Ayo Membaca, Temukan Masa Depan Indonesia

Ayo Membaca
Ayo Membaca

16 TAHUN reformasi sejatinya adalah momentum terbaik untuk melakukan pembenahan dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, memiliki peluang menjadi bangsa sekaligus negara yang maju dan layak diperhitungkan bahkan berperan aktif dalam percaturan internasional.

Hal tersebut akan menjadi kenyataan apabila Indonesia memenuhi salah satu prasayarat sebuah bangsa dan negara maju, yaitu menggeloranya tradisi intelektual—salah satunya adalah memasyarakatnya budaya membaca, di samping budaya menulis, diskusi dan penelitian.

Membaca dan Masa Depan Bangsa Kita

Dalam konteks “menemukan” masa depan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara besar yang maju bahkan “berpengaruh” dalam pergulatan internasional, maka ada satu hal yang sejatinya perlu mendapat perhatian serius dan layak kita gelorakan kembali, yaitu budaya membaca.

Membaca adalah kegiatan meresapi, menganalisa, dan menginterpretasi yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media tulisan (Sumber: wikipedia).

Pada teorinya, membaca merupakan sebuah aktivitas yang sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapapun. Namun pada praktiknya, tak sedikit yang sulit melakukannya. Tingkat ketertarikan kita terhadap aktivitas membaca memang sangat variatif. Ada yang sulit, ada juga yang mudah melakukannya. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan, latar belakang sosial maupun aspek internal (individu) kita masing-masing.

Sebagaimana yang sudah dimaklumi, buku—atau media lain yang serupanya seperti majalah, jurnal, surat kabar dan sebagainya—adalah jendela dunia. Untuk mengetahui isinya, maka kita perlu memiliki kemampuan dan kemauan membaca. Agar aktivitas membaca dapat dilakukan dengan baik bahkan bertransformasi menjadi budaya juga kebutuhan, maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu manfaat membaca.

Menurut Instruktur Sekolah Menulis Gratis Mitra Pemuda, Syamsudin Kadir, manfaat membaca di antaranya, pertama, dapat menghilangkan kecemasan dan kegundahan. Kedua, terhalang masuk dalam kebodohan dan keterbelakangan. Ketiga, bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata (komunikasi). Keempat, mampu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir. Kelima, dapat meningkatkan pengetahuan, memori dan pemahaman. Keenam, dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain. Ketujuh, dapat memanfaatkan waktu dari kesia-siaan. Kedelapan, dapat mengenal dunia dan seisinya. Kesembilan, mampu menemukan kesuksesan dan tercapainya impian (Bangkitkan Indonesia dengan Membaca, 2014).

Pada prinsipnya, kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh menggeliatnya budaya membaca—yang diawali dengan meningkatkanya jumlah buku yang diterbitkan dan tentunya yang dibaca—oleh masyarakat sebuah bangsa.

Menurut Pegiat Perempuan, Herlini Amran, MA (2014), peradaban sebuah bangsa dapat diukur dari berapa buku yang telah diterbitkan dalam masa satu tahun, semakin banyak buku yang diterbitkan maka boleh jadi bangsa itu semakin maju, sebaliknya semakin sedikit buku yang diterbitkan bisa jadi bangsa itu masih belum maju atau terbelakang.

Apa yang disampaikan oleh Herlini tentu bukan berhenti di nominal buku semata, namun ditindaklanjuti dengan adanya peningkatan jumlah pembaca buku. Jika budaya membaca semakin menjadi kegemaran masyarakat dalam sebuah bangsa, maka bangsa tersebut secara otomatis menjadi bangsa yang maju dan diperhitungkan dalam pentas internasional.

Dalam konteks membaca, sekali lagi, tentu tidak hanya buku, tapi juga media sejenis seperti majalah, jurnal, surat kabar dan sebagainya. Ini bermakna, jika masyarakat Indonesia gemar membaca buku, majalah, jurnal, surat kabar dan media serupa, maka Indonesia pun akan menjadi bangsa dan negera yang maju dan memiliki daya tawar dalam percaturan global.

Kondisi minat baca masyarakat Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah, masuk dalam peringkat terbawah dari 17 negara yang skornya berada di bawah nilai rata-rata OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.

