Menimbang Pemilu 2014

PEMILIHAN Umum (Pemilu) 2014 tinggal hitung bulan. Di saat itulah kita memilih Presiden/Wakil Presiden baru—setelah sebelumnya memilih anggota DPR, DPRD dan Pemilu 2014DPD—untuk periode berikutnya, 2014-2019. Menjelang perhelatan itu, secara jujur kita perlu tegaskan bahwa kualitas para kandidat dan pemilih akan ikut menentukan sukses atau gagalnya Pemilu 2014 dalam menggapai tujuan yang dikejarnya, di samping penyelenggara Pemilu seperti KPU, Bawaslu dan struktur turunannya.

Inilah “sukses-gagal seleksi”. Sebab, mereka (lebih-lebih para kandidat DPR, DPRD) adalah produk mekanisme seleksi partai dan diplomasi politik antar partai (untuk kandidat Capres/Wawapres). Sukses seleksi bersifat elitis, tak melibatkan massa atau pemilih dalam jumlah besar. Tetapi, sukses ini menjadi hulu sukses Pemilu. Di hilir, ada mekanisme “eleksi”. Dalam medan pertarungan yang sesungguhnya inilah para kandidat itu akan ditentukan nasibnya oleh sekitar 220 juta “penentu”, yakni pemilih, kita, yang tersebar di ribuan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di seluruh Indonesia—dan luar negeri.

Menimbang Capres Tua dan Muda

Menjelang Pemilu yang tak lama lagi itu, Partai politik (Parpol) sebagai aktor utama dalam Pemilu kian sibuk dengan berbagai persiapan, mulai dari penguatan mesin politik, penokohan calon, hingga bermain opini di berbagai media. Manuver politik Parpol pun membuat arena politik Indonesia semakin hangat. Ditambah lagi dengan kehadiran lembaga survei yang merilis nama-nama calon presiden dan diskusi di media televisi yang memperbincangkan dinamika politik yang terjadi. Satu fenomena yang layak mendapatkan respon semua pihak.

Beberapa Parpol bahkan telah melakukan gebrakan politik dengan mencalonkan tokoh utama dan ketua umum sebagai presiden dan wakil presiden RI. Hanura menggadang Wiranto (66 tahun) dan Hary Tanoesudibyo (48 tahun), Nasdem menggadang Surya Paloh (62 tahun), Partai Demokrat (PD) pimpinan SBY (63 tahun) masih melakukan konvensi. Walau begitu, Jenderal Pramono Edhie Wibowo (58 tahun) yang muncul di konvensi PD yang layak diperhitungkan.

Golkar mencalonkan Aburizal Bakrie (66 tahun), Gerindra tampaknya masih menanti waktu yang tepat untuk mengumumkan Prabowo (61 tahun). Begitu juga PAN, kemungkinan memunculkan Hatta Rajasa (59 tahun). Sedangkan PKS tampaknya masih terus melakukan konsolidasi internal di daerah-daerah dengan Anis Matta (46 tahun)  sebagai naratornya. Kemudian PDIP masih mengunggulkan Megawati Soekarnoputri (66 tahun), meski banyak juga suara arus bawah yang mendukung Jokowi (52 tahun).

Partai lainnya, seperti PPP, PKB dan PBB (yang semuanya dinahkodai politisi berusia di atas 50-an tahun bahkan lebih) tampak belum berani berkomentar sebelum menerima hasil dari pemilu legislatif.

Melihat deretan nama yang berkembang, secara jujur dapat kita katakan, tampaknya tidak ada satu pun yang berusia di bawah 45 tahun. Bahkan, daftar di atas berisikan nama-nama yang telah lama mengisi perpolitikan Indonesia, setidaknya sejak awal era reformasi bergulir hingga kini.

Realitas semacam itu menghadirkan pertanyaan sekaligus gugatan serius, di manakah para calon Presiden muda? Berjalan kah proses kaderisasi dan regenerasi kempemimpinan di bangsa ini?

