Tafsir atas Guyonan Anis Matta

Anis matta gaya...
Anis Matta, Penulis Buku Mencari Pahlawan Indonesia

SENIN, 26 Agustus 2013 (malam senin) lalu, adalah satu momentum bersejarah yang bagi saya. Mengapa? Karena ketika itulah saya dapat melihat secara langsung bagaimana seorang idola dengan kesederhanaan penampilan, kesantuhan pilihan kata dan kecemerlangan idenya memberikan sambutan singkat namun kaya pesan juga makna. Bukan sekadar cara ia menyampaikan isi pikiran yang membuat saya semakin terkagum, tapi juga karena kesantunan sekaligus keberaniannya untuk menyampaikan pola politik baru yang ingin ia tebarkan ke kalangan elite politik bangsa.  

Saya sangat ingat ketika itu, secara diam-diam turut menghadiri acara silaturahim beberapa tokoh penting Partai politik (Parpol) papan atas Indonesia, setelah mendapatkan informasi dari salah satu media sosial yang tak sengaja saya baca sehari sebelumnya.

Acara yang dinamai ‘Silaturahim Idul Fitri 1434 H dan Silatirahim Kebangsaan 2014’ tersebut digelar oleh Partai Golkar di Hotel Shangrila Jakarta merupakan salah satu upaya Golkar untuk memperkuat soliditas Parpol menjelang Pemilu 2014, di samping untuk “memperbesar” elektabilitas Golkar di mata publik. Itu paling tidak yang saya pahami dari sambutan panitia acara ketika itu.

Bagi saya, acara tersebut sangat penting. Menimbang bahwa politik akhir-akhir ini sering dipertontonkan dengan berbagai macam bentuk seperti anarkisme dan sikut menyikut, pencitraan namun ingkar janji, yang justru jauh dari substansi politik itu sendiri.

Saya sendiri mengapresiasi acara tersebut, sebab selain mengukuhkan silaturahim juga sebagai pembelajaran bagi publik bahwa beragamnya Parpol dan pilihan politik bukanlah pembatas untuk duduk bersama, mencari titik temu di antara berbagai spketrum kepentingan.

Mungkin bukan saya saja yang menganggap acara tersebut penting tapi juga banyak kalangan penting negeri ini. Hal itu ditandai, misalnya, hadirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sidarto Danusubroto, Ketua Umum DPP Golkar Aburizal Bakrie alias Ical, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta, Ketua Harian DPP Partai Demokrat Syarief Hasan, Ketua Umum Partai Gerindra Suardi, Ketum Partai Bulan Bintang MS Kaban, Ketua Umum Hanura Wiranto, para petinggi Parpol lain, serta ratusan kader Golkar. Tak ketinggal, sejumlah menteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II, juga turut hadir.

Ketika itu, hati saya bergumam, kalau saja ide para elite mampu bertemu pada satu titik temu sebagaimana fisik mereka bisa bertemu, maka bangsa ini segera bangkit dan mengambil peran sejarahnya sebagai bangsa besar. Bahkan rakyat di luar sana akan mengambil peran penting, minimal untuk melakukan hal yang sama di tempatnya masing-masing. Ah, ini hanya suara hati rakyat biasa saja kok. Bukan “siapa-siapa”, tapi punya keinginan “apa-apa”. Namanya juga berharap, bisa terwujud bisa juga tidak. Jadi, santai saja.

 

Sambutan dan Guyonan Anis Matta

            Di samping apresiasi dan kekaguman saya, ada hal lain yang saya temukan pada acara tersebut. Hal yang menurut saya justru menjadi isi (contain) utama acara yang dihadiri juga oleh awak berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, tersebut.

Ceritanya begini, semua ketua Parpol mendapat jatah memberikan sambutan masing-masing 5 menit, termasuk Ical sendiri.

Nah, kini giliran Anis. Sebagai Presiden PKS, Anis pun mendapat giliran memberikan sambutan. Memulai sambutannya, Anis tampil dengan mimik cukup serius, dan menyapa satu per satu hadirin diawali presiden, wapres, Aburizal Bakrie, para ketua umum Parpol, dan pimpinan lembaga negara yang hadir.

Saya ingin mengapresiasi ide acara silaturahim kebangsaan, khusus untuk Bang Ical Bakrie dan Partai Golkar. Ini adalah ide yang sangat brilian, karena bukan hanya kita memertahankan tradisi kemajemukaan kebangsaan, tapi juga membuat kompetisi politik di negeri kita ini asyik.

