpinnya—mengikrarkan dirinya sebagai sebuah bangsa sekaligus negara yang merdeka dari penjajahan negara-negara asing yang menjajah hampir 350 tahun. Tentu saja kemerdekaan tersebut diraih oleh keinginan luhur dan perjuangan yang tak “berbatas” para pejuang bangsa, sekaligus kemampuan mereka untuk menyertakan Allah Yang Maha Kuasa dalam perjuangannya.

Penting, sebab sejak saat itu pulalah negeri ini mengenalkan dirinya ke seluruh dunia bahwa ia merupakan negara merdeka dan memiliki hak juga kewajiban yang sama untuk berkontribusi secara aktif dalam membangun peradaban sekaligus menjaga perdamaian dunia.

Sebagaimana hari besar serupa, HUT RI kali tentu saja banyak harapan yang kita inginkan. Baik sebagai penyelenggara pemerintahan maupun rakyat biasa, kita semua menghendaki agar nilai dan pesan-pesan proklamasi dapat terejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Sebab “substansi perayaan apapun, termasuk HUT RI adalah mengkristalnya nilai-nilai perjuangan sekaligus pesan-pesan proklamasi sebagaimana yang diperjuangkan para pejuang dengan jiwa dan raga mereka (yang hingga kini tak berbilang jumlahnya) dalam jiwa dan raga bangsa kita di era sekarang; bukan mengulangi kembali perilaku khas penjajah berupa pemiskinan, pemboikotan, pemecahbelahan dan pemborosan” (Taufiq Ismail, 2013).

Merdeka atau Serupa Kemerdekaan?

Mengafirmasi apa yang disampaikan oleh Bung Taufiq Ismail di atas, lintasan pikiran saya menjadi terngiang dengan beberapa pertanyaan sederhana: pertama, apakah perayaan yang kerap kita lakukan selama ini benar-benar mengandung makna subtantif yaitu bersyukur kepada Sang Kuasa yang menganugerahkan kemerdekaan, menyampaikan “terima kasih” kepada para pejuang yang telah berjuang sekaligus mengenang juga merefleksikan secara sadar masa “kelahiran” dan “deklarasi” kita sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat?

Kedua, apakah perayaan yang kerap kita peringati begitu rupa (serba sibuk, hiruk pikuk serta—ini yang sangat mencengangkan kita—biaya atau anggaran yang tak sedikit) mampu “menyadarkan” kita agar tidak mengulangi perilaku khas penjajah yang sangat biadab dan di luar batas-batas kemanusiaan?

Kedua pertanyaan tersebut menjadi penting untuk dijawab, sebab faktanya, kita sudah memperingati HUT kemerdekaan bangsa dan negara kita selama 69 kali, namun model perayaan yang kerap kita tunaikan masih bersifat simbolik dan prosedural tanpa kesan dan substansi. Efek perayaan pun hanya berhenti pada “hiruk pikuk” yang bersifat (dan berkonotasi) materil, belum mampu menumbuhkan jiwa dan sikap-sikap patriotis.

Misalnya, korupsi yang jelas-jelas merugikan negara bahkan—menurut data ICW tahun 2013—jika saja hasil korupsi dikumpulkan, maka negara mendapat tambahan anggaran yang mampu membiayai seluruh masyarakat Indonesia sampai 6 atau 7 keturunan, justru belum secara bombastis kita sepakati sebagai musuh bersama (negara) yang mesti kita lawan secara massal; struktural maupun kulturalnya.

Anehnya, para penyelanggara negara-lah justru yang kerap melanggar aturan sehingga berurusan dengan institusi/lembaga penegak hukum dan pemberantas korupsi (seperti kepolisian, kejaksaan dan KPK). Bukan Pak Edi yang kerap di sawah menjaga garapannya yang kelak dapat berkontribusi untuk meningkatkan akumulasi hasil panen pertanian negara; bukan Bu Indah yang kerap di kali memecahkan batu yang hasilnya kelak ia sumbangkan untuk sekolah di desa di salah satu daerah terpencil; dan bukan pula Mang Azhar yang tak lelah mengayuhkan becak di tiap harinya yang hasilnya kelak ia gunakan untuk membiayai pendidikan anak yatim-piyatu di sebuah yayasan yang masih beratap karung bekas. Ya, bukan mereka yang sepintas tak mampu melakukan kerja-kerja besar tapi justru mampu melakukan kerja-kerja besar itu.

