Penulis Cirebon Menggoyang Cirebon

Kang Kadir (yang berpeci hitam) bersama Pegiat 'Cirebon Membaca, Cirebon Menulis' pada acara Talkshow Kepenulisan dan Bedah Buku
Kang Kadir (yang berpeci hitam) bersama Pegiat ‘Cirebon Membaca, Cirebon Menulis’ pada acara Talkshow Kepenulisan dan Bedah Buku

HARI ini, Sabtu 19 Juli 2014 bertepatan dengan 21 Ramadan 1435 H adalah salah satu hari bersejarah bagi masyarakat Cirebon. Bersejarah,,,, kok bisa?

Emang berlebihan juga sih. Tapi memang mesti begitu, harus kreatif dan bombastis. Mesti melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Itu baru namanya luar biasa, mantap!

Terus, gimana ceritanya nih? Coba, coba perjelas aja deh… Biar tidak makin penasaran. Ada apa? Mengapa hari ini mesti menjadi hari sejarah bagi masyarakat Cirebon? Dan, kok bisa ya?

Nah… nah, mulai penasaran kan? Bagus, bagus…. Asal jangan marah aja ya,,,, Atau marah juga boleh, biar kamunya cepat tua he he he.

Oke kembali ke soal “menggoyang”…. Tapi ini bukan cerita ya, hanya ngabarin aja. Tapi bukan kaya wartawan githu… Intinya, kamu baca aja deh, nanti kamu sendiri akan tahu apa yang kamu dapatkan dari tulisan ini. Oke oke,,, agak maksa nih.

Ya, hari ini komunitas “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis” kembali mengadakan satu acara yang oke punya. Tepatnya acara Talkshow Kepenulisan dan Bedah Buku “Spirit To Your Success”.

2Acara yang diadakan di kantor pusat Komunitas “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis” yang beralamat di Komplek Perumahan Griya Sunyaragi Permai (GSP) Jl. Jati III Blok Q No. 22, Karya Mulya, Kesambi, Cirebon, dan dihadiri oleh pegiat Komunitas “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis” ini memang “spesial”.

Mengapa? Karena selain acaranya diadakan di hari ke-21 Ramadan, acara ini juga dihadiri oleh peserta dengan berbagai latar belakang, dari siswa hingga mahasiswa; bahkan masyarakat umum; dan yang tak kalah okenya, acara ini diadakan komplek perumahan yang dihuni oleh para pejabat dan pengusaha juga orang-orang ternama di Cirebon.

Tidak cukup di situ, antusias para peserta untuk mengikuti acara yang dimulai sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini cukup membuat acara ini semakin oke punya. Apalagi pemateri yang sudah menerbitkan beberapa buku seperti Spirit To Your Success, Ngopi: Ngobrol Politik dan Demokrasi, dan beberapa buku lainnya menggunakan metode “obrolan”, membuat suasana semakin menambah semangat peserta, bahkan diskusi ramai dan nyaris tak terbendung. Sampai ada yang ngantuk he he he.. (Hayo bubur, eh maksudnya hayo jujur..!)

3Kok bisa begitu ya? Dengarin ceritanya ya … Fokus fokus, kembali ke urusan “menggoyang”.
Bismillah, acara pun dimulai. Sebagai awalan, seluruh peserta mengenalkan dirinya masing-masing; dari nama, asal, hoby, cita-cita dan serupanya. Ada Mas Riza, Mas Irfan (Ipang), Mba Nita, Mba Putri, Mba Yuli, Mba Fitri dan siapa lagi ya? Oh iya, jadi lupa diri, Azka Syakira.
Terus, siapa lagi…? Nambahin sendiri aja ya… Atau buat tulisan seputar acara tadi juga boleh kok.

Alhamdulillah dengan saling mengenal, semuanya saling memahami dan tentu saja menghangatkan acara yang asing ini. “Tak kenal, maka tak paham”, begitu kata pembawa acara mengawali acara hari ini.

Kini langsung masuk ke acara inti. Inti…? Ya iya-lah, masa iya dongkol… Emang masbuloh? He he he.

Acara pertama berupa Talkshow Kepenulisan yang mengambil tema “Ayo Nulis, Kalau Sekadar Mengeong, Kucingpun Bisa!” langsung disampaikan oleh Kang Kadir (sapaan akrab Syamsudin Kadir).

1.1Sekadar informasi, Kang Kadir merupakan Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Direktur Komunitas “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”, Narasumber acara Selamat Pagi Cirebon di Radar Cirebon TV, Penulis lepas untuk kolom opini dan wacana di berbagai surat kabar seperti Radar Cirebon, Kabar Cirebon dan lain sebagainya.

Pada bagian awal suami Mba Uum (sapaan Mba Uum Heroyati) ini menyampaikan materi dengan judul “Menulis itu Bebas”. Intinya ia menyamapikan motivasi seputar kepenulisan. Misalnya, “Kalau sekadar mengeong, kucing pun bisa”. Pesannya, kalau hanya mau menulis tapi tidak segera memulai aktivitas menulis, sama saja dengan kucing. Agak “kasar” memang, namun intinya bukan di situ, tapi pada semangat atau motivasinya. Bahwa menulis pada dasarnya bisa dilakukan oleh siapapun, lintas jenis kelamin, agama, suku, profesi dan sebagainya.