Dari apa yang disampaikan oleh Anis, saya memahami bahwa Anis ingin menegaskan satu hal penting bahwa acara ini bukan sekadar silaturahim dan bermaaf-maafan, tapi juga momentum mempertahankan tradisi bangsa untuk mencari ruang temu yang tepat. Dipahami bahwa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kemajemukan dalam berbagai sisi. Dalam kemajemukan itu kemungkinan terjadi fragmentasi kepentingan, sehingga seringkali menjadi penghambat konsolidasi kebangsaan dalam menatap masa depan bangsa yang lebih baik. Dan karena itu, bagi Anis, acara ini adalah acara penting. Di samping itu, Anis ingin mengingatkan bahwa acara semacam ini adalah sarana lain untuk memperlihatkan bahwa Golkar sudah berubah dari paraktik lamanya sebagai penyokong Orde Baru (Orba). Sehingga Golkar—termasuk Parpol yang lahir di era reformasi—mestinya meningkatkan perannya dalam mencerahkan publik bahwa politik sejatinya bukanlah ajang beradu otot yang cenderung merusak substansi politik, tapi lebih utama dipahami sebagai ruang kompetesi gagasan dan kapasitas dalam membangun Indonesia dengan cara-cara yang santai dan santun namun tetap menjaga substansi dan urgensinya.

Hal itu bisa dipahami dari sambutan Anis selanjutnya yang sangat penting bagi warna politik Indonesia ke depan. 

“Hal seperti ini mengubah suasana politik yang selalu saya katakan, tiba-tiba berubah menjadi permainan yang sangat berbahaya, menjadi permainan yang atraktif, seru tapi tidak berbahaya. Terima kasih atas ide ini.”

Ya, bagi Anis, politik yang selama ini selalu dipahami sebagai seni berbahaya dan membahayakan orang lain mestinya ditransformasi secara kultur dari kalangan elite politik menjadi seni asyik dan mensejahterakan orang lain secara kolektif. Atraksi politik semacam ini, bagi Anis, membuat politik tidak lagi diasumsikan sebagai panggung yang menakutkan, tapi justru menjadi panggung mengadu “bisa” secara elegan, yang membuat semua orang merasa terhibur dan saling membutuhkan. Lebih lanjut politik akan berubah dari sekadar janji-janji politik menjadi ruang pembelajaran elite politik dan pencerdasan publik secara terbuka.

Tadi saya berbicara dengan Fahri Hamzah di dalam mobil dan bilang ke saya, ini bedanya partai yang berkuasa 32 tahun. Jadi, kalau berkuasa lagi pantas-pantas saja,” Anis melanjutkan dengan guyonan khasnya.

Hadirin, termasuk Ical dan beberapa kader Golkar yang duduk di barisan depan tampak tertawa, namun SBY tidak tersenyum sama sekali. Saya tak tahu persis apa sebab SBY tak memberikan senyuman khasnya kali ini. Bagi saya, itu mungkin cara SBY memberi apresiasi: dengan tak memberikan senyuman—padahal senyum adalah ekspresi paling sederhana namun punya efek politis dan penting publik juga lawan politiknya.

Pilihan kata Anis begitu puitis. Secara sepintas, Anis ingin mengatakan bahwa Parpol yang memiliki pengalaman memang layak memimpin. Apakah Anis ingin menegaskan bahwa Golkar layak memimpin? Oh belum tentu. Saya sendiri tidak berhenti di situ untuk memahami maksud Anis. Saya justru menemukan maksud lain di balik itu. Dari situ saya memahami bahwa Anis bermaksud bahwa jika ingin berkuasa, jangan ulangi pola lama Orba: sentralisasi kebijakan pada elite Orba tanpa melibatkan elemen lain. Lakukan pola-pola baru, misalnya, rajin-rajinlah melakukan silaturahim untuk mencari titik temu dari berbagai kepentingan. Berkuasa bukanlah hak satu kelompok, tetapi ruang bagi hadirnya koalisi kepentingan dan cita-cita. Dipahami bahwa mengurus Indonesia adalah mengurus seperdelapan dunia. Karena itu, jika merasa besar dan ingin berkuasa, lakukan komunikasi politis dengan berbagai elemen bangsa—terutama antar elite Parpol. Mungkin begini juga maksud Anis, jangan serta merta memiliki obsesi memimpin Indonesia tapi tanpa memberikan apa-apa atau bahkan mencabut hak demokrasi rakyat. Atau mungkin juga begini maksud Anis, kalau senyum yang gratis saja tak mampu diberikan, lebih baik jangan memimpin kerena lebih baik dipimpin.