Dalam kondisi yang tragis sekaligus ironis semacam itu, para elite begitu ramai mengkampanyekan hidup sederhana dan janji pembelaan atas nama dan untuk kepentingan rakyat, tapi jauh dari sikap dan perilaku kesederhanaan. Rakyat kerap “dipaksa” untuk tidak korupsi dan taat hukum, tapi elite masih tersangkut kasus hukum, korupsi, kriminalitas dan berbagai bentuk pelanggaran amoral lainnya.

Tidak itu saja, pada tiap momentum perayaan HUT, kita (terutama para penggawa negara) kerap hiruk pikuk (dengan hal-hal yang “tidak penting”) hingga “menghamburkan” anggaran negara yang tak sedikit atas nama negara, pada saat sebagian masyarakat masih hidup dibawah garis kemiskinan—yang menurut data BPS angkanya mencapai 40-an juta jiwa, atau menurut standar PBB mencapai 130 juta jiwa.

Bayangkan saja, sebagaimana yang dilansir berbagai media massa, terutama media cetak (termasuk Radar Cirebon, 15/8/2014), untuk perayaan HUT ke-69 kali ini di Istana Negara saja ditengarai menghabiskan anggaran sebanyak 11, 3 miliar rupiah (Rp. 11.319.085.353) dengan rincian biaya (lebih besar dari anggaran HUT ke-67 pada 2012 sebesar 7,8 miliar)—yang menurut nurani publik justru terkategori sebagai pemborosan anggaran yang tentu saja lagi-lagi “tidak penting”—sebagaimana layaknya sebuah refleksi dan rasa syukur yang mesti menghadirkan sikap dan perilaku simpati, empati juga kesederhanaan.

Itu baru di tingkat nasional. Hitungannya tentu semakin akumulatif dan bombastis ketika 33 propinsi, ratusan kabupaten/kota, ribuan kecamatan dan desa/kelurahan serta berbagai instansi juga merayakan HUT dengan anggaran yang tentu saja tak sedikit. Hanya untuk sebuah perayaan selama dua sampai tiga jam, negeri ini menghabiskan anggaran begitu banyak. Benar-benar perilaku yang jauh dari keluhuran nurani, nalar sehat dan substansi perayaan HUT kemerdekaan itu sendiri.

Padahal HUT dalam artian refleksi dan rasa syukur sejatinya ditunaikan untuk membangun kesadaran jiwa kita bahwa—sebagaimana yang diungkapkan Mohammad Hatta (Bung Hatta)—“kemerdekaan yang kita rayakan bukan hadiah penjajah Belanda dan Jepang, tapi rangkaian hasil perjuangan para pejuang yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk Indonesia Raya sehingga mendapatkan takdir kemerdekaan dari Sang Kuasa”. Dengan demikian, HUT sejatinya dirayakan secara seksama, menanam pesan perjuangan yang kuat dan menyentuh alam kesadaran untuk selalu menjaga sikap patriotis, serta jauh dari sikap boros seperti manipulasi dan eksploitasi anggaran negara.

Itu bermakna, ketika para penggawa negara begitu semangat “mengkhutbahkan” kesederhanaan, namun pada tempat dan waktu yang sama mereka juga menampilkan pola pemborosan (terutama anggaran negara), maka perayaan HUT kemerdekaan menjadi jauh dari subtansi dan orientasinya. Pada tingkat selanjutnya, perayaan HUT kemerdekaan pun dipertanyakan, bahkan menghadirkan gugatan masif: apakah negeri ini sudah merdeka, atau hanya (pura-pura merayakan kemerdekaan) serupa kemerdekaan?

