Menemukan Masa Depan ASEAN

ASEANPARA pendiri Republik Indonesia sejak tahun 1945 telah menyadari pentingnya upaya membangun sebuah ketertiban dunia (word order) yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan kedailan sosial, seperti yang termaktub dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

Dalam konteks itu, dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif (independent and active foreign policy) pada hakikatnya merupakan alat sekaligus mekanisme untuk memajukan cita-cita dan kepentingan nasional seperti yang dirumuskan para pendiri republik tersebut.

Secara internal, terdapat kebutuhan untuk memajukan kepentingan nasional yang dalam banyak hal boleh jadi sangat bersifat egoistik. Hal ini mencakup kepentingan untuk : (1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; (2) memajukan kesejahteraan umum; dan (3) mencerdaskan kehidupan bangsa. Secara eksternal, Indonesia merupakan anggota komunitas bangsa-bangsa di dunia dan terus menerus secara aktif untuk : (4) ikut berpartisipasi dalam melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial (Hassan Wirajuda, 2008).

Wujud nyata dari kepentingan tersebut, maka Indonesia tidak saja turut menjadi aktor utama dalam berbagai forum internasional seperti Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 18-25 April 1955 di Bandung yang dihadiri oleh 29 negara di kawasan Asia dan Afrika yang kelak melahirkan Gerakan Non-Blok (GNB), tapi juga dalam pembentukan the Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) pada 8 Agustus 1967.

Indonesia dalam ASEAN

Indonesia telah menorehkan hal penting bagi sejarah bangsa dan negaranya. Bukan saja dalam konteks kepentingan nasional, tapi juga kepentingan kawasan—bahkan global. Ya, pada tingkat regional, kiprah dan inisiatif Indonesia sangat signifikan dan sangat teruji. Hal itu, diantaranya melalui peran dan posisi pentingnya dalam pembentukan the Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) 47 tahun silam. Melalui ASEAN, kawasan Asia Tenggara yang sebelumnya sangat rentan konflik, baik yang bersifat inter-state maupun intra-state (yang bernuansa proxy war dan dua kubu ideologi global) conflicts, dapat bertransformasi menjadi kawasan kemakmuran dan stabilitas bersama. Walaupun belum seutuhnya sukses, namun perkembangan negara-negara ASEAN cukup signifikan.

Lebih dari sekadar menciptakan kawasan kemakmuran bersama, melalui ASEAN Indonesia bahkan menjadi motor bagi perluasan kerjasama kawasan. Misalnya, melalui inisiatif ASEAN Plus Three (bersama Jepang, China dan Korea Selatan), ASEAN Regional Forum (ARF), dan bahkan East Asia Summit (EAS). Upaya ini merupakan bagian dari strategi Indonesia dalam meningkatkan peran strategis ASEAN untuk menjadikan dirinya menjadi relevan dengan perkembangan dan dinamika politik dan keamanan regional dan global.

Peran Penting

Secara rasional, Indonesia menyadari bahwa ASEAN merupakan organisasi yang terletak di kawasan Asia Timur dan Asia Pasifik, yang sangat dinamis secara ekonomi, namun juga rentan secara politik dan keamanan. Untuk itu, tidak ada pilihan lain bagi Indonesia kecuali melalui wadah ASEAN untuk dan mesti merangkul (engage) berbagai kekuatan besar di dalam dan di luar kawasan—misalnya melalui Pertemuan ASEAN Dialogue Partners, serta menciptakan sebuah strategic convenience bagi negara-negara besar tersebut untuk membicarakan berbagai kepentingan mereka masing-masing. Dalam konteks ini, posisi ASEAN sebagai sebuah interlocutor dari berbagai kepentingan regional dan global menjadi sangat penting, dan menjadikan ASEAN pada posisi yang sangat senteral (kerap dinyatakan berada dalam posisi the driving seat).

Kekuatan ASEAN, dengan Indonesia sebagai salah satu aktor utama, pada prinsipnya terletak pada kemampuannya untuk mengelola kepentingan bersama serta posture diplomatiknya yang dianggap tidak instrusif terhadap kepentingan bersama itu sendiri (Ali Alatas, 2001). Hal-hal inilah yang menjadikan ASEAN sebagai aktor yang mudah untuk diterima oleh berbagai kalangan internasional.

Kini ASEAN yang telah lengkap beranggotakan 10 negara Asia Tenggara dan genap berusia 47 tahun, telah sepakat untuk mewujudkan sebuah Komunitas ASEAN (ASEAN Community) pada tahun 2015, yang berpijak pada tiga pilar utama, yaitu Komunitas Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN serta Komunitas Sosial-Kultural ASEAN.