Kalau ditelisik, setidaknya ada empat faktor yang menghambat tampilnya calon presiden muda dalam perhelatan demokrasi Indonesia era kini. Pertama, faktor patron-klien. Kebanyakan Parpol di Indonesia masih merupakan sebuah kendaraan pribadi atau kelompok tertentu. Parpol belum menjadi institusi pengkaderan yang mampu melakukan regenerasi kepemimpinan secara sistemik dan melahirkan pemimpin muda baru secara berkala. Parpol masih sulit melepaskan diri dari bayang-bayang pemodal dan figur utama dari partai tersebut. Kita bisa melihat bagaimana Demokrat yang sempat memproklamirkan diri sebagai parpol moderen pun kini tak bisa lepas dari pengaruh besar SBY dan keluarganya. Demikian pula PDIP dengan Megawati Soekarnoputri, Gerindra dan Prabowo, Nasdem dan Surya Paloh, atau Hanura dan Wiranto-nya.

Dari sini kita bisa melihat bahwa ada identifikasi personal yang begitu masif dalam tubuh  Parpol. Akibatnya, timbul relasi patron (pemilik modal)-klien (pengikut setia) di dalam tubuh Parpol. Mereka yang dekat dan mampu menyenangkan sang patron akan mendapat posisi nyaman, sedangkan mereka yang tak pandai memposisikan diri akan terdepak dengan sendirinya. Menurut Burhanudin Muhtadi (2012), mereka yang muda dan idealis tak cukup berkenan untuk terus-menerus menjilat kepada sang patron, akibatnya tergerus oleh kenyataan bahwa mereka tidak bisa berkembang dalam lingkungan Parpol.

Kedua, faktor biaya demokrasi. Untuk dapat menang dalam kompetisi demokrasi di negeri sebesar Indonesia membutuhan sumber daya yang tidak sedikit, baik itu dana, massa, media, jaringan maupun pengalaman. Dengan biaya demokrasi yang besar, membuat kesempatan calon presiden muda semakin tipis. Ketidakmampuan mereka bersaing pada tingkat nasional bukan karena minim narasi pembangunan dan perubahan semata, melainkan juga karena keterbatasan sumber daya (uang) untuk modal dan biaya politik.

Ketiga, faktor politik gagasan kurang diapresiasi. Demokrasi di Indonesia yang telah berkembang dalam 15 tahun terakhir belum mampu mengantarkan negeri ini pada dialektika gagasan dalam penentuan pemenang hasil Pemilu. Demokrasi hanya sebatas mampu menjadi ajang hiburan, semarak, seremonial, dan panggung spanduk bagi rakyat. Rakyat belum mendapat suguhan dialog gagasan yang segar dari calon yang bersaing, budaya pamrih negeri ini juga membuat debat ide atau gagasan tidak berkembang dengan baik. Menurut Yusuf R. (2013), festivalisasi demokrasi yang berlebihan ini membuat rakyat menjadi irasional dalam memilih calon presiden, belum lagi dengan jumlah golput yang terus meningkat. Demokrasi masih hanya sebatas ‘siapa’ dan ‘berani kasih berapa’, belum pada fase ‘apa gagasan yang Anda bawa’ dan “bagaimana membangun bangsa’. Fakta ini jelas menjadi ujian terjal bagi para calon presiden muda yang ingin berkompetisi. Narasi orisinil yang mereka bawa terpaksa dikubur secara prematur karena demokrasi Indonesia belum mengapresiasinya sebagai potensi penting bangsa.

Keempat, faktor kemampuan, obsesi dan cita-cita. Sebetulnya, ini adalah faktor utama. Perlu diakui bahwa proses demokrastisasi paska reformasi tidak begitu berhasil dalam melakukan kaderisasi dan pematangkan kapasitas kepemimpinan generasi muda. Bahkan generasi muda terjebak dalam kungkungan hegemoni generasi tua, di samping kegagalan generasi muda sendiri dalam melakukan proses pematangan dan kedewasaan atas dirinya. Termasuk kaum muda disinyalir semakin miskin dalam obsesi dan cita-cita. Bahkan—sebagaimana yang disinggung Amin (2012), gudang-gudang kaderisasi kepemimpinan seperti OKP dan Gerakan Mahasiswa, misalnya, semakin mandek dan nyaris tidak memiliki peran signifikan dalam dinamika sosial dan perdebatan kepemimpinan di ruang publik.

