Selamat Jalan Kiai Sahal

images
Kiai Sahal

DI TENGAH-TENGAH hiruk pikuk persiapan penyelenggaraan pesta demokrasi (Pemilu 2014), akhir-akhir ini Indonesia dihadapkan dengan berbagai masalah juga ujian yang nyaris tapi bertepi. Dari kasus hukum, kriminalitas hingga bencana dalam berbagai bentuknya.

Dari bencana gunung meletus (seperti Sinabong di Sumatera Utara), bencana banjir (di Jakarta, Pantura, Manado dan berbagai wilayah) hingga yang baru saja terjadi adalah bencana gempa yang menghancurkan rumah sebagian penduduk di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Bukan saja menghambat pemenuhan kebutuhan ekonomi rakyat, berbagai kejadian tersebut dalam skala nasional ternyata mempengaruhi harga kebutuhan pokok dan stabilitas sosial nasional.

Di tengah menghadapi berbagai bencana sekaligus ujian tersebut, negeri ini pun diuji oleh Sang Kuasa (Allah Swt.), dengan wafatnya seorang ulama terkemuka, KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz yang dikenal dengan sapaan Kiai Sahal. Ra’is Am PBNU, Pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Kajen Margoyoso Pati Jawa Tengah sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama (MUI) Pusat tersebut wafat pada Jum’at, 24 Januari 2014 dini hari pukul 01.00 WIB (Republika, 24/1/2014).

Mengenang Kiai Sahal

Kiai Sahal lahir di Pati, Jawa tengah pada 17 Desember 1937, 77 tahun silam. Kiai Sahal terkenal dengan berbagai keunikannya. Selain dikenal sebagai sosok ulama yang kaya akan keilmuan dan luas akan wawasan, Kiai Sahal juga dikenal santun namun tegas dalam bersikap, sederhana namun tak menafikan kebaikan yang hadir di era baru.

Menjadi pimpinan Pesantren Maslakul Huda (PMH) sejak tahun 1963 sampai sekarang, Rektor Institut Islam NU (INISNU), Rois Am Syuriah NU (1999-sekarang) dan Ketua Umum MUI Pusat (2000-sekarang) tidak membuat Kiai berbadan kecil ini kehilangan jejak sebagai ulama sederhana dan panutan bagi banyak orang. Bukan saja menjadi panutan bagi warga NU, tapi juga bagi umat Islam bahkan seluruh rakyat Indonesia.

Berbagai fatwa sekaligus pemikirannya dijadikan rujukan dan bahan kajian oleh berbagai kalangan. Lagi-lagi, bukan saja dari kalangan NU bahkan oleh kalangan lain seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Persatuan Umat Islam (PUI), Hidayatullah dan sebagainya. Bahkan Partai Keadikan Sejahtera (PKS) yang notabene sering “dianggap” berseberangan secara kultur dengan NU justru menjadikan beliau sebagai salah satu panutan.[1] Presiden PKS, Anis Matta, menyampaikan rasa kagumnya. Anis mengenang bahwa sumbangsih terbesar Kiai Sahal, yakni mentransformasi pemikiran tentang fikih yang tidak lagi terbatas berkutat pada masalah halal-haram, tetapi juga menggali makna sosial dari ajaran fikih (Republika, 24/1/2014).

Ijtihad politik Kiai Sahal yang menghendaki agar NU tidak menjadi “rumah” satu partai politik (Parpol) semata, membuat banyak kalangan—termasuk PKS—meyakini bahwa Kiai Sahal telah membawa aura kebangkitan umat Islam di Indonesia.

Selain itu, dengan adanya isyarat agar NU tidak dibawa secara “frontal” ke ruang politik praktis, membuat NU semestinya menjadi rumah besar bagi umat Islam Indonesia, bukan sekadar rumah untuk satu faksi Parpol tertentu. Itu paling tidak kesan tersendiri yang disampaikan oleh mantan Ketua PBNU, KH. Hasyim Muzadi (24/1/2014).

Tak saja NU dan PKS yang kehilangan Kiai Sahal. Muhammadiyah, Persis dan Hidayatullah pun merasa kehilangan seorang sosok ulama yang langka ditemukan dalam dekade terakhir. Hal ini bisa dipahami dari pernyataan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Din Syamsuddin: “Kiai Sahal adalah ulama yang memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang sangat luas, tapi dapat dikaitkan dengan dinamika kemoderenan. Saya harap ulama muda, Ormas Islam, bisa menghadirkan kembali sosok ulama seperti beliau. Indonesia dan umat Islam memerlukan sosok beliau” (Disampaikan di kompleks Gedung DPR RI, 24/1/2014).

