Mengenang Mohammad Natsir, Negarawan Muslim yang Menyejarah

Mohammad Natsir, Negarawan Muslim yang Menyejarah
Mohammad Natsir, Negarawan Muslim yang Menyejarah

PEMILIHAN presiden (pilpres) untuk periode lima tahunan ke depan telah berlalu. Kini kita, baik sebagai kontesta, pendukung maupun simpatisan didesak untuk bersabar menanti hasil rekapitulasi, sekaligus siap menerima dengan kesatria apapun keputusan KPU sebagai penyelanggara pemilu pada 22 Juli 2014 mendatang.

Sembari menanti, ada baiknya bagi kita untuk mengenang, merefleksi sekaligus mengambil hikmah dari perjalanan hidup dan perjuangan salah seorang tokoh sekaligus pemimpin bangsa ini, Mohammad Natsir.

Selintas Tentang Mohammad Natsir

Mohammad Natsir adalah negarawan muslim, ulama intelektual, pembaharu, dan politikus kenamaan (Bahtiar Effendy, 1998). Bahkan Perdana Menteri yang santun, sederhana dan murah senyum, yang lahir pada 17 Juli 1908 di Alahan Panjang Sumatera Barat ini merupakan salah satu pemimpin yang disegani, baik oleh kawan maupun lawan politiknya (Fachry Ali, 1998).

Pengakuan yang sama disampaikan oleh murid Natsir, Endang Saefuddin Anshari. Endang (1988) mengatakan, Mohammad Natsir adalah seorang guru bangsa, seorang pendidik umat, dan mujahid dakwah, seorang budayawan atau pemikir budaya, seorang ‘alim dengan segala atribut yang melekat dengan gelar itu, seorang politikus terdepan, seorang negarawan terkemuka, seorang tokoh internasional yang dihormati.

Jika kita membuka lembaran hidup Mohammad Natsir (selanjutnya ditulis, Natsir), memang akan menemukan perjalanan hidup yang menarik bahkan bisa saja mencucurkan air mata karena bangga dan terharu. Sebagai dai, Natsir pernah menjadi Ketua Masyumi (1949-1958), Wakil Presiden World Moslem Congress atau Kongres Muslim Sedunia (1967-1993), anggota World Moslem League atau Rabitah al-Alam al-Islami (1969), anggota al-Majlis al-A’la al-‘Alami li al-Masajid atau Dewan Masjid Se-Dunia (1976), dan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia—DDII (1967-masa tua).

Sebagai politisi yang negarawan, Natsir pernah menduduki posisi sebagai anggota kemudian Wakil Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada tahun 1945 dan 1946. Kemudian pada tahun 1946 (Kabinet Syahrir ke-2 dan ke-3) dan 1949 (Kabinet Hatta-1) ia menjadi Menteri Penerangan RI. Pada tahun 1950-1951 mendapat amanah menjadi Perdana Menteri RI. Dalam Pemilu 1955 ia terpilih menjadi anggota DPR. Dan dari tahun 1956 hingga 1958 ia menjadi anggota Konstituante RI.

Jasa Natsir dalam soal terbentuknya NKRI ini sangat besar. Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai “Mosi Integral Natsir”, yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI, yang—menurut Sastrawan Taufik Ismail—juga dikenal sebagai Hari Proklamasi Ke-2 RI.

Walaupun akhirnya pada 7 November 2008 lalu pemerintah resmi menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Natsir, pada dasarnya Natsir bukan tipe pemimpin yang gemar mencari jabatan, gelar dan penghormatan. “Natsir adalah nama untuk seorang pemimpin sekaligus pahlawan yang sukses berkarir dan memimpin yang bertumpu pada prinsip, akal sehat, gagasan, sikap teguh, kesederhanaan, pengorbanan dan penderitaaan sekaligus kesediaan untuk melampaui dirinya” (Anwar Gonggong, 2008).

Sebagai pahlawan, pada dasarnya Natsir bukan hanya pahlawan bagi Indonesia, tapi juga bagi dunia, terutama dunia Islam. Tahun 1957, Natsir menerima bintang ‘Nichan Istikhar’ (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara.

Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi.

Adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia (sekarang Jakarta), sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi. Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di organisasi Persatuan Islam (Persis) di bawah asuhan Ustad A. Hasan.

Kemudian tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.
Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran karya Sayyid Qutbh, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan (Syuhada Bahri, 2007).

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikan dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam (yang berstatus swasta) yang—menurut sejarahnya—hadir juga universitas Islam (yang berstatus negeri seperti STAIN, IAIN dan UIN) karena terinspirasi oleh Natsir.
Dalam catatan saya, setidaknya ada beberapa kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia (UII) di Jogjakarta, Universitas Islam Bandung (Unisba), Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia (BPYPPPI).

Di bidang pemikiran pun tak ketinggalan. Hal ini terbukti pada tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Bahkan hingga kini, pemikiran Natsir masih dikaji dan diteliti di berbagai universitas di Malaysia (seperti ISTAC-IIUM, UKM dan lain-lain), Brunei Darusalam dan Singapura.

Natsir memang bukan sekadar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam dan Indonesia. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam dan kebangsaan. Kebiasaan menulisnya sudah dimulai sejak sekolah di AMS. Pada waktu duduk di kelas IV AMS, misalnya, ia menulis sebuah analisis tentang “Pengaruh Penanaman Tebu dan Pabrik Gula bagi Rakyat di Pulau Jawa”.

Terdorong oleh kemauannya untuk membela dan memberikan pemahaman yang tepat tenang Islam, ia menulis artikel-artikel, seperti Muhammad als Profeet dan Quran Evangelie pada 1929. Pada 1932 ia menulis Kon tot Het Gebed dan Kebangsaan Muslimin. Tahun 1932 ia menulis De Islamietische Vrouw en Haar Recht.

Buku-buku hasil karyanya juga bertebaran. Ada puluhan, bahkan—menurut pengakuan penerus yang mengidolainya Ahmad Sumargono (Alm.)—ratusan buku yang ditulis Natsir, termasuk yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku karya Natsir, misalnya, Fikih Dakwah, Capita Selecta, Kebudayaan Islam, ad-Din au al-Ladiniyyah dan lain sebagainya.

Hikmah dan Tauldan Natsir

Begitu banyak sumbangan dan suri tauladan yang telah ditunjukkan Natsir, sampai kemudian wafat pada 6 Februari 1993 di Jakarta. Singkat kata, perjalanan hidup Natsir adalah kisah perjuangan yang heroik dan penuh makna serta pesan. Seluruh langkah kaki dan desah nafasnya adalah sejarah; sejarah bagi dirinya, bagi umat Islam juga negeri tercinta Indonesia.

Secara sederhana, ada beberapa hikmah dan tauladan yang dapat saya catat dari perjalanan Natsir—tentu di samping masih banyak yang tak berhasil saya catat. Pertama, pemimpin sejati selalu melangkah dalam hiruk pikuk perjuangan, bersikap santun dan terbiasa dengan pola hidup sederhana.

Membaca sejarah Natsir, sama dengan membaca sejarah “anak kampung” yang “melegenda”. Ia rela menjadi kepala keluarga yang sederhana untuk keluarga yang sederhana, namun tak melupakan perjuangannya untuk melanjutkan perjalanan bangsa dan negaranya. Bayangkan saja, ia membuat buletin sekaligus menjadi kontributor juga disributornya. Isi buletinnya bukan soal kecil (semacam fitnah, caci maki, sumpah serapah dan serupanya), tapi tentang masalah keumatan dan kebangsaan yang perlu diselesaikan sekaligus gagasan atau solusi penyelesaiannya. Natsir pun menjadi orang besar dalam kesederhanaannya.

Kedua, pemimpin dan rakyat yang baik, lebih giat berkontribusi dan bekerja daripada berpidato dan berkerumun. Natsir kerap berbeda pendapat dengan Bung Karno. Selain masalah dasar negara yang menyebabkan hubungan keduanya cukup “memanas”, perbedaan pendapat antar keduanya juga hampir dalam berbagai tema.

