Siap Menang, Siap Kalah

kalah-menangPEMILIHAN umum (pemilu) legislatif atau yang kita sebut dengan pileg baru saja berlalu (9/4/2014). Kesibukan dan hiruk pikuk persiapan pemilu yang dilakukan oleh para kontesta berupa caleg (partai politik, parpol) dan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menjelang pileg berlalu sudah. Keterlibatan kita sebagai pemilih pada momentum pemilihan (baca: pencoblosan) yang terhitung hanya beberapa detik itu pun kini menjadi sejarah. Sejarah, sebab proses tersebut sangat menentukan masa depan bangsa dan negara kita, terutama perjalanannya selama 5 tahun ke depan. Namun, dari proses pileg, satu hal yang sangat penting untuk diingat adalah kesiapan kita untuk menerima hasilnya, yaitu siap menang siap kalah.

 

Siap Menang, Siap Kalah

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, secara umum pileg kali ini berjalan dengan baik. Kita patut menyampaikan terima kasih banyak kepada penyelenggara (KPU), peserta pemilu (Caleg parpol, calon DPD), pemilih, petugas keamanan (TNI, POLRI), kalangan civil society (LSM, Lembaga Survei, Gerakan Mahasiswa), Media Massa dan siapapun yang turut menyukseskan pileg kali ini.

Sebagaimana lumrahnya sebuah perlombaan atau kompetesi selalu ada yang menang juga yang kalah. Pileg kali ini juga demikian. Walaupun hasilnya hanya akan diketahui secara pasti setelah adanya keputusan final KPU, namun kita perlu memberi catatan. Pertama, bagi mereka yang kelak menang, perlu diingatkan bahwa kemenangan bukanlah kesempatan untuk membangga-banggakan diri, tapi sebagai alarm bahwa ada tanggung jawab yang mesti diemban. Sungguh banyak amanah rakyat yang mesti ditunaikan ketika kelak dilantik atau menjabat. Keterpilihan bukanlah ajang pemuas hawa nafsu demi kepentingan pribadi tapi untuk menjalankan tugas negara.

Kedua, bagi mereka yang kalah, kita juga perlu mengingatkan bahwa kekalahan bukanlah aib yang memalukan. Ia justru produk kompetisi dalam segala dimensi yang menghasilkan “menang” dan “kalah” sebagai konsekwensi dari apapun jenis kompetesinya. Kalah adalah pengingat terbaik bahwa masih banyak hal yang mesti dibenahi dan dipersiapan jika ingin melakoni peran sebagai pejabat publik.

 

Menjadi Teladan

Indonesia yang begitu luas, dihuni oleh berbagai masyarakat dengan agama, suku, adat, latar sosial dan politik yang beragam, meniscayakan para elite (terutama yang bertarung pada pemilu kali ini) untuk menjadi teladan. Ya, dengan seluruh tantangan yang akan dihadapinya sebagai salah satu negara besar dunia, negeri ini sejatinya membutuhkan para teladan yang tak lelah menjadi inspirator yang menggerakkan publik untuk bangkit bersama membangun negeri ini.

Menurut Anis Baswedan (2013), bangsa ini butuh para teladan dalam berbagai aspeknya. Keteladanan tentu bukan sekadar soal simbolik, tapi menyangkut mental sekaligus sikap yang menjiwai seluruh gerak-gerik kehidupan.

Apa yang disampaikan Anis sangat relevan. Pada konteks pemilu, misalnya, bagi para teladan, mengakui kekalahan dan siap menjalin silaturahim bukanlah aib, melainkan sikap patriotik. Bagi para teladan, mengakui ketidakterpilihan secara tulus justru dijadikan sebagai kesempatan untuk membuktikan model perpolitikan yang mendatangkan keteduhan, rasa aman dan damai. Sebab bagi para teladan, konfrontasi bukanlah solusi semata-mata karena alasan kalah dan perspektif personal kecurangan yang harus diapungkan.

Jika selama ini di balik kekalahan dalam pesta demokrasi (baca: pemilukada) di banyak daerah selalu ada anarkisme antar kubu pendukung yang menghabiskan energi kreatif dan rasa kebersamaan kita sebagai sebuah entitas kolektif—satu nusa Tanah Air Indonesia, satu bangsa Negara Indonesia, dan satu bahasa pemersatu Bahasa Indonesia—maka pada pesta demokrasi kali ini dan ke depan kita perlu membenah diri.

