Pramuka untuk Masa Depan Bangsa

Istriku, Uum Heroyati
“Salah satu tulisanku yang dimuat di Radar Cirebon (Kamis, 14 Agustus 2014)”

HARI ini Kamis, 14 Agustus 2014 bertepatan dengan Hari Pramuka. Sebagaimana perayaan hari-hari besar lainnya, hari ini tentu saja di berbagai penjuru nusantara diramaikan oleh berbagai bentuk acara dengan gegap gempita. Apalagi peringatan ini berdekatan dengan HUT RI yang ke-69 pada 17 Agustus nanti, perayaan Hari Pramuka kali ini menjadi bertambah gegap gempita dengan segala rupa bentuk acara juga kegiatannya.

Selain dengan pola tersebut, pada perayaan kali ini kita mestinya menghadirkan pola baru sebagai wujud turut serta dalam perayaan. Misalnya, merefleksikan secara sadar dan aktif tentang bagaimana peran dan efek penting pramuka terhadap generasi muda bangsa. Bagaimana pun, kini generasi muda kita dihadapkan dengan berbagai masalah pelik, terutama narkoba dan tindak kekerasan—bahkan dalam beberapa waktu terakhir ada yang terindikasi terlibat dalam tindak pindana terorisme.

Generasi Emas Terjerat Narkoba dan Kekerasan?

Pemuda, terutama remaja adalah generasi emas bangsa. Mereka adalah tongkat estafet pembangunan bangsa dan negara di masa depan. Mereka memiliki peran vital dalam mengisi kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa (Adhyaksa Dault, 2008). Akan tetapi seiring perjalanan bangsa yang dilintasi oleh globalisasi dan modernisasi di semua lini kehidupan, mengakibatkan sebagian generasi muda Indonesia saat ini telah terperosok kepada jurang kehancuran (degradasi moral), baik karena narkoba, tindak kekerasan maupun berbagai bentuk jeratan lainnya.

Jumlah generasi muda yang terjerat narkoba memang sangat mencengangkan kita. Data yang dirilis oleh Universitas Indonesia (UI) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2011 menyebutkan bahwa anak muda yang terlibat penyalahgunaan narkoba mencapai angka 3,8 juta jiwa. Bahkan pada periode 2013 jumlah pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif di kalangan remaja cenderung meningkat. Pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza) diperkirakan sekitar 5 juta orang atau 2,8 persen dari total penduduk Indonesia. Angka ini lebih tinggi daripada jumlah penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencapai 4,6 juta jiwa. Pengguna remaja yang berusia 12-21 tahun ditaksir sekitar 14.000 orang dari jumlah remaja di Indonesia sekitar 70 juta orang.

Selain ancaman narkoba, virus “kekerasan” juga melanda sebagian generasi muda kita. Ya, kita pun mengelus dada bahwa ternyata tindak kekerasan di kalangan remaja justru semakin meningkat bahkan terjadi hampir di seluruh propinsi di seluruh Indonesia di saat kita baru saja mengupayakan dilaksanakannya kurikulum 2013—yang menitikberatkan pada pendidikan karakter peserta didik.

Bahkan menurut Wakil ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni’am Sholeh (2013), persemaian ideologi “kekerasan” umumnya tumbuh pada masa anak-anak dan remaja. Pada saat inilah mereka mencari jati diri, tapi juga labil dengan berbagai kondisi yang mereka alami.

Konteks wilayah 3 Cirebon, anak yang terjerat hukum pun mencengangkan. Sebagaimana yang dilansir koran ini(Rabu,13/8/2014), dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas 1 Cirebon, pada periode 2013 lalu tercatat sebanyak 257 anak di bawah umur dari wilayah 3 Cirebon terlibat kasus kriminalitas, bahkan dua di antaranya terlibat kasus pembunuhan.

Tidak itu saja, bahkan pada “periode Januari hingga Juli 2014, tercatat sudah lima kasus pembunuhan yang melibatkan anak di bawah umur. Kelima kasus tersebut adalah dua di kabupaten Cirebon, satu kasus di Kabupaten Majalengka dan dua di Indramayu” (Radar Cirebon, Rabu,13/8/2014).

Pramuka Sebagai Solusi

Kalau kita memahami konteks problematika generasi muda seperti yang diungkap di awal, maka pada dasarnya—selain memantapkan kurikulum pendidikan karakter 2013 yang (menurut Kak Seto) baru dalam tahap “ujicoba”—bangsa ini sejak awal sudah memiliki jalan keluar sebagai program penyelematan. Salah satu program penyelamatan generasi muda bangsa adalah melalui organisasi kepanduan (baca: Pramuka).

Menurut pakar pendidikan Arif Rahman (2012) melalui aktifitas keorganisasian yang menyentuh level psikis dan bernilai positif seperti Pramuka dapat membendung sifat kriminal dan keterasingan diri yang membawa pada dampak negatif pengembangan psikologi dan tumbuh kembang anak bahkan yang mengarah kepada penyimpangan perilaku dan penggunaan narkoba.

