Kepemimpinan Transformatif, Masih Adakah?

Presiden-Wakil Presiden RI 2014-2019?
Presiden-Wakil Presiden RI 2014-2019?

PEMILIHAN Presiden (Pilpres) baru pasca Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tinggal menghitung hari. Ya, Pilpres yang dikontetasi hanya oleh dua pasangan Capres-Cawapres (Prabowo Sobianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla) tersebut akan diselenggarakan pada 9 Juli 2014 mendatang. Di tengah berbagai hiruk pikuk, situasi juga suhu politik yang semakin hangat, publik tentu memiliki harapan besar bahwa para calon kelak ketika memimpin mampu mewujudkan kehendak dan harapan publik selama ini, yaitu negara berdaulat dan rakyat sejahtera.

Kepemimpinan Transformatif
Leader is a dealer in hope. Seorang pemimpin adalah penjual sekaligus pembeli harapan, demikian petuah Napoleon Bonaparte. Pemimpin besar pastilah seseorang yang memiliki karakter yang kuat, punya visi yang mengakar pada kehendak publik, menjadi inspirator dalam setiap situasi, dan—ini yang lebih penting dan mendesak, terutama bagi publik (rakyat) akhir-akhir ini—ia mesti mampu memberi harapan meyakinkan di tengah kesulitan yang mendera bangsa dan negaranya.

Winston Churchill dan Franklin D. Roosevelt mungkin bukan sosok terbesar dalam sejarah. Namun, keduanya adalah figur yang mampu menginspirasi rakyatnya di masa paling sulit yang harus dilalui bangsanya. Chrucill membawa Inggris melewati ganasnya Perang Dunia II, sedangkan Rosevelt menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat ketika “Depresi Besar” sedang melanda negaranya. Rosevelt berhasil menyuntikkan harapan kala harapan menjadi satu-satunya yang tersisa dari bangsanya.

Dalam perjalanan sejarah negeri ini (Indonesia), kita juga mendapatkan suguhan menarik yang patut dikaji lebih mendalam. Lebih-lebih jika kita ingin agar negeri ini ke depan memiliki pemimpin yang lebih autentik, bukan saja dalam hal keterpilihannya tapi juga kinerjanya, maka mengambil hikmah juga pelajaran dari kepemimpinan masa lalu menjadi niscaya.

Soekarno (Bung Karno), Mohammad Hatta (Bung Hatta), Mohammad Natsir (Pak Natsir) dan para tokoh besar lainnya adalah sosok-sosok yang mampu memimpin, bukan saja dalam konteks struktur negara tapi juga dalam geo-psikologis masyarakat (rakyat) secara umum. Mereka mampu mengalahkan ego personal demi melompat jauh menjadi pemimpin yang inspiratif, menggelorakan juga membanggakan rakyatnya.

Para pemimpin tersebut—terutama ketiga nama yang disebutkan—adalah model pemimpin negeri ini yang unik. Ekspetasi publik kepada mereka pun bukan mengalir di saat mereka memimpin saja, tapi juga pasca mereka memimpin bahkan hingga kini di saat mereka telah tiada. Mereka pun mampu menjadi pemimpin yang terkenang sepanjang sejarah republik hingga kini. Sebagai pemimpin yang “transformatif”, mereka mampu menapak peran kepemimpinannya dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Tak ada basa-basi atau sekadar membangun citra, yang mereka miliki adalah kontribusi tanpa hiruk pikuk janji. Mereka gemar berbagi inspirasi hingga menggelorakan semangat publik untuk bekerja demi kemajuan bangsa, dan pada saat yang sama mereka tak gemar berpuisi janji, tapi lebih suka mengeja prosa. Merekalah—yang oleh Sastrawan terkenal, Taufik Ismail, menyebut mereka sebagai—tokoh dan pemimpin bangsa yang bukan saja dikenang sejarah, tapi juga mampu melahirkan banyak sejarah.

