Lingkungan Politik, Politik Lingkungan

Apa agenda politik lingkungan para Capres-Cawapres?
Apa agenda politik lingkungan para Capres-Cawapres?

KEMARIN (5 Juni 2014 lalu) saya mendapat SMS dari seorang warga biasa—sebut saja namanya Owo. Ia adalah seorang tukang becak yang kerap menanti penumpangnya di gerbang salah satu kompleks perumahan di Jl. Perjuangan Kota Cirebon. Ia berpesan “Mas, kok akhir-akhir ini orang sibuk bicarain politik tapi hanya untuk golongannya sendiri, suka berjanji tapi suka mengingkarinya, katanya pro rakyat tapi kebijakannya menderitakan rakyat….”.

SMS serupa sebetulnya sering saya dapatkan, di samping SMS ajakan para pendukung Capres-Cawapres untuk memilih calonnya, termasuk “kampanye hitam” yang pada intinya menyudutkan salah satu calon. Entah apakah itu benar-benar dari tim sukses para calon, atau hanya pola “kontra politik” kelompok tertentu dalam menghadapi pilpres mendatang, saya tak tahu kepastiannya.

Dari SMS Owo saya terhentak. Bagaimana tidak, ia hanya seorang tukang becak, tapi isi SMS-nya sangat terkait dengan fenomena politik akhir-akhir ini dan tentu saja menyentuh urusan publik. Saya tak tahu, latar belakang Pak Owo (demikian saya menyapanya). Tapi saya terinspirasi darinya untuk berbicara mengenai dua hal penting, yaitu lingkungan politik dan politik lingkungan. Dua hal yang akhir-akhir ini sepertinya menyatu dalam kehidupan kita—walaupun untuk hal yang kedua kadang kita lupakan.

Lingkungan Politik

Sejak akhir 2013 hingga kini (Juni 2014) berbagai media massa, baik elektronik maupun cetak, memberitakan berbagai hal yang tak jauh dari politik. Bahkan iklan di berbagai media massa pun semakin hari semakin menjadi-jadi, semuanya bermuatan politik. Lebih dari itu, bahkan tahun 2014 pun kerap disebut sebagai tahun politik.

Politik, bukan saja masuk dalam sumber pengetahuan ilmu politik seperti buku dan serupanya, tapi juga masuk dalam ruang-ruang rumah warga. Politik bukan saja masuk dalam elemen pelengkap (kebutuhan) rumah seperti TV, radio dan surat kabar, tapi juga masuk dalam kamar tidurnya. Perbincangan suami-istri pun hampir tak jauh dari tema politik.

Tidak cukup di situ. Politik pun menjadi tema hangat di berbagai sudut kota, kampus, pesantren, warung nasi, lapangan futsal, kolam renang, taman kota, warung internet, kereta api, bus angkutan umum dan seterusnya. Singkatnya, politik telah menjadi “konsumsi” atau pembicaraan hampir semua elemen masyarakat. Nyaris tak ada lingkungan yang bebas dari perbincangan bertema politik.

Kini, politik memang menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan publik secara menyeluruh. Entah apakah politik hanya sebagai tema bicara atau sebagai sikap, yang pasti politik telah masuk ke dalam ranah yang dulu ‘haram’ disentuh politik (Cipta Lesmana, 2014).
Pertanyaannya, ketika politik sudah menjadi tema perbincangan di seluruh lapisan masyarakat, apa itu pertanda bahwa politik sudah mampu menghadirkan kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat? Kemudian, apakah itu pertanda bahwa elite (partai) politik sudah mampu mencerdaskan masyarakat?

Dalam konteks yang mungkin saja berbeda dengan pandangan sebagian khalayak, saya ingin mengatakan bahwa “menjamurnya” pembicaraan soal politik tak selalu senafas dengan orientasi dan nilai luhur politik itu sendiri. Politik yang diperbincangkan justru seringkali berbeda jauh dengan politik ketika dipraktikkan.

Sederhana saja, dalam konteks “kritik elite politik”, apakah mereka (baca: elite politik) yang kerap bicara politik itu terbiasa untuk menyimpan sampah—seperti puntung rokok—pada tempatnya? Apakah mereka mau “mem-puasa-kan” dirinya dari kebiasaan merusak kesehatan masyarakat (terutama anak-anak) dengan tidak menyebar asap rokok secara bebas di mana-mana? Apakah mereka tidak malu bicara moralitas tapi jauh dari praktik orang bermoral bahkan kerap merusak lingkungan (publik) dengan berbagai foto, lambang partai dan semacamnya yang ditempel di berbagai pohon yang berada di samping kiri-kanan jalan?

Dengan mengafirmasi beberapa pertanyaan di atas saja, akan diketahui dengan pasti seberapa jernih niat politik para elite dan kita sebagai rakyat terhadap lingkungan dimana kita hidup.
Menurut Pakar Lingkungan Senior, Emil Salim (2013), politik memang “menghidupkan” masyarakat bangsa, namun ia justru “mematikan” dikala ia berwujud dalam perilaku hidup politik yang justru mengotori, merusak bahkan memusnahkan lingkungan yang sehat. Padahal hidup sehat adalah hak azasi manusia bahkan lingkungan itu sendiri.

