Kandidasi Pemilu dan Kendali Patron Parpol

12-partai-peserta-pemilu-2014DEMOKRASI adalah ruang dimana ekspresi individu dan kehendak kolektif diupayakan untuk menemukan titik temu melalui mekanisme kesepakatan dengan sistem perwakilan. Dalam sistem demokrasi yang memilih jalan perwakilan itu, pemilihan umum (Pemilu) dimana kompetesi partai politik (parpol) dijadikan sebagai instrumen begitu penting. Parpol bahkan memiliki otoritas konstitusional untuk melegalkan kehendak individu dalam mewujudkan cita-citanya menjadi pejabat negara seperti Presiden, Wakil Presiden, anggota DPR dan seterusnya. Parpol diberi otoritas absolut untuk menentukan jalan bagi siapapun yang hendak menjadi pemegang kebijakan penting negara. Begitulah aturan main demokrasi yang sama-sama kita sepakati sebagaimana diatur dalam konstitusi negara kita.

Namun bagaimana jadinya jika parpol stagnasi dan cenderung angkuh dalam menjalankan otoritas karena daya sekaligus kuasa sang patron parpol begitu kuat bahkan melampaui kultur sekaligus prinsip-prinsip demokrasi? Masih mungkinkah para elite non patron mengambil peran penting?

 

Kuasa dan Kendali Sang Patron

Akhir-akhir ini, sebagai lembaga politik yang diberi otoritas dalam kandidasi Presiden, Wakil Presiden dan DPR, parpol berada di tengah ketidakpercayaan publik yang semakin akut. Hal ini disebabkan, misalnya, oleh karena keterlibatan para pengurus parpol dan politisi (dari parpol) dalam berbagai kasus seperti korupsi, tindakan asusila dan seterusnya (Media Indonesia, 12/11/2013). Bahkan secara internal, partai politik memperlihatkan dirinya sebagai lembaga politik yang cenderung tertutup, sentralistik, dan oligarkis.

Terkait hal ini, Richard Gunther dan Larry Diamond (2003) dalam Species in Political Parties: A New Typology membagi partai berdasarkan pengalaman partai-partai di dunia selama beberapa dekade ke dalam 15 spesies (jenis) dari 5 genus (kelompok besar): partai elite; partai massa; partai etnis; partai elektoral; dan partai pergerakan.

Partai-partai di Indonesia yang tampil sebagai kekuatan politik hanya masuk dalam tiga genus: partai elite, partai electoral dan partai pergerakan. Dari tiga genus itu, beberapa partai besar di Indonesia (Demokrat, Golkar, PDI-P dan PKS) sebagai refleksi kekuatan politik kepartaian yang mapan punya karakter atau tipologi saling beririsan di antara tiga jenis partai: catch-all party, personalistic party, dan clientelistic party.

Irisan dari tiga spesies partai itu menghasilkan empat karakter khusus partai di Indonesia. Pertama, secara ideologi, semua partai merapat ke tengah untuk mendapatkan basis massa dari semua pemilahan sosial yang ada, baik agama, suku, dan tingkat ekonomi tertentu. Termasuk PKS yang memilih menjadi parpol “terbuka”.

Kedua, partai dikelola secara personal sehingga struktur organisasi tidak berpengaruh signifikan karena keanggotaan, pendanaan, dan kaderisasi masuk melalui jejaring dan selera individual. Dalam hal ini dilalui oleh semua parpol (terutama parpol besar selain PKS).

Ketiga, loyalitas kader dan anggota tidak didasarkan pada preferensi ideologi, apalagi platform, karena mereka mendekat akibat tarikan dari tiga modal yang dimiliki patron.

Keempat, partai dioperasionalisasikan untuk mengakomodasi ambisi pemimpin elite sehingga keputusan dan kebijakan partai berayun secara oportunis dan bertumpu pada fluktuasi popularitas figur.

 

Parpol Berserakan?

Singkat cerita, dalam isu kandidasi presiden menuju Pilpres 2014, maksimal hanya akan terjadi tetra-polar kekuatan peta politik secara nasional. Hal ini didasarkan pada banyak kajian survei dan stabilitas angka elektabilitas di dalamnya.

Golkar sekalipun, di tengah turbulensi internal, jelas tampil sebagai kekuatan tersendiri. Demokrat dengan elektabilitas di atas 10 persen juga berpotensi memimpin kekuatan lain. Di sisi lain, PDI-P digadang jadi antitesa penting setelah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara beberapa partai menengah yang cenderung berada di pusaran 5 persen suara berpotensi pada dua pilihan: bersatu menjadi kekuatan tersendiri atau berpencar dan merapat ke tiga kutub politik yang ada.

Sementara itu, dalam wacana publik yang berkembang, figur yang bakal mampu memenangi panggung pemilu atau bahkan mengungguli presiden masih sangat buram, berserakan, dan memunculkan banyak kemungkinan. Di tengah banyak kemungkinan ini, PDI-P punya cadangan kader muda yang cukup seperti Jokowi (78,6), Pramono Anung (68,0), dan Budiman Sudjatmiko (64,0) masuk dalam 10 urutan teratas. Kader PKS, Anis Matta (61,9), kader PPP, Lukman Hakim Saifuddin (61,5), kader Golkar, Priyo Budi Santoso (61,2), dan kader Demokrat, Anas Urbaningrum (59,9)—masuk pada urutan ke-9, 11, 12, dan 14—juga mampu merepresentasikan potensi partai di luar otoritas politik patron partai dan tangan-tangan oligarki di dalamnya (Kompas, 18/10/2012).

