Muhasabah Cinta

Kang DedenINDONESIA kembali berduka, remaja juga kaum muda Indonesia kembali berduka, dan dunia nasyid Indonesia kembali berduka. Setelah berbagai peristiwa melanda Indonesia, kini Allah menguji negeri ini lagi dengan meninggalnya salah satu vokalis group nasyid terkenal di kalangan remaja dan mahasiswa bahkan orangtua. Beliau adalah Kang Aden/Deden, vokalis group nasyid Edcoustic, asal Bandung-Jawa Barat. Beliau meninggal di UGD RS Al-Islam Kota Bandung-Jawa Barat pada Senin, 30 Desember 2013 sekitar pukul 20.30 WIB.

 **

 Vokalis Edcoustic, Kang Aden, Meninggal

            Ya, aku baru saja membaca beberapa naskah buku yang mesti aku selesaikan pekan ini. Karena cukup lelah, aku pun memilih bermain membersamai anakku, Azka Syakira, dan istriku, Mba Uum Heroyati, di rumah mertuaku. Libur akhir tahun kali ini aku dan keluarga memilih berlibur sekaligus silaturahim ke rumah orangtua (mertua) di Jatireja, Compreng, Subang-Jawa Barat.

Tak diduga, di sela-sela kami bermain dan bercanda santai dengan Azka, tiba-tiba pesan masuk ke pesan masuk HP-ku. Tak memilih lama, aku pun langsung membuka dan membaca isi SMS masuk. Isinya cukup mengagetkan dan ya aku benar-benar kehilangan.

“Telah meninggal Kang Aden/Deden, Vokalis group nasyid Edcoustic asal Bandung hari ini Senin, 30 Desember 2013 ba’da Isya di UGD RS. Al-Islam Kota Bandung-Jawa Barat. Mohon do’akan beliau agar mendapatkan ampunan sekaligus mendapatkan surga-Nya!”, begitu isi SMS-nya.  

            Inna lillahi wa inna ilahi rooji’un. Aku benar-benar kaget. Aku pun mengabarkan informasi itu kepada istriku yang bisa dibilang termasuk yang suka mendengar lantunan nasyid Edcoustic. Istripun kaget juga. Ya bagaimana tidak, sebagaimana aku, istriku selama ini boleh dibilang tak pernah melewatkan untuk mendengar nasyidnya, terutama yang berjudul “Muhasabah Cinta”, tiap hari. Mendengarnya bukan saja menyentuh jiwa tapi juga mendobrak keangkuhan yang sedikit banyak telah merasuk ke dalam hati.

Tak ayal, aku pun kadang menangis mendengar dan merenungi lirik nasyidnya. Dalam beberapa kesempatan, terutama ketika mengisi acara bedah buku aku di beberapa kampus dan kota di seluruh Indonesia, aku terbiasa untuk mengawali semuanya dengan hiburan,,, aku memilih nasyid ini, ya nasyid “Muhasabah Cinta”. Misalnya, ketika di Palangkaraya-Kalimantan Tengah, Mataram-NTB, Tasikmalaya-Jawa Barat, Kota Cirebon-jawa Barat dan beberapa kampus dan kota lain. Liriknya kena banget dan tentu saja membuat jiwaku terkendali. Aku pun sudah menyediakan Gitar khusus untuk ‘mengikuti’ jejak Edcoustic dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan di saentero nusantara, hingga dunia. Ya, aku ingin mengikuti jejaknya.

 

Aku dan Kang Aden Edcoustic

            Aku sendiri mengenal Kang Aden/Deden pertama kali ketika aku masih kuliah di UIN (ketika itu masih IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung pada tahun 2004. Ketika itu, aku dan beberapa teman juga kakak-kakak senior di kampus menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat Institut, namanya Kabinet Intelektual Profetik. Waktu itu Kang Aden bersama tim-nya dari Edcoustic diundang untuk mengisi acara innaugurasi acara Ta’aruf (Ospek) Mahasiswa Baru angkatan 2004. Kang Aden dan tim pun hadir. Lantunannya begitu menarik simpati mahasiswa bahkan undangan yang hadir. Bahkan efeknya, beberapa unit kegiatan mahasiswa berbasis masjid atau kegiatan keislaman mendapat anggota baru yang cukup banyak. Respon petinggi kampus pun cukup bagus. Serasa kampus kembali terwarnai dengan nilai-nilai keislaman.

            Tak cukup di situ, pada tahuan 2005 kemudian 2006, di kampus yang sama, aku dan teman-teman Aktivis Dakwah Kampus (ADK) mengikuti perhelatan politik kampus dan mengadakan berbagai kegiatan di kampus. Dengan tanpa kesusahan begitu rupa, beliau bersama timnya pun turut memeriahkan beberapa kegiatan tersebut. Lagi-lagi, banyak efek positif yang didapatkan. Termasuk merubah citra kampus yang sebelumnya begitu sangat buruk menjadi kembali baik. Sehingga beberapa tahun setelah itu UIN menjadi kampus yang diminati oleh mahasiswa dan kembali disenangi masyarakat.

