Menulis Sambil Menulis, Kok Bisa?

Menulis Kang Kadir
Pena dan Jari Kang Kadir

SAHABAT, bagaimana kabar sahabat hari ini? Semoga sehat-sehat aja yah! Jaga kesehatan, jaga stamina dan yang lebih penting lagi, sahabat kudu jaga iman. Ya, jaga keimanan. Akhir-akhir ini dunia semakin menawarkan banyak model ujian dan fitnah, sahabat—tentu juga saya—kudu kuat dan memiliki imunitas. Okey…. dan jangan lupa, kalau lapar makan, kalau ngantuk tidur and kalau haus minum… terus kalau penat and bete, nulis aja!

Sebagaimana anak saya, Azka Syakira, akhir-akhir ini saya benar-benar lagi jatuh cinta dengan menulis. Coba sahabat perhatikan note di dinding facebook (FB) saya, yang saya kumpulkan beberapa waktu terakhir berikut ini :

 

“Engkau melihatnya kurus karena kepandaiannya. Siapa yang mencelanya harus memberi bukti. Karena seorang pemuda yang gemuk kemuliaan, tidaklah penting bagi tubuhnya yang kurus.”

 

Ini adalah pernyataan salah seorang ulama dulu. Saya lupa namanya. Yang jelas beliau adalah salah satu ulama ulung, memiliki ilmu yang sangat luas dan memiliki ruang pengaruh yang sangat luas. Pernyataan ini adalah sebuah bukti kesungguhan seorang ulama dalam menunaikan salah satu kesukaannya: Menulis. Ya, bagi mereka yang suka merendahkan karya tulis, tolong buktikan dengan tulisan yang lebih baik. Menulis adalah pekerjaan mulia, walau ditulis oleh orang yang badanya kurus. Adalah gemuk karena kemuliaan sangat mulia daripada sekadar berbadan besar tapi kosong otaknya dan kering hatinya. Apalagi kalau berbadan kurus tapi tak punya karya, ya mendingan mati aja deh! He he he

Sahabat dahsyat! Ini bukan ajakan untuk menjadi orang kurus, sama sekali bukan. Pesan utamanya, raihlah kemuliaan dengan kerja-kerja kita. Menulis adalah pekerjaan mulia, tradisi para ulama alias ahli ilmu. Asal niat dan orientasinya benar-benar tulus dan ikhlas. Apa yang kita rasakan sekarang, apa yang kita baca sekarang adalah karya-karya para pendahulu kita. Mereka menunaikan semuanya di atas penderitaan dan berbagai tantangan yang bertubi-tubi. Tapi mereka ikhlas nan tulus dalam menunaikan semuanya. Mereka adalah sumber inspirasi.

Sahabat tentu kenal nama ini, Sayyid Quthb. Beliau berhasil menuntaskan tafsir Fi Zilalil Qur’an yang tersohor itu selama dalam penjara. Hamka juga begitu. Tafsir Al-Azhar beliau selesaikan dalam kondisi tertekan secara politik. Dan masih banyak lagi ulama atau tokoh yang lainnya. Sahabat tergugah kan?

 

“Saat aku lelah menulis dan membaca. Di atas buku-buku kuletakkan kepala. Dan saat pipiku menyentuh sampulnya. Hatiku tersengat. Kewajibanku masih banyak! Bagaimana mungkin aku bisa beristirahat. (Imam an-Nawawi).”

 

Subhanallah, luar biasa! Sahabat pasti kenal siapa Imam an-Nawawi. Beliau adalah salah satu di antara ulama yang menulis berbagai macam kitab. Yang tersohor dan sering dibaca oleh berbagai kalangan adalah kitab Riyadhos Sholihin. Kaum santri pasti mengenal kitab ini. Sekali lagi, luar biasa. Beliau sampai ketiduran di atas buku-buku yang beliau baca dan kaji. Namun, perlu diperhatikan wahai sahabat yang baik hati, beliau ketiduran bukan untuk tidur. Coba perhatikan pernyataan beliau secara mendalam. Ketika mau tersentuh beliau terbangun, dan seketika terasadarkan bahwa ternyata kewajiban beliau sebagai ulama masih banyak. Dan karena itu, mengapa mesti banyak beristirahat?