Selain Muhammadiyah, Persis juga merasa kehilangan sosok Kiai Sahal. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Persis, Prof. Dr. KH. Maman Abdurrahman, mengatakan bahwa kesalehan dan ketawadhuan Kiai Sahal adalah contoh bagaimana pemimpin umat itu seharusnya. Kita berharap ada sosok keluarga atau orang terdekat yang bisa mencontoh dan menggantikan beliau dalam meneruskan perjuangan Islam di Pondok Pesantren dan NU yang beliau pimpin (Detik, 24/1/2014).

Tak kalah terkesan dengan Muhammadiyah dan Persis, Hidayatullah pun menyampaikan pujian juga kenangan serupa. Sekjen Pengurus Pusat Hidayatullah, Ustaz Abu A’la Abdullah,  mengatakan, saya mengenal Kiyai Sahal sebagai seorang ulama kharismatik. Beliau adalah ulama yang konsisten memikirkan umat. Kiai Sahal menjaga kebersihan dirinya dari kepentingan politik. Dia tidak mau masuk partai politik (Republika, 24/1/2014).

Tentu masih banyak kalangan bahkan jutaan orang yang merasa kehilangan, memiliki kenangan dan kesan tersendiri dengan Kiai Sahal. Baik menyangkut kepribadian, keilmuan maupun pola kepemimpinannya dalam memimpin organisasi Islam terbesar dan beberapa lembaga pendidikan, bahkan perilaku beliau sehari-hari yang sangat kental dengan aura pesantren-nya.

Dalam dunia kelimuan (baca: karya tulis), Kiai Sahal mewariskan Al-Ushul (Surabaya: Diantarna, 2000), Pesantren Mencari Makna (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999), Al-Bayan al-Mulamma’ ‘an Alfdz al-Lumd (Semarang: Thoha Putra, 1999), Thariqatal-Hushul ila Ghayahal, (Semarang: Suara Merdeka, 1997), Nuansa Fiqh Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994), Al-Tsamarah al-Hajainiyah, I960 (Nurussalam, t.t) dan masih banyak karya serupa yang tidak diterbitkan secara formal, di samping ribuan makalah (risalah), artikel dan serupanya yang bisa dibaca di berbagai media massa (termasuk media sosial) atau yang dapat dibaca oleh santri binaannya di pesantren dan kampus.

Lalu, apa hikmah di balik kepergian Kiai Sahal dalam konteks sosial keagamaan, keilmuan dan kesatuan umat Islam?

Hikmah yang perlu pewarisan

Jika ditelisik dari perjalanan hidup sekaligus peran-peran “keulamaan” Kiai Sahal, paling tidak saya mecatat beberapa poin (hikmah) penting, pertama, mendalami ilmu agama sekaligus ilmu dunia adalah keniscayaan. Kemajuan ilmu pengetahuan adalah ruang terbuka bagi umat Islam untuk melakukan proses eksperimentasi ilmu agama secara komparatif. Ilmu agama sejatinya dipahami sebagai dasar sekaligus basis ilmu dunia, bukan diposisikan secara dikotomis bahkan terkesan serampangan. Paradigma integratif itulah yang membuat Islam dalam beberapa abad silam mampu menjadi soko guru peradaban dunia. Dan lagi-lagi, itulah yang sudah ditunaikan Kiai Sahal selama hidupnya.

Kedua, menjadi ulama bermakna menjadi manusia sederhana dalam balutan ilmu, keikhlasan, tawadhu, aspiratif, egaliter dan bijak. Dalam kondisi bangsa dan umat Islam yang “kesulitan” mendapatkan sosok pemimpin bangsa yang autentik, hadirnya ulama dengan ciri khas seperti yang sudah ditampilkan Kiai Sahal adalah sebuah keniscayaan mutlak.

Sederhana saja, kalau rakyat (umat) sudah kehilangan panutan pemimpin (bangsa-negara), maka satu-satunya panutan yang mestinya hadir adalah sosok ulama; mereka yang memiliki basis keilmuan yang kuat dan luas, soleh dalam ilmu dan amal serta memahami realitas keumatan.

Egalitarian sebagaimana yang telah dibangun dalam kultur pesantren—sebagaimana yang sudah ditunaikan Kiai Sahal—adalah satu bentuk kaderisasi kepemimpinan paling autentik bagi umat Islam dan negeri ini. Pertanyaannya, setelah kepergiaan Kiai Sahal, siapakah sang panutan yang layak mendapatkan “penghormatan sejarah” oleh umat Islam dan penghuni republik ini?

