Toleransi Tanpa Pluralisme Agama

Toleransi tak perlu Pluiralisme Agama
Toleransi Tanpa Pluralisme Agama

PADA kolom wacana (hal. 4) koran Radar Cirebon (3/9/2013) saudara Verry Wahyudi mengetengahkan artikel yang berjudul Dari Terorisme Menuju Pluralisme. Menurut Verry, penghargaan terhadap pluralisme agama harus berangkat dari pemahaman keagamaan yang komprehensif (kaffah) dari masing-masing agama. Sehingga Verry sampai pada kesimpulan sudah saatnya mengubur perilaku terorisme dengan menegakkan pluralisme agama.

Menimbang wacana toleransi dalam konteks pluralisme agama ini penting, saya berikhtiar untuk mendudukan persoalannya.

 

Kedudukan dan Problem Pluralisme Agama

Secara bahasa plural berarti ganda atau beragam. Secara etimologis, pluralisme agama berasal dari dua kata, yaitu ‘pluralisme’ dan ‘agama’. Dalam bahasa Arab diterjemahkan ‘al-ta’adudiyyah al-diniyyah’ dan dalam bahasa Inggris ‘religious pluralism’.

Ketika disandingan dengan agama, maka pengertian “pluralisme agama” adalah koeksistensi (kondisi hidup bersama) antar-agama yang berbeda-beda dalam satu komunitas, dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masing-masing agama, seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Pluralitas agama, kultur dan budaya adalah sunnatullah, tapi pluralisme agama adalah doktrin peradaban Barat post modern yang membangun persamaan dari perbedaan bahkan cenderung menghilangkannya. Sumber utamanya adalah filsafat relativisme Nietzche, tokoh filosof Barat postmo.

Dari segi konteks dimana pluralisme agama sering digunakan dalam studi-studi dan wacana-wacana sosio-ilmiah pada era modern ini, istilah ini telah menemukan definisi dirinya yang sangat berbeda dengan yang dimiliki semula. John Hick, misalnya, menegaskan bahwa: “Pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama-agama besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang dan secara bertepatan merupakan respon yang beragam terhadap Yang Real atau Yang Maha Agung dari dalam pranata kultural manusia yang bervariasi; dan bahwa transformasi wujud manusia dari pemusatan diri menuju pemusatan hakikat terjadi secara nyata dalam setiap masing-masing pranata kultural manusia tersebut dan terjadi, sejauh yang dapat diamati, disamai pada batas yang sama”.

Dengan kata lain, Hick ingin menegaskan bahwa sejatinya semua agama adalah merupakan ‘manifestasi-manifestasi dari realitas yang satu’. Dengan demikian, semua agama sama dan tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Sangat jelas, rumusan Hick ini berangkat dari pendekatan substantif yang mengekang agama dalam ruang (privat) yang sangat sempit, dan memandang agama lebih sebagai konsep hubungan manusia dengan kekuatan sakral yang transendental dan bersifat metafisik ketimbang sebagai suatu sistem sosial.

Dengan demikian—menurut Anis Malik Toha, Tren Pluralisme Agama: Tinjaun Kritis, 2005), telah terjadi proses pengebirian dan ‘reduksi’ pengertian ‘agama’ (baca: Islam) yang sangat dahsyat. Sesungguhnya, pemahaman agama yang reduksinistik inilah yang merupakan ‘pangkal permasalahan’ sosio-teologis modern yang sangat akut dan kompleks yang tak mungkin diselesaikan dan ditemukan solusinya kecuali dengan mengembalikan ‘agama’ (Islam) itu sendiri ke habitat aslinya, ke titik orbitnya yang sebenarnya, dan kepada pengertiannya yang benar dan komprehenshif, tidak reduksionistik.

Yang unik dalam fenomena baru ini adalah bahwa pemikiran “persamaan” agama (religious equality) ini, tidak saja dalam memandang eksistensi riil agama-agama (equality on existence), namun juga dalam memandang aspek esensi dan ajarannya (syariat), sehingga dengan demikian diharapkan akan tercipta suatu kehidupan bersama antar agama yang harmonis, penuh toleransi, saling menghargai (mutual respect) atau apa yang diimpikan oleh para “pluralis” sebagai “Pluralisme Agama”.