Kondisi tersebut tentu sangat merisaukan kita. Terlebih jika merosotnya budaya membaca justru terjadi di lingkungan yang seharusnya gemar membaca. Misalnya, dosen dan mahasiswa di kampus sebagai “masyarakat akademik” sudah tak memiliki jadwal khusus untuk membaca. Di samping pegiat perpustakaan dan guru juga murid di berbagai sekolah sudah tak punya selera untuk membaca buku lagi. Bahkan, kita juga risau manakala budaya membaca semakin menghilang dalam rumah tangga sebagai komunitas (baca: pilar) utama sebuah bangsa.

Namun kenyataan semacam itu hanya akan berubah manakala kita, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa, memiliki semangat, niat dan kemauan yang kuat untuk melakukan pembenahan. Perubahan hanya akan terjadi manakala kita melakukan pembenahan secara masif dalam berbagai skala; individu, masyarakat dan negara.

Langkah Jitu Membangun Budaya Baca

Membangun budaya membaca tentu bukan pekerjaan mudah. Sebab, banyak faktor yang “mempersulit” dan “mempermudah”. Faktor yang “mempersulit”, misalnya, tidak adanya kemauan untuk membangun budaya membaca, merasa minder dan cenderung menerima kenyataan diri dan masyarakat yang tak mau maju, malas membeli sumber bacaan (buku, majalah, jurnal, surat kabar dan sebagainya), tidak memiliki semangat membangun bangsa, enggan menghilangkan kebodohan yang melilit masyarakat dan sebagainya.

Namun, di balik faktor yang “mempersulit”, pada dasarnya masih banyak faktor yang justru “mempermudah” kita untuk membangun budaya membaca dalam berbagai skala, misalnya, semakin banyaknya penulis yang menulis buku dan artikel, buku—termasuk majalah, jurnal, surat kabar dan sebagainya) kini semakin mudah didapatkan dengan harga terjangkau, media sosial mudah diakses dengan berbagai informasi dan pengetahuan yang didapat secara gratis, dan sebagainya.

Pertanyaannya, langkah apa saja yang dapat menunjang upaya membangun budaya membaca dalam kehidupan kita, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa?

Pertama, miliki kesadaran bahwa membaca bukan sekadar aktivitas tapi sebagai kebutuhan. Sebagaimana makanan dan minuman sebagai kebutuhan fisik dalam kehidupan kita, maka membaca sejatinya adalah kebutuhan akal (individu dan bangsa) kita. Sebab dengan membaca, kita dapat memperbaiki cara berpikir, cara pandang dan cara respon terhadap kenyataan di sekitar kita.

Kedua, terbiasa membawa sumber bacaan (baca: buku, majalah, jurnal, surat kabar dan sebagainya) di mana dan kapanpun seperti di kantor, sekolah, kampus, angkutan umum (kreta, mobil, kapal laut, pesawat), mobil pribadi, dan sebagainya.

Ketiga, miliki perpustakaan. Selain perpustakaan sebagai memori kolektif masyarakat (Suherman, Bacalah!, 2010), perpustakaan juga adalah sarana termudah yang perlu dimiliki agar sumber bacaan (baca: buku, majalah, jurnal, surat kabar dan sebagainya) dapat diakses dengan mudah. Di rumah, misalnya, sediakan ruang khusus. Ruang tamu juga dapat dijadikan sebagai ruang perpustakaan. Di sekolah atau kampus, ruang kantor bisa dijadikan sebagai perpustakaan. Sediakan tempat khusus sebagai “perpusatakaan” yang mudah diakses dan menarik simpati pengunjung.

Dalam konteks yang lebih luas, pemerintah diharapkan untuk menghadirkan dan “memberdayakan” perpustakaan di seluruh level, baik di tingkat nasional maupun daerah/kota; termasuk di berbagai perguruang tinggi (universitas, insistut, sekolah tinggi, akademi) dan sekolah juga pesantren.

Suasana semacam itu sangat membantu kita (pribadi, bangsa) dalam membangun budaya membaca. Bagaimanapun, lingkungan adalah faktor “eksternal” yang sangat mempengaruhi faktor “internal” (baca: alam bawa sadar) kita untuk menghadirkan kebaikan, termasuk membangun budaya membaca.

Keempat, alokasikan uang untuk membeli sumber bacaan (seperti buku, majalah, jurnal, surat kabar dan sebagainya). Misalnya, alokasikan 5% dari honor atau gaji perbulannya. Kalau kita sudah terbiasa membeli sumber bacaan minimal 3 sumber bacaan dalam sebulan, maka dalam setahun kita sudah terbiasa membeli 36 sumber bacaan. Itu berarti dalam 5 tahun kita sudah mampu menghadirkan perpustakaan mini yang terisi dengan 180 sumber bacaan. Dalam skala individu, sebagai pegiat budaya baca baru, itu sudah termasuk kategori “sukses”. Tentu tidak berhenti di situ, mesti ada peningkatan dalam kuantitas—berupa jenis dan jumlah sumber bacaan—dan kualitas (berupa isi sumber bacaan dan semangat membaca) pada kesempatan berikutnya.

Agak berat memang, namun jika kita benar-benar ingin membangun budaya membaca dan meyakini bahwa budaya membaca adalah pilar pembangunan bangsa dan negara, maka hal ini pun dapat kita lakukan dengan gempita. Kuncinya adalah kemauan yang kuat.

Kelima, sediakan waktu khusus untuk membaca. Sebagaimana aktivitas yang lain, membaca juga sejatinya membutuhkan waktu—bahkan waktu khusus. Sederhana saja, sediakan waktu 10 menit dalam sehari untuk membaca. Kita dapat mengaturnya, misalnya, sebelum istirahat malam, ketika bangun malam dan subuh (kalau muslim, misalnya, setelah shalat tahajut dan witir, atau sebelum dan setelah subuh), sebelum berangkat kerja atau masuk kantor, atau di sela-sela (baca: waktu luang) ketika kita bekerja atau beraktivitas.

Keenam, sediakan waktu khusus untuk mengunjungi pusat buku seperti toko buku, perpustakaan (daerah, kampus dan nasional), penerbit buku dan serupanya. Kita bisa jadwalkan, misalnya, tiap akhir pekan, tiap awal atau akhir bulan, tiap awal atau akhir tahun, tiap hari libur dan serupanya.

Ketujuh, aktif di komunitas yang memiliki visi-misi membangun budaya baca—di samping budaya tulis dan diskusi. Akhir-akhir ini sangat mudah ditemukan berbagai komunitas semacam ini. Kita dapat menemukannya di berbagai sudut kota, atau juga melalui media sosial. Sekadar contoh: G 30 M (Gerakan 30 Menit baca, tulis dan diskusi).

Kedelapan, berkenalan dengan tokoh, pegiat literasi atau siapapun yang “jatuh cinta” dengan budaya baca—termasuk penulis dan penerbit. Dengan berkenalan, maka kita dapat berbagi pengalaman, semangat sekaligus langkah jitu dalam membangun budaya baca.

Kesembilan, biasakan diri untuk menulis setiap sesuatu yang penting atau yang terlintas di saat membaca. Bagaimana pun—sebagaimana yang disampaikan oleh Indari Mastuti (2013)—“penulis yang baik adalah pembaca yang baik, dan pembaca yang baik adalah penulis yang baik”. Untuk itu, sediakan selalu sarana penunjang seperti buku harian, bulpen atau serupanya.

Di atas segalanya, sebagai bagian dari warga negara yang hendak maju dan memajukan bangsa dan negaranya, setiap kita semestinya turut mengambil posisi dan melakoni peran terbaik juga tindakan nyata. Sekarang adalah kesempatan terbaik untuk menjadi warga negara yang berperan aktif membangun dan membangkitkan bangsa dan negera ini agar maju dan menemukan takdir kejayaannya sebagai bangsa dan negara besar yang produktif dalam pentas internasional. Sebagai apapun kita, dan apapun profesi kita, banyak hal yang dapat kita lakukan, namun membaca adalah kunci dan salah satunya. Meminjam ungkapan Syamsudin Kadir—dalam sebuah judul tulisannya—mari membaca, kalau sekadar mengeong kucingpun bisa! [Uum Heroyati, S.Pd.I—Alumni PonPes Al-Ishlah Compreng-Subang, Alumni PonPes Buntet Cirebon, Alumni IAIN Syeikh Nurjati Cirebon (angkatan 2004), Pengajar di SDIT Sabilul Huda Cirebon, Editor buku Spirit to Your Succes; Tinggal di Karya Mulya, Cirebon]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s