Pemaknaan semacam itu semakin meyakinkan saya setelah mendengar pernyataan lanjutan Anis.

Saya sekarang sedikit belajar banyak dari para senior Partai Golkar. Kalau kekuasaannya ini (dijabat) dalam waktu yang panjang, selalu membuat orang lebih memandangnya, daripada orang-orang baru yang bermain di pentas politik.”

Saya tidak tahu apa tafsiran orang terhadap pernyataan Anis. Saya melihat Anis—sadar atau tidak sadar—sedang menyindir SBY yang kini masih berkuasa.  Bahwa kalau baru berkuasa 2 periode jangan angkuh, apalagi tak memberikan senyum gratis. Golkar yang lama saja mau menyapa orang, yang dengan pengalaman dan nama besarnya mampu mengumpulkan banyak tokoh, minimal untuk mencicil senyum manis untuk Indonesia. Janganlah kiranya memimpin negeri jutaan inspirasi ini hanya ditunaikan dengan kata-kata “perihatin”, “kasihan” dan semacamnya.

Tapi jangan salah, Anis itu bukan tipe orang yang tak tahu etika politik. Anis sepertinya sangat paham makna keadilan politik, dimana setiap orang memiliki hak untuk mengkritik kekuasaan, namun secara bersamaan juga mesti memberikan apresiasi secara adil.

Hal ini dapat dipahami dari pernyataan Anis. Dalam pidato tanpa teksnya, Anis juga mengapresiasi kinerja Presiden SBY selama hampir dua periode.

Salah satu prestasi Indonesia saat ini tidak lagi berbicara tentang demokrasi yang rapuh. Indonesia dinilai hampir menuntaskan semua pekerjaan untuk melalui proses transisi menuju demokrasi yang lebih maju.

Saya sendiri tak begitu tahu persis maksud Anis, namun jika berkenan menerima kritik, saya ingin mengingatkan bahwa sejatinya negeri ini masih memiliki banyak PR seputar demokrasi. Jadi kalau hampir tuntas, mungkin itu hanya untuk “menyanjung” SBY saja. Lagi-lagi, ini mungkin toh!

Di bagian lain, seperti para politisi yang lain, Anis juga mengapresiasi acara yang cukup meriah ini dengan pernyataan politisnya. “Saya yakin Pemilu 2014 adalah Pemilu yang akan mengantarkan kita menjadi bangsa yang lebih kuat. Sudah waktunya memberi kontribusi yang lebih besar bagi kehidupan manusia. Sehingga kita tidak lagi sekadar berpikir menyelesaikan persoalan kita di dalam negeri, tetapi juga berpikir membantu saudara-saudara kita di luar sana sebagai negara besar.”

Jika di awal Anis melihat potret dan peran elite dari sisi yang lokalis, maka sekarang Anis ingin membawa hadirin ke ruang yang berbeda, ruang kontribusi nyata. Anis ingin menyadarkan elite penting bangsa ini bangsa Indonesia adalah bangsa besar. Karena itu, Indonesia mesti keluar dari pakem: negara miskin, negara lemah dan semacamnya. Mengurus Indonesia memang membutuhkan energi yang tak sedikit. Namun, dengan seluruh potensi dan peluang yang dimilikinya, Indonesia seharusnya segera mengambil peran startegisnya bagi kebangkitan peradaban dunia. Bagi Anis, silaturahim semacam itu adalah ruang pembelajaran bagi siapapun, terutama elite politik. Bahwa setelah selama ini elite bangsa sibuk dengan urusan politik dengan pemaknaan yang sempit dan praktik norak, maka seharusnya bangsa ini dibawa ke peran yang lebih besar dan istimewa sebagai pembawa arus utama kebangkitan baru dunia.

Ah, ini sekadar “tafsiran” yang tak layak dijadikan penafsir terbaik maksud Anis di balik kata-katanya. Tapi paling tidak, beginilah cara saya mengambil manfaat dan mengkontekskan maksud teks (kata-kata) Anis. Karena itu juga, saya perlu mohon maaf kepada sang pemilik teks. Di atas segalanya, terima kasih Pak Anis Matta yang telah memaksa alam bawa sadar saya untuk bicara dan menulis tulisan sederhana ini bagi diri dan publik negeri ini. Semoga gagasan selanjutnya hadir kembali di pentas publik bangsa tercinta, Indonesia! [Syamsudin Kadir—Pemerhati Masalah Sosial-Politik, Penulis buku NgoPi; Ngobrol Politik dan Demokrasi Indonesia. No. HP: 085 220 910 532]

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s