Namun, alih-alih menciptakan kerukunan dan toleransi, paham Pluralisme Agama itu sendiri sebenarnya sangat tidak toleran, otoriter, dan kejam, karena menafikan kebenaran semua agama, meskipun dengan jargon menerima kebenaran semua agama. Sebagai agama, Pluralisme Agama memiliki ciri-ciri, watak-watak, karakteristik yang khas yang terdapat pada semua agama pada umumnya. Ia memiliki tuhannya sendiri, nabinya sendiri, ritusnya dan ritualnya sendiri dan sebagainya. Tuhan agama ini, sebagaimana dikatakan “nabi”nya, John Hick, adalah “The Real” yang mengatasi semua tuhan yang diyakini agama-agama. Jadi pada dasarnya, agama baru ini juga tidak lepas dari “klaim absolut”—di saat mereka menentang “kalim absolut” agama-agama. Bahkan sebetulnya agama baru ini lebih eksklusif dari agama-agama yang ada, khususnya Islam. Sebab Islam secara ontologis mengakui dan menghargai “klaim-klaim absolut” yang dibuat agama-agama lain, serta memberikan hak untuk berbeda, juga membiarkan mereka untuk menjadi dirinya masing-masing (to let the others to be others), tanpa berusaha sedikitpun untuk mereduksi atau merelativisasi mereka.

Namun sebaliknya, agama baru (Pluralisme Agama) ini “memaksa” agama-agama lain untuk meyakini atau mengimani keunggulan tuhannya, yaitu “The Real” tadi. Bahwa tuhan-tuhan semua agama itu hanyalah manifestasi “The Real” ini. Ditambah lagi, pada tataran praktis, legal dan formal, agama baru ini memaksakan syari’at atau seperangkat hukumnya kepada semua agama.

Maka, agama baru ini sebetulnya (tanpa disadari) inkonsisten dengan semboyan-semboyannya yang muluk dan memikat lagi mempesona, yang moderat-lah, toleran-lah, kesetaraan-lah, kebebasan-lah dan sebagainya. Semua itu semboyan kosong.

Dalam mengurai pluralisme agama, Anis Malik Thoha cukup apik dan unik. Anis secara gamblang menjelaskan mengenai dua madzhab pluralisme agama ini, yakni humanisme sekuler dan teologi global. Humanisme adalah paham kemanusiaan yang menjadikan manusia sebagai pusat dari segala paham. Disebut sekuler karena pada hakikatnya ia sudah keluar dari agama, dengan mengajukan paham tersendiri tentang kemanusiaan. Dari aspek kemanusiaan tersebutlah maka semua agama bisa dinilai sama. Bahkan ekstrimnya, semua paham keagamaan harus segera dihapuskan dan digantikan dengan satu paham saja, yakni kemanusiaan.

Sementara teologi global, di antaranya dikemukakan oleh W.C. Smith yang mengemukakan perlunya agama baru yang berlaku secara global. Seiring globalisasi yang melanda dunia secara keseluruhan, maka teologi pun harus mengalami globalisasi. Paham-paham keagamaan yang dinilai lokal, dengan sendirinya harus dilebur sehingga menjadi teologi global (Anis Malik Toha, Tren Pluralisme Agama: Tinjaun Kritis, 2005).

Pluralitas dan Toleransi Islam

Islam hadir dengan aqidah tauhid yang murni dalam arti yang sebenarnya, yang terekspresikan secara kategoris dalam kalimat syahadat. Kalimat syahadat merupakan pemurnian dan pelurusan terhadap bentuk-bentuk penyelewengan yang terjadi pada akidah umat terdahulu dari golongan Yahudi, Nasrani dan yang lainnya. Pada waktu yang sama, kalimat syahadat merupakan suatu statement akan keberadaan Allah yang berlaku untuk semua manusia. Keyakinan ini sudah dibawa dari zaman nabi Adam hingga nabi terakhir, Muhammad Saw. Semua nabi dan rasul meyakini Islam sebagai agamanya, dan meyakini Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir. Bahwa Isa itu putra Maryam bukan tuhan. (QS. An-Nisa [4]: 171). Dalam surat lain Allah mengingatkan bahwa konsep teologi yang tidak mentauhidkan Allah Swt. merupakan bentuk kekufuran atau pembangkangan kepada Allah Swt. (QS. Al-Ma’idah [5]: 72-75).