Pramuka (Praja Muda Karana) sendiri merupakan organisasi kepemudaan yang berorientasi kepada pengabdian kepada bangsa dan negara. Tujuan dari Gerakan Pramuka adalah mendidik dan membina kaum muda Indonesia guna mengembangkan mental, moral, spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisiknya untuk menjadi generasi yang baik, berintegritas, bermoral dan berakhlak dalam aktivitas pembangunan.

Lord Robert Boden Powell, sang bapak pandu dunia mengandaikan “kegiatan kepanduan ini sebagai sarana pendidikan melalui kegiatan yang menyenangkan”. Tipologi menyenangkan ini tentu saja menarik simpati dan minat anak-anak. Sehingga kegiatan kepanduan ini cepat menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, organisasi kepanduan seperti Pramuka sangat berperan penting dalam sejarah pergerakan nasional, baik pra maupun pasca kemerdekaan. Untuk itu, Pramuka mesti dijadikan sebagai panduan yang wajar dalam meretas berbagai masalah yang menghantui generasi muda bangsa (Susilo Bambang Yudhoyono, 2013).

Pertanyaannya, mengapa mesti Pramuka? Saya mencatat beberapa alasan, pertama, Pramuka dikenal sebagai kegiatan yang menyenangkan. Menyanyi, bermain, tepuk tangan, tali temali, sandi-sandi, penjelajahan adalah beberapa bentuk dari kegiatan Pramuka yang berbasis fun, menyenangkan. Kegiatan yang kerap dilaksanakan di ruang terbuka ini mampu membawa pesertanya untuk menambah wawasan, mengekspresikan kebebasan terhadap alam berfikir sambil bermain dan menikmati masa anak-anak, remaja dengan wujud ilmiah. Sehingga kepenatan dalam psikologi peserta kepanduan dapat terobati dan tersalurkan dalam kegiatan positif.

Kedua, Pramuka adalah salah satu media pendidikan yang berbasis pada pengoptimalan otak kanan siswa. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa, proses pembelajaran di kelas lebih dominan pada pengembangan otak kiri (IQ, Intelektual Quotient), sementara pengembangan otak kanan (EQ, Emotional Quotient) seringkali mendapatkan porsi yang sangat sedikit.

Pramuka adalah wahana pengembangan emosional otak kanan, dimana peserta kepanduan dilatih untuk berinteraksi, berkomunikasi, kreatif, dan berafiliasi dengan teman-teman atau lingkungannya. Melalui kegiatan Pramuka inilah kemampuan sosial peserta kepanduan dibangun, sehingga mampu mewujudkan salah satu pilar pendidikan versi Unesco dengan visi life together, dengan damai dan harmonis.

Sebagaimana kita ketahui melalui analisa para kriminolog, bila para pecandu narkoba dan penyalahguna obat-obatan terlarang lainnya, terjadi disebabkan adanya pelarian terhadap masalah psikis yang tidak disalurkan dalam bentuk yang positif dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam lingkungan pribadinya.

Hemat saya, semua sifat negatif yang menimbulkan pelanggaran hukum dalam bentuk penyalahgunaan narkoba hingga tindak kekerasan dapat diredam dengan semangat kepanduan sebagaimana tertuang dalam Dasa Dharma Pramuka. Dasa Dharma Pramuka juga mengajarkan pesertanya dalam semangat toleransi, menghargai sesama bahkan menerapkan disiplin dalam menuntut ilmu guna membangunan semangat menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan berbagai agenda yang membangun dan bermanfaat bagi sesama dan bangsa.

Terlebih lagi, sebagaimana tertuang dalam Inpres yang dikeluarkan oleh Presiden RI Nomor 12 Tahun 2011, tentang pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Pencegahan dan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) tahun 2011-2015, dengan jelas menegaskan bahwa setiap elemen bangsa memiliki tanggung jawab bersama dalam rangka menyelamatkan generasi bangsa dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Lebih jauh, Pramuka merupakan salah satu wujud usaha untuk menumbuhkan pikiran-pikiran positif pada generasi muda dengan berbagai kegiatan yang positif lagi bermanfaat bagi pembangunan bangsanya. Dengan begitu, Pramuka bukan saja menjauhkan generasi muda dari narkoba dan tindak kekerasan, tapi juga mampu mengarahkan dan menyadarkan generasi muda bahwa mereka merupakan generasi emas yang sangat menentukan sejarah masa depan bangsa ini. Pada pundak generasi muda itulah negeri ini dipertaruhkan. Akhirnya, selamat Hari Pramuka! [Oleh: Uum Heroyati—Penulis adalah Pengajar di SDIT Sabilul Huda Cirebon, Pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”; tinggal di Komplek Perumahan GSP Karya Mulya-Cirebon; Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya “Pramuka untuk Masa Depan Bangsa, Refleksi Memperingati Hari Pramuka 14 Agustus 2014” yang dimuat pada halaman 4 Kolom Wacna Radar Cirebon Kamis 14 Agustus 2014]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s