Wahai Mahasiswa, Bangkitlah!

KAMMI ckGERAKAN politik mahasiswa telah memberikan warna tersendiri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Gerakan mahasiswa kerap kali menghadirkan perubahan bagi bangsa. Merekalah yang berhasil menghadirkan perubahan kepemimpinan dalam beberapa dekade perjalanan kepemimpinan bangsa ini. Merekalah tulang punggung pembentukan masyarakat yang semakin maju yang dilandasi oleh cara berpikir yang cerdas, sikap yang beradab dan berani berkompetesi. Itulah sebagian pujian yang sering disematkan kepada mahasiswa, kepada gerakan mahasiswa.

 

Sebuah Kritik

Sepertinya terlalu banyak “mitos” yang berkembang mengenai gerakan mahasiswa. Kalimat-kalimat yang kadangkala sloganistis masih terus dipercaya melekat dalam diri gerakan mahasiswa. Semisal agent of change, iron stock atau yang lainnya. Gelaran seperti itu, hendaknya bukan hanya sebuah teriakan kosong tanpa makna dan aplikasi. Mengutip Amin Sudarsono (2010), gerakan mahasiswa secara organis harus terus berfikir tentang efektivitas strategi dan taktis (stratak) gerakan, terutama ketika struktur sosial, politik dan ekonomi bangsa tengah mengalami kondisi yang tidak menentu dan tidak menguntungkan masyarakat.

Pada 1998, gerakan mahasiswa tampil sebagai kekuatan baru dan berhasil menjatuhkan Soeharto. Pasca jatuhnya Soeharto, gerakan mahasiswa mengalami polarisasi gerakan. Hal ini mengundang kritik, bahwa gerakan mahasiswa ternyata—dianggap—tidak bersungguh-sungguh atas perjuangan reformasi hingga implementasi strategis Enam Visi Reformasi berupa (1) Amandemen UUD 1945 (2) Penghapusan peran Dwifungsi ABRI/TNI (3) Penerapan Otonomi Daerah (4) Penegakan Supremasi Hukum (5) Pertanggungjawaban Orde Baru (6) Budaya Demokrasi yang Rasional dan Egaliter (Jurnal Politik AKSES, Vol. I No. 4 2001, hlm 341-347).

Saat ini, gerakan mahasiswa masih mengalami kegamangan akibat ketidakberdayaan terhadap drama politik elite—dari kebijakan pemerintah menjual aset-aset negara, apatisme terhadap problematika sosial dan ‘kontrak-kontrak’ politik akibat intervensi asing hingga penjualan idealisme mahasiswa dengan jabatan dan sogokan. Pragmatisme politik menjadikan mahasiswa tidak berwibawa sebagai pembawa aspirasi rakyat.

Benar apa yang dikatakan Kuntowijoyo (1993), tidak terbukti dalam sejarah bahwa politik sangat menentukan. Yang lebih berperan dan menentukan adalah arus besar berupa kekuatan-kekuatan sejarah yang meliputi perubahan-perubahan sosial, ekonomi dan kultural. Fernand Braudel, sejarawan Prancis, mengkategorikan perubahan politik pada sejarah jangka pendek. Interaksi gerakan mahasiswa dengan politik setelah 32 tahun rezim Soeharto amat pendek. Namun sudah cukup berhasil menyadarkan masyarakat akan arti kebebasan dan partisipasi, walau gagal menyadarkan arti kemerdekaan dan kemandirian secara utuh.

 

Titik Balik Gerakan

Walau begitu, sejauh ini banyak pihak yang melihat bahwa gerakan mahasiswa masih sangat dibutuhkan dalam rangka mengawal jalannya reformasi dan transformasi politik—terutama menjelang momentum pemilihan umum 2014 dan berbagai momentum Pilkada ke depan. Justru kondisi ini merupakan tantangan bagi mahasiswa untuk menegaskan platform gerakannya. Dengan tidak terlibat jauh ke wilayah politik praktis, sesungguhnya, mahasiswa tak perlu ragu dan risau dalam menempatkan posisinya. Karena itu, agar gerakan mahasiswa tetap mempunyai legitimasi moral yang kuat di masyarakat, seyogyanya aspirasi dan agenda yang diusung oleh mahasiswa mesti dilandasi oleh daya kritis, rasional, objektif dan konstruktif.

