Kalau Udah (Ga) Nulis, Mau Apa?

buku ya..n
Buku karyaku ya

BEBERAPA waktu yang lalu aku mendapat SMS dari seorang teman, “Bung, kalau sudah terbiasa menulis, setelahnya ngapain?”. Teman yang lain bilang, “Bro, kalau istirahat menulis, mau ngapain?”. Dan berbagai pesan yang tentu saja “menggelitik”.

Bagi aku, SMS semacam ini benar-benar “menohok” dan “menggelitik”. Bagaimana tidak, aku merasa selama ini aku baru sampai pada titik “semangat”, belum menjadikan “menulis” sebagai bagian dari kehidupan aku secara masif.

Ya, menulis sih menulis, hanya baru pada tahap “sekadar” menuangkan isi pikiran, curahan hati dan serupanya. Belum sampai pada tahap “mencerahkan” pembaca seperti menulis dalam tema-tema publik yang serba sistematis dan tentu saja menantang otak dan kemampuan. Bahkan aku kadang dihantui rasa malas juga…

Tapi tak mengapa. Mengenai hal ini aku jadi teringat ungkapan istri aku, Mba Uum Heroyati, “menulis dengan gaya dan tema apapun sebetulnya sudah merupakan satu kemajuan berarti bagi pemula” seperti aku.

Benar juga sih. Iya, kan? Apalagi seputar isi hati, eh eh asyik. Hitung-hitung curhat deh. Daripada nyolong punya orang, mendingan ambil hati sendiri deh.

Oke, kembali ke pertanyaan teman aku di awal tadi. Betul juga ya, kalau tak nulis lagi, mau apa? Padahal menulis itu tak butuh modal dan biaya. Tinggal nulis aja. Tak ada laptop, ya ada kertas. Tak ada bulpen, ya ada kuku (kan banyak kotoran kukunya… ih ihi jijik jijik). Kardus, kertas bekas dan pensil yang terbuang di tempat sampah juga bisa dijadikan sebagai sarana tuk menulis. Tak ada ide, ya tinggal nulis apa aja. Bebas, bebas, dan bebas. Bukan kah para penulis tersohor selalu memulai dan menghasilkan karya terbaik dari hal-hal sederhana semacam itu?

**

Sekadar berbagi, akhir-akhir ini, aku memang kerap dianggap sebagai provokator kepenulisan, minimal oleh teman-teman yang doyan membaca tulisan aku (terutama) di kolom opini/wacana di beberapa media cetak, termasuk di facebook juga blog pribadi aku setiap harianya.

Namun, setelah akhir-akhir ini tulisan aku jarang nongol, makanya ada yang “merhatiin”. Ya, makanya tidak salah jika teman aku bertanya seperti yang aku kutip di awal tadi. Mungkin saja teman aku sudah melihat adanya tanda-tanda malas dalam diri aku. Atau dia sudah tak bisa menyaksikan tulisan aku lagi dalam beberapa waktu terakhir. Lumayan nih aku dapat penyemangat gratisan he he he.

Di sela-sela waktu menyelesaikan berbagai aktivitas, aku kadang bertanya, berlebihan kali ya kalau aku dianggap penulis bahkan provokator kepenulisan? Emang aku sudah menulis novel terkenal dan mampu “menghipnotis” berapa juta manusia?

Ah aha aha, tapi bagus juga sih, aku jadi “tergoda” tuk terus menulis dan menghadirkan karya terbaik deh. Terima kasih do’a dan inspirasinya ya teman sejati.

Tapi… jujur saja, pada dasarnya aku belum layak dimasukkan dalam kategori provokator kepenulisan, sebab aku merasa ada banyak hal yang perlu aku tingkatkan. Dari tema dan judul yang masih apa adanya hingga gaya bahasa yang tentu saja perlu ditingkatkan kualitasnya.

Terus, ini yang lebih penting… Akua baru menulis beberapa judul buku seperti The Power of Motivation, Spirit to Your Success, Udah Nikah(in) Aja!, Ngopo: Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia, dan lain sebagainya. Itu juga belum tersebar ke mana-mana. Buktinya, masih ada yang belum membaca bukunya kan?

Buku-buku itu juga…. ya itu juga diambil dari kumpulan tulisan aku di blog, facebook, media cetak dan serupanya. Jadi, belum ada sesuatu yang layak dianggap “wah”. Masih jauh dari karya atau apa yang sudah ditorehkan oleh penulis tersohor.

Lalu, mengapa aku disematkan sebagai provokator ya? Kalau gara-gara itu aku ditangkap oleh polisi, awas ya! He he he. Aku bakalan kejar nih.

**

Terus, pembahasan aku sudah sampai mana ya? Jadi lupa-lupa ingat… Ada yang ingat?

Oke, namun lagi-lagi, bagi teman-teman yang “menuduh” aku sebagai provokator, ya tak mengapa ding. Kali aja maksudnya baik. Dan bisa jadi dengan pernyataan semacam itu, bisa menambah semangat dan motivasi aku untuk menghadirkan tulisan yang lebih berisi alias berkualitas. Bersyukur masih ada teman-teman yang selalu memperhatikan aku, memperhatikan karya tulis aku. Jadi GR deh.

