Arsip | Juli, 2014

Menginfakkan Harta Yang Dicintai

20 Jul
Sedekah Harta yang Paling Dicntai

Sedekah Harta yang Paling Dicintai

DALAM al-Qur’an Allah berfirman, yang artinya, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian yang sempurna, sebelum kamu infakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan siapa saja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran: 92).

Alkisah, tatkala ayat ini turun, para sahabat ikut mendengarkannya. Di antara yang paling tersentuh ialah Abu Tholhah, yang memiliki kekayaan yang melimpah ruah. Salah satu kekayaan yang paling disukainya adalah kebun kurma yang terletak di Bairuha, berdekatan dengan masjid Madinah yang kerap disinggahi Rasulullah Saw.

Suatu ketika, Rasulullah Saw datang lagi ke tempat itu, dengan serta merta Abu Tholhah menemui Rasulullah Saw sambil berkata: “Ya Rasulullah, aku ingin mengamalkan wahyu illahi itu. Kekayaan yang paling aku cintai, ialah kebunku di Bairuha. Aku serahkan dan aku kuasakan kepadamu untuk menyerahkannya kepada siapapun yang patut menerimanya.” Baca lebih lanjut

Penulis Cirebon Menggoyang Cirebon

19 Jul
Kang Kadir (yang berpeci hitam) bersama Pegiat 'Cirebon Membaca, Cirebon Menulis' pada acara Talkshow Kepenulisan dan Bedah Buku

Kang Kadir (yang berpeci hitam) bersama Pegiat ‘Cirebon Membaca, Cirebon Menulis’ pada acara Talkshow Kepenulisan dan Bedah Buku

HARI ini, Sabtu 19 Juli 2014 bertepatan dengan 21 Ramadan 1435 H adalah salah satu hari bersejarah bagi masyarakat Cirebon. Bersejarah,,,, kok bisa?

Emang berlebihan juga sih. Tapi memang mesti begitu, harus kreatif dan bombastis. Mesti melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Itu baru namanya luar biasa, mantap!

Terus, gimana ceritanya nih? Coba, coba perjelas aja deh… Biar tidak makin penasaran. Ada apa? Mengapa hari ini mesti menjadi hari sejarah bagi masyarakat Cirebon? Dan, kok bisa ya?

Nah… nah, mulai penasaran kan? Bagus, bagus…. Asal jangan marah aja ya,,,, Atau marah juga boleh, biar kamunya cepat tua he he he. Baca lebih lanjut

Mengenang Mohammad Natsir, Negarawan Muslim yang Menyejarah

16 Jul
Mohammad Natsir, Negarawan Muslim yang Menyejarah

Mohammad Natsir, Negarawan Muslim yang Menyejarah

PEMILIHAN presiden (pilpres) untuk periode lima tahunan ke depan telah berlalu. Kini kita, baik sebagai kontesta, pendukung maupun simpatisan didesak untuk bersabar menanti hasil rekapitulasi, sekaligus siap menerima dengan kesatria apapun keputusan KPU sebagai penyelanggara pemilu pada 22 Juli 2014 mendatang.

Sembari menanti, ada baiknya bagi kita untuk mengenang, merefleksi sekaligus mengambil hikmah dari perjalanan hidup dan perjuangan salah seorang tokoh sekaligus pemimpin bangsa ini, Mohammad Natsir.

Selintas Tentang Mohammad Natsir

Mohammad Natsir adalah negarawan muslim, ulama intelektual, pembaharu, dan politikus kenamaan (Bahtiar Effendy, 1998). Bahkan Perdana Menteri yang santun, sederhana dan murah senyum, yang lahir pada 17 Juli 1908 di Alahan Panjang Sumatera Barat ini merupakan salah satu pemimpin yang disegani, baik oleh kawan maupun lawan politiknya (Fachry Ali, 1998). Baca lebih lanjut

Memaknai Kehangatan Sang Ibu

11 Jul
Aku dan Ibuku

Aku dan Ibuku

SEORANG ibu memang bukan manusia sempurna. Ia pun bukan manusia super. Ia hanyalah manusia biasa, seperti yang semua kita saksikan pada sosok ibu kita masing-masing. Mungkin ada banyak ibu yang punya posisi penting dalam sebuah jabatan, dalam karir, dalam peran sosial, atau dalam organisasi, tapi sebagai anak kita tetap mengenalnya sebagai ibu rumah tangga yang memberi kehangatan dan perhatian pada keluarganya, dengan caranya sendiri.

Ya, sebagai apapun itu, ibu, dalam kehidupan kita, adalah sumber inspirasi yang tiada batas. Ia mengenalkan kita pada banyak hal. Ia memberi kita sesuatu lebih dari sekadar yang kita butuhkan. Ia menyayangi kita lebih dari sayangnya ia pada dirinya sendiri. Ia adalah sumber kehangatan yang tak punya tandingannya.

Kehangatan Cinta yang Tak Memiliki Batas

Kehangatan pertama yang kita dapat dari seorang ibu adalah cinta dan kasih sayangnya. Cinta dan kasih sayang yang tak pernah pudar dan berkurang, dari kita masih di dalam rahimnya, hingga kita bahkan telah beranak pinak dan tak lagi tinggal bersamanya. Jika pun ada yang terasa berjarak, ia bukan karena cintanya berkurang. Melainkan karena kita yang merasa tak perlu lagi disayangi seperti waktu kecil dulu, atau kadang karena kita lemah dalam memahami bahasa cintanya. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: