Bangkitlah Pemuda, Bangkitkan Indonesia!

sumpah-pemuda- Kadir
Sumpah Pemuda Indonesia

DALAM berbagai literatur sejarah dikisahkan bagaimana peran sentral pemuda dalam perjuangan membela bangsa, baik perjuangan fisik, gagasan (intelektual), diplomasi, organisasi sosial hingga politik. Perang melawan penjajah untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, misalnya, adalah ladang bagi tumbuh suburnya heroisme pemuda bangsa Indonesia.

 

Mengambil Makna Sumpah Pemuda

Dalam suasana perang merebut kemerdekaan, pemuda-pemuda dari berbagai pulau di Indonesia seperti Jong Java, Jong Andalas, Jong Borneo, Jong Celebes, Jong Ambon dan lain sebagainya berkumpul dalam satu tekad: Satu Indonesia. Ikrar Sumpah Pemuda pun berkumandang pada 28 Oktober 1928, 85 tahun silam. Satu prestasi yang patut diapresiasi dan diteladani oleh seluruh elemen bangsa di era ini dan ke depan, terutama oleh para pemuda bangsa.

Dalam konteks memandang masa depan bangsa, sejatinya Sumpah Pemuda tidak hanya diperingati dalam bentuk upacara mengenang jasa para pahlawan, para pemuda di era awal abad 20, yang mempersatukan berbagai elemen bangsa dalam berbagai latar untuk menyatu dalam wadah—tanah air, bangsa dan bahasa persatuan—bernama Indonesia. Ia juga dapat dijadikan  spirit dan ruh untuk menghadirkan sejarah gemilang di era ini dan ke depan. Satunya Indonesia, bukan sekadar ikrar, tapi mesti merayapi setiap nurani pemuda dan rakyat Indonesia untuk melahirkan kerja nyata bagi bangsa, bagi negeri tercinta Indonesia. 

Pemuda mesti menyadari bahwa perubahan dan kebangkitan negeri ini menuju istana kejayaannya hanya akan terjadi manakala kekuatan pemuda dan rakyatnya bersatu padu. Keterpaduan tersebut akan memberi efek positif manakala pemuda dan rakyat tidak tergoda dengan agenda pragmatis dan kepentingan sesaat. Nilai-nilai luhur dan moralitas pemuda dan rakyat-lah yang membuat perubahan bahkan kebangkitan negeri ini menjadi kenyataan.

Namun, bersatu padunya pemuda—termasuk rakyat—bukanlah satu kenyataan yang mudah terjadi. Menurut Taufiq Amrullah (Meretas Kebangkitan Indonesia, 2008) bersatu padunya elemen bangsa menyaratkan banyak hal, di antaranya, pertama, syarat dasar modal perjuangan harus terpenuhi, yakni  terbebas dari kepentingan pribadi dan perilaku menyimpang. Kedua, adanya kesamaan agenda perjuangan secara umum dan derivasi agenda, misalnya: isu kemandirian bangsa, menolak dominasi asing, kepemimpinan bermoral serta berintegritas, reformasi hukum dan stabilitas pertahanan-keamanan negara. Ketiga, terlepasnya unsur-unsur primordialisme sempit dalam perjuangan bersama.    

 

Bangkitlah Pemuda, Bangkitkan Indonesia!

Di setiap era kepemimpinan berganti selalu terbit mimpi dan harapan, rakyat selalu merasa zaman baru telah tiba. Namun, itu benar-benar mimpi, bukan kenyataan. Hingga kini berbagai peristiwa buruk dan amoral terjadi begitu rupa—seperti korupsi, kolusi, nepotisme, politik dagang sapi, ketumpulan hukum, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, disintegrasi bangsa dan lain sebagainya—sehingga rakyat sampai pada titik nadir keputusasaan.

Lalu, bagaimana seharusnya pemuda melangkah dalam kondisi stagnasinya berbagai aspek kehidupan kebangsaan kita? Bagaimana pula peran strategis pemuda di era ini, agar masa depan bangsa tidak terjerumus dalam kebangkrutan yang menyengsarakan?

Sejatinya, kita perlu membangun karakter bangsa yang kuat dan tak bermental kecut (baca: takut, merasa terus terjajah). Kita mestinya selalu menyediakan ruang bagi sebanyak-banyaknya optimisme dalam menghadapi masa depan bangsa. Sudah saatnya kita menjangkau masa depan bangsa secara bijak dan mendesak, mempersiapkan pemimpin-pemimpin bangsa dan memperluas jangkauan harapan rakyat bagi kejayaan bangsa.

Hal tersebut bisa saja dilakukan oleh seluruh elemen bangsa, namun belum tentu menghasilkan hasil yang maksimal. Percayalah, hal tersebut akan menghasilakn sesuatu yang lebih dahsyat jika dilakukan (baca: diserahkan) kepada satu elemen bangsa yang dalam sejarah bangsa terkenal dengan keunikan dan kekhasannya, itulah pemuda. Pemuda adalah mereka yang menjaga idealismenya di tengah haluan pragmatisme elite bangsa yang begitu masif, mereka yang memiliki semangat dan patriotisme tinggi bagi kepentingan dan perjuangan bangsa, dan mereka yang tetap menjaga idealisme dan mengedepankan nalar intelektual dalam merumuskan serta mengeksekusi agenda perubahan bagi bangsanya. Sederhananya, sudah saatnya kita—meminjam istilah Setiyono (2013), menagih kiprah pemuda. 