 

Lirik yang menyentuh jiwa dan mendobrak keangkuhan

Siapapun akan merasa ada ‘sesuatu’ ketika mendengar lirik nasyidnya, terutama yang “Muhasabah Cinta”.

 

Wahai…

Pemilik nyawaku

Betapa lemah diriku ini

Berat ujian dari-Mu

Kupasrahkan semua pada-Mu

 

Tuhan…

Baru kusadar

Indah nikmat sehat itu

Tak pandai aku bersyukur

Kini kuharapkan cinta-Mu

 

Reff.

Kata-kata cinta terucap indah

Mengalir berzikir di kidung do’aku

Sakit yang kurasa

Biar jadi penawar dosaku

 

Butir-butir cinta air mataku

Teringat semua yang Kau beri untukku

Ampuni khilaf dan salah

Selama ini ya Illahi

Muhasabah cintaku

 

Tuhan…

Kuatkan aku

Lindungiku dari putus asa

Jika ku harus mati

Pertemukan aku dengan-Mu

 

            Bukan saja “Muhasabah Cinta”, lirik-lirik nasyid beliau yang lain pun kaya makna dan pesan. Sebut saja, misalnya, Berubah, Cinta Berkawan, Masa Muda, Remaja Peduli, Pertengkaran Kecil, Pemuda Palestina, Kami Sama, Find The Way, Nantikanku Di Batas Waktu dan seterusnya. Ditambah lagi dengan album baru yang aku sendiri belum menghafal semuanya.

            Aku masih ingat, dulu lirik nasyidnya banyak dicemooh, karena dianggap terlalu cengeng dan seterusnya. Padahal dugaan tersebut terlalu “dangkal”. Aku sendiri sering membaca dan sedikit merenungi beberapa lirik nasyid Edcoustic. Jujur, aku merasakan semuanyaa benar-benar berisi. Tanpa melebih-lebihkan, lirik “Muhasabah Cinta” dan ya hampir semuanya nasyidnya membuat saya menangis dan tersadarkan. Bahwa hidup ini tidak sekadar di sini, bahwa selama ini aku masih angkuh di hadapan-Nya dan ya jiwaku merasa terisi setelah merenungi pesan dakwah Edcoustic. Di samping untuk selalu menjaga nilai-nilai persahabatan, toleransi, kepedulian, dan kemanusiaan dalam menjalani kehidupan ini.  

Lalu, masih adakah Kang Aden lain yang mampu bernasyid tak sekadarnya tapi mampu menyentuh jiwa-jiwa kering, angkuh dan sombong? Sekali lagi, masih adakah?

Ya percayalah, Kang Aden/Deden telah pergi. Beliau telah meninggal, menghadap kepada Sang Kuasa, Allah. Namun pesan-pesan dakwahnya masih terngiang dalam ingatan,,, mendobrak jiwa siapapun yang angkuh kepada Sang Kuasa. Coba renungi kembali lirik nasyid-nya “Muhasabah Cinta”, menyentuh banget, dan ya itulah takdir Sang Kuasa,,, ia tak mengenail waktu dan umur yang kita mau. Kalau Dia berkehendak maka terjadilah. Kang Aden pun tak luput dari takdir milik-Nya.   

            Di atas segalanya, Kang Aden, aku mencintamu karena Allah. Aku ingin menjadi saudara juga sahabatmu. Jujur, aku rindu ketemuan lagi seperti dulu ketika membedah buku karyaku “The Power of Motivation” di acara Islamic Book Fair (IBF) di Kota Cirebon-Jawa Barat beberapa waktu lalu. “Muhasabah Cinta” yang kau lantunkan masih terngiang, mendobrak keangkuhan jiwa yang kosong akan ruh, dan kau hadir di tengah kehausan cintaku pada Allah.

            Akhirnya, selamat jalan Kang Aden, ya Kang Deden, aku dan siapapun di luar sana, insya Allah, akan mengambil manfaat dari semua karya dan kinerja yang kau torehkan selama ini. Sungguh, aku percaya bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui isi lirik-lirik nasyidmu. Terutama “Muhasabah Cinta” yang sering kau lantunkan itu…Ya, walau kini kita berpisah, aku ingin tetap menjadi saudara dan sahabatmu…selamanya, hingga ke surga-Nya!   

 

Subang-Jawa Barat

Pukul 23.40 WIB

Aku yang mencintaimu karena Allah,

 

 

 

Syamsudin Kadir

085 220 910 532  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s