Memaknai Kehangatan Sang Ibu

Aku dan Ibuku
Aku dan Ibuku

SEORANG ibu memang bukan manusia sempurna. Ia pun bukan manusia super. Ia hanyalah manusia biasa, seperti yang semua kita saksikan pada sosok ibu kita masing-masing. Mungkin ada banyak ibu yang punya posisi penting dalam sebuah jabatan, dalam karir, dalam peran sosial, atau dalam organisasi, tapi sebagai anak kita tetap mengenalnya sebagai ibu rumah tangga yang memberi kehangatan dan perhatian pada keluarganya, dengan caranya sendiri.

Ya, sebagai apapun itu, ibu, dalam kehidupan kita, adalah sumber inspirasi yang tiada batas. Ia mengenalkan kita pada banyak hal. Ia memberi kita sesuatu lebih dari sekadar yang kita butuhkan. Ia menyayangi kita lebih dari sayangnya ia pada dirinya sendiri. Ia adalah sumber kehangatan yang tak punya tandingannya.

Kehangatan Cinta yang Tak Memiliki Batas

Kehangatan pertama yang kita dapat dari seorang ibu adalah cinta dan kasih sayangnya. Cinta dan kasih sayang yang tak pernah pudar dan berkurang, dari kita masih di dalam rahimnya, hingga kita bahkan telah beranak pinak dan tak lagi tinggal bersamanya. Jika pun ada yang terasa berjarak, ia bukan karena cintanya berkurang. Melainkan karena kita yang merasa tak perlu lagi disayangi seperti waktu kecil dulu, atau kadang karena kita lemah dalam memahami bahasa cintanya.

Hangatnya cinta seorang ibu tak memiliki batas. Ia menjalar di sepanjang kehidupan kita, menemani setiap fase pertumbuhan yang kita lalui. Dari sanalah seharusnya kita belajar, bagaimana kita memiliki dan memberi cinta dalam kehidupan kita, dan menularkan kehangatannya. Tidak saja kepada anak-anak dan keluarga kita, tetapi juga untuk siapapun di luar sana.
Namun, sebagai anak kita tak selalu bisa memetik makna dan praktik cinta dari ibu. Di antara manusia, ada orang yang tak mampu meresap hangatnya cinta seorang ibu, seperti yang telah diberikan kepadanya sejak masih kanak-kanak hingga ia dewasa bahkan tua. Jangankan untuk diberikan kepada orang lain, bahkan kepada ibunya sendiri saja kadang tidak bisa.

Kehangatan Daya Tahan yang Tak Mengenal Kata Pamrih

Dari kehidupan seorang ibu, kita juga belajar daya tahan. Bahwa perjuangannya merawat dan membesarkan kita dari bayi hingga dewasa, bukan pekerjaan yang ringan. Tetapi sebuah tanggung jawab yang penuh dengan penderitaan dan kesulitan, yang nyaris tak pernah putus. Entah dari mana ia mengambil kekuatan itu, sehingga ia berhasil melewati rumitnya kerewelan kita, kemanjaan kita, kenakalan kita, ketidakberdayaan kita untuk sekadar memenuhi keperluan-keperluan kita sendiri, hingga terkadang dengan begitu beratnya ia mencari nafkah untuk kebutuhan pendidikan kita, untuk masa depan kita.

Daya tahannya adalah sebuah kehangatan yang menemani setiap detik pertumbuhan kita sampai menemukan titik dewasa bahkan tua seperti yang kita alami sekarang ini. Dan kalau kita mau menyadari, bersama waktu sesunguhnya kita disuguhkan sebuah pelajaran berharga dari ibu akan kehangatan daya tahan itu, agar kita juga bisa berbagi kepada anak-anak kita, kepada orang-orang di sekitar kita, bagaimana menaklukkan kesulitan, bagaimana menudukkan beban, untuk kemudian mengubahnya menjadi sebuah kebanggaan dan kepuasan jiwa.

Masalahnya, kita seringkali gagal belajar darinya. Kita sering gagal belajar dari keistimewaan sang ibu. Sehingga kita tak mampu membagi kehangatan daya tahan, kepada anak-anak kita, bahkan terhadap ibu kita sendiri, juga kepada banyak orang di luar sana.
Ibu adalah manusia yang telah melakukan segalanya untuk kita, anak-anaknya, memberi sentuhan kehangatan daya tahan, dalam diam dan derasan rasa sakit, tanpa pamrih, tanpa mengharap balas, walau dalam penderitaan sekalipun.

