Sabar Menanti Hasil, Sigap Memenuhi Janji

Rekapitulasi-Hasil-Perhitungan-Suara-Pemilu-2014MASA pencoblosan sudah usai. Proses panjang persiapan Pemilu Legislatif (pileg) 2014 telah mengantarkan warga yang memiliki hak pilih menentukan nasib demokrasi Indonesia—terutama lima tahun ke depan.
Demokrasi sebagaimana disebut RA Dahl dalam Dilemas of Pluralist Democracy: Autonom Vs Control (1982) melibatkan dua variabel penting, yakni kontestasi dan partisipasi. Para elite sudah diberi kesempatan untuk berkompetesi sejak mereka masuk daftar caleg sementar, terus menjadi daftar caleg tetap, berkampanye dan akhirnya dipilih (atau tidak) di bilik suara oleh pemilih.

Sabar Menanti Hasil

Pada akhirnya mandat kekuasaan tidak bisa dipaksakan, kecuali dalam negara yang dikuasai kekuatan tiranik dan otoriter. Indonesia—terutama pasca reformasi—memilih menjadi negara demokrasi yang mengedepankan keterbukaan, musyawarah dan pemenuhan hak-hak sipil rakyat secara universal.
Dengan begitu, sebagaimana kompetesi secara umum, pemilu yang meniscayakan hadirnya dua elemen penting, seperti yang menang (pemenang) dan yang kalah, tidak membuat kita sebagai bangsa kehilangan harga diri dan kesabaran untuk menghargai sekaligus menanti hasil proses demokrasi yang kita jalani secara bijak.

Dalam konteks pileg, perjalanan menanti hasil finalitasnya, ada proses panjang yang mesti mendapatkan pengawalan ketat semua elemen bangsa, yaitu, pertama, rekapitulasi hasil perhitungan suara pemilu tingkat nasional (26 April-6 Mei), kedua, penetapan hasil pemilu secara nasional, serta ketiga, penetapan partai politik yang memenuhi ambang batas parlemen 3,5% (7-9 Mei). Selanjutnya keempat, penetapan perolehan kursi dan calon terpilih tingkat nasional hingga kabupaten/kota (11-18 Mei).

Sambil melalui proses-proses tersebut, kita—terutama elite politik dan pendukung Parpol—pun didesak untuk meningkatkan saldo sikap patriotisme kebangsaannya, misalnya, tidak “gegabah” mengeluarkan pernyataan yang memperkeruh suasana politik dan stabilitas nasional; tapi fokus mengawal proses-proses lanjutan pasca pencoblosan sebagaimana yang telah disinggung di awal.

Para penyelenggara dan pengawas, kepada merekalah proses demokrasi (pemilu) ini dititipkan, apakah berjalan dengan baik atau tidak. Bagaimana pun, merekalah aktor penentu terselenggaranya pemilu.
Menurut Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, Gun Gun Heryanto, para penyelenggara pemilu (KPU Pusat dan KPUD) mesti konsisten menjaga independensi dan wewenangnya sebagaimana yang digariskan Undang-Undang. Begitu juga Bawaslu dan Panwaslu, mesti secara aktif melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemilu hingga tuntas dengan mengedepankan prinsip moralitas, kejujuran, objektifitas, keadilan, profesional dan tanggung jawab.

Elemen lain yang tak kalah pentingnya adalah media massa. Pada proses pemilu yang masih berjalan ini, media massa diharapkan untuk menjaga opini dan pemberitaan yang menghadirkan suasana kritis namun tidak memicu konflik politik yang merumitkan proses demokratisasi itu sendiri. Ini adalah era dimana media massa menjadi penyejuk di tengah-tengah pertarungan politik, namun tetap menyediakan stok bagi daya kritis sebagai elemen penting yang menyuarakan kehendak publik.

Sigap Memenuhi Janji

Lebih jauh, apapun hasil dari pemilu legislatif dan pemenangnya, saatnya partai politik (parpol) pemenang dan caleg terpilih untuk membuktikan berbagai janji politiknya kepada rakyat yang menjadi pemegang saham terbesar dalam pesta demokrasi. Pesta politik memang belum berakhir hingga perhelatan pemilu presiden—jika normal—nanti 9 Juli 2014, tetapi kita sudah melewati satu fase penting dalam hajatan politik lima tahunan. Ini artinya, rakyat harus menagih janji politik dari setiap parpol pemenang dan caleg terpilih.

Fase pertama ini harus kita lanjutkan dengan konkretisasi janji-janji politik yang diusung parpol dan calegnya. Politik memang meniscayakan janji-janji. Dengan begitu, rakyat (pemilih) pun memiliki stok janji (yang terdaftar secara rapih) yang segera ditagih untuk dipenuhi oleh parpol dan calegnya.
Eksekusi praktis fase ini harus dikontrol dengan bukti bahwa setiap caleg terpilih harus merawat betul basis konstituennya. Ini bermakna, kedekatan (c)aleg dengan rakyat tidak hanya berlangsung selama masa kampanye. Tetapi, yang paling penting dan mendesak adalah merawat pembuktian dan konsistensi pembelaan atas kepentingan rakyat setelah terpilih. Sebab—sebagaimana yang dikatakan oleh Rakhmat Hidayat (2014)—meninggalkan rakyat setelah musim kampanye berlangsung sama saja dengan mencederai saham demokrasi yang dimiliki rakyat (Republika, 10/4/2014).

Di atas segalanya, parpol apapun yang kelak ditakdirkan menjadi pemenang dan siapapun yang mendapatkan mandat untuk mengemban amanah sebagai wakil rakyat (DPD, DPRD Propinsi dan Kabupaten/Kota), yang paling penting adalah pelaksanaan janji-janji dan penunaian amanah rakyat secara nyata. Parpol benar-benar menjadi pemenang manakala mampu memenuhi janji-janji politiknya dan bersedia mengamini kehendak rakyat. Sehingga “pemenang” bukan sekadar dalam hitungan digit perolehan suara tapi juga digit kinerja dan kualitas kerja. Hanya dengan begitulah, pemilu bukan sekadar ajang memilih, tapi juga momentum untuk memilah apa saja yang mesti kita lakukan demi kebaikan dan kepentingan bangsa dan negara di masa depan. Semoga! []

 

Oleh: Uum Heroyati—Alumni PonPes Al-Ishlah, Compreng-Subang, PonPes Buntet-Cirebon dan IAIN SNJ Cirebon (Angkatan 2004); Pemerhati Masalah Sosial, Pendidikan dan Keperempuanan; Pengajar di SDIT Sabilul Huda Cirebon-Jawa Barat; Editor buku NGOPI, Ngobrol Politik dan Demokrasi (Catatan Sosial-Politik) karya Syamsudin Kadir—Tinggal di Cirebon-Jawa Barat. Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Sabar Menanti Hasil, Sigap Memenuhi Janji (Sebuah Refleksi Politik)”, dimuat di Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 4, Jum’at 11 April 2014.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s