Sahabat dahsyat! Saya tak punya banyak kata untuk menjelaskan keunikan ini, yang jelas ini adalah potret manusia yang mencintai ilmu. Menulis, bagi manusia unik seperti ini bukan sekadar menggoyangkan pena, tapi juga untuk memberi makna dalam kata-kata mereka. Hal ini bisa dilihat dari ruang pengaruh dari karya-karya mereka. Ini adalah buah ketulusan dan keikhlasan. Lebih dari itu, kenyataan ini adalah buah kesungguhan yang mereka tunaikan di masa lalu. Lalu, apa yang akan kita lakukan pada zaman ini? Apa yang segera kita tunaikan untuk masa-masa yang akan datang, untuk generasi baru di masa depan?

 

“Jujur, akhir-akhir ini aku lagi jatuh cinta dengan dunia penulisan. Bahkan perasaan ini sudah tak terkendali lagi. Sederhananya, lebih baik menulis daripada makan tiga kali sehari. Aku tak begitu tahu mengapa aku menjadi begini. Entahlah, yang jelas ini adalah tradisi Islam yang mesti dikembalikan ke pangkuan kegemilangannya.”

 

Ini adalah pernyataan yang sempat saya sampaikan ketika awal-awal saya punya akun FB. Saya lupa tepatnya tanggal berapa, yang jelas itu di awal Mei 2010 di Bandung. Waktu itu saya berinisiatif untuk membuat FB. Akhirnya, saya pun buat FB. Singkat cerita, pernyataan di atas kemudian saya jadikan sebagai note FB. Yang memberi respon ketika itu cukup banyak. Yang jelas, itu bukan perasaan kegelisahan, itu juga bukan main-main. Pernyataan tersebut adalah pernyataan serius.

Walaupun di antara sahabat ada yang bilang, “Wah, si Akang mah ga makan bukan karena semangat tuk menulis, tapi memang kamu ga punya uang untuk makan”, dan berbagai pernyataan usil lainnya. Ya begitulah, semoga apapun yang sahabat sampaikan bermanfaat bagi siapapun yang mendengar dan membacanya. Saya hanya mengingatkan, “Hati-hati, setiap kata yang kita ucapkan dan setiap ayunan yang kita langkahkan akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Hati-hati, lidah itu terkadang lebih tajam dari pisau dan silet!”

Selanjutnya, kalau banyak bicara tapi engga bisa menulis, repot….! Hayo menulis, kalau hanya bicara orang gilapun bisa! Atau dalam pernyataan lain, hayo menulis, kalau sekadar diam orang matipun bisa! Sahabat bukan orang gila dan bukan mayit kan?

 

“Janganlah berhenti berbuat (menulis)! Karena malaikat terus mencatat, umur terus berkurang, kematian semakin mendekat, dan setiap nafas yang telah keluar tidaklah kan kembali lagi.”

 

Ya, terus menulis dan menulis. Sebuah pernyataan menggebu-gebu. Namun, menulis tak sekadar menulis. Ia mesti memiliki makna dan pesan. Kata orang bijak, “Menulislah, menulis tulisan yang bermakna; tulisan yang berisi. Agar tulisan menjadi abadi!”.

Menulis. Walau mungkin menulis karena penat atau bete, menulis tentu bukan sekadar mengisi waktu luang. Menulis juga kudu benar-benar diniatin. Punya rencana untuk itu. Yang tak kalah pentingnya adalah upayakan tulisan yang kita tulis benar-benar dihitung dan diteliti. Jangan sampai tulisan kita menyakiti hati orang lain, jangan sampai tulisan kita merugikan orang lain. Apalagi kalau tulisan kita memperkeruh suasana dalam lingkungan masyarakat atau negara kita. Kan repot kalau menulis dengan tujuan dan cara-cara yang tak elegan.

