Buku NGOPI, ‘Menyatukan’ dan ‘Menggerakan’ Elemen Publik

Cover 230 MARET 2014 adalah salah satu kesempatan sejarah bagi saya. Bagaimana tidak, kali ini saya diundang mengisi acara refleksi 16 Tahun KAMMI dan Reformasi dalam format bedah buku. Pada kesempatan kali ini saya didaulat menjadi pembedah buku baru saya yang berjudul “NGOPI, Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia (Catatan Sosial-Politik)” yang baru saja dierbitkan oleh Mitra Pemuda (Maret, 2014).

Kegiatan yang diadakan oleh aktivis KAMMI IAIN Cirebon-Jawa Barat di Meeting Room Kampung Bima Cirebon ini dinamai NGOPI (Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia). NGOPI kali ini dimeriahkan oleh hadirnya Mas Afif Rivai sebagai panelis. Selain sebagai pengamat politik, Mas Afif merupakan pembawa acara pada beberapa program di Radar Cirebon TV yang cukup memberi warna tersendiri dalam jagat politik di wilayah 3.

Selain dihadiri oleh Mas Afif, Mas Diki Mulyana, M.Pd—Eks Presiden Mahasiswa Unswagati Cirebon—juga hadir sebagai pemandu alias moderator acara ini. Selain itu, hadir juga beberapa penulis opini di beberapa surat kabar di wilayah 3 juga hadir, di antaranya Mas Very Wahyudi dari UNTAG Cirebon. Selain antusias, pegiat muda terakhir ini (Mas Diki dan Mas Very) juga sangat mengapresiasi acara ini termasuk hadirnya buku NGOPI yang terbit bertepatan dengan usia 16 tahun KAMMI.

Selain itu, elemen ekstraperlementer atau pegiat sosial se-wilayah 3 Cirebon-Jawa Barat dan sekitarnya seperti Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, bahkan Berebes-Jawa Tengah, juga hadir. Termasuk beberapa wartawan media massa seperti Mba Ani dari Kabar Cirebon, dan beberapa kalangan yang tidak cukup saya sebutkan satu persatu pada tulisan ini.

Bagi saya, buku NGOPI menjadi istimewa bukan karena isinya, tapi karena adanya pertemuan berbagai elemen bangsa pada sebuah forum yang dirasa akhir-akhir ini sangat jarang terjadi. Karena itu, sebagaimana yang disinggung Mas Afif ketika menyampaikan bandingannya, bahwa acara NGOPI—apalagi dengan format bedah buku sekaligus menghadirkan sang penulis—adalah upaya jenial yang layak dijaga keberlanjutannya pada masa yang akan datang. Sehingga kegiatan NGOPI merupakan kegiatan yang sangat istimewa yang perlu mendapat respon dan tindak lanjut.

Kegiatan ini semakin istimewa karena kehadiran berbagai elemen dan pegiat sosial dari berbagai latar, terutama antusias mereka terhadap buku NGOPI. Hal ini terlihat dari antusias mereka dalam sesi bedah buku sekaligus diskusi atau tanya jawab dengan saya sebagai penulis dan Mas Afif sebagai panelis.

Buku NGOPI setebal 284 halaman ini sendiri merupakan kumpulan tulisan saya yang pernah dimuat di kolom opini (wacana) surat kabar di wilayah tiga seperti Radar Cirebon, Kabar Cirebon dan sebagainya; di samping makalah, artikel dan catatan sederhana saya ketika didaulat menjadi fasilitator dalam berbagai forum diskusi, utamanya tema-tema sosial-politik kebangsaan, baik dalam level lokal maupun pada level nasional.

Menjelang acara dimulai saya diwawancarai seorang wartawan Kabar Cirebon, Mba Ani. Ketika sang wartawan bertanya kepada saya mengenai urgensi kegiatan bedah buku dan hadirnya buku NGOPI, saya memberikan beberapa alasan, pertama, saya menulis sebagai ekspresi kecintaan terhadap tradisi intelektual sebagaimana yang dilakoni oleh para pendahulu. Kalau sejarah para pendiri bangsa dikaji secara detail, maka akan ditemukan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang begitu menempatkan tradisi intelektual—terutama menulis—sebagai tradisi khas. Apakah Bung Karno, Bung Hatta, Pak Natsir dan tokoh lain, hampir semuanya adalah kutu buku—tentu saja menjadi “penggoyang” pena paling dahsyat. Tak perlu panjang-lebar, baca saja karya mereka yang hingga kini masih dapat kita nikmati. Apa yang mereka diskusikan pun adalah tema-tema yang menjangkau kepentingan bangsa dan negaranya, bukan untuk dirinya sendiri. Semoga generasi muda di era ini banyak belajar kepada mereka, kepada tradisi mereka para negarawan itu.