Kehangatan Maaf yang Tak Pernah Tertunda

Tidak sekadar cinta dan daya tahan, ibu juga selalu memaafkan. Ibu mungkin manusia paling pemaaf yang pernah kita temui di dunia ini. Bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahannya, ia kadang berkata, “Maafkan Ibu, Nak. Ibu belum bisa memberi kamu ini dan itu. Sekali lagi, maafkan Ibu”.

Pada maafnya itu, ibu adalah manusia yang tak pernah menyimpan dendam, betapapun kita sering menyakiti dan berbuat salah kepadanya. Langkah dan hidupnya selalu disertai pemaafan yang hangat kepada kita yang terkadang bersikap sok, angkuh dan tak tahu diri terhadapnya. Doanya tetap mengalir deras untuk kebaikan kita, walaupun kita sering menyakitinya dengan sikap, ucapan dan mimik wajah yang tak ramah kepadanya.
Sungguh, ibu adalah seorang yang sangat hangat dengan maaf-maafnya kepada kita anak-anaknya. Mari kita belajar, bahwa hidup ini seharusnya kita lalui dengan sikap memaafkan. Bahwa dalam sifat pemaaf ada kehangatan yang menghadirkan kebahagiaan. Ada kehangatan yang mengilangkan segala beban, dengan siapapun kita berinteraksi.

Seorang ibu yang Allah karuniakan kepada kita, adalah seorang guru yang paling sempurna, yang mengajarkan kepada kita bagaimana kita tak layak berlama-lama menyimpan dendam dan rasa kesal, terhadap siapapun. Kita harus senantiasa bisa memberi kehangatan maaf, layaknya seorang ibu.

Kehangatan Dekapan yang Tak Kenal Lelah

Tak ada dekapan seindah dekapan ibu. Di dalamnya kita menemukan segala kenyamanan. Lihatlah, bayi yang menangis bisa segera reda dalam dekapan ibunya. Rasakanlah, bahwa rasa takut akan segera lenyap jika didekap ibu. Pun rasa sakit, bisa terasa lebih ringan dan lebih cepat membaik bila sudah berada dalam dekapan ibu. Kita tentu pernah merasakan itu saat kita masih kecil dulu.

Kehangatan dekapan seorang ibu sangatlah luar biasa. Tidak saja untuk anaknya yang masih kecil, bahkan kita tetap selalu merindukannya, meskipun kita telah dewasa. Dan itulah karunia Allah dari seorang ibu yang tak boleh dilupakan. Itu pula yang seharusnya mengingatkan kita untuk tidak mengabaikan ibu, bagaimanapun keadaannya.

Sebagai anak, terkadang kita hanya bisa menerima ibu saat ia masih sehat dan kuat. Tapi tidak pada saat dia sudah tak berdaya. Terkadang kita merasa memerlukan ibu saat tenaganya masih dibutuhkan, tapi tidak ketika ia telah lemah ingatan. Dia yang sudah memberikan kita dekapannya sejak kita kecil, seringkali kita tidak mampu memberinya kehangatan dekapan kala ia sudah kita anggap sebagai beban.

Dekapan seorang ibu tak pernah mengenal batas. Bahkan ketika ia tak lagi mampu merengkuh kita, dia akan memperlakukan anak-anak kita seperti kita. Sehingga, sebuah kehilangan besar jika kehilangan dekapan seorang ibu. Dan sebuah kesalahan besar, jika kita tak mampu memberikan kehangatan padanya, saat ia sudah tak berdaya lagi.

Kita tentu saja berharap, semoga Allah senantiasa menyadarkan kita, bahwa seorang ibu adalah manusia paling istimewa yang kita punya. Dan, ketika ia telah pergi meninggalkan kita karena dipanggil Sang Kuasa (Allah), maka kita tak akan pernah mendapat gantinya, selamanya. Karena ibu memang khusus dan unik dengan segala keistimewaannya. Kewajiban kita kini adalah mendoakannya, menjaga suaminya (yang tentu saja ayah kita), menjalin silaturahim dengan sahabat, kerabat dan keluarga besarnya. Agar di sana, ibu semakin bahagia.

Namun, jika kini ibu masih membersamai kita, di dunia ini, maka berikanlah ia selalu hangatnya cinta dan kasih sayang kita, maaf dan daya tahan kita, selagi kita masih bisa memberinya semampu kita. Agar ibu dan kita bahagia di dunia juga di akhirat kelak.

Di atas segalanya, sampaikan dengan tulus pernyataan ini kepada ibu kita, “Ibu, aku mencintaimu seperti aku mencintai surga. Semoga Allah mencium ibu dengan rindho-Nya di tanam surga-Nya yang terindah kelak!” [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”. Cirebon, Kamis 10 Juli 2014/12 Ramadan 1435 H]

One thought on “Memaknai Kehangatan Sang Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s