Lampaui Ketidakmungkinan

aku bisaPADA akhir April 2012 saya mendapat undangan menjadi instruktur Workshop Kepenulisan yang diselenggarakan oleh Universitas Siliwangi (Unsil) di kampus Unsil Kota Tasikmalaya-Jawa Barat. Pada kesempatan itu saya juga diminta untuk membedah salah satu buku saya, The Power of Motivation, yang sudah diterbitkan beberapa waktu sebelumnya.

Singkat cerita, setelah mengatur jadwal aktivitas yang agak padat dan mendapatkan izin sang istri, akhirnya saya pun mengamini undangan panitia atau penyelenggara. Pada sesi awal saya menyampaikan materi yang diamanahkan kepada saya, kemudian pada sesi selanjutnya bedah buku sekaligus tanya jawab.

Satu sub materi yang saya sampaikan adalah Seni Ketidakmungkinan. Sebetulnya materi ini beberapa kali sudah saya sampaikan pada berbagai acara yang sama di tempat atau kota yang berbeda. Mengelaborasi sub ini dengan berbagai macam contoh nyata ternyata menambah antusias peserta untuk berdiskusi, saya pun menjadi semakin bergairah untuk menunaikan amanah ini.

Pada sesi diskusi, banyak pertanyaan yang disampaikan oleh peserta, bahkan panitia. Di antaranya adalah strategi melampaui ketidakmungkinan, dan beberapa pertanyaan lain, yang pada intinya bagaimana mengelola sesuatu yang sering dianggap tidak mungkin menjadi mungkin, yang dinilai tidak bisa menjadi bisa.

Menjawab berbagai pertanyaan, saya mengajukan satu pertanyaan balik, apa yang membedakan antara orang optimis dengan orang pesimis? Ingat, orang optimis selalu percaya bahwa sesuatu yang dianggap “tidak mungkin” oleh orang pesimis, mereka percayai pasti “mungkin”. Orang optimis selalu yakin bahwa segala yang diyakini “tidak bisa” oleh orang pesimis, mereka yakini pasti “bisa”.

Sahabat dahsyat! Itu sedikit pengalaman saya. Sekarang, saya perlu menyampaikan pertanyaan yang sama untuk Anda. Apa yang membedakan antara orang optimis dengan orang pesimis? Jika Anda menjawab seperti ini : Orang optimis selalu percaya bahwa sesuatu yang dianggap “tidak mungkin” oleh orang pesimis, mereka percayai pasti “mungkin”. Orang optimis selalu yakin bahwa segala yang diyakini “tidak bisa” oleh orang pesimis, mereka yakini pasti “bisa”, lalu Anda termasuk golongan yang mana?

Sahabat dahsyat! Berbahagialah jika Anda termasuk orang yang selalu optimis. Sebab, bukan hanya kesuksesan yang menanti, melainkan juga karena orang optimis punya peluang hidup lebih lama ketimbang orang pesimis. Optimisme bisa bikin tambah sehat. Begitulah hasil penelitian sejumlah ilmuwan di University of  Pitssburgh di Amerika Serikat.

 

**

 

Inspirasi dari Wright Bersaudara

Semula orang yakin hanya burung-burung saja yang dapat terbang, selain itu tidak mungkin atau tidak bisa. Namun, Wright bersaudara (Wilnur Wright dan Orville Wright) menciptakan “kemungkinan” atas suatu yang “tidak mungkin”, suatu yang dianggap “tidak bisa” menjadi “bisa”.

Singkat cerita, mereka merupakan pencipta pesawat terbang. Pesawat terbanglah yang kini menjadi alat transportasi udara antar pulau bahkan benua yang paling bergengsi di dunia. Betapa bangganya orang ketika pertama kali naik pesawat. Tapi betapa terharunya mereka ketika mengenal lebih jauh para penemu pertama atau yang mengembangkannya, mereka yang berhasil menjadikan yang dianggap “tidak mungkin” menjadi “mungkin”, yang dinilai “tidak bisa” menjadi “bisa” itu.

 

Inspirasi dari Neil Amstrong

Dulu orang menganggap ke bulan suatu yang mustahil bahkan hanya orang tidak waras yang meyakini manusia bisa ke bulan. Bahkan Anda mungkin termasuk orang yang meragukan kenyataan ini. Ya, begitulah sejarah menuturkan dengan jujur. Dunia menjadi begitu heboh dan takjub ketika seorang Astronot kawakan berhasil ke bulan.

