Menelisik Paradoks Wacana Terorisme

Bendera-Israel-diinjak-massa-KAMMI-jpeg.image_
Bendera Teroris Paling Brutal di Dunia

BEBERAPA tahun terakhir, terutama pasca peristiwa pengeboman gedung WTC pada 9 September 2001, dunia termasuk Indonesia kerap dihantui bahkan dihadapkan dengan berbagai tindakan teror. Berbagai elemen pun berhadapan secara pro-kontra. Bahkan istilah-istilah “terorisme” dan serupanya yang sering diwacanakan kerap dimaknai dan ditindaklanjuti dengan standar ganda juga bias kepentingan.

Definisi dan Paradoks Wacana Terorisme

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terorisme didefinisikan sebagai penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan, terutama tujuan politik.

Aksi teror atau terorisme adalah sebuah fenomena yang sulit untuk dimengerti. Aksinya sangat mematikan dan tertutup, membawa banyak korban jiwa, termasuk orang yang tidak bersalah. Terorisme adalah sebuah mazhab atau aliran kepercayaan melalui pemaksaan kehendak, guna menyampaikan pesannya (Prayitno Ramelan, 2009).

Dalam salah satu terbitan majalah Inspire edisi ke-9 tahun 2012, disebutkan tujuan perlawanan dan terorisme (individual) adalah menimbulkan sebanyak mungkin kerugian materiil dan immateriil yang menjadi kepentingan Amerika Serikat (AS)—dan sekutunya, termasuk Israel). Hal ini dilakukan sebagai respon terhadap sikap dan kebijakan AS terhadap umat Islam dan negara-negara muslim di seluruh dunia, terutama di Timur Tengah.

Pada 2003, tepat dua tahun setelah peristiwa 11 September, harian terkemuka Timur Tengah, Al-Syarqul Awasth, menulis, bahwa bukan saja belum mampu mengatasi aksi terorisme, Amerika Serikat (AS) bahkan banyak menimbulkan masalah baru karena konsep terorisme melebar ke mana-mana. Harian itu mengingatkan, agar AS mendengar usulan dunia Arab untuk menyepakati terlebih dahulu definisi dan maksud dari istilah terorisme itu sendiri.

Sejak AS melancarkan apa yang disebut “perang melawan teror”, banyak pemimpin negara berpikir serius tentang hal itu agar jangan sampai tidak mendapat restu dari AS. Maka, demi mempertahankan kekuasaan atau kepentingan tertentu, berbagai paradoks akibat konsep “terorisme” terpaksa dibiarkan terjadi. Lihatlah, bagaimana negara Pakistan dapat melakukan tindakan yang kontradiktif terhadap Taliban. Pakistan-lah yang mendukung dan turut membesarkan Taliban. Tetapi, mereka juga yang kemudian memburu Taliban mengikuti jejak AS.

Lebih jelasnya, berikut adalah sebagian kecil dari berbagai paradoks seputar wacana “terorisme” dan serupanya yang sering dihadirkan AS dan sekutunya. Pertama, Harian Kompas, 29 Januari 2002, memberitakan, dunia internasional mengecam sikap AS yang terlalu menyudutkan Palestina dan menganakemaskan Israel. AS menyebut pasukan Arafat yang membela Palestina sebagai “teroris”. Pada saat yang sama menyebut Israel sebagai negara demokratis yang sukses menjaga HAM di Timur Tengah.

Kedua, Koran Tempo (12 November 2001), menurunkan berita berjudul “Noam Chomsky: Lebih Jahat dari Serangan Teroris”. Profesor Linguistik di MIT itu menyimpulkan, “Pengeboman atas Afganistan (oleh pasukan sekutu yang dipimpin oleh AS) adalah kejahatan yang lebih besar daripada teror 11 September.” AS memang kerap menjadi biang tindakan teror itu sendiri. “AS adalah terdakwa negara teroris,” tegas Chomsky. Itu bermakna, AS menuding Afganistan sebagai negara teroris, namun pada saat yang sama AS dan sekutunya melakukan tindakan agresi terhadap Afganistan yang justru membuktikan secara nyata bahwa negaranya sendiri sebagai terorisme negara.

Ketiga, dalam bukunya “Israel dan Praktik-praktik Zionisme” (1988), Roger Garudy mengutip bahwa dalam sebuah wawancara dengan koran Yediot Aharonat, 26 Mei 1974, Perdana Menteri Israel Ariel Sharon menyatakan, “Kita harus selalu menyerang, menyerang tanpa berhenti. Kita harus menyerang mereka di mana pun adanya. Di dalam negeri, di negeri Arab, dan bahkan di seberang lautan sekalipun. Semuanya pasti akan dapat dilakukan.”