Dalam konteks yang lebih teknis, pada momentum peringatan Sumpah Pemuda kali ini, pemuda seharusnya mendeklarasikan beberapa agenda mendesak bagi bangsa. Pertama, mengembalikan semangat Sumpah Pemuda yang diikrarkan oleh generasi muda di era awal sejarah untuk satu nusa, bangsa dan bahasa persatuan dalam wadah Indonesia. Bahwa bangsa ini terdiri dari berbagai suku, adat, bahasa dan agama merupakan keniscayaan. Keragaman sejatinya adalah tonggak sekaligus modal dasar bagi keutuhan Indonesia sebagai sebuah bangsa besar. Pemudalah yang menjaga nilai-nilai luhur tersebut agar tetap terjaga dalam sanubari ibu pertiwi, Indonesia.

Kedua, menguatkan semangat nasionalisme tanpa menegasikan semangat internasionalisme. Indonesia adalah sebuah negara (nasionalisme) sekaligus sebuah warga dunia (internasionalisme). Dengen begitu, kebanggaan berbangsa—baik dalam konteks nasionalisme dan internasionalisme—mesti terus dijaga agar anak bangsa (baca: pemuda) tidak tercerabut dari akar sejarah bangsa dan nilai luhur perjuangannya. Sejarah perjuangan pemuda bangsa pada era awal adalah cermin terbaik bagi pemuda di era ini untuk melihat secara jernih satu kenyataan sejarah bangsa bahwa nasionalisme Indonesia sama sekali tidak merintangi Indonesia dalam percaturan global. Dengan begitu, nasionalisme pemuda Indonesia sejatinya bersatu padu dengan semangat internasionalismenya.   

Ketiga, perlunya kesepahaman baru bagi elemen pemuda Indonesia dalam menentukan dan menunaikan agenda-agenda kebangsaan yang tertunda akibat terfragmentasinya tujuan dan kepentingan. Bahwa beragamnya organisasi dan kepentingan pemuda sejatinya adalah rahim terbaik bagi lahirnya gagasan jenial, pemikiran objektif dan mimpi-mimpi besar pemuda untuk bangsa.

Sebagai sebuah bangsa, kita sejatinya memiliki modal sosial dalam membangun bangsa ini. Menurut M. Sohibul Iman (Dialog Pemuda dalam Membangun Bangsa, 2009), paling tidak ada tiga modal sosial yang kita miliki, yaitu, pertama, sense of belonging, yaitu, rasa memiliki negara-bangsa Indonesia. Kedua, sense of togetherness, yaitu rasa kebersamaan antara seluruh elemen bangsa. Ketiga, trustworthiness, yaitu sikap saling percaya bahwa semua elemen bangsa memiliki niat baik untuk memajukan negara dan bangsa ini meskipun dengan bentuk dan cara ekspresi yang berbeda-beda.

Sejarah, kata Malik bin Nabi, adalah catatan statistik tentang denyut hati, gerak tangan, langkah kaki dan ketajaman akal. Dalam konteks Indonesia, pemuda adalah energi yang mengalirkan sungai sejarah kebangkitan bangsanya. Sejarah bangsa Indonesia adalah denyut hati, gerak tangan, langkah kaki dan ketajaman akal para pemuda. Bahkan—kata Anis Matta (2006)—setiap kali energi itu meledak, sejarah segera mencatat peristiwa-peristiwa menyejarah. Sebuah kehidupan baru dari buku sejarah bangsa pun telah dibuka.

Dalam sejarahnya, pemuda selalu terpanggil dari serpihan kegelisahan seluruh anak bangsa yang nyaris tak terbendung. Kegelisah tersebut terlahir dari idealisme yang terpasung dalam kenyataan. Maka, setiap setiap kali janji kemakmuran kekuasaan terpasung dalam krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat dan suara keadilan terbungkam dalam “ketiak” kekuasaan, maka setiap itu pula kegelisahan meresahkan jiwa pemuda dan menghilangkan rasa nyaman dalam relung waktu yang mereka miliki. Maka, mereka bergerak dan segera berdiri di garis terdepan untuk menyambut tugas sekaligus panggilan sejarah.

Membangun Indonesia menjadi negara maju adalah tugas sekaligus tanggungjawab semua elemen bangsa dengan berbagai macam latar dan kepentingannya. Dengan begitu, peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-85 kali ini sejatinya dijadikan sebagai momentum meneguhkan kembali spirit perjuangan elemen bangsa dalam membangun Indonesia, di samping dengan seluruh daya mencari titik temu berbagai keragaman bahkan kepentingan elemen bangsa yang terfragmentasi demi masa depan bangsa. Hanya dengan begitulah semangat generasi awal ketika mengikrarkan Sumpah Pemuda menemukan objektivitasnya dalam kerangka membangun bangsa di era ini dan di masa depan.

Percayalah, Indonesia bangkit bukan sekadar mimpi. Ia hanya membutuhkan satu syarat: Pemuda bangkit. Mungkin memang harus seperti ini kejadiannya, bahwa sejarah bangsa ini menghendaki para pemuda melangkah lebih cepat untuk menyelamatkan bangsa ini. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para tetua yang telah dan sedang menunaikan tugas sejarah memimpin bangsa, biarkanlah dengan sedikit memaksakan diri para pemuda menyampaikan peringatan: biarkan kami menata ulang taman indah Indonesia, agar negeri ini kembali tersenyum sebelum senja tiba. Akhirnya, bangkitlah pemuda, bangkitkan Indonesia! [Syamsudin Kadir—Aktivis Pemuda, Pengamat Masalah Sosial-Politik, Penulis dan Editor lepas. Tinggal di Cirebon-Jawa Barat. No. HP.: 085 220 910 532].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s