Kedua, sebagai provokasi bagi siapapun bahwa menulis bukanlah pekerjaan mereka yang berprofesi sebagai penulis semata, bahkan bukan penulis pun bisa menghasilkan karya tulis alias bisa menulis. Ada satu pernyataan yang sering menjadi penyemangat sekaligus pendongkrak semangat saya, “Gagasan yang berserakan akan semakin berserakan manakala pemilik gagasan hanya mencukupkan gagasannya sebagai penghuni pikirannya, dan tidak memaksanya menjadi penghuni ruang publik.” Jadi, siapapun sejatinya bisa—bahkan mesti—menulis, mesti bukan penulis. Lebih jauh, dengan menulis, dinamika kebangsaan semakin dinamis dan terasa berisi. Bahkan jastifikasi bahwa di era reformasi seperti terjadi kekosongan ide dan narasi dapat dijawab secara ril. Bagi saya, menulis—apalagi opini dan wacana di media massa yang kemudian di-buku-kan—adalah ruang terbuka yang disedikan oleh reformasi bagi hadirnya dinamika yang berbasis pada nalar dan rasionalitas sekaligus tradisi dokumentasi. Itulah yang membuat gagasan menjadi naratif dan layak diperdebatkan secara terbuka. Itu jugalah yang membuat sejarah menjadi semakin layak diceritakan bahkan diwariskan kembali.

Ketiga, sebagai lonceng peringatan bagi siapapun, terutama elite politik dan pegiat politik bahwa politik sejatinya adalah tema yang bisa dijangkau oleh siapapun. Jika selama ini politik hanya diposisikan sebagai konsumsi elite dan pegiat politik—dan rakyat biasa seakan-akan tidak boleh menjangkau dan berbicara politik—maka hadirnya buku ini adalah penegas berbalik bahwa ini eranya rakyat mesti berbicara tentang dirinya, tentang politik bangsanya, sesuatu yang semestinya diketahui dan dipahaminya, bukan sesuatu yang “haram” untuk dibicarakan dan dipahaminya.

Pada momentum acara inti, sebagai pembicara awal saya menyampaikan lebih rinci mengenai 3 hal yang saya sampaikan untuk sang wartawan yang masih kuliah semester 6 di kampus IAIN Cirebon. Selain itu, lebih jauh saya juga menyampaikan beberapa inti tulisan saya pada buku NGOPI seperti praktik politik norak dan bebal, demokrasi prosedural, politik uang, dinasti politik, pemilu elektoral, pemimpin citra, lembaga survei pragmatis dan sebagainya.

Lebih khusus, terkait pemilu yang segera menjelang, saya juga menyampaikan, mari menjadi pemilih yang sadar dan bertanggung jawab. Sadar, bahwa kita memilih mereka karena gagasan dan programnya sangat mungkin diwujudkan, bukan sekadar janji yang muluk-muluk melampaui batas kewajaran. Bertanggung jawab, bahwa kita siap menerima hasil dan kualitas kerja dari orang yang kita pilih, lalu jika terpilih, misalnya, maka sebagai pemilih kita pun tak lelah menagih janji-janji mereka (para wakil rakyat) sampaikan ketika menjelang Pemilu pasca perhelatan Pemilu. Semoga dalam waktu yang tersedia ini kita mampu memantapkan pilihan secara sadar dan rasional!

Setelah giliran saya, Mas Afif kemudian mendapat giliran sebagai pembanding. Pada kesempatan kali ini , Mas Afif memberi banyak catatan atas hadirnya buku NGOPI, termasuk kondisi politik akhir-akhir ini. Pertama, hadirnya buku NGOPI adalah ajakan terbuka—atau dalam istilah Mas Afif sebagai “Suara lain”—dari sang penulis bagi seluruh elemen bangsa bahwa politik mesti diposisikan pada pijakannya yang tepat. Lebih jauh, Mas Afif menyindir para elite politik dan pegiat politik, khususnya di wilayah 3 Cirebon. Mas Afif mengingatkan adanya kekosongan tradisi intelektual seperti baca, tulis dan diskusi di wilayah 3. Jadi menurut aktivis HMI 2000-an ini, hadirnya NGOPI sekaligus sebagai pendongkrak semangat bagi siapapun untuk membangun tradisi intelektual di wilayah 3.