Ya, ia adalah Neil Amstrong. Pada 20 Juli 1969 ia berhasil ke bulan. Ia membuktikannya dengan pesawat antariksanya. Cerita kesuksesan Neil Amstrong ke bulan dari dulu hingga kini masih menjadi cerita menarik dan menakjubkan banyak kalangan, baik ilmuwan maupun manusia biasa. Saya dan Anda tentu saja tertarik untuk mengenal lebih jauh seorang Neil Amstrong, minimal lewat berbagai buku dan artikel.

 

Inspirasi dari Gola Gong

Anda tentu termasuk yang pernah mendengar nama Gola Gong. Kira-kira apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika sebelumnya belum pernah bertemu dan tak mengenal fisiknya? Ya, bisa jadi Anda adalah salah satu di antara ribuan pembaca setia karya-karya fenomenal beliau. Karenanya Anda tidak percaya jika ada yang menyampaikan kepada Anda bahwa beliau hanya memiliki satu lengan saja.

Ya, Gola Gong adalah salah satu anak negeri ini yang memiliki optimisme di atas “keterbatasan” manusia biasa lainnya. Perjalanan hidupnya dari kecil hingga dewasa mengandung banyak pesan dan hikmah. Perjalanan karirnya dalam dunia literasi benar-benar menggambarkan bagaimana semestinya hidup ini dilalui. Satu pesan dari jutaan pesan langkah hidup yang layak ditiru adalah sikap optimisnya: menghadirkan sesuatu yang diasumsi oleh orang biasa sebagai sesuatu yang “tidak mungkin” menjadi “mungkin”.

Gola Gong adalah di antara manusia unik yang memahami bahwa dalam kehidupan ini, tentu saja dalam batasan dan ukuran alam duniawi, tidak ada yang “tidak mungkin”, semuanya “mungkin”. Tidak ada yang “tidak bisa”, semuanya “bisa”. Asal manusia mau memanfaatkan potensi yang ada secara serius dan apik, semuanya “bisa” menjadi luar biasa.

Sahabat dahsyat! Coba Anda perhatikan lebih jauh mengenai Gola Gong. “Keterbatasan” fisik tidak menyebabkan dirinya tidak memberi karya terbaik. Justru “keterbatasan” fisik adalah pemicu baginya untuk memulai satu retentan panjang karya jenial dalam dunia literasi. Tak terhitung jumlah tulisannya dalam bentuk buku, makalah, artikel dan seterusnya. Tidak terhitung berapa kali ia menjadi pembicara dalam berbagai agenda seminar dan bedah buku.

Sebagai orang yang secara fisik diberi “kesempurnaan”, Anda mungkin tidak mampu melakukan hal yang sama. Apalagi jika Anda mendapatkan jatah fisik sesederhana Gola Gong, bisa jadi Anda baru menjadi manusia yang kaya keluhan dan banyak alasan. Sesuatu yang sulit Anda temukan dalam diri Gola Gong.

Sekali lagi, “keterbatasan” fisik adalah kunci dan pemicu bagi karya-karya jenial. Apa yang Gola Gong torehkan dalam etalase dunia baca-tulis negeri ini adalah “melampaui ketidakmungkinan”. Ia melawan asumsi bahwa orang yang diberi “keterbatasan” fisik oleh Sang Kuasa tidak mungkin melakukan aktivitas-aktivitas luar biasa. Ia membuktikan bahwa “keterbatasan” fisik bukanlah faktor penyebab untuk tidak berkarya dan melakukan sesuatu yang terbaik. Justru darinya-lah karya-karya luar bisa dilahirkan.

 

Bagi Gola Gong, “keterbatasan” adalah rahim bagi karya-karya luar biasa dan bersejarah.

 

Cara terbaik melawan arus asumsi adalah memberi karya nyata. Dan ia pun melewati asumsi-asumsi manusiawi itu dengan menghadirkan berbagai karya yang susah untuk dilupakan begitu saja oleh siapapun dan pena sejarah bangsa ini. Dunia literasi sangat mengenal beliau sebagai sosok yang bersahaja namun kaya prinsip. Para penulis pemula bahkan selalu menjadikannya sebagai sumber inspirasi. Jujur, saya termasuk yang menempatkannya pada tempat yang “khusus” dalam hidup saya, dalam cita-cita saya untuk berjuang dalam dunia literasi.