Menurut Peneliti dan Analis Politik Pol-Tracking Institute, Arya Budi, S. IP, kini parpol justru berada di tengah kegalauan politik. Kegalauan ini terjadi karena parpol merefleksikan stagnasi pengelolaan parpol yang hampir sama: pengelolaan parpol dalam logika patron-klien. Artinya, eksistensi patron parpol dan kultur politik clientelistic mengamputasi mekanisme politik dalam kandidasi presiden. Katakanlah, Megawati bertangan besi karena otoritas penuh yang dimilikinya, sementara Aburizal Bakrie mempunyai otoritas struktural untuk mencipta struktur peluang politik bagi siapa pun, termasuk dirinya. Begitu juga PKS dengan posisi Majelis Syuro-nya yang memiliki otoritas penuh dalam mengambil kebijakan strategis PKS.

 

Fenomena patron

Menurut Susan Stokes dan Luis Fernando Media (2002) dalam Clientelism as Political Monopoly, prasyarat jadi seorang patron di dalam partai sebenarnya sederhana. Tiga hal yang harus dia miliki: skill, link, dan resource. Namun, pengalaman politik kepartaian di Indonesia menunjukkan ada dua sumber lain: (1) genetika politik atau keturunan dan (2) tingkat penerimaan publik atau elektabilitas yang tinggi. Namun, uji kelayakan figur melalui survei assessment oleh pakar dan pembuat opini publik menunjukkan Puan Maharani (anak Megawati) yang punya kemewahan genetika politik di dalam PDI-P justru hanya menempati peringkat ke-31 dari 35 figur terseleksi dan 13 aspek yang dinilai (Kompas, 18/10/2012).

James C Scott (2009) dalam Patron-Client Politics and Political Change in Southeast Asia menuturkan, sistem pemilu dan politik elektoral di Asia Tenggara dalam dekade terakhir ini berimplikasi pada perubahan struktur dan pengaruh relasi patron-klien di tubuh parpol. Salah satu pengaruh yang tampak adalah munculnya piramida relasi patron-klien.

Artinya, terjadi tingkatan-tingkatan patron dari pucuk pimpinan pemegang hak veto keputusan parpol sampai tingkatan patron di level lokal dalam satu alur hierarki. Akhirnya, meski tingkat kapasitas dan kapabilitas figur muda di atas standar ketercukupan 60,0, mereka harus dengan susah payah menembus struktur piramida patron-klien, apalagi figur muda di luar kelembagaan parpol.

Namun, di sisi lain, sekalipun struktur kekuasaan patron mampu mengelola efek destruktif dari faksionalisasi dalam parpol, struktur kekuasaan ini akan jadi bom waktu bagi parpol. Karena relasi patron-klien menciptakan mekanisme kekuasaan sentripetal di dalam parpol. Artinya, patron sebagai ruling elite jadi poros berputarnya klien-elite atau ruled elite di sekeliling elite. Ketika modal patron terputus (lenyap) atau kedirian patron yang secara insidental hilang, maka elite yang mengitarinya akan lepas terlempar secara sporadik.

Hal inilah yang menjelaskan turbulensi internal di dalam Partai Golkar terkait proses kandidasi Aburizal sebagai calon presiden. Hal ini juga yang menjelaskan stabilitas internal di dalam tubuh PDI-P karena kuatnya struktur kekuasaan sentripetal yang diputar Megawati sebagai patron.

Artinya, memperbincangkan kandidasi presiden hari-hari ini memang penting karena terjadinya proses deliberasi kandidasi terhadap nama-nama figur baru (muda). Namun, pentingnya perbincangan ini menjadi sama sekali tidak berguna ketika mekanisme politik yang terjadi di dalam organisasi parpol mengamputasi begitu saja proses deliberasi kandidasi yang terjadi di dalam diskursus publik.

Di atas segalanya, semuanya kembali lagi kepada sikap terbuka dan patriotisme para patron utama parpol. Jika para patron parpol sudah memposisikan parpol sebagai “milik pribadi”—dalam pengertian dengan begitu otoriter mengambil kewenangan parpol dalam menentukan kebijakan strategis parpol tanpa memahami proses demokrasi sebagai proses kaderisasi para pemimpin dan melibatkan secara terbuka elemen lain dalam struktur parpol—maka itu merupakan praktik paling akurat yang menambah keyakinan publik bahwa parpol memang bukan lagi sarana terbaik bagi proses pengkaderan para pemimpin bangsa, tapi justru menjadi biang penghambat paling nyata.

Sederhananya, betul bahwa kebijakan politik yang berbasis patron bukanlah praktik yang serta merta keliru, namun jika ia diwujudkan dengan cara-cara tidak demokratis, maka ia benar-benar menjadi penyakit paling akut dalam mewujudkan proses demokratisasi dan regenerasi kepemimpinan bangsa di masa depan. Dalam konteks pemilu 2014, inilah momentum bagi rakyat (pemilih) untuk kembali mengambil peran pentingnya sebagai pemilih yang sadar, rasional dan bertanggung jawab. Memilih pemimpin bukan sekadar memilih kandidat yang tersedia, tapi juga memahaminya sebagai momentum seleksi paling akurat bagi hadirnya pemimpin baru dalam mengeja skema sejarah masa depan bangsa. [Oleh: Syamsudin Kadir, Pemerhati Masalah Sosial-Politik, Penulis dan Editor Lepas; Tinggal di Cirebon-Jawa Barat.CP: 085 220 910 532. Dielaborasi dari tulisan aslinya yang berjudul “Kandidasi Pemilu dan Kendali Patron Parpol; Kritik atas Praktik Politik Petinggi Parpol)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s