Lebih penting untuk diperhatikan lagi adalah: pastikan setiap kata yang kita ungkapkan benar-benar dari lubuk hati; maksudnya, kita benar-benar mengerti dan paham dengan apa yang kita tuliskan. Mengapa? Karena tulisan yang didasari atas apa yang dialami lebih dahsyat pengaruhnya daripada tulisan yang tidak dialami atau tidak dirasakan.

Upayakan apa yang kita tulis benar-benar bermanfaat; bernilai ibadah di sisi Allah Swt. Karena boleh jadi itu adalah amal sholeh yang membuat timbangan amal kita di akhirat kelak menjadi bertambah berat. Bukankah sahabat bercita-cita agar menjadi penghuni surga-Nya? Kalau iya, hayo manfaatkan peluang ini. Walau hanya salah satu peluang, tak mengapa; ini adalah kerja mulia yang membuat nafas kehidupan kita berumur panjang walau kita tak bernyawa lagi. Walau nyawa kita tak bersama diri kita lagi, tapi karya kita bisa dibaca oleh generasi setelah kita. Saya percaya, di setiap kata yang kita tuliskan ada manfaatnya untuk siapapun. Untuk zaman dimana kita tak hidup di dunia lagi. Percayalah suatu saat ada manfaatnya untuk semua orang. Hayo semangat!

 

“Semoga sahabat Pena mendapatkan suasana yang terbaik tuk menuliskan semua ide dan mimpi-mimpi besar yang sahabat pena miliki. Lebih lanjut, semoga lisan dan Pena kita bertutur sejujur mungkin tentang kebaikan, tentang kebenaran. Tanpa keterpaksaan, tanpa unsur takabur….!”

 

Ya lagi-lagi, ini kerja besar, ini kerja mulia. Namun, kerja ini tentu membutuhkan suasana yang tepat. Kondisi yang nyaman. Kalau boleh usul nih, saya mengusulkan agar sahabat mencari tempat yang teduh, nyaman dan mengasyikkan. Saya sendiri suka duduk-duduk di taman depan halaman rumah, termasuk di ruang perpustakaan rumah. Bagaimana dengan sahabat?

Atau sahabat juga bisa menulis sambil santai di kantor atau rumah. Bisa sambil makan makanan ringan, minuman hangat atau dingin de el el-nya. Pokoknya, sahabat yang bisa mengatur sendiri bagaimana dan seperti apa lingkungan tempat di mana sahabat menulis. Pokoknya terserah deh!

Sahabat tentu masih ingat dengan pernyataan, “Menulis adalah upaya mengungkapkan setiap apapun isi hati dan pikirkan kita secara jujur!”. Ya, menulis adalah kerja-kerja nurani; karena itu ia mesti ditunaikan dengan jujur. Isi yang terdapat di dalamnya juga mesti mengungkapkan sesuatu yang memang layak diungkap. Kunci besarnya adalah kejujuran. Bukan kata-kata paksaan, bukan karena kebencian dan atau mungkin karena permusuhan. Sekali lagi, menulislah dengan jujur! Kejujuranlah yang membuat tulisan menghentakkan para pembacanya.

 

“Ya Allah, kalau dunia ini tertaklukkan dengan PENA, maka jadikan PENA ini menjadi penakluknya. Kalau saja Muda Cendekia adalah tempat PENA itu MENARI mewujudkan agenda penaklukan ini, maka tunjukilah. PENA ingin melukis warna bagi peradaban. PENA ingin MENARI.”

 

Do’a atau harapan adalah sisi sensitif seorang anak manusia terhadap kenyataan hidup yang sedang dan akan dialaminya. Ini adalah bukti penyerahan seorang hamba kepada Allah, Tuhannya. Mengapa mesti berdo’a? Sahabat, do’a bukan sekadar penyerahan dan pengharapan, dia adalah sebuah usaha sekuat tenaga agar apa yang kita tunaikan benar-benar dalam petunjuk Allah. Kita mesti menulis untuk sebuah cita-cita besar. Dan karena itu, Allah mesti kita libatkan dalam menunaikan kerja-kerja ini. Pena yang kita gunakan untuk menulis diharapkan mampu mengungkap kebenaran. Tak kan ragu ungkapkan keadilan, tak kan gentar melawan tirani kedzaliman. Harapannya tulisan kita punya ruang pengaruhnya dalam kehidupan publik.