Sekali lagi, Gola Gong adalah anak manusia yang memperlihatkan kepada siapapun bahwa sesuatu yang “tidak mungkin” itu bisa menjadi “mungkin”. Ketika melihat fisiknya secara langsung, bisa jadi yang terlintas dalam pikiran Anda adalah berbagai pernyataan dan pertanyaan “ketidakpercayaan”. Bisa jadi Anda tidak percaya jika ia adalah salah satu penghuni republik belasan ribu pulau ini yang telah berjasa melampaui “keterbatasan” dirinya secara fisik.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk di antara anak manusia yang mendapat anugerah “keterbatasan” fisik dari Sang Kuasa? Apakah Anda salah satu di antara anak manusia yang mendapat karunia : buta, lumpuh, bisu, tuli, satu lengan, atau sejenisnya?

Siapapun Anda, jika Anda termasuk yang mengalami salah satu di antara kondisi atau anugerah tersebut, maka percayalah bahwa itu bukan “keterbatasan” yang sesungguhnya. Secara fisik mungkin itu adalah “keterbatasan”, tetapi sadarlah bahwa Anda adalah salah satu di antara banyak orang yang mendapatkan anugerah dari Sang Kuasa. Menurut ukuran manusiawi Anda itu adalah “keterbatasan”, tetapi percayalah bahwa Anda adalah orang yang memperoleh anugerah luar biasa dari Sang Kuasa.

Dengan “keterbatasan” fisik Anda bisa menjadi manusia yang pandai bersyukur, di saat yang mendapat  jatah fisik “sempurna” menjauh dari Sang Kuasa. Dengan “keterbatasan” fisik Anda bisa menjadi orang yang memberi karya, di saat yang mendapat jatah fisik “sempurna” diam seribu bahasa atas berbagai potensi yang dimilikinya. Dengan “keterbatasan” fisik Anda semakin menjadi yakin akan satu filosofi kehidupan orang-orang hebat bahwa tidak ada kehidupan yang tidak diatur Sang Kuasa. Dari situlah Anda semakin tahu bahwa di dalam “keterbatasan” pasti ada Sang Kuasa yang mengatur dan menciptakan. Selebihnya, Sang Kuasa jugalah yang memberi kesempurnaan kepada Anda dengan cara memudahkan Anda dalam menghasilkan karya-karya luar biasa.

Lebih dari itu, jika Anda termasuk di antara manusia yang mendapat jatah “keterbatasan”, itu bukan berarti Allah SWT. tidak mencintai Anda, itu juga bukan berarti Anda benar-benar “terbatas”. Justru sesuatu yang terlihat “terbatas” adalah wujud nyata bahwa Anda adalah salah satu di antara makhluk Allah SWT. yang mendapat karunia istimewa dan Allah SWT. sangat cinta kepada Anda. Di balik “keterbatasan” itulah nanti akan Anda temukan “kesempurnaan”, bahkan Anda sama sekali tak menduganya. Percayalah!

Banyak hal yang bisa Anda lakukan dalam kondisi “keterbatasan”. Jika Anda buta, maka Anda bisa menjadi tukang pijat. Ya, menjadi tukang pijat. Secara sepintas pekerjaan ini terlihat sepele dan “rendahan”. Tapi apakah Anda tidak percaya bahwa tidak sedikit para pejabat, pegawai kantoran atau siapa saja yang mencari tukang pijat? Kelelahan dan keletihan yang mereka alami di saat menuntaskan pekerjaan-pekerjaan mereka di kantor, tentu saja perlu refleksi atau pijatan. Dan itu berarti Anda adalah orang yang mereka nantikan. Luar biasa, bukan?

Jika Anda lumpuh, Anda bisa melakukan banyak aktivitas. Misalnya : menjadi penulis, editor, guru ngaji dan lain-lain. Jika Anda merasa belum mampu menulis seputar tema-tema inspiratif, maka Anda bisa menulis tentang bagaimana nikmatnya menjadi manusia yang pandai bersyukur. Anda juga bisa menulis secara sederhana tentang pengalaman Anda selama menjadi orang yang lumpuh. Dan begitu seterusnya.

