Selamat Jalan Kang Asep Sunandar Sunarya!

asep SS
Kang Asep Sunandar Sunarya

INNALILLAHI wa inna ilaihi rooji’uun. Jagat pedalangan dan pewayangan di Tanah Air—terutama di Jawa Barat—kembali berselimut duka. Setelah dalang wayang suket Slamet Gundono meninggal pada Ahad (5/1/2014) lalu, kemarin (Senin/31/3/2014) Asep Sunandar Sunarya atau lebih dikenal Asep ‘si cepot’ Sunarya meninggal sekitar pukul 14.20 WIB di Rumah Sakit Al-Ikhsan Bale Endah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Menurut pengakuan putra almarhum, Dadan Sunarya Sunandar (Dadan), pria yang kerap melucu dan mudah bergaul itu memang telah lama mengindap penyakit jantung, tepatnya sejak tahun 2011. Bahkan sejak itulah idola kalangan muda itu beberapa kali diperiksa di beberapa rumah sakit, baik di Bandung maupun di Jakarta bahkan hingga ke Singapura. Sehingga dalam beberapa pementasan kadang hanya mengisi di sebagian waktu yang disediakan penyelenggara acara.

Almarhum yang juga budayawan dan seniman kawakan yang dikenal sebagai dalang sejak 1982 itu meninggal di usia 59 tahun dan meninggalkan 16 orang anak serta 11 orang cucu.

Kalangan muda dan para peminat dalang sekaligus wayang menyapa Asep Sunandar dengan sapaan “Kang Asep”. Selain karena usianya, Kang Asep memang kerap menjadi bagian dari kehidupan kalangan muda dan pegiat seni (dalang dan wayang). Sederhananya, Kang Asep selalu menjadi tempat curhatan dan menjadi sahabat bicara yang akrab. Sehingga sapaan Kang (Akang) Asep bukan sekadar penghormatan tapi juga bukti keakraban yang bermakna antar mereka dan Kang Asep sudah sangat dekat.

Kesan atas Kang Asep

Dalam dunia seni, Kang Asep dikenal sebagai sosok dalang wayang golek yang melegenda. Selain itu, pria kelahiran Bandung, 3 September 1955 itu juga handal dan kreatif sehingga kerap diundang berpentas di berbagai kota dan kampus di seluruh Indonesia bahkan negara di Asia, Eropa dan Amerika Serikat.

Pemilik nama asli Sukarna itu bahkan pernah didaulat menjadi dosen di Institut Internasional De La Marionnete di Charleville, Prancis, dengan menyandang gelar profesor kehormatan. Satu penghormatan sekaligus penghargaan yang sangat mengharumkan dunia seni Indonesia dalam kancah global.

Putra ketujuh keluarga (alm) Abah Sunarya itu dikenal sebagai sosok dalang antikemapanan di Tanah Pasundan. Di Tangan Kang Asep-lah salah satu tokoh punakawan, si Cepot, seakan bernyawa karena suka makan mi. Tidak hanya itu, Kang Asep sangat jenaka ketika menampilkan adegan si Cepot bertarung melawan raksasa. Dengan mimik dan ungkapannya yang khas juga lucu, si Cepot berhasil memenangi pertarungan lawan raksasa yang kepalanya dibuat remuk.

Kang Asep-lah yang berjasa besar dalam mengenalkan wayang golek ke berbagai institusi dan komunitas. Hal ini dapat dipahami dari pernyataan Ketua Pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia Jawa Barat, Apep Hudaya. Menurut Apep, almarhum tekun menyosialisasikan wayang golek inovatif ke kampus, hotel berbintang, dan stasiun TV (Media Indonesia,1/4/2014).

Hal yang sama juga disampaikan akademisi sekaligus Rektor Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Ganjar Kurnia. Menurut Ganjar, Asep Sunarya telah mengangkat wayang Sunda ke kancah internasional. Kalau saja “si Cepot” tidak menggeliat dan semangat, bisa saja wayang yang sangat “nyunda” itu tidak akan dikenal di seluruh pelosok nusantara, apalagi dunia internasional (1/4/2014).

Sebagai sesama pegiat seni sekaligus sebagai sahabat, Budayawan Darmawan Hardjakusumah (Acil Bimbo), salah satu personil Grup Bimbo, mengenang Kang Asep sebagai tokoh sekaligus dalang yang sangat kreatif juga sudah menempati posisi sebagai ikon dalang dan wayang nasional.
Di mata anaknya (Dadan), Kang Asep merupakan sosok ayah yang luar biasa untuk keluarga. Beliau merupakan orang yang berjuang keras melestarikan kebudayaan Indonesia yang khas Sunda. Bahkan menurut Dadan, almarhum merupakan sosok yang humoris. Walau begitu, Abah (panggilan akrab Dadan untuk Ayahnya, Kang Asep), kalau mengerjakan sesuatu selalu dilakukan dengan serius (Radar Cirebon, 1/4/2014).

Dalam konteks politik, Kang Asep bersahabat dengan semua kalangan dan tokoh. Semua elite atau petinggi partai politik (Parpol) sangat dekat dengan Kang Asep. Gubernur Jawa Barat yang juga tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahmad Heriawan, yang terpilih kembali untuk periode yang kedua pun dianggap “si Cepot” sebagai teman dekatnya. Tak pelak, Gubernur yang sering disapa Kang Aher itu pun menempatkan sosok almarhum sebagai tokoh penting bagi Jawa Barat bahkan Indonesia. Kang Aher pun merasa kehilangan dengan kepergian Kang Asep, “sangat luar biasa kenangan saya dengan beliau,” (Kompas, 1/4/2014).