Kemudian eks wartawan sebuah majalah lokal dan penulis di salah satu majalah yang berpusat di kota Bandung ini menyampaikan over view seputar kepenulisan, seperti menulis itu apa, apa saja kendala dan peluang menulis, modal menulis dan seabrek seputar kepenulisan kepada para peserta. Intinya seputar kepenulisan, termasuk pengalaman Kang Kadir sendiri selama sekian tahun dalam dunia literasi.

Selanjutnya, Ayah dari Azka Syakira dan Bukhari Muhtadin ini, menyampaikan juga seputar alasan atau mengapa mesti menulis, dengan cara “ngobrol” santai dengan peserta. Ia menyampaikan “Kita menulis paling tidak karena dan untuk beberapa hal berikut: membangun peradaban, menaklukkan dunia, mewarisi warisan para ulama, mengikat dan mematangkan ilmu, memanjangkan usia, ekspresi jiwa dan perasaan, curahan hati, membagi inspirasi, mengkomunikasikan sesuatu, menguji kapasitas, mencerdaskan publik, bukti membaca, memperkaya diri, dan lain sebagainya”.

Setelah itu, Kang Kadir yang tulisannya kerap dimuat di kolom wacana Radar Cirebon ini menyampaikan bahwa menulis itu bebas. Mengapa?

Menurut Kang Kadir Menulis itu Bebas, karena menulis tak perlu serius-serius, bebas aja. Coba perhatikan saja penjelasan Kang Kadir dalam handout yang dibagikan kepada peserta. “MENULIS: Melepas resah, duka, sakit; Eksploitasi rahasia inspiratif; Nurutin pengalaman keluarga; Ukir ulang kisah sahabat; Lingkungan unik; Ide orsinal diri; Sejarah masa lalu.” Lalu, “BEBAS: Bicara dengan kata hati; EYD sejenak lupakan; Bekukan sistematika; Aturan titik koma, simpan saja!; Susah-gampang, nulis!”

Cukup membuat peserta sedikit bingung, namun begitulah cara Kang Kadir membongkar cara berpikir kebanyakan orang selama ini bahwa menulis mesti begini, menulis harus begitu. Dengan rumusan semacam itu, menulis menjadi sesuatu yang menakutkan banyak orang. Padahal menulis adalah aktivitas santai dan membahagiakan banyak orang. Syaratnya: menulis bebas, tak terjebak aturan ini, aturan itu.

Sesi selanjutnya, adalah diskusi alias tanya-jawab. Inti pertanyaan peserta hampir sama, yaitu bagaimana kiat menulis agar menghasilkan tulisan yang oke punya alias layak dipublikasi. Kemudian bagaimana tips atau langkah menghadapi rasa malas dan kondisi “bete”, bosan dan serupanya. Baik cerpen, novel, artikel atau serupanya.

Dengan gaya khasnya, yang tentu saja sedikit kocak, Kang Kadir dengan berbagi pengalamannya selama ini begitu semangat berbagi kepada para penanya sekaligus peserta. Pada intinya kata penulis yang kadang gila “baca-tulis” ini, menulis itu seperti bernafas, tak perlu sibuk bertanya kapan bernafas; mengalir atau berjalan saja apa adanya. Jangan terjebak pada tantangan dan kendala, fokuslah menulis. Selain itu, jangan terpengaruh oleh komentar pembaca. Jadikan komentar sebagai sumber inspirasi untuk terus menulis, bukan sebagai pisau yang membunuh kreatifitas. Jangan terjebak dengan sistematika dan gaya tulisan, cukup fokus menulis. Nanti akan rubah sendiri, dan hasilnya akan terasa juga.

“Percayalah bahwa menulis itu aktivitas yang menyenangkan”, kata penulis buku “Ngopi” ini. “Mari goyangkan Cirebon dengan pena atau karya kita,,, Suatu saat biarlah media memberitakan, misalnya “Penulis Cirebon Menggoyang Cirebon”, lalu kita semua duduk santai sambil minum air putih kemudian berkata ‘mantap’ juga tuh he he he” lanjutnya.

Kini azan Zuhur pun mengumandang. Ini pertanda acara segera diakhiri. Acara pun ditutup dengan membaca alhamdalah (Alhamdulillah) dan salam-salaman. Tak lupa dengan agenda yang tak kalah pentingnya, “Foto Bareng”. Fasilitator yang juga sebagai Direktur Komunitas “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis” dan para pegiat pun berfoto bareng di depan kantor komunitas.

Begitu kabar saya untuk kamu di luar sana, mudah-mudahan dengan adanya agenda semacam ini bisa menambah semangat masyarakat Cirebon, terutama pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis” dalam menggiatkan dirinya dalam komunitas, termasuk dalam memasyarakatkan budaya baca-tulis dan diskusi di Cirebon. Mari bangkitkan Indonesia dari Cirebon dengan karya nyata, diantaranya dengan menulis: cerpen, novel, buku dan serupanya. Hayo, mari goyang Cirebon dengan mata pena kita, dengan karya tulis kita. Penulis Cirebon menggoyang Cirebon. [Oleh: Azka Syakira—Pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”; Sabtu 19 Juli 2014]

http://mitrapemuda.wordpress.com/2014/08/03/penulis-cirebon-kembali-menggoyang-cirebon/#more-8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s