Tapi, di sini ada tapinya. Ada sesuatu yang mesti aku ingatkan. Apa itu? Aku perlu bertanya kepada teman-teman, “Kalau aku provokator kepenulisan, memang teman-teman sudah menulis tentang apa, sudah dikirim ke mana, dan sudah mampu mencerahkan berapa banyak orang?”

Nah lho, kena getahnya kan? Makanya, daripada “menuduh” aku provokator kepenulisan, mendingan teman-teman nulis aja deh. Nah, setelah itu, kalau tulisannya sudah numpuk bahkan laptopnya sampai penuh, baru deh tanya diri sendiri, “Setelah nulis, ngapain?”, atau “kalau sudah (ga) nulis, mau apa (lagi)?”.

Ehe ehe, aku tak perlu menjawab pertanyaan itu yeh, silahkan teman-teman sendiri yang jawab ya… Itu kan pertanyaan dari aku tuk teman-teman yeh yeh yeh…. Ingat ya, jawabannya segara. Kalau terlambat, teman-teman bakalan kena hukuman dari aku, lho!

Aku sendiri hanya mengingatkan bahwa bagi mereka yang sudah terbiasa menulis, maka akan dengan sendirinya “tergoda” untuk melakukan banyak hal yang berkaitan dengan kepenulisan. Apalagi kalau bukan membaca dan merenungi apa sudah ditulis? Bukan saja membaca tulisan hasil karyanya sendiri, tapi juga tulisan hasil karya siapapun, dalam bentuk apapun; termasuk novel, buku dan serupanya; di samping tulisan lepas di blog, facebook dan serupanya. Maka benarlah kata seorang teman di “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis” bahwa menulis itu adalah saudara kembar membaca. Artinya, kalau kita sudah terbiasa menulis atau sebaliknya, maka kita pun akan tergoda hingga terbiasa untuk membaca atau sebaliknya.

Ah, cukup ah, tak perlu panjang lebar. Ini kan bukan persegi panjang pada pelajaran matematika…
Sekarang silahkan menulis tentang apa saja sesuai selera masing-masing. Setelah itu, ya nulis lagi. Tak perlu banyak tanya, lebih baik banyak nulis he he he. Kalau banyak nanya, nanti sesat di mana-mana, temasuk sesak di hati… uhui uhui.

Percaya deh, nanti kalau sudah terbiasa menulis, maka niscaya tulisannya akan semakin berkualitas dan tentu saja bermanfaat bagi banyak orang. Dengan begitu, penerbit juga akan melirik karya kita, karya terbaik kita. Kalau penerbit tak melirik, ya lirik aja sendiri. Githu aja kok repot.

Lagian, kalau sudah ga nulis lagi, mau apa? Emang punya karya lain selain tulisan? Ah, jangan menghayal deh, lebih baik nulis, nulis dan nulis. Setelah itu ya nulis lagi… Menulis tak perlu ini itu, cukup nulis aja. Menulis sampai mati juga, boleh.

Untuk teman-teman di “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”, terutama Mas Riza, Mas Ipang, Mba Nita, Mba Putri, Mba Yuli, Mba Fitri, Mba Nanda, Mba Indah, Mba Uum, Azka Syakira, Bukhari Muhtadin dan siapa pun yang tak cukup aku sebutkan di sini. Silahkan sebut sendiri aja ya… Terima kasih banyak, kadonya kemarin (Sabtu, 9 Agustus 2014) oke banget, tak disangka kalau dapat kado selucu itu. Ya alhamdulillah dapat kado, karena bertepatan pada Jum’at, 8 Agustus 2014, aku sudah genap berusia 31 tahun. Semoga di sisa umur ini aku semakin menambah manfaat bagi banyak orang, dan tentu saja semakin “menghamba” kepada-Nya.

Oh iya, untuk semuanya… semoga semangatnya untuk menulis tetap terjaga. Pastikan tiap harinya punya karya tulis, usahakan dipublikasi juga. Bisa lewat facebook, blog atau serupanya. Jadi, silahkan nulis tentang apa saja, boleh. Yang penting setiap harinya teman-teman mampu menghasilkan karya. Semoga dengan begitu, dalam waktu yang tak lama, teman-teman sudah menghasilkan karya terbaik yang “menggugah” dan “menggetarkan” Indonesia. Mantap, bukan?

Sebagai penutup (tapi bukan akhir segalanya yah), semoga teman-teman yang membaca tulisan ini semakin gila dan tergila-gila. Bahwa, menulis itu tidak perlu rumusan ini itu segala. Tidak perlu pusing dengan tema, judul, sistematika dan gaya bahasa. Tapi kalau tetap pusing, ya mudah aja,,, Silahkan nulis tentang pusing, pusing menulis, menulis pusing… Nah, bingung kan? Mantap kalau begitu. Aku juga bingung, mau nulis apa lagi nih? Nulis ini aja deh, “Ayo nulis, kalau sekadar mengeong kucingpun bisa”. Kalau teman-teman merasa dirinya kucing, silahkan jangan nulis yah. Kucing aja sudah banyak yang nulis lho. Lalu, masa teman-teman ogah tuk nulis? Aku tidak minta maaf ya, soale aku sengaja bilang begitu, biar ada yang tertampar. Kena deh, asyik asyik asyik. Kalau sudah (ga) nulis, mau namparin siapa yang malas nulis aja deh. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Mitra Pemuda, Penulis buku Spirit to Your Success, Pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s