Perbedaan pendapat tentang Irian Barat (kini Papua), misalnya, menyebabkan hubungan keduanya makin “memanas”. Walau akhirnya sejarah bangsa mencatat bahwa “Mosi Integral Natsir”-lah yang benar-benar menjadi dasar bagi menyatu dan utuhnya berbagai negara yang ketika itu masih berbentuk Negara Bagian ke dalam wadah NKRI.

Selain itu, pada November 1957 terjadi pelemparan granat yang menewaskan anak-anak sekolah, yang terkenal dengan “Peristiwa Cikini”. Natsir “dituduh” hendak membunuh Bung Karno. Satu tuduhan yang tentu saja ditolak oleh Natsir (sebagai seorang pendidik) dan beberapa koleganya seperti Syafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap.

Puncaknya, Ketua Dewan Banteng Kolonel Ahmad Husein (yang baru “dipecat” pemerintah karena mengultimatum pemerintah Juanda agar mengundurkan diri karena dinilai tak mampu menjaga keutuhan NKRI) mengumumkan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) sebagai upaya “penyelamatan” atas NKRI, dengan Natsir sebagai Perdana Menteri-nya. Karena sikap dan pilihan politik semacam ini akhirnya Natsir dianggap “pembangkang” lalu dipenjara dan ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM) Keagungan Jakarta (1962-1966).

Natsir tidak dendam, ia justru memperlihatkan sikap bijaknya terhadap sikap dan keputusan Bung Karno. Sejarah bangsa akhirnya mencatat bahwa sikap dan pilihan politik Natsir semacam itu justru mengokohkan kita hingga kini sebagai sebuah bangsa dalam wadah NKRI.

Ketiga, pemimpin mesti memiliki tradisi intelektual yang kuat dan mengakar berupa baca, tulis dan diskusi. Sejarah bangsa ini tentu mengakui bagaimana pandangan para pendiri bangsa, semuanya dibangun di atas argumetasi, rasionalitas dan tentu saja dapat dipertanggungjawabkan.

Bung Karno, Hatta, Syahrir, Natsir, Agus Salim dan tokoh-tokoh yang lain memiliki gagasan-gagasan jenial tentang dan bagi kepentingan bangsa dan negaranya. Namun mereka mampu mencari titik temu berbagai perbedaan itu dengan artikulasi yang mencerdaskan melalui perdebatan di berbagai forum. Perdebatan yang kerap mereka suguhkan pun selalu “berisi” dan terdokumentasikan dengan baik, tentu saja dengan jari mereka sendiri—dan sebagainnya oleh tinta sejarah bangsa ini.

Natsir sendiri terbiasa membaca dengan menghabiskan tiga sampai lima buku dalam berbagai bahasa di setiap harinya. Selain itu, ia juga kerap menulis dan mengirim surat kepada Bung Karno juga koleg-koleganya di dalam dan di luar negeri di setiap pekannya.

Jadi, Natsir ingin menegaskan bahwa pemimpin mesti selalu meningkatkan pengetahuannya, tidak “cengeng” dengan ujian hidup serta siap menerima konsekwensi atas sikap dan pilihan politiknya. Bagi Natsir, pemimpin mesti gigih dan tak kenal lelah untuk berjuang dengan segala yang dimilikinya, termasuk dengan menulis.

Akhirnya, Nastir memang telah dipanggil Sang Kuasa (Allah) mendahului kita, namun semangatnya untuk membangun jiwa dan raga penghuni bumi pertiwi ini takkan lekang dihempas zaman.

Terima kasih Natsir, semoga ungkapan bijakmu “Jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut” yang terrekam dalam buku Percakapan Antar Generasi (1987) selalu menjadi inspirasi dan penyemangat bagi kami, seluruh anak bangsa, yang hidup di era ini dan di masa depan. Karena kami hadir untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh para pendahulu, para pendiri bangsa. [Oleh: Syamsudin Kadir—Penulis adalah Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis buku NGOPI: Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia (Catatan Sosial-Politik), Narasumber acara Selamat Pagi Cirebon (SPC) di Radar Cirebon Televisi (RCTV), Pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”. Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Mengenang Mohammad Natsir, Negarawan Muslim yang Menyejarah (Refleksi Hari Lahir Mohammad Natsir 17 Juli 1908)”, dimuat di Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 4, Rabu 16 Juli 2014].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s