Politik Lingkungan

5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup. Satu momentum yang sejatinya bukan saja diperingati dengan “ucapan selamat”, tapi mesti dengan sikap dan kerja nyata.
Dalam konteks menjelang Pilpres 2014, sebagai warga negara yang memiliki kewajiban untuk menyukseskannya, kita memiliki hak untuk bertanya—terutama kepada Capres dan para pendukung juga simpatisannya—apa gagasan mereka terhadap lingkungan hidup kita? Apa agenda politik mereka terhadap masa depan lingkungan hidup kita?

Pertanyaan sekaligus gugatan tersebut sangat sederhana, namun ia sangat menentukan daya sekaligus tingkat sensitifitas para Capres (dan para pendukungnya). Autentititas mereka sebagai “pemimpin publik” justru dapat diketahui manakala mereka tak alpa dengan urusan kecil yang berhubungan langsung dengan kehidupan dan lingkungan publik.

Sebagai publik, kita tentu tak butuh bicara panjang-lebar para (calon) pemimpin, kita hanya butuh sikap dan kerja nyata mereka kini dan kelak. Kita sudah tak mau mendengar janji-janji termasuk bicara berapi-api namun urusan yang sangat sederhana dalam kehidupan kita berupa lingkungan yang sehat justru mereka tak hiraukan. Kita tentu tak suka (calon) pemimpin yang suka mengobral janji manis dan janji pembelaan atas kehidupan kita yang baik, namun sebelum dan pasca terpilih mereka justru yang kerap mengingkarinya.

Sebagai warga negara, paling tidak ada beberapa hal yang mesti kita tunaikan sebagai penghormatan atas peringatan Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia kali ini, yaitu, pertama, selalu menjaga kebersihan rumah dan sekitarnya dengan membersihkan sampah atau kotoran sekaligus menyimpannya pada tempatnya yang tepat. Sebab dengan kebiasaan menjaga kebersihan pada tingkat individu akan menjadi “gelombang besar” atau menjadi budaya masyarakat secara keseluruhan. Kedua, pastikan dekat rumah terdapat tanaman bunga. Tak mengapa sederhana, yang penting kita terbiasa untuk “menghijaukan” lingkungan kita. Ketiga, tidak melanggar hak sehat diri, keluarga, tetangga dan masyarakat umumnya dengan menyebarkan asap rokok secara “serampangan”. Bagaimanapun, mendapatkan udara yang sehat adalah hak azasi setiap orang yang tak boleh dilanggar oleh siapapun. Jika kita ingin hak kita tak dilanggar, maka cara yang paling ampuh adalah menghargai hak orang lain. Keempat, menggalakkan gerakan hidup sehat dalam skala kecil hingga besar; dari diri, keluarga, masyarakat hingga negara. Kelima, mendesat Capres-Cawapres (dan pendukung juga simpatisannya) untuk tidak merusak lingkungan dengan menempelkan foto, bendera dan serupanya di berbagai pohon atau lingkungan yang justru merusak pandangan dan keindahan lingkungan. Keenam, mengingatkan pemerintah untuk tak pernah lelah melaksanakan berbagai peraturan yang berkaitan dengan tata kota dan kebersihan lingkungan. Di samping meningkatkan anggaran dalam hal penjagaan lingkungan (hidup) yang sehat dan asri.

Di atas segalanya, dalam konteks Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia yang bersamaan dengan momentum menjelang Pilpres 2014, kita mendesak para Capres-Capres (sekaligus pendukung dan simpatisannya) untuk tidak sibuk berbicara yang “besar-besar” tapi alpa urusan kecil. Mulailah membela masyarakat dari hal-hal yang sederhana, termasuk menghadirkan lingkungan yang sehat, lingkungan yang bebas dari asap rokok yang sudah banyak menimbulkan penyakit bahkan mematikan tak sedikit warga negara, daripada membunuh diri dengan janji-janji politiknya sendiri.

Akhirnya, SMS Pak Owo adalah penting dan mendesak untuk kita renungkan, agar politik semakin asyik untuk diperbincangkan juga semakin terasa dalam konteks kehidupan kita. Mari mencintai masyarakat (pemilih) dengan memantapkan sekaligus mewujudkan lingkungan yang sehat. Sebab di lingkungan sehat itulah masyarakat mampu menunaikan hak sekaligus kewajibannya sebagai warga negara untuk turut serta berkontribusi bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa menuju Indonesia yang adil, makmur, aman, nyaman, tentram, dan sejahtera. Jadilah yang pertama dalam melakukan kebaikan! [Oleh: Syamsudin Kadir (Pemerhati Masalah Sosial-Politik, Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Pegiat “Cirebon Membaca, Cirebon Menulis”, Penulis buku NGOPI: Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia; tinggal di Komplek Perumahan GSP, Karya Mulya, Cirebon-Jawa Barat). Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Lingkungan Politik, Politik Lingkungan”, dimuat di Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 4, Senin 9 Juni 2014]

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s