Mengenai hal ini saya jadi teringat dengan buku Mengikat Makna Update-nya Pak Hernowo yang diterbitkan oleh penerbit Mizan Bandung dan buku Dunia Kata-nya Pak Fauzil Adhim yang diterbitkan oleh penerbit Mizan juga. Kedua buku ini cukup “mendalam” dalam mengarah dan menunjuki bagaimana seharusnya seseorang menulis—atau meminjam ungkapan seorang teman—membuat huruf dan kata semakin bermakna. Semoga sahabat berkenan membaca kedua buku tersebut!

Sahabat, ruang pengaruh atau daya efek dari apa yang kita tulis tentu saja ada penentunya. Sejauh apa pengaruh atau daya efek sebuah tulisan sangat ditentukan oleh banyak hal di antaranya: latar penulis, ruang pengaruh si penulis, diksi (pemilihan kata), suasana batin, keyakinan pada tulisan dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana dengan karya sahabat?

“Menemukan makna, mengikatnya, mengurainya; lalu mengemas kembali untuk membagi-bagikannya. Penulis adalah para pejuang makna—yang betul-betul memahami makna. (Bambang Trim)”

 

Kutipan di atas adalah pernyataan Pak Bambang Trim yang saya kutip di note FB beliau. Saya tak perlu menjelaskan kembali, sahabat cukup baca dan renungi apa maksud pernyataan di atas. Yang jelas, kemampuan untuk menemukan makna, mengikat makna dan mengurainya adalah kerja paling  istimewa seorang penulis. Harapannya, setiap kata-kata yang kita ungkap benar-benar bermanfaat. Apapun yang ingin kita peroleh dari tulisan yang kita tulis, harapannya, pembacanya mampu memahaminya. Sebelum pembaca memahami tulisan kita, maka yang perlu kita miliki lebih awal adalah memahami apa yang kita tulis. Penasaran dan ingin mencoba?

 

“Yup, Ternyata MENULIS itu gampang. Sangat mudah dan memudahkan. Mau mencoba? Lakukan saja sekarang, takut-takut itu adalah tulisan terkahir dalam hidup kita.”

 

Coba bayangkan suatu ketika sahabat menjadi penulis sukses. Wah, luar biasa kan? Sahabat, saat ini adalah kesempatan terbaik bagi saya—termasuk sahabat—untuk melanjutkan kerja kecil nan sederhana : menulis. Walau tak seberapa, ya karena memang saya masih belajar. Belajar menulis, sebuah tradisi yang mungkin tak semua orang menyukainya. Menulis itu mudah, asal sahabat mau. Lakukan saja sekarang!

Saya percaya sahabat memiliki potensi besar dan ide besar. Kalau ada, tuliskan saja di kertas yang sahabat punya sekarang! Agar sahabat semakin semangat, silahkan baca dan renungi pernyataan berikut: “Hayo menulis, kalau sekadar mengeong kucingpun bisa!, Hayo menulis, kalau sekadar bernafas orang gilapun bisa!”.

Sahabat yang baik hati! Berbagai macam kitab dan buku yang kita baca adalah bukti nyata dari manfaat dari budaya menulis atau apa yang dikenal dengan budaya literasi. Banyak penulis terkenal yang menulis berbagai macam judul buku. Dari buku-buku tersebut kita memperoleh banyak ilmu mengenai berbagai macam hal. Dan dari situlah kita juga berani mengatakan bahwa buku adalah sumber ilmu.