Dalam konteks momentum memilih pemimpin di era ini, apa yang dilakoni oleh pemimpin besar bangsa ini di masa lalu sejatinya merupakan alarm paling akurat bagi kita bahwa pemimpin itu bukanlah satu nama untuk mereka yang kerap berjanji tapi suka mengingkari; pemimpin itu bukanlah satu panggilan untuk mereka yang begitu pandai memadu citra tapi hanya berbalut kepalsuan.

Sebab, pemimpin adalah satu nama untuk mereka yang tak sibuk dengan janji dan tidak peduli dengan citra diri, karena mereka hanya sibuk membuat pekerjaan dan mengerjakan pekerjaan tersebut, sehingga mereka tercitra sebagai pemimpin yang layak diteladani. Tanpa media massa yang begitu masif mengenalkan mereka ke ruang publik pun, para pemimpin itu tetap saja dikenal dan dikenang oleh sejarah bangsa, termasuk oleh nurani rakyat.

Dalam studi kepemimpinan, politisi-negarawan pasti menerapkan model kepemimpinan tranformasional yang memiliki visi yang kuat dan memasa depan. Pemimpin model ini tidak mudah tersuluh dalam kubangan politik transaksional dengan berbagai jargon ilutif yang bisa jadi hanya branding di media massa demi meraup suara tanpa kejelasan arah. Pemimpin (politisi-negarawan) akan menerapkan model kepemimpinan transformasional dalam memimpin, baik dalam skala individu maupun organisasi (Tichy dan Devanna, 1993).

Bass dan Avolio (1994), dalam buku Improving Organizational Efectiveness through Transformasional Leadership, kepemimpinan transformasional dicirikan oleh The four I’s, kepemimpinan transformasional dicirikan oleh The Four I’s (empat huruf ‘I’). Pertama, idealized influence, rakyat dibuat berdecak kagum, hormat dan percaya. Tidak ada elemen publik (yang benar-benar sesuai nurani publik) yang “menuduh” pemimpinnya sedang melakukan kebohongan publik—termasuk dalam berbagai situasi politik. Autentisitas menjadi mantra yang membuatnya “bersungguh-sungguh” bekerja untuk kepentingan publik.

Kedua, mampu menggelorakan inspirational motivation, menyuntikkan motivasi dan asa pada rakyatnya serta mampu merealisasikan harapan menjadi kenyataan.

Ketiga, intellectual stimulation. Gaya kepemimpinan transformasional kaya akan ide-ide baru, gagasan-gagasan baru juga terobosan yang inspiratif. Sebab sang pemimpin sadar betul bahwa pemimpin adalah leader bukan dealer.
Keempat, individualized consideration, yang mau mendengar keluhan bawahan, bersikap layaknya manusia, dan apa adanya. Dalam arti yang luas, pemimpin tidak membuat benteng pemisah dengan rakyatnya. Ia sadar bahwa diri dan yang dipimpinnya adalah “orang” bukan “orang-orangan”.

Harapan Rakyat
Dalam konteks menjelang Pilpres 9 Juli 2014 mendatang, saya dan tentu saja seluruh rakyat (publik) negeri ini memiliki harapan. Sebagai rakyat, saya berharap agar, pertama, para pemimpin segera berhenti berpuisi dan segeralah membuat prosa. Janganlah menjejali publik dengan bait-bait janji dan harapan atas nama “pengalaman”, “rakyat”, “kemampuan”, “karakter”, “ketegasan”, “mentalitas” dan serupanya yang dipidatokan di berbagai momentum dan panggung. Bagi publik, semua itu adalah “puisi janji”, padahal publik hanya butuh “prosa naratif” yang sangat mungkin mampu ditunaikan kelak.

Bagi saya—sebagaimana rakyat (pemilih) yang lain, memerintah itu bagaikan membuat prosa yang diisi dengan narasi yang “menguraikan” sekaligus “menuntaskan”. Ketika pidato politik hanya menyentuh “langit” elite tapi tak menyentuh “bumi” publik, maka pidato tersebut pun segera masuk dalam kategori puisi janji.