Jika selama ini, sebagai pemilih (baik pendukung yang menang maupun pendukung yang kalah), dalam momentum pemilu kita kerap salah tingkah, berlebihan dalam memberikan penghormatan dan pembelaan kepada elite yang kita andalkan dalam perhelatan pemilu, maka ke depan kita perlu membangun kesadaran bahwa peserta kontesta pemilu (yang kelak menjadi pemenang atau kalah) bukanlah kita, tapi “mereka” yang disahkan oleh penyelenggara sebagai peserta. Mereka bukan kita, hanya saja mereka adalah representasi suara kita. Representasi suara adalah penyerahan sepenuhnya keterwakilan, dan terpilih ketika hasil pemilu diumumkan oleh penyelnggara pemilu (KPU).

Kemenangan bukanlah subyektivitas diri, melainkan obyektivitas penilaian (baca: penghitungan ) pihak berwenang (dalam hal ini KPU) dari hasil pilihan pemilih (baca: rakyat). Karena itu, selama proses perhelatan pemilu berlangsung sesuai prosedur, menerima hasilnya (baik menang maupun kalah) adalah pilihan paling ksatria sekaligus wujud nyata bagi seorang negarawan sejati.

 

Pesan Hasil Pemilu

Lagi-lagi, walau hasil final pemilu (pileg) belum bisa dipastikan kecuali setelah diumumkan oleh KPU, namun kita dapat mencatat bahwa pemilu kali ini berjalan cukup baik. Lebih jauh, dari hasil pemilu (pileg) kita dapat mencatat substansinya, pertama, bahwa pembelajaran politik sesungguhnya bukan pada hasil pemilu semata, melainkan dari bagaimana sebuah hasil dipandang sebagai evaluasi setiap subyek. Artinya, ketika pemilih menentukan pilihan pada figur dan program, pemilih bukanlah manusia kemarin sore yang terserah apa kata si calon legislatif. Mereka tentu memiliki basis argumentasi—di samping memang tak menafikan pemilih yang memilih asal memilih—yang menjadi basis pendukungnya.

Kedua, kekalahan dalam pemilu adalah peristiwa penting karena menyangkut refleksi kinerja, kualitas dan pengaruh diri (dan parpol), serta dukungan publik terhadap figur dan parpol selama ini. Dalam konteks politik jangka panjang, kemenangan—apalagi kekalahan—tidak menghilangkan upaya evaluasi secara matang terhadap strategi dan pilihan politik selama ini. Iklan dan kampanye yang hingar bingar, misalnya, bisa jadi memenangkan pertarungan namun ia juga tidak serta merta mampu memenangkan pertarungan. Sebab rakyat (pemilih)-lah yang memiliki andil besar dan menentukan. Khusus untuk parpol, ini juga dapat dijadikan sebagai instrumen evaluasi perjalanan proses kaderisasinya.

Ketiga, dalam konteks “siap menang-siap kalah”, nilai-nilai nasionalisme, patrotisme dan kebersamaan sebagaimana yang sering disampaikan pada menjelang pemilu justru akan menjadi maslahat manakala dipraktikkan dalam skala: menerima kekalahan secara arif dan bijaksana, lalu dilanjutkan dengan menginvestasikan berbagai gagasan strategis kepada pemenang (baca: mereka yang terpilih) perhelatan demi pembangunan dan masa depan bangsa yang lebih baik.

Di atas segalanya, harkat dan martabat diri bukan terletak pada keharusan memenangi seluruh pertarungan. Sebab, kemenangan alias keterpilihan adalah amanah yang meniscayakan sang pemenang (baca: yang terpilih) untuk mewujudkan kehendak publik (pemilih) sekaligus menjalankan tugas kenegaraan dengan sungguh-sungguh, profesional dan bertanggung jawab; sedangkan kekalahan adalah momentum untuk mengevaluasi dan merefleksi kualitas diri sekaligus kesempatan untuk menaikkan jenjang kontribusi bagi kepentingan bangsa dan negara. Akhirnya, mari mencintai Indonesia tanpa tapi![1] []

 

 

[1] Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial-Politik, Penulis buku NGOPI, Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia (Catatan Sosial-Politik)—tinggal di Cirebon-Jawa Barat. Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Siap Menang, Siap Kalah”, dimuat di Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 4, Kamis 10 April 2014.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s