Membangun Obsesi Kaum Muda

kammi-untuk-indonesia-320x320SEBERKAS cahaya merah menyemburat di ufuk timur tatkala negeri ini telah melewati masa-masa kelamnya. Dari nadir reformasi yang telah merubah wajah negeri ini selapis demi selapis, kita diharuskan untuk terus berbenah atas nama diktum sejarah. Satu demi satu kembali ditata dalam upaya pemenuhan keadilan dan pemerataan kemakmuran bagi publik bangsa. Ya, kita sedang berjuang menakar waktu atas nama keadilan dan kemakmuran, atau memilih jalan lain: keserakahan dan kehancuran.

 

Masalah Indonesia  

Kompleksitas masalah yang melanda Indonesia tercinta, telah berhadapan dengan kita secara langsung. Bukan saja masalah kesehatan, pendidikan, sumber daya manusia, ekonomi, politik, sosial-budaya, sumber daya alam, pariwisata, infrastruktur tapi juga soal kepemimpinan dan narasi pembangunan nasional.

Betul bahwa ada kemajuan pada sisi tertentu, namun secara umum sejatinya negeri ini masih membutuhkan pembenahan dalam berbagai aspek kehidupan publik atau masyarakatnya. Bahkan antara satu masalah dengan masalah yang lain saling terkait seperti lingkaran setan yang susah ditemukan ujungnya.

Namun, berbagai masalah yang melanda sejatinya tidak menjadi apa-apa manakala kaum muda hadir memberi jalan keluar. Sebab pada berbagai lapak sejarah dikisahkan bahwa kaum muda-lah satu-satunya elemen atau kelompok yang cukup apik dalam menghadirkan perubahan dalam berbagai level struktur sosial kemanusiaan.  

Namun apa jadinya jika kaum muda tidak melakukan apa-apa alias hanya berpangku tangan? Justru inilah masalah terbesar negeri ini yang sesunguhnya; di saat masalah menggeliat di depan mata, kaum muda justru memilih berdiam diri atau mencukupkan diri sebagai penonton.  Padahal di saat berbagai masalah datang silih berganti itulah kaum muda mestinya  terlibat menjadi bagian dari solusi. Pertanyaan tajampun menabrak keangkuhan kaum muda; di manakah posisi dan apa peran kaum muda dalam pembangunan Indonesia?

 

Obsesi dan Peran Kaum Muda

Secara umum, kaum muda (pelajar, mahasiswa dan elemen muda lainnya) sebagai bagian dari arus utama dalam menggelindingkan kobaran reformasi memiliki tugas sejarah yang mesti ditunaikan. Pilihan itupun mengarah kepada langkah dengan sebuah proyek jangka panjang dengan karakter khas kaum muda, menempa pribadi menjadi kaum muda berkarakter agar mampu bergerak karena tanggung jawab yang diemban dengan menggengam erat semangat kontribusi.

Berbagai masalah yang melanda negeri ini saat ini sejatinya memperlihatkan isyarat bahwa negeri ini membutuhkan kehadiran kaum muda. Kesadaran untuk hadir dalam berbagai permasalahan publik di negeri ini itulah obsesi yang mesti terus diinternalisasi dalam jiwa dan pikiran kaum muda bangsa.

Sekian tahun reformasi sudah berlalu, dapat dikatakan bahwa tantangan yang dihadapi negri ini semakin kompleks. Tidak ada jalan lain selain mengambil peran terbaik. Dalam pengertian bahwa dalam menghadirkan perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik dan maju, maka kaum muda tidak selayaknya berdiam diri, apalagi hanya mencaci maki realitas. Kaum muda harus hadir dan turut terjun menyelesaikan berbagai masalah bangsanya. Tentu kaum muda hadir bukan dengan tangan dan pikiran kosong, kaum muda hadir dengan gagasan yang mencerahkan sekaligus optimisme dan semangat yang terus membara. Kaum muda mesti hadir dengan narasi besar, bukan gelombang caci maki yang hanya berujung pada permusuhan dan perpecahan antar elemen Indonesia sendiri.  

Kita sudah maklum bahwa kaum muda yang menghadirkan reformasi telah mengukir sejarah dalam posisinya yang tegas dan nyata dalam sejarah negeri ini. Mereka-lah yang kelak dalam catatan sejarah Indonesia ditulis secara jelas telah melakukan lakon terbaik dalam sejarah menghadirkan reformasi.