Kedua, melalui buku NGOPI, kata Mas Afif, penulis mengingatkan bahwa akhir-akhir ini politik sering menjebak para penguasa dan elite politik pada kealpaan. Mereka pun sering menjadi pelupa paling akut terhadap peran dan fungsinya sebagai pelayan negara. Di saat daya kritisme semakin menguap, kata Mas Afif, maka buku NGOPI hadir sebagai bagi siapapun yang terkena penyakit lupa dan alpa yang menggurita. Penulis buku NGOPI menurut Mas Afif adalah provokator tulen sekaligus penyadar paling jenial.

Ketiga, secara ril, akhir-akhir ini politik dan demokrasi—terutama dalam konteks pemilu/pilkada—sepertinya sangat terkait dengan pola transaksional. Pemilu dan pilkada yang sejatinya sebagai panggung paling akurat dalam menyeleksi para pemimpin justru menjadi seremoni transaksional yang paling nyata. Selain transaksional, proses memilih pemimpin juga tidak lagi dilalui berdasarkan ukuran-ukuran kapasitas dan kelayakan publik, tapi sudah dilalui berdasarkan pencitraan yang begitu masif. Membenarkan pernyataan saya di awal, Mas Afif menyampaikan bahwa siapa yang dicitrakan sebagai “orang”, maka orang tersebutlah yang “dilayakkan” menjadi pemimpin. Di sinilah peran “kotor” media massa dan lembaga survei yang layak diberi peringatan oleh elemen publik bahkan masyarakat umum.

Selanjutnya, pada sesidiskusi, banyak sekali pertanyaan yang muncul, termasuk pendapat peserta atas berbagai kondisi politik akhir-akhir ini. Di antara peserta yang bertanya adalah, Mas Asep. Ketua LDK Al-Ukhuwah IAIN SNJ ini menangkap sinyal adanya intervensi elite politik terhadap elemen muda—termasuk mahasiswa—untuk tidak kritis terhadap realitas kebangsaan. Ada apa dengan semua ini?

Apa yang disampaikan Mas Asep ada benarnya, namun kalau saja elemen muda mau menjadi aktivis yang benar-benar aktivis, maka intervesi atau upaya apapun yang menghambat gerakannya tidak akan menjadi penghalang baginya untuk terus bergerak. Untuk itu, ketika mengomentari Mas Asep, saya menyampaikan bahwa gagasan dan keyakinan terhadap gagasanlah yang membuat para aktivis muda tak mudah tergoda untuk goyah dan beralih haluan. Pertanyaannya, masih adakah aktivis semacam itu? Tentu saja masih ada, bahkan banyak.

Selanjutnya, dari Mas Very. Penulis yang kerap mengisi kolom opini dan wacana beberapa surat kabar di wilayah 3 ini menyampikan bahwa secara umum kita sudah semakin amnesia terhadap sejarah bangsa kita. Kita bahkan kata Very, lupa dengan para pendiri bangsa.

Mengomentari pernyataan sekaligus kegelisahan Mas Very, saya menyampaikan bahwa betul bangsa ini defisit stok pecinta sejati. Kalau saja banyak pecinta, maka seharusnya bangsa ini banyak yang mau dan mampu memahami sejarah bangsanya. Sehingga dari sejarah dan pengalaman para pendahulu itulah kita mampu menatap masa depan.

Sebagai panelis, Mas Afif memberi komentar, bahkan bisa jadi elite politik sudah tidak mengenal dengan Bung Karno, Pak, Natsir dan tokoh-tokoh penting negeri ini. Sehingga praktik politik yang mereka lakoni sangat jauh dari spirit perjuangan para pendahulu.

Selanjutnya, peserta lain, Kang Kana, yang merupakan pegawai di Lemhanas menyampaikan beberapa poin penting seperti penegakkan hukum akhir-akhir seringkali terlihat diintervensi oleh kepentingan politik. Kemudian eks Ketua KAMMI Daerah Cirebon ini menjelaskan bahwa pada era reformasi ini media massa sebagai salah satu pilar demokrasi pun sering menjadi juru bicara kekuasaan dan politik tertentu. Padahal media massa seharusnya menjadi lidah publik sekaligus penabuh gendang perlawanan bagi kekuasaan yang berani menjauh dari kehendak publik.