Menanti Kiprah Baru

Masalahnya kini adalah adanya anggapan bahwa ASEAN belum melakukan apa-apa. Betul bahwa ASEAN cukup memberi “angin segar” bagi kepentingan kawasan, namun dalam konteks percaturan global, ASEAN masih dianggap “angin lalu”. Dalam konflik Israel-Palestina, misalnya, ASEAN nyaris tak berkutik. Padahal pada era awal hingga 1990-an, ASEAN telah berkontribusi luar biasa dalam menyelesaikan konflik dan masalah ekonomi, pendidikan dan pembangunan militer di berbagai penjuru dunia, terutama untuk negara-negara yang pernah tergabung dalam KAA.
Untuk itu, ke depan kita berharap agar ASEAN kembali memperlihatkan taringnya dalam berbagai momentum global. Sebagai aktor utama ASEAN, Indonesia semestinya mengambil peran penting dan melakukan langkah-langkah nyata bagi kepentingan luar negerinya sesuai amanah konstitusi negara sebagaimana yang digariskan para pendiri republik. Sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia mesti mengambil peran penting dan melakukan langkah-langkah nyata dalam menyelesaikan konflik di beberapa negara di kawasan Timur-Tengah, seperti Iraq, Syuria, Palestina dan sebagainya.

Tentu saja, langkah nyata yang dipilih diharapkan mengendepankan jalur diplomasi daripada sekadar emosi; mengedepankan rasionalitas dan sikap logis daripada pilihan dogmatis dan pemaksaan politik. Sebab sejarah menunjukkan bahwa dorongan emosional yang terlalu dominan dalam politik luar negeri hanya akan membawa sebuah negara dalam posisi yang sulit, terutama karena lemahnya aspek diplomasi. Namun, politik luar negeri—termasuk dalam aspek penguatan kawasan (ASEAN)—yang terlampau mekanistis tanpa adanya kejelasan dan ketegasan sikap, hanya akan membawa sebuah negara dan kawasan pada situasi yang kaku (awkward), bahkan hilang relevansinya dalam percaturan global.

Lebih teknis, dalam menyelesaikan konflik Israel-Palestina, melalui forum ASEAN misalnya, Indonesia mesti menawarkan klausul agar ASEAN tidak sekadar berpandai menyatakan sikap, tapi juga bertindak mengambil sikap. Bahkan melalui forum ASEAN, Indonesia dapat menawarkan solusi terbaik bagi penyelesaian berbagai konflik di berbagai negara di dunia. Indonesia sangat terdesak untuk menaikan “syahwat” dan “tensi” kontribusinya pertama-tama bukan sekadar karena sebagai negara mayoritas muslim terbesar tapi juga sebagai salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Mengutip pernyataan mantan presiden RI ke-3 BJ. Habibie pada sebuah Seminar Internasional di Jakarta tahun lalu, “Indonesia ini adalah negara dari seluruh negara. Dari segi geografis dan demografinya, Indonesia sama dengan AS bahkan Eropa. Dengan begitu, Indonesia perlu berani bersikap dan bertindak dalam segala hal yang memang memerlukan kehadiran Indonesia.”

Di atas segalanya, politik luar negeri yang bebas dan aktif hanya terwujud manakala Indonesia tegas dalam bersikap, termasuk meningkatkan jenjang serta peran penting ASEAN, terutama dalam membangun perdamaian dunia dan menjembatani berbagai kepentingan-kepentingan global. Pilihan untuk tetap berperan sebagai peace-builder dan bridge-builder ini tentunya konsisten dengan karakter dasar politik luar negeri kita, yang dilahirkan dalam masa-masa awal berdirinya republik. Konsisten dan kesungguhan Indonesia dalam memegang prinsip dasar “membangun jembatan perdamaian dan kepentingan bersama” melalui wadah ASEAN inilah merupakan modal penting dalam memelihara dan meningkatkan profil dan kredibilitas diplomasi negara ini di masa depan. Dengan begitu, bukan saja taring Indonesia yang benar-benar tajam, tapi juga taring ASEAN itu sendiri. Semoga saja begitu. Akhirnya, selamat hari ulang tahun ke-47 ASEAN! [Oleh: Syamsudin Kadir—Penulis adalah Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”. Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Menemukan Masa Depan ASEAN; Refleksi dan Kilas Balik 47 Tahun ASEAN”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s