Kini mengawali kisah sejarah baru di masa depan, kaum muda harus terus menyempurnakan diri dengan narasi yang radikal tetapi mudah dicerna. Karena faktanya, negeri ini sepertinya tidak saja kehilangan orang-orang besar, tetapi juga pikiran-pikiran besar. Kaum muda pun dipaksa secara psikologis dan sosial untuk hadir menjadi pembaca sekaligus pelaku perubahan subtantif bagi Indonesia.

Disadari bahwa negeri ini sudah sejak lama digerogoti oleh berbagai masalah yang sangat pelik. Berbagai macam teori dan gagasan dilontarkan selama sekian tahun tapi nyaris hanya berhenti pada ujung pena dan lisan dengan segudang kata-kata berbisa dan berbusa. Karena kata-kata itu tak berujung pada realitas, agenda kerja dan kinerja. Padahal mengelola negeri ini ini tidak sekadar mengobral ide dan janji di atas kontrak politik atau berbagai peraturan layaknya penjual kacang atau orator kampanye yang tak sabaran. Menawarkan untuk kemudian segera pergi. Padahal negeri membutuhkan ide yang bergerak mengikuti dan bahkan mengantarkan kepiluan dan kegelisahan masyarakat ke depan altar optimisme dan perubahan. 

Isu penjualan sumber daya alam berharga yang dimiliki negeri ini secara tidak bijak, kebijakan-kebijakan yang tidak memihak pada masyarakat, dan kebijakan yang mendahulukan kepentingan individu atau kelompok daripada kepentingan masyarakat luas merupakan salah satu indikasi dari kurangnya mentalitas pahlawan juga negarawan dalam diri para elite penguasa dan politik di negeri ini. Korupsi yang nyaris menghantui para pemangku wewenang menunjukkan hilangnya jiwa kenegarawanan. Dalam pandangan sederhana, krisis kepemimpinan di tingkat manapun di negeri ini adalah minimnya sosok manusia yang memiliki mentalitas dan sikap sebagai negarawan. Atas dasar itulah figur negarawan mesti menjadi identitas lain yang mesti dihadirkan dalam dinamika pembangunan negeri ini ke depan.

Negarawan adalah manusia yang mampu mengkerangkakan masalah dalam sudut pandang yang luas, yang mampu membaca arti keragaman dengan cerdas, sekaligus kemampuan mengurai berbagai masalah selapis demi selapis. Di samping kemampuan untuk mengelola secara apik berbagai potensi dan kepentingan masyarakat Indonesia dalam skala kebijakan strategis hingga teknisnya.

Karena itu, orientasi kaderisasi kaum muda harus dirangkai atas dasar filosofi bahwa institusinya adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan Indonesia yang semakin maju dan berkeadaban. Artinya, semua elemen mesti berupaya untuk bersikap bijak bahwa ketimpangan Indonesia ini harus diselesaikan dengan upaya perbaikan dan tawaran-tawaran solusi yang terbaik. Bahwa pasca reformasi, kaum muda tidak sekadar menampilkan sosok kepemudaannya sebagai elemen yang kritis, lebih dari itu kaum muda adalah pewaris yang sah atas masa depan bangsanya, maka ia ikut bertanggung jawab untuk membangunnya.

Dipahami bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa, namun para pegambil kebijakan belum mampu mengelolanya menjadi kekuatan kolektif yang efektif untuk membangun sebuah tatanan baru Indonesia. Kita terkadang (untuk tidak dikatakan sering) kehilangan kebanggaan akan daerah kita sendiri, lalu dengan begitu mudah  membanggakan daerah lain secara membabi buta. Lalu, masih adakah patriotisme dan rasa cinta dalam hati kita kepada Indonesia tercinta?

Waktu masih bersama kita, kesempatan untuk berbenah pun masih tersedia secara gratis. Mari melunasi janji kesetiaan kepada Indonesia tercinta dengan menyelamatkannya dari berbagai krisis yang melandanya. Dengan hadirnya kaum muda sebagai elemen terdepan dalam menyelesaikan masalah di neger ini, maka negeri ini pun akan bangkit menjadi satu negara maju. Selamat datang kaum muda, Indonesia tercinta menanti kiprah terbaik kalian![1][]

 

 


[1] Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Eksekutif Mitra Pemuda, penulis buku 1. OPTIMISME MEMBANGUN BANGSA; 2. NgoPi (Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia). Tulisan ini dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Obsesi Kaum Muda Indonesia”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s