Ketiga, perbedaan sejatinya adalah modal sekaligus ruang terbuka untuk memberbincangkan berbagai perbedaan dengan argumentasi dan nalar keilmuan secara sadar dan rasional. Kondisi seperti ini hanya akan terjadi manakala Ormas Islam mampu menyediakan ruang bagi berbagai pemikiran sekaligus pengembangan sumber daya “keulamaan”.

Sederhana saja, ke depan kita berharap agar Ormas Islam mampu menghadirkan sosok-sosok ulama seperti Kiai Sahal. Ulama yang sejuk di dalam, sejuk di luar; cerdas di dalam, cerdas di luar; dan soleh di dalam, soleh di luar. Karena bagaimana pun umat hanya mafhum bahwa ulama adalah waris para nabi yang meniscayakannya menjadi milik semua umat, bukan milik satu Ormas semata yang terkesan memperbesar perbedaan-perbedaan yang memang sudah tersedia begitu rupa.

Keempat, dalam konteks kehidupan dan peradaban, wafatnya Kiai Sahal adalah alarm bagi siapapun bahwa ajal kematian selalu datang tanpa dugaan yang pasti. Kalau Sang Kuasa berkehendak maka terjadilah. Mengakhiri kehidupan di dunia dengan meningkatkan kualitas iman-takwa dan amal soleh nayata-lah yang membuat kehidupan ini dapat diakhiri dengan husnul khotimah, sebaik-baik akhir kehidupan.

Lebih jauh, meninggalnya para ulama kaya akan isyarat peradaban. Sebagaimana diisyaratkan dalam banyak riwayat, bahwa di akhir zaman Allah akan memberi peringatan kepada umat Islam dengan meninggalnya para ulama. Jika para ulama panutan meninggal, maka umat tersebut akan menghadapi dua kondisi: mundur (hancur) atau maju (bangkit).

Semoga kepergian Kiai Sahal adalah salah satu skenario Allah agar ulama lain—termasuk ulama muda—mampu hadir menjadi panutan baru, bukan isyarat umat Islam mundur (hancur).

Sahdan, wafatnya Kiai Sahal selalu menjadi kenangan, bukan saja di kalangan NU tapi juga seluruh Ormas dan umat Islam Indonesia. Namun, kepergian sang tokoh sejatinya adalah ruang terbuka bagi kita semua untuk menjadi pewaris terbaik dari keunikan sang tokoh. Sebagaimana pahlawan, wafatnya Kiai Sahal bukan sekadar dijadikan untuk mengenang kebaikan dan mematok kekaguman yang berlebihan.

Cara terbaik untuk mengenang dan mengeskpresikan kekaguman kepada Kiai Sahal adalah dengan cara mendo’akan yang terbaik untuk beliau, menunaikan kerja-kerja sejarah (baca: keulamaan) yang telah beliau tunaikan, mengambil yang terbaik dari yang beliau wariskan dan mewujudkan impian beliau yang belum kesampaian.

Hanya dengan begitulah wafatnya Kiai Sahal bukan menjadi ujian apalagi musibah tapi salah satu skenario Allah agar kita sebagai generasi penerusnya mendulang amal nyata bagi sejarah umat Islam juga bangsa ini. Akhirnya, mengiringi kepergiannya, dengan takzim, cinta dan air mata, izinkan saya atas nama generasi muda Indonesia untuk menyampaikan salam cinta dan kenangan: selamat jalan Kiai Sahal, kami akan selalu mencintaimu dan mengenangmu sebagai panutan yang unik. Semoga kelak kita bisa bersua lagi surga-Nya![2] []


[1] Pada dasarnya PKS tidak memiliki kultur yang berseberangan secara mendasar dengan kalangan pesantren, termasuk kalangan NU. Hanya saja “Kaum Sarungan” (baca: NU) terlihat begitu “sensitif” dengan PKS. Di PKS— termasuk petinggi PKS—merupakan alumni dari berbagai pesantren Muhammadiyah, Persis, PUI, Hidayatullah termasuk NU yang secara kultur sama saja dengan “Kaum Sarungan” yang lain. Hal ini dapat dipahami dari petinggi PKS, isi Paltform PKS, kemudian penjelasan Dewan Syariah Pusat PKS juga pernyataan Presiden PKS (Anis Matta) dalam berbagai momentum ketika silaturahim ke beberapa pondok pesantren berbasis NU di Jawa seperti ke Lirboyo-Jawa Timur dan sebagainya pada akhir 2013 lalu.

[2] Oleh: Syamsudin Kadir. Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Selamat Jalan Kiai Sahal”, dimuat di Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 4, Senin 27 Januari 2014.

2 thoughts on “Selamat Jalan Kiai Sahal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s