Konsekwensi logis berubahnya orientasi struktur dan tatanan sosial dan politik ke arah demokratisasi merupakan sinyal baik bagi tumbuhnya partisipasi publik, termasuk mahasiswa. Karena itu, seharusnya masih banyak alasan kuat bagi mahasiswa untuk terus-menerus melontarkan protes-protes sosial dalam rangka meluruskan dan mematangkan agenda reformasi dan demokratisasi bangsa. Sebab, reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa harus selalu dikawal, sehingga tidak tercuri oleh kepentingan pragmatis sebagian elite politik yang tengah menguasai struktur kekuasaan.

Lebih jauh, gerakan mahasiswa sejatinya masih dibutuhkan oleh masyarakat bangsa. Masyarakat masih membutuhkan pencerdasan dan bimbingan dari elemen intelektual kampus seperti mahasiswa. Theodor Heuss, Presiden pertama Republik Federal Jerman bahkan percaya bahwa perilaku demokrasi yang hidup adalah politik yang melibatkan masyarakat luas, yang hanya diperoleh dengan cara menggalakkan pendidikan politik bagi masyarakat.

Friedrich Nauman, seorang politisi dan pemikir Jerman pada awal abad ke-20 tak jauh beda dengan pendapat Heuss. Nauman percaya bahwa demokrasi yang berfungsi baik membutuhkan warga negara yang terpelajar dan memahami politik. Pendidikan masyarakat sipil, menurut Nauman, adalah sebuah prasyarat bagi partisipasi politik dan demokrasi.

Oleh karena itu, menurut Verry Wahyudi (dalam Mahasiswa dan Politik, koran Radar Cirebon, 1/10/2013), sejatinya perguruan tinggi—dimana mahasiswa hidup dan bergulat intelektual—berada di barisan terdepan dalam mensukseskan hal ini. Gerakan mahasiswa harus menjadi pusat pendidikan politik sebagai upaya turut serta dalam menuntaskan agenda reformasi politik bangsa.

Transformasi Gerakan Mahasiswa

Selain yang dipaparkan di awal, gerakan mahasiswa juga senantiasa mengidentifikasikan diri sebagai gerakan moral (moral force). Sebuah istilah yang positif namun kadang menjebak gerakan mahasiswa pada kemandekan (stagnasi) proses perubahan itu sendiri. Perubahan sesungguhnya adalah proses berkelanjutan, bukan proses pemanfaatan momentum belaka (termasuk untuk revolusi sekalipun), karena masyarakat akan sangat lebih membutuhkan perubahan yang terarah dan riil membawa perubahan sosial padanya.

Pengalaman generasi ‘66, ‘74 dan ‘98 menunjukkan ‘kegagalan’ perubahan itu sendiri. Ketika generasi ‘66 menjadi lambang status quo pada Orde Baru, dan ketika generasi ‘74 pun terhenti dan terdiam. Mereka akhirnya terperangkap pada jebakan-jebakan politik yang menjadikan mereka sebagai kendaraan politik kekuasaan belaka. Termasuk ‘98  yang kini pun ‘agak’ terdiam dan membiarkan proses reformasi tergagalkan.

Transformasi posisi dan peran mahasiswa dalam proses perubahan seharusnya menjadi tema terbesar gerakan mahasiswa sekarang—dan mungkin juga ke depan. Bahwa mahasiswa bukan lagi sekadar pendorong proses perubahan, tetapi pelaku perubahan. Secara sederhana, transformasi tersebut menurut Rijalum Imam (2010) dapat berwujud berupa, misalnya, dari gerakan perlawanan ke gerakan kontribusi solusi, dari sekadar kekuatan moral (moral force) ke perjuangan kepentingan (interesting group), dari politik aksi ke gerakan politik berbasis kompetensi (politik pengetahuan), dari gerakan jalanan ke gerakan jaringan strategis dan dari pribadi agen perubahan (agent of change) ke pribadi pengendali perubahan (director of change).