Ketika awal-awal memproklamirkan kemerdekaan, para pemimpin bangsa ini begitu semangat dan penuh patriotis; mereka tidak punya tujuan lain selain memerdekakan bangsa dan mewariskan bumi pertiwi kepada kita (generasi era ini dan ke depan) dalam kondisi merdeka tanpa jajahan asing. Mereka menyadari betul bahwa hidup dalam keterjajahan—apalagi selama hampir 350 tahun—adalah satu pengalaman hidup yang tak perlu dirasakan kembali oleh anak-cucu mereka kelak.

Dengan begitu, proklamasi pada era awal itu pun tak mengeluarkan biaya (uang) sedikit pun. Pengorbanan, keikhlasan, kesungguhan, ketangguhan, semangat, optimisme, kerja keras dan berpikir futuristik (memasa depan) adalah “anggaran” utama mereka untuk memproklamirkan kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan yang mereka torehkan benar-benar menyentuh jiwa mereka; mereka sudah melampaui keterjajahan fisik pada saat jiwa mereka tak pernah berhasil dijajah penjajah. Di atas punggung para pendahulu itu, negeri ini benar-benar merdeka, bukan saja raganya tapi juga—lebih-lebih karena ini yang utama—jiwanya.

Tidak salah dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya terdapat syair “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya… Untuk Indonesia raya”, yang—jika saja kita renungi secara mendalam—akan membuat kita menangis, dan semangat kita untuk mengisi kemerdekaan ini dengan kerja-kerja besar akan terus berkobar dan masif.

Namun di sinilah idealisme tersebut menjadi terpasung. Misalnya, mengapa di era ini begitu mudah pemimpin kita menghabiskan anggaran—di saat sebagian “saudara kita” sebangsa dan senegara hidup dibawah garis kemiskinan—atas nama perayaan tanpa karakter sekaligus jiwa “pengorbanan, keikhlasan, kesungguhan, ketangguhan, semangat, optimisme, kerja keras dan berpikir futuristik (memasa depan)”, serta simpati dan empati sebagaimana yang dilakoni para pendahulu kita?

Di atas segalanya, mungkin renungan ini serasa sepele dan dinilai “cengeng”, namun jika ke depan perayaan HUT kemerdekaan masih ditunaikan dengan cara-cara yang jauh dari substansi seperti yang kerap kita lakukan selama ini, maka renungan ini sejatinya sedang mengingatkan bahwa kita masih belum merdeka. Betul bahwa kita merdeka dari jajahan para penjajah (seperti negara asing) yang menjajah selama tiga abad lebih, namun kita masih terjajah oleh sesama kita bahkan oleh sikap kita sendiri. Ya, jiwa kita masih terjajah, dan belum merdeka seutuhnya.

Lalu, kapankah kita merayakan HUT kemerdekaan dengan makna yang sebenarnya, misalnya, memerdekaan diri, bangsa dan negara dari sikap dan karakter khas penjajah seperti mencuri (korupsi, manipulasi anggaran program), boros (mengeksploitasi uang negara), permisif (serba boleh), hedonis (asal “saya” dan “golongan saya” senang) dan individualistis (serba “saya”)?

Pertanyaan tersebut hanya terjawab dengan tuntas manakala kita, baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat biasa mau dan mampu memerdekakan jiwa kita dengan melampaui sikap-sikap tersebut sejak saat ini (bukan esok, lusa dan seterusnya) sebagaimana yang sudah dilakoni oleh para pejuang dan pahlawan bangsa dan negara ini di masa lalu.

Akhirnya, sejarah negeri ini sejatinya adalah industri para pejuang dan pahlawan yang memiliki jiwa merdeka. Kepada mereka yang berjiwa merdeka itulah negeri ini Allah anugerahkan kemerdekaan; dan kepada generasi penerus yang berjiwa merdeka itu pula-lah para pejuang dan pahlawan itu wariskan kemerdekaan (bangsa dan negara) ini. Selamat merayakan kemerdekaan jiwa dan raga, selamat HUT negeri tercinta Indonesia. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”. Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “HUT Kemerdekaan Tanpa Kemerdekaan?”, yang dimuat di Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 4, Senin 18 Agustus 2014].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s