Tak hanya Kang Aher, Bapak Presiden RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat (PD), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun menilai Kang Asep sebagai penjaga sekaligus penyebar kebudayaan Indonesia yang unik. Sehingga tidak heran jika melalui akun Twitter-nya SBY menulis, “Kita kehilangan maestero wayang Indonesia. Selamat Jalan Pak Asep Sunandar Sunarya. Semoga sumbangsihmu terus menginspirasi” (31/3/2014).
Saya sendiri mengenang Kang Asep sebagai tokoh seni sekaligus sosok yang menjaga nilai-nilai luhur agama (Islam) dan keluhuran budaya Sunda dalam konteks ke-Indonesiaan. Sehingga tampilannya bukan saja sebagai muslim, tapi juga muslim yang “Nyunda” dan meng-Indonesia.

Sebagaimana layaknya seorang tokoh yang mencintai keluhuran kebudayaan negerinya, Kang Asep pun memiliki banyak cita-cita yang ingin digapai. Salah satunya adalah menjadikan Padepokan Wayang Giri Harja yang menjadi milik keluarganya dapat memberi banyak manfaat dan mampu mencetak para pedalang kreatif dan unik di masa depan. Cita-cita tersebut merupakan satu “warisan besar” yang mesti ditunaikan oleh generasi penerus Kang Asep, terutama kedua anaknya, Dadan Sunandar Sunarya dan Yogaswara Sunarya; bahkan juga untuk pegiat seni dalang dan wayang Indonesia.

Tiga Hikmah Lakon dan Kepergian Kang Asep

Secara sepintas, dari perjalanan hidup Kang Asep, saya dapat mencatat tiga poin penting, pertama, sejatinya bangsa ini memiliki budaya yang khas dan unik yang dapat dijadikan sebagai “penarik” wisatawan dan investor asing ke sektor-sektor terkait seperti budaya dan seni. Mengapa? Karena seni dalang dan wayang khas Indonesia hampir tak ditemukan di negara manapun di dunia. Untuk itu, sebagai pemilik yang sah sekaligus sebagai penikmat, kita pun punya tanggung jawab untuk melestarikannya secara baik dan bijak. Bukan saja untuk melanggengkan budaya khas bangsa tapi juga mendayagunakannya sebagai penunjang kesejahteraan masyarakat.

Kedua, menjaga budaya luhur dan asli nusantara butuh perjuangan dan kerja keras. Bangsa ini merupakan salah satu bangsa yang mewujud menjadi negara besar karena ditopang oleh berbagai ras dan suku bangsa dengan keragaman bahasa dan budayanya. Dengan begitu, seni—termasuk pedalangan dan pewayangan—merupakan di antara potensi budaya bangsa yang sejatinya cukup memberi warna tersendiri bagi kemajuan bangsa. Bahkan kalau ditelisik lebih jauh, kekuatan budaya-lah yang membuat bangsa ini mewujud menjadi negara besar yang kini tetap solid menjadi negara kesatuan. Ini bermakna, kalau saja sebagai bangsa kita tidak menjaga kelestariannya, maka bangsa ini bisa saja terjatuh ke lembah “pecah belah” sebagaimana yang mendera di era menjelang Sumpah Pemuda (awal abad 20) dan menjelang proklamasi kemerdekaan (pertengahan abad 20) silam.

Ketiga, wayang golek merupakan satu warisan budaya bangsa yang telah banyak berkontribusi dalam mengenalkan Indonesia dalam segala sisinya ke dunia Internasional. Jadi, bukan saja memberi manfaat secara ekonomi dan sosial-budaya, dalang dan wayang (golek)—sebagaimana seni yang lain seperti batik dan lagu daerah—juga turut serta mengenalkan Indonesia ke kancah Internasional dalam konteks politik yang menyejukkan. Hal ini semakin meyakinkan sebagaimana diakui oleh warga negara Perancis yang juga aktif sebagai pegiat seni, Ahmed Zinadin (35 tahun), yang pernah bersua dengan Kang Asep dan—selama di Indonesia—mendalami pentas wayang golek dari aspek politik internasional. Menurut Ahmed, hadirnya wayang golek dengan segala pentasannya—termasuk di Perancis dan beberapa negara Eropa—sangat mencerahkan bahkan mencerdaskan publik Barat tentang keluhuran dan keunikan budaya Indonesia, termasuk dalam budaya kritik melalui pedalangan dan pewayangan yang mendidik (1/4/2014).
Di atas segalanya, meninggalnya Kang Asep bukan akhir dari segalanya. Walau begitu, kepergian Kang Asep untuk selamanya adalah peringatan paling nyata bagi siapapun bahwa kematian tak mengenal usia. Jika ia datang dan mau, maka terjadilah. Hanya peran dan tingkah kita selama hidup-lah yang menjadi kenangan dan kesan bagi mereka yang masih hidup. Baik dan buruknya pun akan menjadi sejarah hidup kita dalam memori hidup mereka yang kita tinggalkan. Dalam konteks yang lain, betul bahwa Kang Asep telah meninggalkan kita, namun perannya sebagai pedalang dan pewayang terkenal adalah satu warisan sejarah yang layak kita pelajari secara mendalam hingga dapat kita wariskan secara bijak. Sebab bagaimana pun, budaya bukan sekadar soal seni, tapi soal identitas bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan mencintai identitas dirinya. Akhirnya, selamat jalan Kang Asep. Semoga kami yang ditinggalkan mampu mengambil hikmah juga pelajaran, dan kelak Allah Swt. mempertemukan kita semua di dalam surga-Nya! []

Oleh : Syamsudin Kadir—Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial-Politik, penulis buku NGOPI, Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia (Catatan Sosial-Politik), Direktur Mitra Pemuda; tinggal di Cirebon-Jawa Barat. No HP: 085 220 910 532.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s