Sahabat, menulis sebetulnya adalah aktivitas santai yang menyenangkan. Coba perhatikan sejarah hidup penulis-penulis besar dalam sejarah. Mungkin mereka pernah mengalami penderitaan, mereka juga mengalami tekanan secara politik atau psikologis; namun demikian mereka tetap menunaikan aktivitas ini dengan tulus. Mungkin mereka sudah terlalu jatuh cinta seperti yang disinggung pernyataan berikut, “Menulis adalah bahasa nurani, bahasa jiwa. Ia adalah ungkapan tulus seseorang untuk dirinya, untuk kemanusiaannya. Menulis adalah sarana paling tepat untuk mengungkapkan semua isi hati dan pikiran. Ia adalah sarana paling elegan untuk mengungkap setiap warna yang tercecer dalam ruang hati dan pikiran penulisnya. Aku mungkin bukan penulis, namun aku percaya suatu saat mimpi ini menjadi kenyataan. Karena menulis adalah kemampuan menemukan titik temu antara kertas dan pena. Lebih dari itu, makna dan pesan yang terdapat dalam karya tulis adalah segalanya. Aku tergila, aku jatuh cinta.”

Sahabat, judul “Menulis sambil menulis” yang saya sampaikan di awal sangat sederhana. Lalu, mungkin sahabat bertanya, “Menulis sambil menulis?” maksudnya apa dan bagaimana caranya? Apa buktinya?

Saya menulis note yang saya kutipkan di atas tadi adalah bukti nyatanya. Saya menulis note tersebut di sela-sela aktivitas menulis yang akhir-akhir ini telah menjadi sahabat paling terdekat saya. Sahabat yang paling mengerti apa maunya saya. Kalau saya lagi gelisah ia datang tanpa diundang, kalau saya lagi bahagia ia pun juga datang tak diundang. Bahkan ketika saya membaca dan menulispun ia datang tak diundang. Iyah… ia datang selintas namun penuh makna. Begitulah sang kekasih mendatangi kekasihnya. Ya, menulis memang sudah jatuh cinta dengan saya. Saya juga demikian, saya jatuh cinta dengannya.

Semua aktivitas tulis-menulis yang saya rutinkan sekarang adalah suasana baru yang saya alami dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Dulu saya pernah suka dengan menulis, tapi sekarang lebih suka lagi. Jujur, di sela-sela saya menulis ada banyak orang yang melecehkan dengan berbagai pernyataan atau ungkapan. Jujur, saya tak kan pernah terhambat dengan berbagai kendala yang menghadang. Karena saya menunaikan semua ini untuk cita-cita tertinggi. Bukan untuk gaya dan pamer ilmu. Lagian saya tak cukup ilmu, jadi malu dan sangat malu untuk memamerkan sesuatu.

Tapi, tak mengapa. Semua kondisi yang ada di sekeliling saya dan kenyataan yang saya alami adalah pemicu terbaik yang membuat saya tahan banting, siap sabar untuk terus menulis, merangkai kata dalam paragraf menjadi naskah yang mempesona. Walau saya merasa bahwa isi dari tulisan saya tak seberapa, ya tak mengapa. Karena saya masih belajar, dan akan terus belajar. Kalau yang lain beramal dengan yang bisa mereka lakukan, maka saya pun mesti bisa melakukan sesuatu yang berbeda. Dan menulis adalah pilihan tepat untuk itu. Ya, menulis.

Saya memilih ini bukan main-main. Ini adalah pilihan serius. Pilihan yang membuat saya berubah, ya belajar untuk berubah. Di sela-sela aktivitas saya yang mungkin tak selalu kelihatan bermanfaat : menulis, saya belajar berkata jujur; mengungkapkan isi hati dan pikiran saya terkait berbagai macam hal dan fenomena. Saya ingin terlibat dalam menghadirkan perubahan sejati, terutama untuk bangsa ini.

Akhirnya, mengutip ungkapan penulis berbagai buku best seller, M. Fauzil Adhim, dalam bukunya Dunia Kata, “Melalui tulisan, kita tebar ide-ide yang menggerakkan jiwa untuk bangkit, menyingkirkan selimut yang membelit diri dan bertindak melakukan perubahan”. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Penerbit Mitra Pemuda. CP: 085 220 910 532. Bandung dan Cirebon; Senin, 17 Mei 2010]

2 thoughts on “Menulis Sambil Menulis, Kok Bisa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s