Mengomentari pernyataan tokoh muda ini, saya menyampaikan pentingnya penegakan fungsi lembaga negara termasuk partai politik sebagai kekuatan penegak demokrasi. Partai politik didesak untuk tidak sekadar pendulang seremoni tapi mesti muncul sebagai penegak politik negara. Partai politik tidak hanya muncul menjelang pemilu dan pilkada tapi juga hadir pada proses-proses politik yang lebih subtantif seperti menjadi kanal kaderisasi para pemimpin, institusi pencerdasan publik dan sebagainya. Kalau saja fungsi partai politik berjalan dengan baik, maka elemen non negara pun tidak perlu sibuk membuat sekolah politik dan serupanya.

Yang terakhir dari peserta diskusi, Mba Ani. Aktivis yang juga sebagai Caleg Pemilu 2014 kali ini mengingatkan bahwa betul di era reformasi ini tak sedikit politisi yang muncul instan. Sehingga mereka hadir di panggung publik bukan karena cinta untuk Indonesia, tapi karena agenda jangka pendek atau agenda pribadi semata. Bahkan mereka sejatinya tidak menjangkau visi dan orientasi kebangsaan selain agenda dirinya sendiri. Karena itu kata eks aktivis mahasiswa ekstra kampus (baca: KAMMI) ini, elemen non negara mesti terus bersuara dan memberi peringatan keras agar para politisi tahu diri dan tersadarkan. Lebih jauh, kata pengajar di salah satu sekolah di Kuningan-Jawa Barat ini, bangsa ini sejatinya bukan milik penguasa semata tapi juga milik kita semua, termasuk rakyat. Jadi, sudah saatnya kita mencintai Indonesia dengan kerja terbaik bukan caci maki.

Demikian beberapa poin yang berhasil saya catat dari kegiatan bedah buku NGOPI yang dimulai pukul 10.00 sampai pukul 12.50 WIB hari ini. Saya percaya masih banyak poin penting yang bisa dijadikan bahan diskusi lanjutan bagi siapapun yang mencintai negeri ini. Lebih lanjut, jika berkenan, silahkan baca dan miliki buku NGOPI, semoga bisa menambah stok sumber kajian kita dalam menatap masa depan negeri tercinta Indonesia.

Selanjutnya, saya perlu menyampaikan terima kasih banyak kepada semua pihak yang turut berkontribusi: Mas Afif, Mas Diki, Mas Very, Mas Amrizal (Ketua KAMMI IAIN SNJ Cirebon), aktivis KAMMI IAIN dan KAMMI Daerah Cirebon, Kang Kana Kurniawan, peserta NGOPI yang lain, para jurnalis dan siapapun yang memberi kontribusi terhadap suksesnya acara bedah buku NGOPI. Semoga pada kesempatan selanjutnya kita dapat NGOPI kembali. Selain itu, semoga ke depan muncul “manusia” baru yang menulis, termasuk menulis buku—walaupun bukan “penulis”.

Oh iya, sekali lagi, baca dan miliki bukunya ya. Harganya cukup murah dan meriah. Cara mendapatkannya pun sangat mudah kok. Cukup tulis nama dan alamat lengkap serta nomor kodeposnya, lalu jumlah buku yang dipesan; setelah itu SMS-kan ke nomor HP: 085 220 910 532. Conton: Bukhari Muhtadin, Gg. Teratai No. 30 Karya Mulya Kota Cirebon. Kodepos: 45135, pesan 20 buku NGOPI. Setelah itu silahkan kirimkan ke: 085 220 910 532. Hayo, SMS-nya ditunggu ya.

Di atas segalanya, mohon maaf atas segala kesalahan sikap dan tingkah saya yang kurang berkenan, termasuk tulisan saya yang bisa jadi kurang berkenan di hati pembaca. Semoga buku NGOPI mampu ‘menyatukan’ dan ‘menggerakkan’ elemen publik yang bisa jadi berserakan. Mari mencintai Indonesia tanpa tapi![1] []

 

Catatan: Pak Drs. H. Anwar Yasin tidak bisa hadir karena ada agenda penting dan mendesak. Semoga lain kesempatan beliau bisa hadir.

 

 

[1] Oleh: Syamsudin Kadir—Pemerhati Masalah Sosial-Politik, Penulis buku NGOPI; Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia (Catatan Sosial-Politik). Tulisan ini merupakan rekaman singkat dan sederhna acara Louncing dan Bedah Buku NGOPI pada Ahad, 30 Maret 2014 di Cirebon-Jawa Barat yang merupakan rangkaian acara KAMMI IAIN SNJ Cirebon dalam rangka Refleksi 16 KAMMI dan Reformasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s