Kalimat sawa’ lainnya sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat sesudahnya adalah keimanan terhadap semua rasul dan kitab yang dikirimkan oleh Allah Swt. termasuk di antaranya Muhamad Saw. Dalam hal ini, bahkan al-Qur’an menyinggung bahwa hal tersebut sudah menjadi perjanjian “primordial” antara Allah dengan mereka, seperti halnya perjanjian “primordial” untuk hanya mengakui Allah Swt. sebagai satu-satunya Tuhan. (QS. Al-Baqarah [2]: 146-147, QS. Ali ‘Imran [3]: 12).

Dengan begitu, konsep dan pemahaman kegamaan Islam tidak perlu ditransformasikan ke suatu paham yang dinamai pluralisme agama. Tanpa menyamakan hal-hal ekslusif semua agamapun, sejak awal Islam mengakui keragaman—yang ditandai dengan toleransi beragama yang begitu kental terhadap agama dan umat agama lain—tapi bukan berarti mengakui kebenaran konsep teologi agama lain. Karena dalam Islam, yang benar jelas benar dan yang batil jelas batil. Semuanya jelas dan tegas (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Menurut Adian Husaini (2005), pendapat yang mengatakan bahwa ‘semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama’ jelas-jelas merupakan pendapat yang batil. Jika semua jalan adalah benar, maka tidak perlu Allah Swt. memerintahkan kaum Muslimin untuk berdo’a ‘Ihdinash shirathal mustaqim!’ (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus!). Jelas, dalam surat al-Fatihah disebutkan, ada jalan yang lurus dan ada jalan yang tidak lurus, yaitu jalan yang dimurkai Allah Swt. dan jalannya orang-orang yang tersesat. (QS. Al-Fatihah [1]: 6-7).

Bagi seorang muslim, dia mesti yakin tanpa ragu bahwa Islam adalah agama yang benar dan tidak ada lagi agama yang benar selain itu. Keraguan terhadapnya adalah kerugian dan kecelakaan yang niscaya. Sebab, Allah telah menjelaskan secara tegas bahwa agama yang diterima di sisi-Nya hanyalah Islam, dan yang mencari selain itu pasti rugi. (QS. Ali ‘Imran [3]: 19, 85).

Walaupun dalam konsep teologinya Islam begitu ketat dan tegas, namun Islam memiliki konsep toleransi yang tegas dan jelas pula. Ayat-ayat seperti Qs. Ali ‘Imran: 20, al-kaafirun: 2-6, menunjukkan bahwa Islam adalah ekslusif tapi tidak memaksa manusia untuk mengikutinya. Qs. An-Nahl: 126 juga menunjukkan cara-cara yang beradab dalam berdakwah, tidak ada paksaan dan kekerasan atau tipu daya. Praktik toleransi Islam pun sudah ditunaikan oleh generasi awal umat Islam, dan generasi setelah mereka, tanpa mereduksi konsep ekslusif Islam.

Jadi, menghadirkan sikap toleransi dan upaya melawan tindak pidana terorisme sepatutnya tidak perlu dilakukan dengan menggugat sifat-sifat ekslusif agama-agama seperti konsep Tuhan (tauhid), apalagi mengupayakan “isme” lain sebagai alternatif. Alih-alih alternatif, pluralisme agama sejatinya adalah “agama baru” yang mereduksi prinsip-prinsip dasar agama (terutama Islam). Sebagai muslim, semestinya kita tetap meyakini Islam sebagai agama dan peradabannya, yang dimanifestasikan dalam bentuk amal nyata, baik sebagai individu muslim, masyarakat mapun warga negara-bangsa, tanpa mereduksi kekhasan agamanya. Mari tingkatkan kualitas sikap toleransi dalam keragaman agama (pluralitas), bukan dengan pluralisme agama![1] []

 

 


[1] Uum Heroyati, S.Pd.I—Alumni IAIN Syekh Nur Jati (Angkatan 2004), Aktivis KAMMI, Pegiat Sosial dan Pendidikan, serta Pengajar di SDIT Sabilul Huda Cirebon-Jawa Barat. No. HP.: 089 963 982 57.  Dimuat di Kolom Wacana Radar Cirebon hal. 4, Jum’at 11 Oktober 2013 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s