Sederhananya, menurut Amin Sudarsono (Ijtihad Membangun Gerakan, 2010), gerakan mahasiswa tidak cukup sebagai “koboy” yang datang bagai pahlawan hanya ketika ada masalah lalu pergi tanpa permisi. Gerakan mahasiswa juga bukan sebagai “resi” yang turun dari padepokan—kampus—untuk menolong rakyat lalu pulang ke ‘habitat’nya, kembali tanpa kejelasan arah dan tujuan. Selain itu, gerakan mahasiswa juga tidak sekadar menjadi ‘pendorong mobil mogok’ yang ketika pemerintahan negara “macet”, mahasiswa mati-matian mendorong untuk maju, lalu tak melakukan apa-apa. Keterbatasan wacana dan intelektual masyarakat Indonesia tentang demokrasi subtantif dan egaliter menunjukkan bahwa mereka masih sangat membutuhkan pendampingan mahasiswa di dalamnya.

Tuntutan tersebut akan menambah kerja (atau meletakkan pada porsinya) gerakan mahasiswa ke depan. Pengulangan sejarah  ’66, ’74 dan ‘98 bukanlah pilihan yang baik. Tuntutan itu ter-representasikan dalam bentuk pendidikan politik berkelanjutan (bukan sekadar pembentukan opini massa), dalam bentuk pembangunan kesadaran yang terstruktur, dalam bentuk langkah-langkah riil di masyarakat, dan pemenuhan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Hal yang akan membutuhkan analisis mendalam kondisi sosial masyarakat dan kerja sama yang rapi berbagai elemen bangsa, utamanya antar gerakan mahasiswa.

Sebagai pelaku sekaligus pengendali perubahan, maka mahasiswa secara individu maupun kolektif (organis), harus menempatkan diri dalam arus besar perubahan secara bijak. Basis kompetensi keilmuan menjadi suatu yang signifikan untuk membangun masyarakat. Distribusi peran gerakan mahasiswa ke seluruh lini masyarakat merupakan keniscayaan ketika perubahan masyarakat sudah melalui proses transisi demokrasi. Kemampuan komunikasi dan kepemilikan jaringan serta kapasitas kepemimpinan perlu mendapatkan perhatian serius gerakan mahasiswa. Sehingga proses perubahan tidak mati atau berjalan setengah-setengah.  

 

Sebuah Renungan

Menegakkan dan meneguhkan idealisme memang sebuah langkah yang sangat berat di saat atmosfer pragmatisme menjadi udara yang dihirup gerakan mahasiswa setiap saat, utamanya akhir-akhir ini. Untuk itu, gerakan mahasiswa sebagai bagian dari “kaum idealis” harus terus berdiri dan menantang segala tirani—baik yang nyata maupun abstrak—dalam konteks membangun “dapur” dan peran gerakannya. Secara psiko-sosial, hambatan gerakan jelas selalu menghadang. Terpecahnya gerakan mahasiswa karena tiadanya musuh bersama (common enemy) dan egoisme ideologi, terbatasnya stamina mahasiswa, kegagalan pentransferan platform gerakan (bukan lagi sekadar ideologi) juga adanya ‘provokator’ adalah hal lain yang justru menjadi pemicu gerakan mahasiswa untuk melakukan evaluasi sekaligus penguatan gerakannya secara internal.

Dipahami bahwa gerakan mahasiswa selalu memiliki kekhasan di tiap generasinya. Mulai dari konstruksi gerakan, kondisi sosial politik maupun tantangan zamannya. Karena itu, jangan berhenti melangkah. Bangkitlah, teruslah mencicil perubahan bagi bangsa dan negara tercinta. Agar rakyat tak bertanya, “ke mana gerakan mahasiswa?”. Akhirnya, selamat berjuang pemuda, selamat berjuang mahasiswa![1] []


[1]Oleh: Syamsudin Kadir (Penulis dan editor lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik dan Kepemudaan). Dielaborasi dari tulisan singkat yang berjudul “Ke Mana Gerakan Mahasiswa?”, sebagai refleksi momentum mempertingati 15 Tahun Reformasi pada 5 April 2013 di Jakarta, dengan tema: Reformasi, Masih Adakah?. Pernah disampaikan juga untuk acara “Refleksi Reformasi” di beberapa kampus dan kota di seluruh Indonesia.    

 

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s