Padahal, memimpin negeri belasan ribu pulau, berratusan juta penduduk dan berbagai permasalahan yang begitu rumit ini membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan teknokrasi yang canggih dan kemampuan pemetaan masalah yang strategis, di samping kematangan yang ditopang oleh pengalaman menyelesaikan masalah-masalah yang nyaris tak terjangkau oleh para pemimpin yang sudah berlalu. Ya, negeri ini tidak sekadar butuh pemimpin yang semata berpengalaman memimpin, tapi juga punya pengalaman memimpin dalam skala luas (nasional).

Hal tersebut menjadi mendesak terutama di tengah-tengah tarik-menarik kepentingan politik dan tuntutan publik yang semakin tinggi akhir-akhir ini, baik dalam skala lokal dan nasional maupun dalam skala internasional.

Kedua, para pemimpin tak mudah menjual nama rakyat dengan berbusa-busa menyebar tema “demi kepentingan rakyat” yang justru menodai hak azasi dan harga diri rakyat. Bagi saya (sebagaimana publik secara umum), pemimpin yang pro rakyat itu bukan sekadar yang kerap menyapa rakyat dengan balutan citra dan kemasan yang serba mengada-ada. Bagi saya, pemimpin pro rakyat adalah pemimpin yang kebijakannya tidak mencekik hak dasar (azasi) rakyat dalam segala aspeknya.

Dengan begitu, menjual nama rakyat demi mendulang suara rakyat tanpa kebijakan yang menginspirasi dan mendayakan potensi rakyat adalah ilusi dan kepalsuan. Kini bukan eranya lagi untuk menjual nama rakyat demi meraup suara rakyat padahal minus autentisitas.
Autentisitas bukan bicara soal simbol, gambar, pernyataan sikap dan pidato juga janji-janji; autentisitas berbicara soal karakter yang merasuk ke dalam jiwa publik, kapasitas inspiratif, akuntabilitas dan tentu saja mampu mewujud—atau paling tidak sangat mungkin terwujud dalam kehidupan publik ketika kelak memimpin.

Di atas segalanya, dalam kondisi menggeliatnya sikap optimisme (di samping sikap pesimisme) publik akhir-akhir ini, publik tentu masih menyimpan pertanyaan sederhana: masih adakah pemimpin transformatif di negeri ini? Sebagai warga negara yang baik, kita (publik) tentu tak boleh lelah menjaga sikap (terutama sikap optimisme) bahwa negeri ini masih menyediakan manusia agung semacam itu. Kita berharap agar negeri ini tidak mandul melahirkan pemimpin yang benar-benar autentik, yaitu pemimpin yang bukan saja “bernama besar” di layar kaca dan naskah pelantikan, tapi—ini yang lebih penting—juga dalam kenyataan hidup berbangsa dan bernegara ketika memimpin.

Pada momentum Pilpres kali ini, saya perlu mengingatkan satu hal bahwa siapapun yang terpilih kelak menjadi pemimpin, sebagai warga negara kita memiliki hak sekaligus kewajiban untuk menyokong dan mendukungnya, termasuk memberi kritik dan interupsi sang pemimpin agar tak lupa amanah, tak ingkar janji dan tak lupa (harga) diri sebagai pemimpin publik (bangsa dan negara).

Hanya dengan begitulah, kita tidak “terjebak” sebagai penagih janji atau autentisitas kepada pemimpin semata, tapi juga menjadi pemilih yang autentik kepada diri kita sendiri sebagai rakyat. Itulah kunci dasar dan utama kepemimpinan transformatif menjadi nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita; dan hanya dengan begitulah ke depan negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang dikenang sejarah dan mampu melahirkan banyak sejarah yang inspiratif dan membanggakan generasi baru di era ini dan di masa depan. Semoga saja begitu! [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Narasumber acara Selamat Pagi Cirebon di Radar Cirebon Televisi (RCTV), Penulis buku NGOPI: Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia. Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Kepemimpinan Transformatif, Masih Adakah?”, dimuat di Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 8, Rabu 18 Juni 2014. Pernah disampaikan ketika menjadi Narasumber pada acara Selamat Pagi Cirebon di RCTV pada Kamis, 12 Juni 2014 dengan tema “Peta Pilpres Menjelang 26 Hari Pilpres”]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s