Pernyataan sekaligus pandangan politik Sharon inilah yang didukung penuh oleh AS hingga kini, bukan saja secara politis, tetapi juga secara keuangan dan militer (Adian Husaini, 2005). Bahkan Hillary Clinton menjelang dilantik sebagai Menlu AS menyatakan bahwa Israel adalah negara sahabat utama AS dalam memperkuat peran internasionalnya di Timur Tengah.

Keempat, dalam berbagai forum internasional, AS selalu mewacanakan perang melawan teror(isme). Bahkan AS dan sekutunya (seperti Israel, Inggris) kerap menamai pejuang muslim seperti HAMAS di Palestina yang mempertahankan negara dan membela warga sipilnya dari penjajahan Israel (juga sekutunya), serta negara-negara yang berseberangan dengan kebijakan AS dan sekutunya seperti Bolivia, Iraq (menjelang akhir era Sadam Husein), Iran (era Ahamdinejad), Turki dan negara lain sebagai “teroris”, “militan”, “fundamentalis” dan serupanya.

Dunia internasional menyaksikan dengan sangat terbuka bagaimana AS dan sekutunya meluluhlantahkan Iraq—dengan alasan adanya senjata pemusnah massal yang mengancam keamanan dunia internasional, suatu tuduhan yang hingga kini tak terbukti. Namun apakah ada pemimpin negara atau tokoh yang berani menyebut AS dan sekutunya sebagai negara agresor dan teror selain Mahatir Muhammad, Erdogan, Ahmadinejad, Hugo Cavez, Usama bin Laden, Noam Chomsky dan sebagainya?

Kelima, dalam majalah Newsweek, Special Davos Edition, December 2001-February 2002, Francis Fukuyama juga mencatat, “Islamis radikal, yang tidak toleran terhadap semua bentuk keragaman dan suara yang berbeda, telah menjadi kaum fasis di zaman kita. Merekalah yang sedang kita lawan.”

Jika istilah yang disebutkan Fukuyama merupakan musuh utama Barat saat ini, sehingga layak diperangi bahkan diperlakukan seperti binatang—sebagaimana yang dilakukan oleh AS dan sekutunya terhadap ribuan tahanan muslim di Guantanamo beberapa tahun lalu—maka tentunya perlu didefinisikan dulu siapa dan negara mana saja; dan apakah definisi yang disematkan tersebut berlaku untuk semua orang, kelompok dan negara; atau menggunakan standar ganda?

Kita tentu tahu betapa istilah “radikal”, “fundamentalis”, “teroris” dan serupanya yang diwacanakan oleh AS dan sekutunya sangat bias kepentingan; bahkan sangat ditentukan oleh kepentingan yang menguntungkan aspek militer, politik, sosial, budaya dan ekonomi AS dan sekutunya. Bernad Lewis dalam bukunya The Crisis of Islam menyatakan, bahwa fundamentalis Islam adalah jahat dan berbahaya, dan menyebutkan bahwa fundamenalis anti Barat.

Definisi Lewis yang beraliran politik konservatif inipun tentu sangat bias dan kenyal untuk diterapkan bagi siapa saja yang mengkritik dan berbeda dengan AS dan sekutunya. Padahal AS dan sekutunya sendiri yang kerap “menumbuhkan” bahkan menjadi “biang” munculnya berbagai tindakan teror. Bahkan AS kerap menjadi negara pendukung munculnya pemimpin otoriter dan represif di berbagai negara. Namun lagi-lagi, istilah “radikal”, “fundamentalis”, “teroris” dan serupanya selalu disematkan kepada kelompok muslim dan negara-negara muslim juga negara yang berbeda dengan kebijakan AS.

Keenam, mengaitkan “terorisme” dengan “fundamentalisme agama” juga memang selalu tidak tepat. Rezim-rezim biadab di berbagai belahan bumi seperti Rezim Reza Pahlevi, Marcos, Apartheid Afrika Selatan, Augusto Pinochet, dan sebagainya bukanlah pengikut “fundamentalis”. Mereka adalah rezim sekuler. Rezim di Israel yang kejam dan biadab seperti Ariel Syaron dan Benjamin Nyetanyahu juga bukan pengikut Yahudi Fundamentalis atau Yahudi Ortodoks, melainkan rezim yang lahir dan bertumbuh dari kalangan Yahudi Sekuler.

Peter Beyer dalam bukunya “Religion and Globalization” (1994) mengungkapkan, George W. Bush yang begitu kejam membunuh anak-anak dan warga sipil lainnya di Afganistan, Irak dan di berbagai negara juga tidak secara tegas mengaku dirinya sebagai fundamentalis Kristen, mesti pada kenyataannya Bush merupakan aktivis hidup dalam lingkungan fundamentalis Kristen alias Kristen Sayap Kanan (The New Cristian Right/NCR) yang mulai dikenal pada tahun 1970-an yang bertujuan untuk mendirikan agama Kristen tradisional, yang sangat konservatif dalam mengambil peran penting bahkan mendominasi kebijakan politik AS.