Pemilih Sebagai Aktor Penentu

Pada akhirnya, peran para pemilih menjadi penting dan genting dalam menentukan sukses akhir Pemilu 2014. Maka, alih-alih terlalu sibuk memikirkan hegemoninya kaum tua sebagai kandidat sekaligus tidak adanya regenerasi kepemimpinan nasional, lebih konstruktif bagi kita, sebagai pemilih, untuk menjemput 2014 dengan menyiapkan diri masing-masing menjadi pemilih berkualitas dan bertanggung jawab.

Karena itu, ada baiknya kita tak menjadi pemilih cengeng dan kanak-kanak, yang menyalahkan partai politik tanpa solusi dan memperdebat secara serampangan kandidat “tua-muda” tanpa ujung. Jauh lebih konstruktif, membangun kualitas diri sebagai pemilih dewasa dan matang—atau, sekalipun pada akhirnya memutuskan untuk tak memilih, kita melakukannya dengan sama dewasa dan bertanggung jawabnya.

Pemilu 2014 pun menuntut kita bertransformasi dari supporters politik menjadi voters politik, dari pendukung yang irasional, emosional, dan primordial menjadi pemilih yang kalkulatif, rasional, dan dewasa. Pemilih semacam ini tak merasa tugasnya usai saat sudah mencoblos dalam bilik suara, melainkan merasa tugasnya sebagai warga negara justru baru dimulai, dan akan berlanjut setelah Pemilu berlangsung.

Transformasi berikutnya pun diperlukan, yakni dari “pemilih” menjadi “penagih janji” yang berupaya menjaga haknya serta menunaikan kewajibannya atas orang lain dan orang banyak sepanjang waktu.  Sebagai warga negara, menurut Eep Saefulloh Fatah (2000), kita tidak boleh merasa cukup menjadi peserta atau pemilih rasional tanpa diikuti dengan menjadikan diri sebagai warga negara yang aktif. Dalam pengertian bahwa, kapasitas kita sebagai warga negara “yang baik” akan lebih dahsyat ketika setelah proses Pemilu kita menggunakan hak konstitusi kita untuk menegur, memberi kritik dan masukan bahkan mengancam kekuasaan jika tak sejalan dengan kesepakatan atau rambu-rambu demokrasi. Dengan cara inilah, kita bertransformasi dari supporters menjadi voters, lalu menjadi “para penagih janji”. Dengan begitu, kita akan semakin dewasa dalam bernegara dan mampu menjemput momentum politik—termasuk Pemilu 2014—dengan senang hati dan optimisme.

Menghadapai realitas bangsa yang menghadapi berbagai permasalahan, pendekatan yang selayaknya diambil adalah menjadi pemain dan bukan penonton, menjadi warga negara yang baik sebagai tumpuan, berpikir besar, memulai dari yang kecil, mengerjakan secara optimal sekarang. Indonesia yang lebih baik hanya akan tumbuh di atas kerja nyata kita bukan caci maki kita. Dalam konteks lain, kebebalan dan kenorakan praktik politik elite sejatinya dijadikan sebagai momentum untuk melakukan pembenahan revolusioner, bukan saja Parpol, tapi juga publik-pemilih.

Di atas segalanya, negeri ini milik kita, dan karenanya kita memiliki hak dan kewajiban untuk menata serta menatap masa depannya secara sadar dan bersama-sama. Menjadi pemilik yang cerdas dan bertanggung jawab—selain meningkatkan daya kritisme yang sadar—adalah cara paling sederhana dalam menghadirkan perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Mari mencintai Indonesia dari hal-hal sederhana! [Syamsudin Kadir—Pemerhati Masalah Sosial-Politik, Penulis dan Editor lepas, Nomor HP: 085 220 910 532. Jakarta, 22 Oktober 2013.]   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s