Inspirasi dari Syekh Ahmad Yasin

Coba Anda tengok sejenak bagaimana Syekh Ahmad Yasin, pemimpin spiritual pertama Hamas di Palestina. Anda mungkin belum percaya jika ia memiliki “keterbatasan” secara fisik. Ia sejak menjelang dewasa terkena lumpuh. Konon ia seperti itu disebabkan karena olahraga sebagai upaya menyiapkan diri dalam menghadapi para pengkhianat kemanusiaan, tentara Zionis-Yahudi.

Di lain kesempatan, ia melakukan pembelaan diri dari kezoliman Zionis Yahudi dan perlawanan terhadap kebiadaban musuh-musuh Allah SWT. itu. Ia pun terkena tembakan. Nyawanya selamat, namun fisiknya tak luput mendapat jatah kelumpuhan. Ya, Anda mungkin tidak percaya jika ia lumpuh sejak muda, ditambah lagi ketika terkena tembakan tentara Zionis-Yahudi. Apalagi jika ia menjadi pemimpin spiritual satu gerakan perlawanan atas kezoliman Zionis Yahudi, Hamas, bisa jadi Anda tak begitu percaya.

Namun, beginilah faktanya. Ia hadir sebagai penopang ruh perlawanan. Ia mampu melampaui “keterbatasan” fisiknya dengan satu peran strategis dalam kancah perjuangan panjang dan melelahkan. Bukan saja ide, tenaga, waktu dan harta yang ia berikan, bahkan juga jiwa dan nyawanya. Apa yang ia lakukan dan jejakkan adalah satu potret nyata bahwa “keterbatasan” bukanlah penghalang, justru “keterbatasan” adalah modal bagi penuntasan karya-karya jenial dalam etalase sejarah perlawanan.

Kini ia telah menghadap kepada Sang Kuasa. Nyawa dan fisiknya telah tiada, namun tekad, semangat, motivasi, pengorbanan, cita-cita, orientasi dan prinsip-prinsip perjuangannya terus hidup bahkan semakin hidup. Ya, ia adalah salah satu di antara ribuan pejuang Palestina yang telah berhasil melampaui sebuah “keterbatasan” dan “ketidakmungkinan” menjadi “kesempurnaan” dan “mungkin”.

Jujur saja, sebagaimana Gola Gong dalam dunia literasi, saya termasuk yang menempatkan Syekh Ahmad Yasin pada tempat yang “khusus” dalam hidup saya, terutama dari semangat dan prinsip hidup yang ia miliki walaupun dengan fisik yang “terbatas”.

 

**

 

Selain Wright bersaudara, Neil Amstrong, Syekh Ahmad Yasin dan Gola Gong, tentu masih banyak tokoh atau inspirator dalam berbagai bidang dan profesinya yang sudah memperlihatkan kepada dunia bagaimana seharusnya mengarungi kehidupan dalam medan yang keras.

Untuk Anda, bagaimanapun kondisi fisik Anda, seperti apapun kondisi keluarga Anda dan sesempit apapun kehidupan Anda, percayalah bahwa tidak ada yang “tidak mungkin” Anda rubah, semuanya bisa dirubah, semuanya “mungkin”. Apapun impian atau cita-cita Anda, semuanya masih “mungkin” dan “bisa”. Selama Anda memiliki niat, tekad dan semangat untuk melampaui semua “keterbatasan”, maka semuanya menjadi “mungkin”, karena Anda memiliki hak untuk menikmati semua yang “tidak mungkin” menjadi “mungkin”, semua yang “tidak bisa” menjadi “bisa”.

Akhirnya, saya ingin mengatakan satu hal : sekarang, lampauilah segala “ketidakmungkinan” dalam hidup Anda, karena semuanya “mungkin”. Anda akan “mungkin” menggapai kesuksesan karena Anda “memungkinkan” kesuksesan tersebut dalam diri Anda sebelum ia menjadi kenyataan dalam hidup Anda yang sesungguhnya. [Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis buku SPIRIT TO YOUR SUCCESS, No HP: 085 220 910 532]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s