Namun lanjut Peter, Bush disebut sebagai pemimpin dunia paling sukses memerangi teroris dari kalangan radikal dan fundamentalis Islam, padahal Bush-lah sejatinya yang layak disebut sebagai teroris radikal dan fundamentalis Kristen.

Anehnya lagi, ketika tindakan pembunuhan massal dilakukan oleh AS dan sekutunya maka tidak akan pernah tersentuh oleh hukum internasional. William Oltmans, misalnya, mengungkapkan, tahun 1992, Ramsey Clark, Jaksa Agung AS di masa Lyndon B. Johnson, menerbitkan laporan setebal 325 halaman berjudul “The Fire This Time”. Di bawah sub judul “US War Crimes in the Gulf”, Clark menceritakan, ia sedang berada di Bagdad (Iraq) saat bom presisi yang dikendalikan laser ditembakkan ke tempat-tempat perlindungan warga sipil dan membunuh ribuan perempuan dan anak-anak. Bahkan pada tahun 1991, Angkatan Udara AS menjatuhkan 88.000 ton bom di Iraq, jumlah bom yang setara dengan 7 kali lipat dengan yang dijatuhkan di Hiroshima Jepang, dengan korban nyaris tak terhitung.

Lalu, apakah dengan begitu dunia internasional menyebut Bush sebagai teroris radikal dan fundamentalis Kristen, atau AS dan sekutunya sebagai negara teroris radikal dan fundamentalis Kristen?

Tidak cukup itu, bahkan tokoh-tokoh Kristen yang melakukan pembunuhan dan tindakan terorisme di Serbia, atau Timothy McVeigh yang membom gedung WTC di Oklahoma tahun 1996 dan Presiden AS Lyndon B. Johnson—ketika menginvansi Vietnam—juga tidak disebut sebagai teroris atau fundamentalis Kristen, padahal ia (baca: Johnson) merupakan tokoh yang kerap menyumbang dana dan gagasan radikal dalam berbagai misi invansi ke negara lain dalam bentuk perang.

Begitulah sebagian paradoks “terorisme” dan serupanya yang sering diwacanakan oleh negara-negara Barat seperti AS dan sekutunya beberapa tahun terakhir. Bahkan menurut Mark Jurgensmayer (dalam bukunya The New Cold War? Religious Nationalism Confronts the Secular State), terorisme yang diwacanakan negara Barat terutama AS dan sekutunya, konotasinya jelas selalu buruk dan disematkan kepada kelompok muslim (seperti HAMAS di Palestina) dan negara-negara Muslim yang berbeda dengan kebijakan negara-negara Barat, terutama AS. Wacana tersebut sangat peyoratif dan tentu saja sangat bias pemahaman keagamaan dan kepentingan negara pemilik wacana seperti AS itu sendiri.

Di atas segalanya, sebagai bagian tak terpisahkan dari warga dunia atau percaturan global, kita didesak untuk tidak begitu mudah terjebak pada jebakan kekuatan global dalam berbagai wacana yang “menyesatkan”. Betul bahwa sebagai negara yang menganut politik bebas aktif, kita bersepakat bahwa tindakan teror adalah tindakan yang patut kita lawan secara kolektif dan masif. Namun keliru atau bahkan penggunaan standar ganda dalam memahami dan menindaklanjuti wacana tertentu seperti istilah “radikal”, “fundamentalis”, “teroris” dan serupanya tanpa pertimbangan dan pandangan mendasar, adil dan objektif adalah bahaya lain yang tak kalah berbahayanya dengan tindakan teror itu sendiri. Bukan kah tindakan selalu tercipta di alam pikiran? Lalu, kapan wacana paradoks tersebut menghilang dalam ingatan, pikiran dan sikap kita?

Akhirnya, hegemoni wacana memang mesti dilawan dengan setimpal. Bahkan dalam konteks yang lebih berani, memilih bersikap lantang (tanpa tindakan teror ala negara-negara Barat) seperti ungkapan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad menjadi penting. Mahatir mengatakan, “jika karena membela diri dari penjajah asing dan berlaku adil, objektif dan toleransi kepada sesama umat manusia itu disebut radikal, fundamentalis dan teroris, maka orang-orang waras Melayu perlu mendeklarasikan dirinya secara terbuka sebagai manusia radikal, fundamentalis, bahkan teroris”. [Oleh: Syamsudin Kadir—Penulis adalah Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s